REVENGE

REVENGE
Memulai Penyerangan


__ADS_3

Setelah selesai makan siang bersama. Kini Darren dan anggota keluarganya sudah berkumpul di ruang tengah. Sesuai yang diinginkan Darren ketika menelpon semua anggota keluarganya untuk datang ke rumahnya.


"Pasti kalian bingungkan aku menyuruh kalian semua untuk datang ke rumahku?" tanya Darren dengan menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


Mereka bukannya menjawab justru mereka tersenyum menatap wajah tampan Darren.


Melihat anggota keluarganya menatapnya dan tidak menjawab pertanyaan darinya membuat Darren merengut kesal.


"Aish. Terserah kalian lah."


"Hahahaha." mereka tertawa ketika melihat wajah kesal Darren.


"Nah, tuhkan!" Darren menatap horor para anggota keluarganya.


"Oke... Oke! Maafkan kami. Sekarang katakan. Apa yang ingin kamu sampaikan. Opa sudah curiga dari awal kamu menghubungi anggota keluarga."


Robert pun memilih menyerah dan bertanya kepada Darren, cucunya. Robert tidak ingin membuat cucunya makin bertambah kesal.


"Aku ingin mempercepat balas dendam," jawab Darren.


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua setuju. Mereka juga sama seperti Darren. Mereka ingin masalah ini segera selesai.


"Katakan sayang. Apa rencanamu?" tanya Erland.


"Bukan rencana lagi. Justru aku sudah memulainya. Mulainya malam ini," jawab Darren.


Mereka semua terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren yang mengatakan sudah memulainya. Mereka dapat melihat dari tatapan mata Darren tersirat amarah, kebencian, dendam dan rasa lelah disana. Mereka menjadi tidak tega melihat kondisi Darren akhir-akhir ini.


Darren menatap wajah para kakak-kakaknya. Baik keempat kakak maupun para kakak sepupunya.


"Kak Marco, Kak Afnan, Kak Willy, kak Devano, Kak Alfin, Kak Garvin. Aku butuh bantuan kalian."


"Katakan Ren!" seru Marco, Afnan, Willy, Devano, Alfin dan Garvin bersamaan.


"Aku, Zidan, Chico, Barra dan Chello sudah merencanakan untuk menyerang markas mafia SINALOA, keluarga Cassandra, keluarga Jecolyn dan para kelompok pendukung kedua keluarga itu. Penyerangan akan dilakukan pukul 12 malam."


"Aku membaginya menjadi 4 kelompok. Kelompok Zidan akan menyerang markas mafia SINALOA. Kelompok Barra menyerang keluarga Arnold Yoseph Jecolyn. Kelompok Chico akan menyerang keluarga Cassandra. Dan kelompok Chello menyerang para pendukung kedua keluarga itu. Aku ingin kelompok mafia Kak Marco, kak Afnan, kak Devano, kak Alfin dan kak Garvin membantu keempat sahabat-sahabatku dan kelompoknya."


Mendengar ucapan dan permintaan Darren dengan senang hati mereka akan langsung mengabulkannya. Secara kelompok-kelompoknya Darren melakukan pekerjaan itu demi melindungi keluarga mereka.


"Kelompok BLOODS akan membantu kelompok Zidan," sahut Willy.


"Kelompok KING LATINA akan membantu kelompok Barra," sahut Garvin.


"Kelompok COSA NOSTRA akan membantu kelompok Chico," sahut Devano.


"Kelompok THE CRIPS akan membantu kelompok Chello," sahut Alfin.


Mendengar jawaban dari keempat kakak-kakak sepupunya membuat Darren tersenyum bahagia.


"Dan untuk Kak Marco dan Kak Afnan. Karena ini adalah makanan kalian berdua. Aku serahkan kepada kalian." Darren berbicara sambil menatap wajah kedua kakaknya itu.


"Kau pasti menyuruh kami untuk bermain-main dengan Perusahaan mereka. Bukan begitu, hum?" tanya Marco.


"Lalu mengambil alih Perusahaan tersebut," sela Afnan.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari kedua kakaknya itu Darren tersenyum sambil memperlihatkan dua gigi besarnya.


Melihat senyuman Darren seperti itu membuat hati mereka menghangat. Mereka semua tahu bagaimana cara untuk membuat keponakannya/adiknya/cucunya/putranya tersenyum. Dengan cara memenuhi dan mengabulkan apa yang diinginkan oleh Darren. Keinginan dan permintaan Darren pun tidak terlalu berat dan sepele.


"Iya," jawab Darren.


"Baik. Dengan senang hati," sahut Marco dan Afnan bersamaan.


Darren menatap wajah ayah dan kelima kakak-kakaknya yang satu ayah dengannya.


"Papa."


"Iya, sayang! Katakanlah!"


"Iya, Ren! Katakanlah. Sudah saatnya kita melakukannya," sahut Raka.


"Iya, Ren! Kakak ingin masalah ini cepat selesai," sela Satya.


Darren menatap lekat wajah Raka dan Satya, terutama manik coklat kedua kakaknya itu. Dapat Darren lihat banyak tersimpan kerinduan dan penyesalan disana. Darren tahu bahwa akhir-akhir ini kedua kakaknya itu berusaha untuk mengambil hatinya dan ingin berdamai dengannya.


"Apa kalian benar-benar siap?" tanya Darren.


"Kami yakin dan kami benar-benar siap," jawab Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya. Mereka menjawab bersamaan sembari menatap wajah Darren.


"Sekali pun kalian akan melawan ibu kandung kalian sendiri?" tanya Darren tepat sasaran.


Mendengar pertanyaan dari Darren membuat hati Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tertohok. Mereka terdiam. Darren yang melihat keterdiaman kelima kakaknya tersenyum di sudut bibirnya.


"Sayang. Katakan pada Papa apa ada masalah sehingga kamu berbicara seperti itu? Tolong jangan ada rahasia apapun. Katakan apa yang tidak Papa ketahui tentang mantan istri pertama Papa itu?" Felix berharap putranya mau mengatakan semuanya padanya.


Sama hal seperti Felix. Julian berharap keponakannya itu mau menceritakan semuanya.


"Marissa Haque bukanlah Marissa Haque," ucap Darren.


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua bingung, terutama Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.


"Apa maksudmu sayang? Papa benar-benar tidak mengerti."


"Marissa Haque itu bukan nama asli dari mantan istri Papa itu. Nama aslinya adalah Martina Harvey. Marissa Haque itu nama dari mantan sahabatnya."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Felix benar-benar terkejut. Dirinya tidak menyangka jika dirinya telah ditipu oleh mantan istrinya itu.


"Aku tahu apa yang Papa rasakan selama ini. Dan aku sangat yakin jika Papa saat ini merasakan kekecewaan yang begitu besar terhadap kedua istri Papa. Baik istri pertama Papa maupun Mama."


Felix menatap wajah putranya. Terlihat kesedihan di mata putranya itu. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Asal Papa tahu kedua istri Papa itu memiliki sifat yang berbeda, walau sama-sama telah membohongi Papa. Mama membohongi Papa hanya untuk melindungi keluarganya, terutama keempat anak-anak yang tak lain adalah kakak-kakaku. Nama Mama tetaplah Clarissa. Hanya saja Mama tidak memakai marga aslinya apalagi memakai marga suaminya. Mama lebih memilih memakai marga dari kedua pelayan di rumah yang kebetulan sepasang suami istri. Bahkan Mama juga meminta mereka untuk pura-pura menjadi orang tua untuk Mama."


Mendengar perkataan dari Darren membuat anggota keluarga Smith bingung. Dalam pikiran mereka semua dari mana Darren tahu akan hal itu. Sementara mereka tidak pernah menceritakan masalah itu.


"Darren," panggil Robert.


Darren langsung melihat kearah kakeknya. "Ada apa, Opa?"


"Kamu tahu semua itu dari mana sayang? Masalah itu hanya Kakek, kedua Om mu dan tantemu saja yang tahu."

__ADS_1


"Dari Mama. Mama sudah menceritakan semuanya padaku. Opa tahukan aku orangnya seperti apa? Aku meminta Mama untuk menjelaskan semuanya kepadaku kenapa Mama merahasiakan tentang Kak Saskia, Kak Nuria, Kak Marco dan Kak Afnan dari Papa. Kenapa Mama merahasiakan marga asli Mama dari Papa? Kenapa Mama tidak memakai marga Smith padahal saat itu Mama masih berstatus istri Papa Nandito walaupun Papa Nandito sudah meninggal. Dan kenapa Mama justru memakai marga dari kedua pelayan di keluarga Smith dan menjadikan mereka sebagai orang tua Mama. Awalnya Mama tidak mau. Bukan tidak mau. Mama akan menceritakan ketika waktunya sudah tepat. Tapi aku memaksa dan mengancam Mama. Dan pada akhirnya Mama pun menceritakan semuanya padaku. Dan dari Mama jugalah aku tahu tentang kematian Papa Nandito."


Darren kembali menatap wajah ayahnya. "Dan itulah alasan kenapa Mama memilih untuk merahasiakan semua ini dari Papa. Mama melakukan semua itu untuk melindungi keluarganya."


"Sekarang jelaskan semuanya sama Kakak, Ren! Apa alasan perempuan itu memakai nama palsu ketika menikah dengan Papa," ucap dan tanya Nasya.


Semenjak mengetahui sifat buruk ibu kandungnya. Semenjak itulah Nasya bersumpah tidak akan pernah memaafkan kesalahan ibunya itu. Bahkan Nasya tidak akan pernah menerima perempuan itu sebagai ibunya. Di dalam hati Nasya hanya ada satu wanita dalam hidupnya. Wanita itu adalah Clarissa Smith, perempuan yang sudah merawat dan menjaga dirinya dan kakak-kakaknya selama ini.


Sementara Darren dan anggota keluarga lainnya hanya bisa diam ketika mendengar perkataan dari Nasya. Mereka dapat melihat dari tatapan mata Nasya, ada kebencian disana. Mereka semua tahu bahkan Felix dan keempat saudaranya sangat tahu seperti apa sifat Nasya yang sebenarnya.


"Martina menikah dengan Papa hanya untuk membalaskan rasa sakitnya terhadap Papa dan Mama dulu. Setelah dia berhasil mendapatkan hati Papa. Martina langsung merubah namanya dan juga marganya serta merubah identitas. Rencana pertamanya berjalan lancar. Martina meninggalkan Papa ketika Perusahaan Papa dalam masalah besar. Martina lebih memilih pergi dengan laki-laki lain dari pada bertahan dengan Papa dan kelima anaknya. Martina melakukan semua itu karena Martina sudah mendapatkan apa yang dia incar selama ini."


"Mak-maksud kamu, Ren?" tanya Vito.


"Sebenarnya ini sudah diatur oleh Martina dan selingkuhannya itu. Bukan selingkuhan. Lebih tepatnya kekasihnya. Laki-laki itu sangat mencintai Martina. Ketika Martina tahu pria itu sangat mencintainya. Akhirnya Martina pun menerima pria itu dan berusaha melupakan Papa. Setengah tahun mereka pacaran bahkan mereka berniat akan menikah Martina mendapatkan kabar bahwa Mama telah menikah. Mendengar kabar itu membuat Martina memiliki ide buruk. Martina menceritakan kepada kekasih tentang idenya itu. Mendapatkan persetujuan dari kekasihnya itu, Martina pun beraksi. Dan berakhirlah Martina menikah dengan Papa dengan menggunakan nama Marissa Haque. Tujuannya agar jika Papa ingin balas dendam padanya. Papa tidak akan bisa menyentuh keluarga aslinya."


"Brengsek!" umpat Vito, Velly dan Nasya.


"Saat itu Perusahaan Papa baik-baik saja. Perusahaan Papa dikabarkan akanĀ hancur dan akan segera bangkrut itu semua ulah dari Martina dan kekasihnya. Kekasihnya Martina telah meretas sistem keamanan dan data keuangan Perusahaan Papa. Setelah mendapatkan semua itu, kekasihnya Martina itu memindahkan semuanya ke Perusahaan miliknya sehingga membuat Perusahaan Papa mendapatkan masalah besar. Dan dengan begitu Martina memiliki alasan untuk pergi meninggalkan Papa dan kelima anak-anaknya. Sebenarnya Martina tidak ingin memiliki anak dari Papa. Untuk memuluskan rencananya. Terpaksa Martina atau Marissa melakukan tugasnya sebagai istri dan ibu yang baik untuk Papa dan kelima anak-anaknya."


Felix dan kelima anak-anaknya benar-benar marah ketika mendengar semua kebenaran yang dilontarkan oleh Darren. Mereka tidak menyangka jika perempuan itu tega melakukan hal keji seperti itu.


"Benar-benar perempuan murahan. Perempuan tidak tahu diri," ucap Raka dengan penuh amarah.


"Dasar perempuan rendahan." Satya benar-benar marah dan juga membenci perempuan yang telah melahirkannya.


Darren, keluarga Smith dan keluarga Julian menatap sedih Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.


"Dan perempuan itu akan kembali untuk merebut rumah milik keluarga Austin. Perempuan itu datang bersama suami dan ketiga anaknya!" seru Darren.


"Apa?!"


Felix, Raka, Satya, Vito, Velly, dan Nasya terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren.


"Iya. Kalian akan bertemu dengan ibu dan adik tiri kalian," ucap Darren.


"Yak, Ren! Perempuan itu bukan ibu kami," sahut Vito.


"Dan ketiga anaknya itu bukan adik kami," ujar Velly.


"Kami tidak akan pernah mau menerima dan mengakui mereka. Kami hanya memiliki satu orang adik di dunia ini!" seru Nasya dengan menatap horor Darren.


"Siapa?" tanya Darren.


"Kamu," jawab Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya bersamaan.


Darren seketika membulatkan kedua matanya ketika mendengar jawaban kompak dari kelima kakak-kakaknya.


"Apa benar aku adik kalian? Secara marga kita saja beda. Kalian bermarga Austin. Sementara aku bermarga Smith. So! Adik dari mana?" ucap dan tanya Darren.


Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya menggeram kesal dan mata mereka menatap horor adiknya. Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Darren," ucap Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya kesal.


"Hahahaha." tawa Darren pun pecah.

__ADS_1


__ADS_2