REVENGE

REVENGE
Perang Mulut


__ADS_3

Darren sudah berada di Kampusnya. Satu jam yang lalu Darren dan keempat sahabatnya telah selesai menyelesaikan urusan mereka dengan dosen pembimbing mereka masing-masing. Kebetulan Darren dan keempat sahabatnya beda materi kuliahnya.


"Aku mau ke toilet dulu. Kalian langsung saja ke kantin. Nanti aku nyusul," ucap Darren.


"Baiklah," jawab Zidan, Chico, Barra dan Chello bersamaan.


Setelah itu, mereka pun pergi ke Kantin. Sementara Darren pergi ke Toilet.


Di Kantin sudah berkumpul Afnan, Naura dan para sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan Vito, Velly, Nasya, Kiran, Daniel dan para sahabat-sahabatnya. Mereka duduk bersama sekarang ini.


Mereka saat ini tengah berbincang-bincang sambil menunggu Darren dan keempat sahabatnya.


Ketika mereka tengah membicarakan Darren dan keempat sahabatnya. Kiran melihat kedatangan keempat sahabatnya Darren memasuki Kantin.


"Hei, itu sahabat-sahabat Darren!" seru Kiran sembari menunjuk kearah keempat sahabatnya.


Mereka semua melihat kearah tunjuk Kiran. Dan mereka semua melihat keempat sahabatnya Darren yang melangkahkan kakinya memasuki Kantin dan langsung memesan makanan.


"Eh, tunggu dulu. Kenapa Darren nggak ada?" tanya Naura ketika tidak melihat keberadaan adik sepupunya.


"Iya, ya! Kemana Darren?" Afnan mulai khawatir.


"Zidan, Chico, Barra, Chello." Naura memanggil keempat sahabatnya Darren.


Zidan, Chico, Barra dan Chello yang mendengar seseorang yang memanggil mereka langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah orang yang memanggil tersebut.


"Kak Naura," ucap Zidan, Chico, Barra dan Chello bersamaan, lalu mereka menghampiri para kakak-kakaknya Darren dan para sahabatnya.


Kini Zidan, Chico, Barra dan Chello sudah duduk di bangku yang masih kosong.


"Darren mana? Kenapa nggak sama kalian?" tanya Afnan.


"Darren pergi melapor dulu. Penting tidak bisa ditunda," jawab Chico asal.


Mendengar jawaban dari Chico membuat mereka semua bingung.


Melihat wajah bingung dari para kakak-kakaknya Datren. Zidan, Barra dan Chello menatap horor Chico.


TAK!


Barra menjitak kepala Chico dengan tidak elitnya sehingga membuat Chico meringis. Mendapatkan jitakkan gratis dari Barra membuat Chico mendengus kesal.


"Darren izin ke toilet Kak Afnan. Darren akan langsung kesini setelah urusannya selesai," sahut Zidan.


"Oh, jadi itu maksud dari jawaban Chico," ucap Velly.


Mendengar perkataan Velly. Chico langsung manggut-manggut membenarkan perkataan Velly. Sementara mereka semua hanya geleng-geleng kepala melihat Chico.


"Kita pesan makanan ketika Darren datang. Jadi kita bisa makan bersama," usul Nasya.


Mendengar usulan Nasya. Mereka semua mengangguk setuju. Mereka juga ingin makan bersama dengan Darren.


"Dan saat ini Darren pasti belum makan. Darren itu selalu melupakan waktu makannya. Bahkan kadang-kadang susah kalau disuruh makan." Naura berbicara sembari mengingat kebiasaan adik sepupunya itu.


Ketika sedang membahas Darren, tiba-tiba Afnan, Naura, Vito, Velly, Nasya, keempat sahabatnya Darren, Kiran dan para sahabatnya. Serta Daniel kekasihnya Kiran mendengar suara keributan. Mereka semua pun melihat keasal suara ribut itu. Begitu juga para penghuni kantin lainnya.


Mereka semua melihat Darren yang sedang beradu mulut dengan seorang gadis.

__ADS_1


"Kau lagi," ucap Darren ketus.


"Lo..." gadis itu menunjuk kearah Darren.


"Jauhkan tanganmu." Darren langsung menepis tangan gadis itu dari hadapannya.


Setelah itu, Darren langsung pergi begitu saja meninggalkan gadis itu. Namun seketika langkahnya terhenti karena gadis itu menghalangi jalannya.


"Yak! Minggir kau!" teriak Darren dengan mendorong tubuh gadis itu ke samping.


"Nggak. Kamu harus minta maaf padaku. Kamu sudah menjatuhkan minumanku sehingga aku nggak bisa meminumnya. Padahal aku belum mencobanya," jawab gadis itu.


"Minta maaf sama gadis seperti kau. Ogah! Bukannya kau yang menabrakku. Seharusnya kau yang harus minta maaf padaku." Darren menjawab perkataan gadis itu dengan menatap tajam gadis itu.


"Ogah! Kau yang harus minta maaf duluan. Kau itu laki-laki. Seharusnya ngalah."


"Yeeeyy! Tak sudi ngalah sama gadis urakan, jelek, dekil dan bodoh sepertimu."


"Yak! Apa kau bilang?!" teriak gadis itu dengan menatap tajam Darren.


"Aku bilang kau itu gadis urakan, jelek, dekil dan bodoh."


"Dasar siluman kelinci tengil, manusia jadi-jadian, gembul, gendut, buntelan kapas!" teriak gadis itu.


Teriakan gadis tersebut didengar oleh para penghuni kantin. Mereka tertawa ketika mendengar gadis itu menyebut Darren dengan siluman kelinci dan manusia jadi-jadian. Termasuk para kakak-kakaknya, keempat sahabatnya dan para sahabat-sahabat kakak-kakaknya. Mereka semua tertawa. Tapi mereka hanya berani tertawa dengan pelan. Mereka tidak mau mati dibunuh oleh Darren.


"Dasar kurus, jelek."


"Kelinci tengil."


"Bodoh."


Melihat dan mendengar Darren dan gadis itu saling beradu mulut dan saling melemparkan umpatan serta ejekan. Bahkan tidak ada salah satu dari keduanya yang mau mengalah. Akhirnya membuat Afnan turun tangan.


Afnan berdiri dari duduknya dan langsung melangkahkan kakinya menghampiri adiknya yang saat ini masih beradu mulut dengan seorang gadis.


"Monyet."


"Gorilla."


"Manusia jadi-jadian."


"Nenek lam... Mmppttthhh..."


Tiba-tiba Afnan membekap mulut adiknya ketika adiknya ingin membalas ejekan dari gadis tersebut.


Darren menatap horor Afnan. Sementara Afnan hanya memberikan cengiran khasnya pada adiknya.


Darren masih menatap horor kakak bantetnya itu dengan matanya yang di besar-besaran. Sementara Afnan berusaha menahan tawanya ketika melihat wajah adiknya saat ini.


Afnan mengalihkan perhatiannya melihat kearah gadis itu. "Maafkan atas sikap adiknya kakak ya."


Setelah itu, Afnan mendorong pelan tubuh adiknya untuk menuju tempat duduknya.


"Kakak akan lepaskan. Tapi jangan berteriak," sahut Afnan.


Melihat adiknya yang diam dan tak berkutik. Afnan pun melepaskan tangannya dari mulut adiknya.

__ADS_1


"Kak... Mmpptthhh!" Afnan kembali membekap mulut adiknya karena adiknya ingin berteriak.


Vito, Velly, Nasya, Kiran, Daniel, Zidan, Chico, Barra, Chello dan para sahabat kakak-kakaknya tersenyum gemas melihat kelakuan Darren ketika berhadapan dengan Afnan.


Afnan dan Darren sudah duduk di kursinya. Darren yang masih cemberut membuat mereka semua tersenyum.


"Kamu mau makan apa Ren?" tanya Afnan.


"Bodo," jawab Darren.


"Oh, nama makanannya adalah bodo," sahut Afnan yang menggoda adiknya.


Afnan tersenyum ketika melihat wajah merengut adiknya. Baginya itu sangat lucu dan imut seperti anak kecil. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Darren," panggil Daniel.


Darren hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap ponselnya. Bahkan Darren tidak menjawab panggilan dari Daniel.


Melihat sikap Darren. Mereka hanya pasrah dan tidak berani untuk menegur kecuali Afnan dan Naura.


"Ren, jawab dong. Itu si Daniel manggil kamu loh." Naura berbicara lembut.


"Aku tahu dan aku dengar. Tapi aku males," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka hanya bisa menghela nafas pasrahnya.


Afnan melihat kearah Daniel. Dirinya sebagai kakak dari Darren mewakili Darren meminta maaf.


"Daniel. Maafkan sikap Darren ya. Darren memang seperti itu. Nanti lama-lama juga Darren mau berteman dengan kamu. Percayalah!"


"Tidak apa-apa, Kak! Aku mengerti dan aku sama sekali tidak marah." Daniel berbicara sembari tersenyum tulus kearah Afnan.


Afnan, Naura dan anggota keluarga Smith sudah tahu perihal Daniel yang sempat bekerja sama dengan Andara untuk menyingkirkan Darren dari keluarga Austin. Bukan bekerja sama sesungguhnya. Melainkan Andara mengiming-imingkan Daniel untuk bisa mendapatkan cintanya Kiran.


Daniel mencintai Kiran yang saat itu berstatus kekasih dari Darren. Daniel ingin merebut Kiran dari Darren. Segala cara dicoba oleh Daniel. Namun usahanya gagal karena Kiran sangat mencintai Darren.


Rasa cinta Daniel dan kegagalan Daniel untuk mendapatkan Kiran terendus oleh Andara. Dan berakhir Andara menjadikan Daniel mainannya untuk menghancurkan Darren. Andara menjanjikan Kiran akan sepenuhnya menjadi miliknya.


Dan benar!!!


Sesuai janji dan perkataan Andara. Kiran sudah menjadi miliknya sepenuhnya. Kiran tidak mencintai Darren lagi.


Setelah mendapatkan Kiran. Dan menjadikan Kiran miliknya. Musibah menimpa salah satu orang tuanya yaitu ibunya.


Di tengah jalan ketika hendak pulang. Ibunya dicegat beberapa preman lengkap dengan senjata di tangan para preman-preman itu.


Preman-preman itu tak segan-segan menyakiti ibunya. Bahkan membunuh korbannya jika korbannya tidak mematuhi perintah mereka.


Preman-preman itu merampok semua milik ibunya Daniel. Mulai dari perhiasan, uang dan juga mobil yang dikendarai oleh sopirnya.


Ketika ibunya Daniel hampir saja dibunuh. Darren yang kebetulan melintas seketika berhenti. Dan tanpa pikir panjang lagi Darren pun langsung menolong ibunya Daniel dengan membunuh semua preman-preman itu.


Setelah kejadian itu, ibunya Daniel pun bercerita tentang Darren yang telah menyelamatkan nyawanya dan juga sopirnya.


Mendengar cerita dari ibunya membuat Daniel terkejut. Daniel terkejut ketika mengetahui Darren yang telah menyelamatkan nyawa ibunya. Sedangkan Daniel telah melakukan kesalahan besar dengan merebut Kiran dari Darren.


Semenjak mengetahui kebenaran itu. Daniel memutuskan untuk meninggalkan Kiran dan juga meninggalkan negara Australia. Daniel pergi ke Belanda dan kuliah disana.

__ADS_1


Daniel kembali lagi ke Australia setelah mengetahui kebenaran tentang masalah yang dihadapai oleh Darren dan keluarganya. Bahkan ibunya juga sudah tahu perihal Daniel yang bermain curang dengan merebut Kiran dari Darren.


Dari kejadian itulah Kiran menerima cinta Daniel dan akan melupakan cintanya terhadap Darren. Dan Kiran tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Begitu juga Daniel. Daniel akan mencintai Kiran seperti Darren mencintai Kiran dulu. Dan akan menjadi teman Darren yang baik serta setia.


__ADS_2