
Sebuah ruangan yang kosong terlihat seorang gadis cantik terkurung disana. Gadis itu adalah Arinda.
Arinda hanya bisa melihat di depan matanya hanyalah hitam. Arinda berada dalam kegelapan. Gelap yang menyebar seperti tabernakel di depan matanya. Tidak dapat membedakan bentuk apapun.
Arinda sempat berpikir ada yang salah dengan matanya. Jadi dirinya mengedipkan kedua mata. Bahkan setelah menutup matanya beberapa kali dan membukanya kembali. Namun yang bisa Arinda lihat hanyalah kegelapan yang pekat.
Kegelapan yang gelap gulita benar-benar mengambil alih dirinya.
"Aku ada dimana? Tempat apa ini? Mami, Papi, kak Nathan, kak Azka, Tante Pingkan, om Robby!"
Arinda menyebut satu persatu anggota keluarga kandungnya dan kedua pengasuhnya.
Arinda berada di tempat yang benar-benar gelap tanpa cahaya yang masuk. Arinda mencoba menggerakkan anggota tubuhnya. Tapi tubuhnya seakan-akan seperti diikat dengan rantai. Tubuhnya tidak bergerak seperti yang dirinya inginkan. Bahkan Arinda sama sekali tidak merasakan ada kekuatan di tangan dan kakinya. Seluruh tubuhnya terasa tidak berdaya.
Ketika Arinda sedang memikirkan kondisi tubuhnya yang seakan-akan mati rasa dan berada di sebuah ruangan yang gelap tanpa cahaya, tiba-tiba Arinda dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka oleh seseorang.
Cklek...
Arinda hanya menggunakan pendengarannya dan mengarahkan keasal suara. Dan Arinda dapat mendengar suara langkah kaki yang memasuki ruangan dan berjalan menuju kearah dirinya.
Ctek..
Orang itu menghidupkan lampu yang ada di dalam ruangan dimana Arinda berada sehingga ruangan tersebut menjadi terang.
"Hallo sayangku," ucap orang itu.
Arinda seketika langsung melihat kearah orang tersebut. Dan detik kemudian...
Arinda membelalakkan matanya ketika melihat wajah orang tersebut. Dirinya tidak menyangka jika orang tersebut tega melakukan ini padanya.
"Kau....!"
***
Darren saat ini duduk di sofa ruang tengah dengan laptop yang menyala. Darren tengah mengecek rekanan cctv yang terpasang di sekitar kampus, jalanan yang sering dilalui dirinya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan Arinda. Termasuk rekaman cctv tempat terakhir Arinda kunjungi
Bukan itu saja, Darren juga mengecek kejadian demi kejadian dimana Arinda yang kembali bertemu dengan keluarga kandungnya sampai Arinda kembali pulang sementara waktu ke kediaman Bernard karena ingin menemani sang bibi yang sendirian.
__ADS_1
Semua rekaman cctv didapat dari tangan kanannya yaitu Maxi. Mendapatkan semua rekaman cctv tersebut membuat Darren memiliki peluang besar untuk menemukan Arinda.
Ketika Darren tengah fokus menatap layar laptopnya, tiba-tiba para kakaknya satu ayah dengannya datang menghampiri dirinya. Setelah tiba di ruang tengah, kelimanya langsung menduduki pantatnya di sofa.
"Kamu sedang lihat apa Ren?" tanya Velly.
Seketika Darren terkejut ketika mendengar pertanyaan dari salah satu kakak perempuannya. Darren menatap wajah kakak perempuannya itu. dan dapat Darren lihat lima kakaknya telah duduk manis di sofa sembari tersenyum menatap dirinya.
"Aku sedang mengecek rekaman cctv yang dikirim oleh Maxi padaku," jawab Darren.
"Rekaman cctv?!" ucap Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya bersamaan.
"Iya. Semua rekaman cctv. Baik rekaman cctv yang terpasang di jalan yang dilalui oleh Arinda, rekaman cctv ketika Arinda meninggalkan kediaman Parvez menuju kediaman Bernard. Sampai rekaman cctv Arinda yang pergi meninggalkan kediaman Bernard hendak ke kampus atau ke tempat lain," jawab Darren menjelaskan semua tentang rekaman cctv.
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Darren membuat Raka, Satya, Vito Velly dan Nasya tersenyum. Mereka tidak menyangka jika para anggota adiknya cepat tanggap dalam melakukan pekerjaannya.
"Apa kamu sudah mendapatkan petunjuk dari semua rekam cctv itu?" tanya Satya.
"Belum. Aku baru mengecek tiga rekaman cctv dari delapan rekaman cctv yang dikirim oleh Maxi," jawab Darren.
"Apa?! Delapan rekaman cctv! Waw! Banyak sekali!" ucap Nasya dengan wajah terkejutnya.
Darren langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari kakak aliennya yaitu Vito.
"Bagaimana dengan sahabat-sahabat kamu yang lainnya?" tanya Velly.
"Semuanya masih dalam penyelidikan kak Velly. Butuh proses. Aku berpikir jika dalang penculikan Arinda seperti bukan orang biasa. Dia sudah merencanakannya dengan matang sehingga keberadaannya dan Arinda tidak bisa terlacak," sahut Darren.
Mendengar jawaban sekaligus penjelasan tentang dalang penculikan Arinda, mereka menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan adiknya itu.
"Kamu benar, Ren! Musuh kita kali ini bukan orang sembarangan. Ini adalah hari kelima Arinda menghilang. Namun kita dan anggota keluarga belum mendapatkan hasil apapun. Biasanya hanya butuh satu hari kamu dan kelompok kamu sudah berhasil menemukan petunjuk," ujar Raka.
Velly melihat sekitarnya. Dirinya tidak melihat keberadaan kedua orang tuanya dan keempat kakak-kakaknya.
"Oh iya! Papa, Mama, kak Saskia, kak Nuria, kak Marco dan kak Afnan kemana? Kok kakak nggak lihat mereka?" tanya Velly kepada adiknya.
"Papa dan Mama tadi izin pergi keluar. Pacaran kali! Kalau kak Saskia ke butiknya, kak Nuria ada operasi di rumah sakit, kak Marco dan kak Afnan ada di markas mereka masing-masing. Mereka sama sepertiku tengah mengecek semua informasi yang didapat oleh anggotanya." Darren menjawab pertanyaan dari kakak perempuannya.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari adiknya membuat Velly langsung mengangguk paham.
Darren seketika menghentikan kegiatannya menatap layar laptopnya. Darren kemudian menyandarkan punggungnya di punggung sofa. Setelah itu, Darren menatap wajah kedua kakak perempuannya.
"Kakak Velly, kakak Nasya!"
"Iya. Ada apa, hum?" tanya Velly dan Nasya bersamaan.
"Eemm! Aku lapar. Mau tidak kakak Velly dan kakak Nasya buatkan aku nasi goreng seafood?"
Mendengar permintaan dari adiknya seketika terukir senyuman manis di bibir Velly dan Nasya. Mereka begitu bahagia jika adik kesayangannya itu minta dibuatkan nasi goreng seafood.
"Dengan senang hati!" jawab Velly dan Nasya bersamaan.
Darren tersenyum mendengar jawaban kompak dari kedua kakak kembarnya itu. Dirinya benar-benar bahagia kedua kakaknya itu langsung mengabulkan keinginannya.
Setelah itu, Velly dan Nasya langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menuju arah dapur. Tiba mereka di dapur, mereka langsung berperang dengan peralatan dapur untuk membuatkan nasi goreng seafood kesukaan adiknya.
***
Di markas BLACK WOLF dimana Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin berada. Mereka semua berada di ruangan pribadi masing-masing.
Zidan, Chico, Barra, Chello Faza, Briyan dan Kevin saat ini tengah melacak keberadaan terakhir Arinda. Bahkan mereka juga melacak tentang keberadaan sang penculik dengan mengkait-kaitkan dengan orang-orang yang dekat dengan Arinda sebelum mengetahui status asli Arinda.
Baik Zidan, Chico, Barra maupun Chello, Faza, Briyan dan Kevin mencurigai kalau dalang dalam hilangnya Arinda ada hubungannya dengan orang-orang yang dekat dengan Arinda. Bahkan mereka juga akan menyelidiki orang-orang yang ada di kediaman Bernard.
Zidan yang sedang fokus melacak keberadaan Arinda, tiba-tiba teringat kejadian tempo lalu dimana Arinda yang dihadang beberapa laki-laki berkendara. Salah satu laki-laki itu sempat bersikap kasar terhadap Arinda. Bahkan hendak membawa Arinda pergi.
Detik kemudian, Zidan mulai menyadari sesuatu sehingga Zidan mengkaitkan dengan hilangnya Arinda.
Setelah menyadari hal itu, Zidan langsung keluar dari ruangan lalu menghampiri satu persatu ruangan pribadi keenam sahabatnya.
Zidan mengetuk satu persatu pintu ruangan pribadi keenam sahabatnya secara bergantian sembari mengatakan bahwa dirinya sudah mendapatkan petunjuk.
Cklek...
Terdengar bunyi suara pintu dibuka secara bersamaan lalu keluarlah enam pemuda tampan dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Kita ke kediaman Austin sekarang! Aku sudah mendapatkan petunjuk!" seru Zidan.
Chico, Barra, Chello, Faza, Briyan dan Kevin menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Dan mereka langsung melangkah mengikuti Zidan yang sudah terlebih dulu pergi.