
Seluruh anggota keluarga saat ini berada di rumah Darren. Baik keluarga Smith, keluarga Austin maupun keluarga Fernandez. Mereka semua berada di ruang tengah. Sementara Darren berada di kamarnya.
"Bagaimana keadaan Darren sekarang?" tanya Julian.
"Terakhir saat kami ke kamarnya. Kondisinya sudah lebih baik," jawab Afnan.
"Aku gak tega lihat Darren yang sekarang ini. Darren sekarang ini terlihat rapuh. Di depan kita aja Darren selalu berusaha tegar dan kuat. Jika sudah tidak kuat lagi. Darren akan menunjukkan sisi lemahnya." Merryn berbicara sambil membayangkan kondisi terakhir adik sepupunya ketika terakhir bertemu.
"Kau benar Merryn. Darren yang sekarang beda dengan Darren yang dulu," sela Lory.
"Semenjak kecelakaan tabrakan itu. Semenjak itulah kondisi kesehatan Darren menurun. Darren gampang jatuh sakit jika terlalu banyak pikiran." Nuria ikut bersuara mengenai kondisi adiknya.
"Setelah Darren membunuh Arnold. Seketika itulah kondisi Darren mulai tak baik. Rasa takut dan kilasan kejadian dimana Mama, tante Amanda dan nenek Victoria dibunuh di depan matanya. Di satu sisi Darren ingin membunuh semua musuh-musuhnya. Disisi lain, Darren tidak bisa melakukannya. Tante Andara adalah istri dari om Rafael sekaligus ibunya Michel. Tante Marissa adalah ibu dari kak Raka, kak Satya, Vito, Velly dan Nasya. Walau mulut mengatakan sudah tidak peduli lagi. Tapi tatapan mata tidak bisa bohong." Nuria berucap.
"Melihat Darren yang tidak bisa melakukannya. Bagaimana kami bisa melakukan pembalasan itu!" seru Afnan.
"Darren melakukan semua itu untuk keluarga Austin," ucap Marco.
"Maka dari itulah kita menyerahkan tante Andara, tante Marissa dan suaminya ke polisi. Dan mereka akan mendapatkan hukuman mati dari pengadilan," ucap Marco lagi.
Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya hanya diam. Hati mereka kembali merasakan sakit jika sudah membahas masalah Darren. Bagaimana tidak? Apa yang telah terjadi terhadap Darren itu semua tak lepas dari ulah mereka. Mereka lah yang sudah membuat Darren menjadi seperti ini.
Ketika mereka tengah membahas kondisi kesehatan Darren yang menurun, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara benda jatuh dan juga teriakan Darren dari lantai dua.
PRAANNGG!
"Aarrgghh!"
Mendengar suara teriakan Darren membuat mereka semua langsung berlari menuju kamar Darren.
^^^
Di dalam kamar Darren terlihat mengamuk setelah mendapatkan kabar buruk dari salah satu tangan kanannya yaitu Maxi.
"Andara!" teriak Darren.
Darren berteriak sembari melempar semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya
BRAAKK!
Pintu dibuka secara paksa oleh Marco dan Alfin. Ketika pintu kamar Darren terbuka. Mereka semua pun melangkah masuk.
Setiba di dalam kamar. Mereka semua terkejut melihat kondisi kamar Darren. Kamar Darren dalam keadaan berantakan. Banyak pecahan kaca berserakan di lantai.
Nuria seketika berteriak ketika melihat telapak tangan adiknya berdarah.
"Astaga, Darren!" Nuria langsung mendekati adiknya.
Mendengar teriakan Nuria dan melihat telapak tangan Darren yang mengeluarkan banyak darah membuat mereka semua menatap khawatir Darren. Mereka tidak tahu apa yang sudah membuat Darren mengamuk seperti ini.
Nuria menarik tangan adiknya dan kemudian menduduki adiknya ke sofa. Sementara Afnan sudah berlari ke bawah untuk mengambil kotak obat dan handuk kecil dan diikuti oleh Velly dan Nasya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Nuria.
Darren tidak memberikan reaksi apapun. Tatapannya kosong saat ini. Darren masih mengingat apa yang disampaikan oleh Maxi di telepon.
"Kak Nuria, ini!"
Afnan, Velly dan Nasya datang membawakan baskom kecil, handuk kecil, kotak obat dan alat kedokteran Nuria. Setelah itu, Nuria mulai mengobati tangan adiknya.
Saskia membelai lembut kepala adiknya. Dirinya benar-benar khawatir akan adiknya itu. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
DRTT!
DRTT!
Ponsel Darren kembali berbunyi. Mendengar ponsel Darren yang berbunyi Devano yang kebetulan berdiri di dekat meja langsung mengambil ponsel Darren dan memberikannya kepada Darren.
"Ren. Dari Zidan," ucap Devano.
__ADS_1
Darren langsung mengambil ponselnya dari tangan kakak sepupunya itu dan langsung menjawab panggilan dari Zidan.
"Hallo, Ren! Ini gawat!"
"Katakan."
"Andara... Andara berhasil keluar dari penjara. Ada seseorang yang menjadi jaminannya."
"Aku sudah tahu. Barusan Maxi menghubungiku."
"Dan lebih parahnya lagi. Kita melupakan satu hal Ren!"
"Melupakan satu hal? Maksud kamu apa Zidan?"
"Kita beberapa hari ini terlalu fokus sama Andara, Arnold dan Marissa sehingga kita melupakan satu musuh lagi."
"Jadi..."
"Sebenarnya musuh kita bukan hanya Arnold, Andara, Marissa dan suaminya. Melainkan perempuan itu juga. Kamu masih ingat flashdisk kosong yang kamu berikan kepada sopir ibumu?"
"Iya. Dan flashdisk itu ada padaku. Om Julian memberikannya kepadaku."
"Apa kau sudah melihat isinya?"
"Belum."
"Aku sangat yakin jika di dalam flashdisk itu tersimpan identitas perempuan itu. Inisial perempuan itu MR. Dan lebih parahnya lagi. Kita semua sudah terkecoh. Bukanlah inisial MR itu adalah Tante Marissa. Sedangkan kita sudah menangkapnya. Jadi....."
"Jadi...." Darren mengulangi perkataan dari Zidan.
"Tante Marissa hanya sebagai pengalihan dari perempuan yang berinisial MR. Baik tante Marissa maupun perempuan itu saling bekerja sama. Perempuan itu telah banyak mengetahui tentang keluarga Austin dan juga keluarga Smith, salah satunya adalah ibumu. Perempuan itu dekat dengan ibumu. Kenapa perempuan itu memilih Tante Marissa dan menjadi Tante Marissa sekutunya?"
"Kenapa?"
"Karena perempuan itu tahu bahwa tante Marissa memiliki dendam pribadi dengan ayahmu. Perempuan itu meminta tante Marissa untuk bertindak terlebih dahulu. Sedangkan perempuan itu bertindak secara sembunyi-sembunyi. Bahkan perempuan itu berjanji jika terjadi sesuatu pada tante Marissa, suaminya dan anak-anaknya. Perempuan itu akan membantunya."
"Lalu apa hubungannya dengan tante Andara?"
"Jadi..."
"Perempuan itulah yang sebenarnya musuh kita, Ren! Dan musuh kita masih berkeliaran."
Mendengar perkataan dari penjelasan dari Zidan. Darren mengalihkan pandangannya kearah Julian yang saat ini berdiri di samping Erland.
Setelah berbicara dengan Zidan. Keduanya sama-sama mematikan panggilan tersebut.
Mereka semua melihat kearah tatapan Darren. Tatapan Darren tertuju kepada Julian.
"Kenapa Darren melihat kearah Papa," batin Andra, Adnan dan Merryn.
"Kenapa Darren melihat kearah om Julian," batin Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.
"Ada apa ini," batin anggota keluarga lainnya.
"Om Julian," panggil Darren.
Julian langsung mendekati Darren, lalu duduk di sampingnya.
"Ada apa, hum? Apa Ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?" tanya Julian sembari tangannya mengusap lembut kepala Darren.
"Apa om sudah melihat semua isi flashdisk yang ditemukan di saku bajunya tante Amanda?"
"Sudah sayang. Om dan ketiga kakak-kakakmu sudah melihat semuanya. Kenapa sayang?"
"Apa di dalam flashdisk itu dua orang perempuan berinisial AR dan MR?"
"Iya, Ren!"
"Untuk yang AR adalah Andara. Tinggal yang perempuan yang berinisial MR."
__ADS_1
Darren menatap lekat wajah Julian. "Apa om yakin sudah melihat semua isi flashdisk itu? Coba om ingat-ingat lagi. Dan juga Kak Andra, Kak Adnan, Kak Merryn!" Darren mengalihkan pandangannya melihat ketiga kakak-kakak sepupunya.
Mendengar perkataan dari Darren. Julian, Andra, Adnan dan Merryn berusaha untuk mengingat ketika mereka melihat isi flashdisk itu.
Seketika Merryn membelalakkan matanya ketika mengingat sesuatu.
"Aku ingat!" seru Merryn.
Mereka semua melihat kearah Merryn, termasuk Darren.
"Papa masih ingat gak. Ada dua yang gak bisa kita buka. Yang satu berupa video dan yang satunya berupa file!" seru Merryn.
Mendengar seruan Merryn. Seketika Julian, Andra dan Adnan pun mengingatnya.
"Ach, iya! Merryn benar. Ada dua yang gak bisa dibuka. Satu video dan yang satunya file," sahut Andra.
Mendengar jawaban dari Merryn dan Andra. Seketika terukir senyuman di sudut bibir Darren.
"Aku akan segera menemukanmu. Dan kau Andara. Kali ini kau akan benar-benar mati ditanganku," batin Darren.
Darren kembali menghubungi Zidan dan meminta Zidan untuk datang ke rumahnya.
Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung..
"Hallo, Ren."
"Kamu ke rumahku sekarang. Bawa Reno bersamamu."
"Baiklah."
Setelah selesai, Darren langsung mematikan teleponnya.
Darren menatap satu persatu anggota keluarganya yang saat ini menatapnya khawatir.
"Andara sudah keluar dari penjara," ucap Darren.
"Apa? Andara keluar dari penjara?"
Mereka semua terkejut ketika mendengar Andara yang keluar dari penjara.
"Bagaimana bisa?" tanya Garvin.
"Siapa yang berani mengeluarkan perempuan brengsek itu?" tanya Tamara.
"Ada seseorang yang mengeluarkannya. Dan orang itu menjadi penjamin untuknya," jawab Darren.
"Darren. Apa jangan-jangan orang yang mengeluarkan Andara dari penjara orang yang berinisial MR itu?" tanya Julian.
"Iya. Om Julian benar. Perempuan itulah yang mengeluarkan Andara dari penjara."
"Jadi alasan kamu menyuruh Zidan untuk datang kemari untuk meminta Zidan dan Reno untuk membuka video dan file yang tidak bisa dibuka oleh om Julian?" tanya Vito.
"Hm." Darren mengangguk.
"Apa perempuan itu juga ikut keluar?" tanya Nasya dengan suara dinginnya.
Darren dan yang lainnya langsung melihat kearah Nasya. Terlihat amarah dan dendam di mata Nasya.
Nasya memang sangat membenci ibu kandungnya. Di hatinya tidak ada lagiĀ nama dan tempat untuk ibunya itu.
"Apa yang akan Kak Nasya lakukan jika dia ikut keluar?" tanya Darren.
"Jika perempuan itu tidak mengusik keluarga kita. Kakak juga tidak akan berbuat hal buruk padanya. Tapi jika dia berbuat buruk dan ingin melukai salah satu dari kita. Maka Kakak akan membunuhnya. Tidak peduli jika dia adalah ibu kandung Kakak." Nasya menjawab dengan penuh penekanan.
Nasya sudah bertekad dan bersumpah untuk selalu menjaga keutuhan keluarganya. Dirinya tidak ingin dan tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Sekali pun orang itu ibu kandungnya sendiri.
"Dan Kakak tidak akan membiarkan perempuan itu menyakitimu," ucap Nasya dengan tatapan teduhnya kearah Darren.
Darren tersenyum bahagia mendengar perkataan dari kakak kembarnya itu. Begitu juga dengan yang lainnya.
__ADS_1
"Kak Nasya gak perlu khawatir. Dia tidak ikut keluar. Dia masih berada di dalam penjara. Ketika Andara keluar. Andara sama sekali tidak membawanya dan suaminya bersamanya. Andara pergi tanpa mengatakan apapun kepada sekutunya itu." Darren berbicara sambil menatap wajah cantik kakak kembarnya.
"Baguslah kalau begitu. Ini baru kabar yang menggembirakan," sahut Nasya.