REVENGE

REVENGE
Isak Tangis Darren


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Seperti yang sudah direncanakan. Semua sahabat-sahabatnya Darren sudah berada di rumah Darren. Mereka semua memutuskan untuk menginap.


Ketika sampai di rumah Darren. Zidan, Chico, Barra dan Chello juga sama seperti Briyan, Faza dan Kevin. Mereka terkejut ketika melihat Clarissa, ibunya Darren ada di hadapannya. Mereka menangis ketika melihat perempuan yang begitu disayangi dan dihormati oleh Darren ternyata masih hidup.


Semuanya telah berkumpul di ruang tengah minus Darren. Darren masih berada di kamarnya.


Mereka semua tengah berbincang-bincang sambil menunggu hidangan makan malam selesai di hidangkan.


Menu makan malam ini sangat banyak. Sebagian ada yang dimasak. Dan sebagiannya lagi delivery.


Ketika mereka semua tengah berbincang-bincang, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.


TAP!


TAP!


TAP!


Mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Mereka semua melihat ke asal suara. Mereka semua tersenyum ketika melihat Darren yang menuruni anak tangga.


Darren menggunakan piyama motif kelinci, hewan kesayangannya. Darren melangkahkan kakinya menuju arah dapur. Dirinya tidak menyadari jika semua anggota keluarganya dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah berkumpul di ruang tengah dan kini semuanya tengah menatapnya.


"Nuria," panggil Clarissa.


"Iya, Ma!"


"Apa adikmu itu sudah benar-benar membaik dari kecelakaan kemarin? Mama lihat wajah Darren masih terlihat pucat," ucap dan tanya Clarissa pada putri keduanya.


"Mama tidak perlu khawatir, oke! Darren baik-baik saja."


Nuria berusaha meyakinkan ibunya tentang kondisi adiknya itu. Nuria juga sengaja tidak menceritakan kondisi sebenarnya tentang adiknya itu kepada ibunya.


Bukan hanya Nuria. Semua anggota keluarga juga sepakat untuk tidak memberitahu tentang kondisi Darren kepada Clarissa. Mereka semua tahu bagaimana besarnya sayang Clarissa kepada Darren. Begitu juga Darren kepada Clarissa.


Bukan berarti kasih sayang Clarissa tidak besar kepada putra-putrinya yang lain. Rasa sayang dan kepedulian Clarissa berikan kepada semua anak-anak sama besar, sama banyak dan selalu bersikap adil.


Hanya saja disini Darren berstatus paling kecil. Baik keempat kakaknya yaitu Saskia, Nuria, Marco dan Afnan. Kelima kakaknya yaitu Raka, Satya, Vito, Velly, dan Nasya. Serta para kakak-kakak sepupunya.


Dan mereka semua tahu bagaimana kondisi Darren sejak lahir. Darren memiliki sifat sensitif dan juga masalah kesehatannya.


Mereka semua masih terus memperhatikan Darren yang saat ini tengah sibuk berbicara dengan seseorang di telepon sembari sesekali meneguk minuman dingin ke mulutnya. Mereka hanya tersenyum melihatnya.


Ketika Darren melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Matanya tak sengaja melihat sosok orang yang begitu dirindukan. Seketika tubuh Darren mematung di tempat.


Melihat Darren yang berdiam diri di posisinya. Mereka semua sudah meyakini bahwa Darren telah melihat kearah Clarissa.


"Ma-mama," gumam Darren. Dan setetes air matanya jatuh membasahi wajah tampannya.


Clarissa berdiri dari duduknya, lalu kakinya melangkah menghampiri putra bungsunya itu.


Kini Clarissa sudah berdiri di hadapan putra bungsunya. Kemudian tangannya mengusap lembut wajah putranya itu dengan lembut.


Merasakan sentuhan yang begitu lembut di wajahnya. Seketika tanpa sadar menjatuhkan ponsel dan botol minum yang ada di tangannya.

__ADS_1


PRAANNGG!


Ponselnya hancur seketika dan air yang ada di dalam botol minum tersebut berserakkan.


"Ini Mama sayang. Mama masih hidup. Perempuan yang kamu tolong beberapa hari yang lalu adalah Mama. Maafkan Mama yang tidak langsung memelukmu saat itu." Clarissa berucap sembari tangannya masih bermain-main di wajah putranya.


Bibir Darren bergetar. Isak tangisnya sedikit terdengar dari mulutnya. Matanya tak lepas memandangi wajah cantik perempuan yang ada di hadapannya dan disertai air matanya yang jatuh membasahi wajahnya.


Anggota keluarganya dan ketujuh sahabat-sahabatnya yang melihat reaksi Darren ketika melihat ibunya. Melihat hal itu, mereka semua juga ikut menangis.


"Ma-mama... Hiks," isak Darren.


GREP!


Clarissa langsung memeluk tubuh putranya itu. Clarissa sudah tidak tahan untuk memeluk putra bungsunya. Dari sejak Clarissa kembali, Clarissa sudah sangat merindukan putra bungsunya itu.


"Ini Mama sayang. Ini Mama, Nak!"


Clarissa menangis ketika memeluk tubuh putranya. Clarissa dapat merasakan tubuh bergetar putra bungsunya.


"Huuuaaaaa... Mama... Hiks... Hiks... Mama... Huuaaaa..." Dan pada akhirnya, isak tangis Darren pecah di pelukan ibunya.


Mereka yang mendengar suara isak tangis Darren juga ikut menangis. Mereka semua menangis bahagia melihat momen pertemuan ibu dan anak.


Saskia, Nuria, Marco dan Afnan berdiri dari duduknya. Mereka melangkahkan kakinya menghampiri ibu dan adik mereka.


GREP!


"Kakak... Hiks... Mama,"


"Iya, sayang! Mama telah kembali," sahut Saskia.


"Apa kamu bahagia?" tanya Nuria.


"Sangat. Aku sangat bahagia, Kak!"


Merasakan Darren yang ingin melepaskan pelukan. Saskia, Nuria, Marco, dan Afnan langsung melepaskan pelukan mereka.


Darren menatap wajah cantik ibunya, lalu detik kemudian Darren memberikan ciuman di kedua pipi dan kening ibunya.


"Aku merindukan Mama. Terima kasih Mama telah kembali. Jangan pergi lagi. Jika suatu saat nanti Mama mau pergi lagi. Mama harus izin dulu padaku." Darren berucap dengan mempoutkan bibirnya.


Mendengar perkataan dari Darren. Saskia, Nuria, Marco dan Afnan tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.


Clarissa mengusap lembut kepala putranya, lalu memberikan ciuman di kedua pipi dan kening putranya itu.


"Mama juga merindukanmu sayang. Maafkan Mama yang telah pergi meninggalkanmu tanpa meminta izin dulu padamu."


"Aku maafkan," jawab Darren.


Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban dari Darren. Ditambah lagi wajah lucu dan imutnya ketika berinteraksi dengan sang ibu.


"Mama... Hiks," isak Darren.

__ADS_1


Darren kembali memeluk ibunya. Dan menangis di pelukan ibunya.


Mereka semua menatap Darren dengan tatapan penuh kebahagiaan, terutama ketujuh sahabat-sahabatnya.


^^^


Setelah acara tangis-tangisan dan acara pelukan-pelukannya selesai. Setelah acara makan malam bersama juga selesai. Kini semuanya termasuk Darren kembali berkumpul di ruang tengah. Mereka membahas banyak hal disana.


"Mama. Ceritakan padaku. Apa yang terjadi? Kenapa Mama bisa hidup kembali? Yang aku tahu saat aku menyelamatkan Mama dan tante Amanda. Mama sudah tidak sadarkan diri. Bahkan detak jantung dan denyut nadi Mama melemah." Darren bertanya pada ibunya dengan posisi masih memeluk ibunya.


Mendengar pertanyaan dari Darren. Semua mata menatap Clarissa. Mereka ingin mengetahui kejadian sebenarnya.


Clarissa mengusap-ngusap lembut kepala putranya dan jangan lupa senyuman manisnya.


"Untuk masalah itu. Mama tidak tahu kejadiannya seperti apa. Untuk lebih jelasnya. Biarkan Dokter Fanya yang menjelaskan semuanya."


Mendengar perkataan dari Clarissa. Mereka semua mengalihkan perhatiannya kearah Dokter Fanya, termasuk Darren. Darren langsung melepaskan pelukannya.


"Dok. Kami mohon. Tolong jelaskan kepada kami semua," sahut Saskia.


FLASHBACK ON


Darren dan tangan kanannya Vicky tampak khawatir dan takut. Mereka berlari membawa Clarissa dan Amanda memasuki area rumah sakit.


Ketika tiba di dalam beberapa perawat langsung membantu Darren dan Vicky. Mereka langsung segera membawa Clarissa dan Amanda ke ruang operasi.


Clarissa dan Amanda berada di ruang operasi yang berbeda. Dan ditangani dengan Dokter yang berbeda juga.


Ketika di dalam ruang operasi. Kondisi Clarissa sangat mengkhawatirkan. Lima belas menit sang Dokter menangani Clarissa. Detak jantung Clarissa berhenti. Melihat hal itu. Dokter tersebut berusaha untuk mengembalikan detak jantung Yuri.


"Tidak, nyonya! Aku mohon kembalilah. Kembalilah demi putramu. Putramu mempercayakan nyonya padaku. Dan aku sudah berjanji padanya untuk melakukan yang terbaik untuk nyonya." Dokter berbicara sembari menyalakan alat AED.


Alat AED terdapat dua lempeng elektroda AED yang harus ditempelkan ke dada pasien.


Setelah kabel lempeng elektroda ini tersambung ke AED. Setelah elektroda terpasang. Dokter itu menghentikan CPR dengan menekan tombol Analisis.


Setelah dipastikan tidak ada yang menyentuh tubuh pasien selama AED menganalisis denyut jantungnya.


Setelah analisis selesai, AED akan alat AED menyebutkan bahwa pasien perlu diberi kejut listrik. Dan Dokter tersebut pun langsung memberikan kejutan listrik dengan menekan tombol Shock.


Setelah Dokter itu memberikan kejut listrik kepada Yuri. Alat AED tersebut memberikan arahan kepada Dokter untuk memeriksa pernapasan dan denyut nadi pasien.


Ketika Dokter itu mengeceknya. Belum ada tanda-tanda apapun dari Clarissa. Dan dengan begitu, alat AED kembali meminta untuk Dokter tersebut memberikan CPR. Dokter itu pun melakukannya lagi.


Namun usahanya gagal. Clarissa dinyatakan meninggal dunia. Dokter itu sedih. Dirinya gagal menyelamatkan pasiennya.


Dokter itu pun keluar dan memberi kabar kematian Clarissa kepada anggota keluarganya.


Ketika Dokter itu keluar, semua orang yang ada diluar langsung menatapnya.


"Maaf. Saya tidak berhasil menyelamatkan nyonya Clarissa. Nyonya Clarissa dinyatakan meninggal dunia."


Ketika Dokter itu berbicara. Mata sang Dokter mencari keberadaan Darren. Tapi Dokter tersebut tidak menemukan Darren. Dan Dokter itu pun kembali masuk ke dalam ruang operasi dan menatap wajah pucat Clarissa.

__ADS_1


__ADS_2