REVENGE

REVENGE
Keberhasilan Faza Menghibur Ayahnya


__ADS_3

Terlihat beberapa pengendara bermotor dengan para pengendaranya memakai pakaian serba hitam menyusuri jalan raya. Mereka adalah kelompok mafia BLACK LION. Terlihat lambang kepala siang hitam di topeng yang mereka pakai.


Mereka berjumlah sekitar 25 orang. 23 berstatus anggota Mafioso dan 2 orang berstatus sebagai Tangan Kanan.


Kedua Tangan Kanan itu tersebut adalah Alex dan Justin.


Alex dan Justin beserta kelompok mafia BLACK LION tersebut tengah menyisir kota Sidney untuk mencari pemuda yang bernama Cemal. Menurut informasi dari Reno yang mengatakan bahwa Cemal berada di sebuah Apartemen yang letaknya di kawasan elite nomor tiga di Sidney. Lokasi Apartemen itu berada Crown Ashfield.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, tiba-tiba salah satu anggota mafianya melihat dengan jelas lokasi yang dimaksud oleh salah satu tangan kanan sang ketua.


"Bos! Itu lokasinya disana!" seru anggota tersebut sembari menunjuk kearah lokasi yang dimaksud oleh Reno.


Baik Alex maupun Justin langsung melihat kearah tunjuk anggotanya itu. Begitu juga dengan para anggotanya yang lain.


Alex dan Justin saling memberikan tatapan lalu kemudian tersenyum di sudut bibirnya. Setelah itu, keduanya menatap kearah lokasi tersebut.


"Ayo!" seru Alex dan Justin bersamaan.


Setelah mengatakan itu, Alex dan Justin kembali melajukan motornya menuju lokasi tersebut dan diikuti oleh anggota mafianya.


***


Di kediaman Oscar terlihat sepi. Bukan dalam artian sepi tanpa penghuni, melainkan sepi karena tidak obrolan apapun dari anggota keluarga tersebut.


Harley sebagai kepala keluarga sekaligus sebagai ayah dari empat orang putra dan suami dari Ardila masih terlihat sedih. Sudah dua hari sejak kejadian kebakaran perusahaannya.


Hati Ardila merasakan sakit ketika melihat wajah tak semangat suaminya. Dirinya benar-benar tidak tega melihat keadaan suaminya.


Sama halnya dengan keempat putranya. Keempat putranya itu secara bergantian memberikan ketenangan, pelukan, ciuman dan kata-kata penyemangat untuk ayahnya terutama Faza. Disini Faza yang paling terpukul melihat kondisi ayahnya.


Faza bisa mengenal dunia bisnis, itu semua dari ayahnya. Ayahnya itu banyak mengajari dirinya cara mendirikan sebuah perusahaan, cara memimpin perusahaan dan cara memajukan perusahaan. Hal itulah yang membuat Faza terpukul atas musibah yang dialami ayahnya.


"Papi belum makan. Papi makan dulu ya," ucap Kathel sembari tangannya memegang sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk.


"Papi harus makan. Kalau Papi tidak makan nanti Papi bisa sakit," bujuk Kevan.


"Sayang." Ardila mengusap lembut wajah sedih suaminya. Hatinya hancur saat ini. "Benar apa yang dikatakan oleh Kathel dan Kevan. Kamu harus makan agar kamu tidak jatuh sakit."


Harley langsung menggelengkan kepalanya tanda dirinya tidak ingin makan. Dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Papi," lirih Kathel, Kevan dan Faclan.


"Sayang," lirih Ardila.


Ardila dan ketiga putranya menangis melihat orang yang begitu mereka hormati dan begitu mereka sayangi tak bergairah sama sekali.


"Papi mau sampai kapan seperti ini?" seru seseorang melangkahkan kaki memasuki ruang tengah. Dan diikuti oleh tiga pemuda tampan di belakang.


Mendengar seruan seseorang, baik Ardila, Kathel, Kevan maupun Faclan langsung melihat keasal suara tersebut. Dan dapat mereka lihat Faza yang datang bersama tiga sahabatnya yaitu Briyan, Kevin dan Chello.


Kini Faza sudah berada di hadapan ayahnya. Lebih tepatnya Faza duduk di bawah di hadapan ayahnya itu. Tangannya menyentuh bahkan menggenggam kuat tangan sang ayah.


"Mau sampai kapan Papi seperti ini? Mau sampai kapan Papi menyiksa diri Papi sendiri? Apa Papi udah nggak sayang lagi padaku, sama Mami, sama kak Kathel, kak Kevan, kak Faclan?" Faza seketika menangis ketika mengatakan itu kepada ayahnya.


"Mana Papi yang aku kenal? Mana Papi yang selalu semangat setiap mendapatkan masalah dan musibah? Kemana perginya semua itu, Pi?"


Mendengar ucapan demi ucapan dari Faza membuat hati Harley teriris dan sakit. Apalagi ketika melihat air mata putra bungsunya.


Harley menatap wajah basah putra bungsunya itu dengan tatapan bersalah dan menyesal.


"Pi! Aku mohon jangan seperti ini. Kembalilah seperti Papi yang dulu. Aku tahu perasaan Papi. Aku tahu kesedihan Papi. Tapi ini sudah dua hari. Dan Papi masih memikirkan kejadian itu."

__ADS_1


"Pi, ingat! Papi memang kehilangan perusahaan, tapi kepintaran dan kejeniusan Papi dalam dunia bisnis tidak akan pernah hilang. Papi bisa mendirikan perusahaan baru selama perusahaan lama kembali berdiri lagi.  Dengan Papi mendirikan perusahaan baru setidaknya karyawan dan karyawati Papi tidak kehilangan pekerjaannya. Mereka tetap bekerja dengan Papi. Dan bukan itu saja, dengan Papi mendirikan perusahaan baru kita bisa memancing orang yang sudah membakar perusahaan Papi."


Mendengar perkataan dari Faza seketika Kathel, Kevan dan Faclan menatap kearah Faza. Mereka terkejut ketika Faza mengatakan memancing orang yang sudah membakar perusahaan ayahnya.


"Faza," panggil Faclan.


Faza langsung melihat ke samping dimana kakak ketiganya menatap dirinya.


"Apa benar yang kamu katakan barusan bahwa perusahaan Papi memang dibakar oleh seseorang?" tanya Faclan.


"Iya, kak! Itu benar."


Seketika air mata Harley kembali mengalir membasahi wajahnya. Dan hal itu sukses membuat mereka ikut menangis.


"Pi," ucap Kathel.


Faza kembali menatap wajah ayahnya lalu tangannya menghapus air mata ayahnya lembut.


"Fa-faza... Jadi, it-itu...!"


Faza tersenyum ketika mendengar ucapan dari ayahnya walau terbata.


"Iya. Orang yang membakar perusahaan Papi adalah saingan bisnis Papi. Tapi aku dan ketujuh sahabat-sahabatku belum mengetahui siapa dia."


Faza menatap lekat wajah ayahnya dengan tangannya masih menggenggam tangan ayahnya.


"Papi mau bantu aku untuk membuat orang itu keluar dan menampakkan dirinya di hadapan kita?" tanya Faza.


Faza menatap wajah ayahnya. Begitu juga dengan Harley. Dirinya juga menatap wajah tampan putra bungsunya.


Ardila dan keempat putranya yang lain berharap suaminya/ayahnya mau mengabulkan permintaan dari Faza.


"Caranya bagaimana?" tanya Harley.


"Mudah saja. Seperti yang aku katakan barusan. Papi harus bangkit dan berhentilah bersedih. Papi bangun perusahaan baru. Dengan perusahaan baru itu Papi lakukan apa yang Papi lakukan di perusahaan lama. Papi tidak sendirian. Para karyawan dan karyawati Papi sedang menunggu kehadiran Papi. Dan Papi akan dibantu sama kak Kathel, Kevan dan kak Faclan."


"Hm!" Kathel, Kevan dan Faclan seketika berdehem sembari menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perkataan dari Faza.


Berlahan Harley menyentuh pipi putih putra bungsunya lalu kemudian mengusap-usap lembut pipi itu.


"Baiklah. Papi akan lakukan apa yang kamu katakan. Papi akan mendirikan perusahaan baru selama perusahaan lama dalam pembangunan," sahut Harley.


Mendengar jawaban dari Harley membuat Ardila, Kathel, Kevan dan Faclan tersenyum. Mereka akhirnya bisa bernafas lega ketika mendengar jawaban dari orang yang mereka sayangi.


Bagaimana dengan Faza? Dan bagaimana dengan Briyan, Kevin dan Chello? Sudah jelas mereka sangat-sangat bahagia akan hal itu. Terutama Faza. Akhirnya usahanya membujuk ayahnya membuahkan hasil.


"Itu baru Harley Oscar!" seru Faza lalu kemudian Faza memeluk tubuh ayahnya hanya untuk sekedar memberikan semangat.


"Maafkan Papi."


"Papi tidak salah.


Ketika Faza tengah memeluk tubuh ayahnya, tiba-tiba ponsel milik Briyan berbunyi menandakan panggilan masuk.


Briyan yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya. Briyan menatap ke layar ponselnya. Disana tertera nama 'Vicky' tangan kanannya.


"Siapa?" tanya Chello.


"Vicky."

__ADS_1


Setelah itu, Briyan langsung menjawab panggilan dari Vicky.


"Hallo Vicky."


"Hallo Prince. Aku ada kabar gembira untuk anda dan yang lainnya terutama untuk Prince Faza."


Mendengar perkataan dari Vicky seketika Briyan melihat kearah Faza yang mana Faza juga melihat dirinya.


"Kabar gembira apa? Katakan!"


"Aku dan beberapa anggota mafioso sudah berhasil melacak keberadaan dua pengkhianat yang telah mengkhianati tuan Harley. Bahkan aku juga sudah mendapatkan latar belakang keluarga dari kedua pengkhianat itu."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Briyan ketika mendengar laporan dari Vicky.


"Apa itu benar Vicky?"


"Benar Prince."


"Bagaimana dengan Darren, Chico, Barra dan Zidan? Apa mereka sudah tahu hal ini?"


"Sudah Prince. Mereka sudah tahu. Mereka mendapatkan kabar ini dari Satria dan Maxi. Kamu memberikan kabar gembira ini dengan cara berbagi tugas."


"Sekarang kau dimana?"


"Di markas Prince. Disini sudah ada King Darren, Prince Barra, Prince Chico dan Prince Zidan."


"Baiklah. Terima kasih informasinya Vicky."


"Sama-sama Prince."


Setelah itu, Briyan langsung mematikan panggilannya.


Briyan menatap kearah Faza yang memang sejak tadi menatap dirinya.


"Vicky menyampaikan kabar apa Briyan?" tanya Faza.


"Kamu pasti akan bahagia mendengar kabar ini Faza! Terutama untuk om Harley?"


"Apa?" tanya Faza dan Harley bersamaan.


"Para tangan kita sudah mendapatkan keberadaan dua pengkhianat itu."


Mendengar jawaban dari Briyan seketika membuat Faza terkejut sekaligus tersenyum. Sementara Harley menatap wajah Briyan intens. Dirinya ingin memastikan bahwa pendengarnya tidak salah.


"Nak Briyan. Apa itu benar?"


"Iya, om! Seperti itulah yang disampaikan oleh Vicky tangan kanan kami. Bukan hanya keberadaan dua pengkhianat itu saja. Vicky dan anggota mafia kami juga sudah mendapatkan latar belakang keluarga dari kedua pengkhianat itu."


Seketika Harley menangis. Kali ini Harley menangis karena bahagia. Dirinya akhirnya bisa menatap wajah kedua pengkhianat itu.


"Faza, kita ke markas sekarang. Darren, Zidan, Chico Barra sudah disana."


Faza menatap kearah ayahnya. "Mungkin untuk dua minggu ini aku tidak pulang. Tapi ingat! Papi sudah janji padaku untuk mendirikan perusahaan baru dan mulai kembali memimpin perusahaan. Papi tidak sendirian. Ada kak Kathel, kak Kevan dan kak Faclan. Bahkan akan ada beberapa anggota mafia dari BLACK WOLF dan BLACK LION yang akan berjaga-jaga di sekeliling perusahaan baru Papi dengan menyamar."


Harley tersenyum lalu kemudian memberikan ciuman di kening putra bungsunya itu.


"Baik sayang. Papi janji padamu untuk maju. Dan Papi tidak akan sedih lagi."


Faza melihat kearah ibunya. "Mi, aku titip Papi. Laporkan padaku jika Papi bandel."


"Siap sayang?" jawab Ardila.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Faza berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Briyan Kevin dan Chello. Mereka pun berpamitan. Setelah itu, mereka pergi meninggalkan kediaman Oscar.


__ADS_2