REVENGE

REVENGE
Kabar Mengejutkan Dari Zidan


__ADS_3

Malam sudah larut, namun jalan masih terang benderang dan masih ada orang di sana-sini. Mereka tampak seperti para pekerja yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. Bisa dibilang mereka adalah pekerja kantoran. Terlihat dari pakaian yang melekat di tubuh mereka.


Dari para pekerja kantoran itu terlihat salah sosok pria tampan. Pria paruh baya, namun masih terlihat masih muda. Pria paruh baya itu adalah Harley Oscar.


Harley tengah melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Dirinya benar-benar lelah saat ini dan segera pulang ke rumah.


Setelah tiba di dekat mobilnya,  Harley langsung membuka pintu mobilnya lalu masuk kemudian masuk.


Setelah berada di dalam mobil. Harley langsung menghidupkan mesin mobilnya. Beberapa detik kemudian, Harley pun pergi meninggalkan lokasi perkantoran miliknya.


Lima menit kepergian Harley meninggalkan perusahaan miliknya, tiba-tiba keluarlah beberapa orang berpakaian hitam berjalan menuju perusahaan milik Harley sembari membawa sesuatu di tangan masing-masing.


***


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam, Harley pun sampai di gerbang rumahnya.


Kemudian Harley menekan klason mobilnya agar penjaga yang berjaga di rumahnya mendengar suara klason mobilnya.


Tak butuh lama, datang dua penjaga membukakan pintu gerbang yang berukuran besar dan tinggi.


Setelah pintu gerbang terbuka lebar, Harley mengendarai mobilnya memasuki perkarangan rumahnya.


^^^


Harley telah berada di ruang tengah rumahnya. Ketika dirinya pulang, istri tercintanya menyambut kepulangannya dengan tersenyum manis menatap dirinya. Bahkan sang istrinya langsung membantu dirinya membuka jas yang dipakainya.


"Terima kasih, Ardila! Aku bersyukur memiliki istri sepertimu. Setiap malam kau selalu menungguku pulang dari kantor. Aku berjanji padamu. Aku akan usahakan pukul 5 sore sudah di rumah. Dan maaf jika aku terlalu sibuk di perusahaan sehingga tidak ada waktu untukmu dan anak-anak kita." Harley berucap sembari memberikan kecupan sayang di keningnya.


Ardila seketika tersenyum mendengar perkataan tulus dari suaminya itu. Di dalam hati Ardila, dirinya tidak mempermasalahkan sang suami pulang malam. Ardila paham bagaimana sibuknya suaminya di perusahaan.


Semenjak dua asisten perusahaannya yang begitu dipercayai dan disayangi. Bahkan suaminya sudah menganggap dua asistennya itu sebagai adiknya sendiri selama lima tahun. Justru kedua asistennya itu membalas semua kebaikan suaminya dengan sebuah pengkhianatan.


Sejak kejadian itu, suaminya tidak lagi memakai jasa asisten. Suaminya mengambil semua tugas-tugas dari asistennya itu. Bahkan suaminya itu melakukan pengecekan dan penyelidikan latar belakang semua karyawannya dan dibantu oleh keempat putranya. Suaminya takut jika karyawan-karyawatinya juga sama seperti dua asistennya itu. Suaminya tidak ingin kecolongan lagi.


Dan dari hasil penyelidikan tersebut menyatakan bahwa semua karyawan-karyawatinya bersih dan jujur. Baik dari jabatan yang berada kalangan bawah, kalangan menengah dan kalangan atas.


"Sama-sama sayang. Kamu adalah suamiku. Dan sudah seharusnya aku melakukan hal ini padamu. Aku tulus melakukan ini karena aku mencintaimu."


Mendengar perkataan tulus dari istrinya membuat hati Harley menghangat. Lalu Harley kembali memberikan ciuman di kening istrinya.


"Ya, sudah! Sekarang kamu pergilah mandi. Aku sudah siapkan air hangat. Setelah itu, kamu turun lagi ke bawah untuk makan. Aku tahu kamu belum makan di kantor. Aku akan siapkan makan malam yang khusus untuk kamu. Makan malam yang aku buat ini tidak akan bikin kamu gemuk."


Harley tersenyum. "Baiklah istriku sayang."


Setelah mengatakan itu, Harley langsung pergi meninggalkan istrinya di ruang tengah untuk menuju kamarnya.


Melihat kepergian suaminya menuju kamar. Ardila pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju dapur. Dirinya akan membuatkan makanan khusus untuk suaminya. Makanan yang tidak membuat suaminya gemuk.


***


"Siram ke seluruh ruangan yang ada di dalam perusahaan ini. Setelah itu, kalian keluar dan lakukan juga seperti ini diluar! Setelah itu, bakar perusahaan ini!" perintah seorang laki-laki kepada para anak buahnya.


"Baik, Bos!"

__ADS_1


"Harley, ucapkan selamat tinggal dengan perusahaanmu. Setelah ini, aku tidak akan ada saingan lagi dalam dunia bisnis," ucap seseorang di balik topengnya.


Setelah memberikan perintah kepada para anak buahnya dan juga tangan kanannya, pria itu pergi menuju mobilnya.


Pria itu masuk ke dalam lalu memberikan perintah kepada sang sopir untuk pergi meninggalkan lokasi tersebut.


"Ayo, pergi!"


"Baik, tuan!"


***


Keesokan paginya dimana semua anggota keluarga Austin telah bangun dari tidurnya dan sudah dalam keadaan rapi termasuk Darren.


Kini semuanya sudah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sarapan pagi bersama.


"Ren," panggil Marco.


Darren yang dipanggil oleh kakak ketiga satu ibu dengannya langsung melihat kearah kakaknya itu.


"Iya, kak Marco."


"Bagaimana kabarnya Cemal? Apa sudah mendapatkan petunjuk?" tanya Marco.


Mendengar pertanyaan dari kakaknya itu, seketika Darren tersenyum. Darren tersenyum bak anak kecil di hadapan kakaknya dan di depan semua anggota keluarganya.


Melihat senyuman manis di bibir Darren membuat mereka semua meyakini bahwa Darren sudah berhasil mendapatkan petunjuk tentang Cemal, laki-laki yang sudah menyekap Arinda beberapa hari di sebuah gudang.


"Pasti sudah," ucap Nasya.


"Jadi Reno berhasil menemukan petunjuk tentang Cemal?" tanya Afnan.


"Iya," jawab Darren.


"Kapan Reno mengabari kamu masalah itu?" tanya Satya.


"Kemarin di kampus ketika aku dan ketujuh sahabat-sahabatku berada di kelas," jawab Darren.


"Pasti Reno memberitahu informasi lain selain tentang Cemal kepada kamu. Iya kan?" ucap dan tanya Raka.


Darren kembali memberikan senyuman manis di hadapan kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. Tanpa sedikit pun memberikan jawaban berupa kata-kata.


Melihat Darren yang kembali memberikan senyuman manisnya membuat mereka semua hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Dalam artiannya, mereka semua sudah tahu akan jawaban tersebut.


Ketika Darren dan anggota keluarganya sedang menikmati sarapan paginya sembari mengobrol kecil, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi menandakan panggilan masuk.


Mendengar bunyi ponselnya, Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Darren melihat ke layar ponselnya. Tertera nama Zidan.


Tanpa membuang waktu lagi, Darren langsung menjawab panggilan dari Zidan.


"Hallo, Zidan!"

__ADS_1


"Hallo, Ren!"


Seketika Darren terkejut ketika mendengar suara lirih dan serak dari Zidan. Darren seketika berpikir yang aneh-aneh.


"Dan, ada apa? Kenapa dengan suaramu?"


"Ren, perusahaan om Harley!"


"Perusahaan om Harley? Kenapa Dan? Kenapa dengan perusahaan om Harley?" tanya Darren yang sudah dalam keadaan panik dan takut.


"Perusahaan om Harley hangus terbakar."


Deg..


Seketika Darren terkejut dengan matanya yang membulat sempurna. Tubuhnya seketika menegang. Dan seketika setetes air matanya mengalir membasahi wajahnya.


Melihat Darren yang menangis membuat Clarissa, Felix dan para kakak-kakaknya menatap khawatir kearah Darren.


"Kamu sedang bercanda kan Zidan?"


Darren masih belum mempercayai apa yang disampaikan oleh Zidan tentang perusahaan Harley yang tak lain adalah ayah dari sahabatnya yaitu Faza.


"Aku tidak akan berani bercanda tentang masalah ini Darren. Kau tahu siapa aku."


"Sekarang kamu ada dimana? Apa Faza dan keluarganya sudah tahu?"


"Aku ada di lokasi. Ya! Faza dan keluarganya sudah tahu. Om Harley saat ini benar-benar terpukul atas apa yang menimpa perusahaannya. Masalah tentang dua pengkhianat itu, sampai detik ini belum tertangkap. Sekarang om Harley harus kehilangan perusahaannya."


"Apa kamu sudah beritahu Chico, Barra, Chello, Briyan dan Kevin?"


"Sudah. Mereka sekarang bersama dengan Faza dan keluarganya."


"Ya, sudah! Aku segera kesana!"


"Baiklah."


Setelah itu, baik Darren maupun Zidan sama-sama mematikan panggilannya.


"Om Harley," lirih Darren sembari membayangkan wajah terpukulnya.


"Sayang."


"Ren."


Clarissa, Felix, Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya, Saskia, Nuria, Marco dan Afnan menatap khawatir kearah Darren.


"Ren, ada apa?" tanya Saskia.


Darren tidak menjawab pertanyaan dari kakak perempuannya itu. Pikirannya saat ini traveling memikirkan apa yang disampaikan oleh Zidan tentang perusahaan milik ayahnya Faza.


Saskia yang sudah tidak tahan sejak adiknya selesai berbicara dengan Zidan di telepon langsung berdiri dari duduknya. Kakinya kemudian melangkah mendekati adiknya.


Grep..

__ADS_1


Saskia seketika langsung memeluk tubuh adiknya dari belakang.


__ADS_2