REVENGE

REVENGE
Pertemuan Keluarga Parvez Dan Arinda


__ADS_3

[Kampus]


Keluarga Parvez sudah berada di kampus. Mereka datang dengan dua orang Dokter. Dokter itu yang akan menceritakan semua kebenaran kepada Arinda jika Arinda tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh keluarga Parvez.


Kedatangan keluarga Parvez langsung disambut oleh kedua sahabatnya Darren yaitu Barra dan Chello yang kebetulan keduanya sedang ingin menuju ke mobil mereka yang ada di parkiran. Mereka ingin mengambil laptopnya yang ketinggalan di dalam mobil.


Setelah itu, Barra pun memanggil Darren dan sahabatnya yang lain.


"Bagaimana kabar kamu sayang?" tanya Claudia sambil tangannya mengusap lembut kepala Darren.


"Aku baik, Mi! Mami bagaimana?" ucap dan tanya Darren.


"Mami juga baik sayang," jawab Claudia.


Darren melihat kearah Papinya Ataya dan kedua kakaknya Ataya. Dan tak lupa senyuman manisnya.


"Kalau Papi, kak Nathan dan kak Azka. Bagaimana kabarnya?" tanya Darren.


"Kami juga baik-baik saja, Ren!" seru mereka bersamaan.


"Darren," panggi Claudia.


"Ya, Mi! Ada apa?" tanya Darren.


"Kamu pasti sudah tahukan alasan Mami, Papi dan kedua kakak kamu datang kemari? Dan pasti kamu juga sudah tahu dari kakak kamu Afnan masalah ini?" tanya Claudia.


"Iya, Mi! Aku sudah tahu. Mami dulu melahirkan bayi kembar perempuan. Lebih tepatnya, Ataya punya saudari kembar." Darren menjawab pertanyaan dari Claudia.


"Bagaimana reaksi kamu sayang ketika mengetahui bahwa Ataya memiliki saudari kembar?" tanya Zaidan.


"Senang dan juga sedih," jawab Darren dengan mimik wajah yang tidak bisa diartikan.


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua paham. Mereka dapat melihat ada kesedihan dan kerinduan di tatapan mata Darren.


GREP!


Zaidan langsung memeluk Darren. Dirinya benar-benar tidak tega melihat kesedihan dan kerinduan di mata Darren. Bagaimana pun Zaidan sudah menganggap Darren sebagai putranya. Putra ketiga menggantikan Ataya, putrinya yang telah pergi.


Seandainya Tuhan mengizinkan, Zaidan ingin mendekatkan dan menjodohkan Darren dengan Arinda, putri kembarnya agar Darren benar-benar menjadi menantunya. Menantu keluarga Parvez.


Jika Darren tidak mencintai Arinda. Zaidan tidak akan memaksakan keinginannya itu kepada Darren. Tidak menjadi menantu pun. Darren sudah menjadi putranya. Selamanya Darren akan menjadi putranya.


"Papi tahu kamu pasti merindukan Ataya. Papi juga sama seperti kamu. Papi juga merindukan Ataya. Tapi Papi minta padamu jangan sampai sakit hanya karena kamu terlalu merindukan Ataya. Bagaimana pun kamu berhak untuk hidup bahagia."


Setelah itu, Zaidan melepaskan pelukannya. Dan tangannya mengusap lembut kedua pipi Darren.


Ketika mereka tengah fokus melihat Darren dan Zaidan. Salah satu Dokter yang ikut dengan keluarga Parvez ke kampus melihat kedatangan Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya. Dokter yang melihat itu adalah Dokter yang menangani persalinan nyonya Bernard.


"Itu yang namanya Arinda Bernard!" seru Dokter tersebut sambil menunjuk kearah Arinda.


Baik Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, maupun keluarga Parvez langsung melihat kearah Arinda. Bahkan beberapa mahasiswa dan mahasiswi juga ada di sana.


"Dialah Arinda Bernard. Bayi yang saya ambil dari Dokter yang menangani persalinan anda," ucap Dokter tersebut sambil melihat kearah Claudia.


Arinda menatap bingung sepasang suami istri, dan dua orang pemuda serta dua orang Dokter.


"Nona Arinda," panggil Dokter itu.


Arinda melihat kearah Dokter itu. Seketika Arinda teringat akan wajah Dokter tersebut.


"Dokter Joe!" seru Arinda.


"Iya, nona! Ini saya."

__ADS_1


"Ada urusan apa Dokter kemari?" tanya Arinda.


Dokter Joe melihat kearah keluarga Parvez, lalu kembali melihat kearah Arinda.


"Sebelum saya minta maaf kepada nona Arinda. Mungkin nona Arinda tidak akan mempercayai perkataan saya. Tapi saya berani bersumpah jika apa yang akan saya katakan itu semua adalah kebenaran," ucap Dokter Joe.


Arinda menatap wajah Dokter Joe, lalu menatap wajah anggota keluarga Parvez. Setelah puas menatap wajah anggota keluarga Parvez. Arinda kembali menatap wajah Dokter Joe.


"Apa Dokter Joe ingin mengatakan bahwa aku bukan putri kandung dari Fazio Bernard dan Patrizia Bernard?" tanya Arinda dengan menatap datar Dokter Joe.


DEG!


Mendengar perkataan dari Arinda membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Arinda telah mengetahui tentang statusnya di keluarga Bernard.


"No-nona sudah tahu?" tanya Dokter Joe.


"Iya. Saya sudah tahu. Kenapa? Apa Dokter terkejut? Atau justru Dokter ingin merahasiakan lebih lama lagi tentang status saya ini, hah?!" teriak Arinda.


"Kalau saya boleh tahu. Dari mana nona mengetahui masalah ini?"


"Tidak penting saya tahu dari mana. Yang jelas saya sudah tahu jika aku bukan putri kandung dari keluarga Bernard. Yang saya ingin tahu. Kenapa saya bisa berada di keluarga Bernard?!" teriak Arinda dengan menatap tajam Dokter Joe.


"Arinda," ucap Jung Belinda dan Delina sembari mengusap bahunya.


"Baik saya maupun tuan Fazio terpaksa melakukan hal itu. Saat itu nyonya Patrizia kondisinya sangat kritis ketika melahirkan bayinya. Bayinya meninggal setelah dilahirkan. Sementara nyonya harus melakukan operasi mengangkatan tumor yang tumbuh di rahimnya dan mengakibatkan rahim nyonya harus diangkat. Dikarenakan tuan Fazio tahu tentang kondisi kesehatan mental nyonya. Dan ditambah lagi tuan Fazio yang begitu mencintai nyonya. Serta tidak ingin kehilangan nyonya. Makanya tuan Fazio meminta saya untuk mencari pengganti bayinya yang sudah meninggal."


"Dan kebetulan nyonya Parvez berada di rumah sakit yang sama dan juga sedang menjalani proses persalinan. Nyonya Parvez melahirkan bayi kembar perempuan. Mendengar kabar itu. Saya pun langsung menemui Dokter yang menangani nyonya Parvez. Dan terjadi kejadian dimana saya mengambil satu bayi nyonya Parvez untuk saya berikan kepada tuan Fazio."


Seketika tubuh Arinda terhuyung ke belakang setelah mendengar cerita dari Dokter Joe. Air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Arinda," lirih keempat sahabat-sahabatnya. Mereka menangis melihat keadaan Arinda saat ini.


Arinda menangis sembari menggelengkan-gelengkan kepalanya. Dan detik kemudian, rekaman menyedihkan dimana detik-detik ibunya yang mulai membencinya berputar-putar di kepalanya.


[Pergi kamu!]


[Dasar anak tidak tahu diri. Menyesal aku merawatmu, menjagamu dan membesarkanmu]


[Cih! Dasar anak tidak tahu diri]


[Mati saja kamu dari pada menyusahkan hidupku]


Arinda menangis terisak kala rekaman dimana ibunya yang begitu membencinya.


"Hiks... Hiks... Hiks."


"Jadi ini alasan Mami sempat membenciku dulu. Ternyata aku bukan putri kandung Mami dan Papi," ucap Arinda.


Dan ucapannya itu terdengar oleh Arinda, ketujuh sahabat-sahabatnya, dua dokter tersebut dan keluarga Parvez.


Arinda menatap wajah Dokter Joe. Tatapannya mengisyaratkan kemarahan.


"Maafkan saya nona," ucap Dokter Joe.


Arinda menatap tajam Dokter Joe. "Apa kau bilang! Maaf! Apa kata maaf darimu itu bisa mengembalikan luka di hatiku, hah?! Apa kata maaf darimu bisa mengembalikan Mami padaku? Apa kata maaf darimu bisa membuat Mami memelukku lagi seperti dulu? Apa kata maaf darimu bisa membuat Mami memanggilku dengan sebutan princess? Apa kata maaf darimu bisa membuat hubunganku dengan Mami kembali harmonis? Jika kau bisa mengembalikan semua itu. Maka aku akan memaafkanmu!" teriak Arinda dengan berlinang air mata.


"Dulu Mami sangat menyayangiku dan juga memanjakanku. Namun ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Sikap Mami berubah padaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Mami. Dan aku juga tidak tahu apa kesalahanku pada Mami. Selama ini aku selalu menjadi anak yang baik untuk Mami dan juga Papi. Tapi yang jelas sejak aku duduk di bangku kelas 1 SMP sampai kejadian pembantaian itu. Hubunganku dengan Mami belum membaik. Dan aku juga belum mengetahui alasan kebencian Mami padaku."


BRUUKK!


Arinda jatuh terduduk di tanah. Dirinya benar-benar sudah tidak mampu membendung kesedihannya. Dirinya benar-benar hancur saat ini.


"Arinda," lirih keempat sahabat-sahabatnya. Mereka memeluk Arinda.

__ADS_1


Melihat Arinda yang benar-benar hancur membuat keluarga Parvez merasakan sesak di dada. Mereka menangis melihat keadaan Arinda saat ini. Begitu juga dengan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya


Berlahan Claudia melangkah mendekati Arinda. Claudia menangis melihat keadaan putri kembarnya.


"Arinda sayang," panggil Claudia lembut.


Mendengar panggilan dari Claudia. Keempat sahabat-sahabatnya melepaskan pelukannya dan mereka memberikan ruang untuk Claudia.


Claudia berjongkok di hadapan putri kembarnya. Tangannya mengusap lembut kepalanya. Seketika air matanya kembali jatuh membasahi wajah cantiknya.


"Sayang. Ini Mami, Nak! Mami kandung kamu... Hiks," ucap Claudia sembari terisak.


Arinda menatap wajah cantik wanita yang berada di hadapannya. Air matanya masih setia mengalir membasahi wajahnya.


Claudia menghapus air mata Arinda, lalu mengusap lembut kedua pipi Arinda.


"Ini Mami sayang... Hiks. Kamu putri Mami. Kamu saudari kembarnya Ataya. Mami saat itu tidak tahu jika Mami melahirkan putri kembar. Jika Mami tahu dua Dokter itu telah membohongi Mami. Mami pasti akan mencarimu dan membawamu pulang."


"Hiks... Hiks... Hiks," isak Arinda.


GREP!


Claudia langsung memeluk tubuh Arinda dengan erat. Dan detik kemudian, terdengar isakan kencang dari mulut Arinda.


"Mami... Mami... Hiks.... Mami... Hiks."


"Putriku Arinda... Hiks," isak Claudia.


Melihat istri dan ibunya yang tengah memeluk Arinda. Zaidan, Nathan dan Azka mendekati keduanya. Dan setelah berada didekat keduanya. Mereka pun ikut ke dalam pelukan tersebut.


"Arinda putrinya Papi," lirih Zaidan.


"Adek perempuannya Kakak," ucap Nathan dan Azka.


Melihat momen pertemuan keluarga Parvez dengan salah satu anggota keluarganya yang terpisah membuat penghuni kampus ikut merasakan kesedihan tersebut.


Momen tersebut juga disaksikan oleh Afnan, Naura, Vito, Velly, Nasya dan para sahabatnya. Begitu juga dengan Kiran, sahabatnya Kiran dan Daniel sang kekasih. Mereka semua juga ikut menangis.


"Ataya," lirih Darren ketika matanya menatap momen dimana keluarga Ataya yang bertemu dengan salah satu anggota keluarganya yang terpisah.


Setelah mengatakan kata itu. Darren pergi begitu saja meninggalkan tempat itu. Hatinya benar-benar tidak kuat melihat adegan tersebut.


Melihat kepergian Darren. Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Kevin dan Briyan pun pergi menyusul Darren. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu dengan Darren.


Melihat Darren yang tiba-tiba pergi dan melihat ketujuh sahabat-sahabatnya Darren yang juga pergi menyusul Darren membuat Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya menjadi khawatir. Mereka semua pun ikut menyusul Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


***


[Ruang Latihan Taekwondo]


Darren berdiri di depan cermin dengan kedua tangannya yang mengepal kuat. Air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Ataya! Seharusnya kamu ada disini dan ikut menyaksikan keluargamu bertemu dengan saudari kembarmu Arinda Parvez. Tapi... Hiks... Kamu..."


"Aarrgghh!" teriak Darren.


PRAANNGG!


Darren meninju cermin yang ada di hadapannya itu dengan sekali pukulan kuat sehingga membuat cermin itu pecah dan berserakkan di lantai.


"Darren!" teriak Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Kevin dan Briyan. Mereka semua pun langsung memasuki ruang latihan taekwondo


Dan beberapa detik kemudian, Afnan, Naura, Vito, Velly, Nasya serta para sahabatnya datang. Mereka semua memasuki ruang latihan taekwondo milik Darren.

__ADS_1


__ADS_2