
Setelah selesai membantai habis kelompok mafia DRAGON. Kini Erland, Ronald dan Steven beserta para kelompok mafianya langsung menuju kediaman para musuhnya yang tak lain adalah rival bisnisnya.
Erland bersama kelompok mafianya menyerang kediaman keluarga Christopher, Ronald bersama kelompok mafianya menyerang kediaman Jordan. Sedangkan untuk Steven bersama kelompok mafianya menyerang kediaman Troye.
"Kita berpencar disini," ucap Erland.
"Baik." Ronald dan Steven menjawab bersamaan.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan lokasi markas kelompok mafia DRAGON yang sudah menjadi abu dan rata menjadi tanah.
***
Di kediaman Christopher terlihat semua penghuninya sedang tertidur lelap dikarenakan waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
Erland dan kelompok mafianya sudah sampai di depan gerbang kediaman keluarga Christopher. Hanya butuh setelah jam untuk mereka sampai di kediaman keluarga tersebut.
"Hancurkan gerbang tersebut!" perintah Erland.
Tanpa menunggu perintah dua kali dari sang ketua. Sepuluh anggota mafia langsung merusak pintu gerbang tersebut.
Prak...
Bunyi pintu gerbang yang dirusak oleh sepuluh anggota mafia. Setelah gerbang tersebut dalam keadaan rusak. Erland dan kelompok mafianya langsung menyerang kediaman tersebut.
Erland dan para tangan kanannya menuju pintu utama. Sementara beberapa anggota mafianya membunuh semua para penjaga.
Dor... Dor..
Bug... Duagh...
Kreet... Jleb...
Bunyi pukulan, tendangan sayatan, tusukan pisau, tebasan dan tembakan yang ditujukan kepada para penjaga yang menjaga kediaman keluarga Christopher.
Brak...
Pintu utama kediaman keluarga Christopher hancur. Erland beserta orang-orangnya langsung melangkah masuk ke dalam rumah tersebut.
"Seret mereka semua dan bawa ke hadapanku!" perintah Erland dengan aura iblisnya.
"Baik, King!"
Para anggota mafianya langsung memeriksa semua kamar yang ada di kediaman tersebut.
***
Tak jauh beda dengan Erland. Ronald bersama kelompok mafianya sudah berada di depan pintu utama kediaman keluarga Jordan.
Ctas... Sreet...
Jleb...
Dor... Dor...
Bugh... Duagh...
Kreet...
Para anggota mafia Ronald menyerang semua penjaga dengan pukulan, tendangan, sayatan, tusukan, tebasan dan tembakan sehingga membuat semua penjaga mati dengan sangat mengerikan.
Brak..
Dua tangan kanan Ronald mendobrak dengan kuat pintu rumah tersebut sehingga keadaan pintu tersebut rusak parah.
Setelah itu, Ronald dan semua kelompoknya melangkah masuk ke dalam rumah.
"Periksa semuanya. Dan setelah itu, bawa semua penghuni yang ada di rumah ini ke hadapanku!"
"Siap, King!"
Beberapa anggota mafianya langsung melakukan perintahnya dengan menggeledah setiap kamar yang ada di kediaman Jordan.
__ADS_1
***
Di kediaman keluarga Troye sudah terlihat banyak mayat bergeletakan di halaman dalam keadaan yang sangat mengerikan. Semua mayat-mayat itu adalah mayat-mayat para penjaga yang berjaga di kediaman keluarga Troye.
Ketika Steven dan kelompok mafianya datang. Para penjaga yang berjaga di kediaman keluarga Troye langsung memberikan perlawanan dengan tembakan beruntun. Dan untungnya Steven dan semua kelompoknya memakai rompi anti peluru berlapis.
Mendapatkan serangan langsung dari para penjaga membuat Steven dan kelompok mafianya langsung membalas dengan menyerang semua para penjaga tersebut.
Baik Steven maupun para kelompok mafianya tak kalah mengerikan ketika menyerang semua para penjaga tersebut sehingga membuat semua tak bernyawa dengan kondisi tubuh mengerikan.
Brak...
Steven dan dua tangan kanannya seketika menendang kuat pintu rumah kediaman keluarga Troye sehingga pintu rumah itu rusak.
"Siapa kalian!" teriak dua orang yang diyakini suara laki-laki ketika melihat kedatangan Steven dan kelompok mafianya.
"Malaikat maut kalian!" teriak Steven di balik topengnya.
Dor...
"Aakkhhh!"
Bruk...
Steven memberikan satu tembakan di kaki salah satu laki-laki yang ada di hadapannya itu sehingga laki-laki itu terjatuh di lantai.
"Kalian!"
Steven berbicara sambil menatap beberapa anggota mafianya. "Seret semua anggota keluarga dari kedua pria itu!"
"Baik, King!"
Setelah itu, beberapa anggota mafianya langsung berpencar untuk mencari keberadaan para anggota keluarga Troye.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi, namun di kediaman keluarga Smith ada beberapa anggota keluarga yang masih terjaga. Hanya beberapa anggota keluarga saja yang sudah tertidur.
Seperti yang dikatakan oleh Qenan bahwa mereka semua akan tidur di kamar Darren sembari menjaga Darren.
Kini semua kakak laki-lakinya Darren masih berada di kamar Darren. Mereka sampai detik ini masih setia menemani Darren. Mereka tidur secara bergantian. Sekali pun mereka semua tertidur, mereka tidur tidak seperti orang mati.
Afnan yang tiba-tiba merasa haus seketika memutuskan untuk keluar dari kamar adiknya.
Namun ketika kakinya hendak melangkah, matanya tak sengaja melihat kearah tempat tidur dimana adiknya berada. Afnan melihat adiknya yang terjaga.
Melihat adiknya yang terjaga, Afnan memutuskan untuk menghampiri adiknya itu.
"Kenapa, hum?" tanya Afnan yang sudah berada di samping tempat tidur adiknya.
Darren langsung melihat kearah kakaknya. Dan detik kemudian, Darren tersenyum.
"Aku kenapa? Kenapa tanganku di pasang infus?" tanya Darren dengan suara seraknya.
Afnan tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari adiknya itu sembari tangannya bermain-main di kepalanya.
"Kamu beberapa menit yang lalu jatuh pingsan. Lalu ketika diperiksa sama kak Nuria, tekanan darah dan tensi kamu sangat rendah. Dan terpaksa kak Nuria masang infus ke tangan kamu," jawab Afnan.
"Darren, kamu bangun!" seru Marco.
Mendengar seruan dari Marco, seketika Darren dan Afnan langsung melihat kearah Marco. Dan detik kemudian, semua saudara-saudara bangun dari tidurnya.
"Darren," ucap mereka secara bersamaan.
Setelah itu, Marco dan semua saudaranya mendekati ranjang Darren. Dan beberapa dari mereka naik ke atas tempat tidur. Dan sebagiannya duduk di tempat tidur.
"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Qenan dengan tangannya membelai lembut kepalanya.
"Tidak, kak!" jawab Darren.
"Benar?" tanya Willy.
__ADS_1
"Kamu nggak bohongkan?" tanya Devano.
"Terserah kalian mau percaya atau nggak. Aku nggak maksa," jawab Darren pelan.
Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua tersenyum. Apalagi ketika melihat wajah pasrah Darren.
"Kakak," panggil Darren.
"Iya."
Semua kakak-kakaknya bersuara menjawab panggilan dari Darren.
Mendengar jawaban dari semua kakak-kakaknya membuat Darren membelalakkan matanya.
"Kenapa kalian semua menjawabnya?" tanya Darren dengan wajah kesalnya.
"Lah, memangnya kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Alfin.
"Lagian kamu memanggil 'kakak' tanpa menyebut namanya. Jadi kita semua berinisiatif menjawab panggilan dari kamu," sahut Garvin.
"Hm!"
Qenan, Willy, Theo, Devano, Andry, Marco dan Afnan berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
"Kalian benar-benar menyebalkan kak," ucap Darren dan seketika membuang wajahnya melihat keatas langit-langit kamarnya.
Mereka semua tersenyum melihat wajah kesal adiknya. Bagi mereka semua, wajah kesal adiknya itu layaknya seperti anak kecil yang berusia 4 tahun. Lucu dan menggemaskan.
Berlahan Marco mengusap lembut kepalanya sehingga membuat Darren langsung melihat kearah dirinya.
"Ada apa, hum?"
"Aku haus mau minum."
Marco tersenyum mendengar jawaban dari adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Qenan yang kebetulan duduk tepat berdekatan dengan meja langsung meraih gelas yang berisi air minum.
Setelah mendapatkan gelas tersebut, Qenan langsung memberikannya kepada Marco.
Afnan dan Alfin membantu Darren untuk duduk agar adiknya itu bisa minum dengan leluasa.
"Ini." Marco memberikan gelas yang berisi air minum itu kepada adiknya.
Darren menerima air minum itu dengan tangan kirinya karena tangan kanannya di pasang infus.
Setelah air di dalam gelas itu habis. Darren kembali memberikan kepada kakaknya itu.
"Kak! Apa om Erland, om Ronald dan om Steven sudah pulang?" tanya Darren dengan tatapan matanya menatap wajah kakak kesayangannya itu.
"Belum. Om Erland, om Ronald dan om Steven belum kembali," jawab Marco.
"Ini sudah pukul berapa?" tanya Darren.
"Pukul 4 pagi!" semua kakak-kakaknya menjawab pertanyaan dari dirinya.
"Apa?! Sudah pukul 4 pagi?!" Darren benar-benar terkejut ketika mendengar jawaban kompak dari semua kakak-kakaknya.
Seketika terpancar sirat kekhawatiran di tatapan matanya. Darren saat ini benar-benar mengkhawatirkan ketiga Pamannya.
"Aku berharap kalian pulang dalam keadaan baik-baik saja. Jangan sampai kalian terluka," batin Darren.
Qenan, Theo dan Andry secara bersamaan mengusap kepala, punggung dan punggung tangan Darren. Mereka tahu bahwa saat ini adiknya itu tengah mengkhawatirkan ayah-ayahnya.
"Percayalah. Semuanya akan kembali dengan selamat," ucap Qenan.
"Cukup kita doakan saja dari sini," ucap Theo.
"Mereka pasti akan baik-baik saja," ucap Andry.
"Aku berharap itu semua terjadi," jawab Darren.
__ADS_1