
[Kediaman Austin]
Darren saat ini berada di ruang tengah bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya. Mereka saat ini tengah mengecek beberapa informasi penting melalui laptopnya masing-masing. Sekalian mereka akan menerima kabar dari para anggotanya dalam mendapatkan tanda tangan dari sipemilik empat perusahaan keluarga Adler.
Ting..
Ting..
Ting..
Terdengar bunyi notifikasi secara beruntun melalui ponsel mereka masing-masing. Notifikasi dari para anggota mafianya.
Darren, Chico, Barra, Chello, Zidan, Faza, Briyan dan Kevin langsung mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut. Mereka ingin segera melihat hasil dari pekerjaan para anggotanya.
PESAN :
Bos, kami berhasil mendapatkan tanda tangan dari keempat pemilik perusahaan milik Adler. Bahkan kami juga sudah mengganti isinya yang mana isi mengatakan bahwa perusahaan milik keluarga Adler menjadi milik Faza Oscar.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren, Chico, Barra, Chello, Zidan, Faza, Briyan dan Kevin ketika membaca pesan tersebut.
"Rencana kedua berjalan lancar. Sekarang rencana selanjutnya!" seru Darren.
Darren melihat kearah Faza. Begitu juga dengan Chico, Barra, Chello, Zidan, Briyan dan Kevin.
"Faza. Sudah waktunya kau bertindak. Temui keluarga Adler dan perlihatkan berkas kepemilikan perusahaan tersebut kepada mereka. Katakan bahwa kaulah pemilik dari empat perusahaan keluarga Adler."
"Em.. Baiklah!"
"Bajingan itu tidak tahu bahwa kau adalah putra bungsu Om Harley. Jadi dengan begitu kau akan lebih mudah menjalankan balas dendammu. Kau bisa mengajak kerjasama semua anggota keluarga Adler untuk memancing keluar bajingan itu dengan mengiming-imingi bahwa kau akan mengembalikan empat perusahaan itu kepada mereka padahal tidak sama sekali."
Mendengar ucapan sekaligus ide yang diberikan oleh Darren membuat Faza seketika tersenyum di sudut bibirnya. Dia setuju akan ide yang diajukan oleh Darren. Begitu juga dengan Chico, Barra, Chello, Zidan, Briyan dan Kevin.
"Ide bagus tuh Darren!" Chico dan Chello bersamaan.
"Baik. Aku akan melakukannya," jawab Faza.
"Lalu apa rencana selanjutnya untuk keluarga Bader?" tanya Briyan.
"Untuk kali ini biarkan aku yang menghadapi keluarga itu," sahut Darren.
"Baiklah!" seru Chico, Barra, Chello, Zidan, Faza, Briyan dan Kevin bersamaan.
Ketika Darren, Chico, Barra, Chello, Zidan, Faza, Briyan dan Kevin sedang fokus membahas rencana pembalasan selanjutnya. Datanglah anggota keluarganya dan mereka semua pun langsung duduk di sofa.
"Pada tegang semua tuh muka. Kenapa?" tanya Afnan yang menatap wajah adiknya dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Wajah tegang kita seperti ini karena melihat kehadiran kakak tiba-tiba disini. Mengganggu saja," jawab Darren.
Seketika Afnan mendengus ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari adiknya itu. Sementara yang lainnya tersenyum.
Clarissa yang duduk di samping putra bungsunya tersenyum sembari tangannya mengusap lembut kepala belakangnya.
__ADS_1
"Kamu oke, hum?"
"Tadinya oke. Sekarang berubah jadi nggak oke," jawab Darren.
Mendengar jawaban yang seenaknya dari Darren membuat Clarissa serta yang lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Cup..
Seketika Clarissa memberikan ciuman di pipi kanan putra pertama dari pernikahan keduanya itu.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren ketika mendapatkan ciuman dari ibunya.
"Sekarang aku udah oke lagi," sahut Darren.
"Modus!" seru Velly dan Nasya.
"Biarin."
Drrtt..
Drrtt..
Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan bunyi ponsel yang terletak di atas meja. Semuanya melihat kearah ponsel tersebut.
"Tuh ponsel kamu bunyi!" seru Nasya.
"Udah tahu dan dengar juga," jawab Darren bersamaan tangannya mengambil ponselnya itu.
Clarissa sedikit memiringkan kepalanya ke samping guna untuk melihat nama si penelpon tersebut.
Setelah Clarissa mengetahuinya, Clarissa tersenyum sembari menatap wajah tampan putranya itu.
"Sudah angkat saja. Tidak usah sok jual mahal gitu sama perempuan. Ntar lama-lama naksir loh," goda Clarissa.
Mendengar ucapan dari ibunya/istrinya/kakak iparnya/Bibinya membuat semuanya langsung mengerti dan langsung mengetahui siapa yang telah menghubungi Darren. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren.
"Aish!" kesal Darren.
Setelah itu, Darren pun menjawab panggilan dari Arinda dengan wajah yang tak bergairah sama sekali.
"Ada apa?!" Darren langsung bertanya kepada lawan bicaranya dengan nada ketus.
Puk..
Seketika anggota keluarganya dan ketujuh sahabat-sahabatnya langsung menepuk jidatnya masing-masing ketika mendengar nada ketus Darren ketika bertanya kepada Arinda.
Sementara Arinda yang di seberang telepon seketika terkejut ketika mendengar nada ketus Darren. Namun dia berusaha untuk memaklumi sifat Darren yang masih tetap sama padanya. Karena bagaimana pun hubungannya dengan Darren sejak pertama kali bertemu memang tidak baik. Ditambah lagi dia yang menuduh Darren yang sudah membunuh keluarga angkatnya, ditambah lagi dia yang sudah menghancurkan laptop kesayangannya.
"Jika tidak ada yang ingin disampaikan. Saya akan matikan panggilan ini," ucap Darren dengan nada yang tetap ketus.
"Hah!"
__ADS_1
Semua anggota keluarganya dan juga ketujuh sahabat-sahabatnya hanya bisa menghela nafas pasrahnya ketika mendengar ucapan ketus dari Darren. Dan mereka tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Darren akan sikapnya itu. Mereka tahu seperti apa watak dan karakter Darren. Jika ada orang yang menyakitinya atau dengan kata lain orang itu mencari masalah dengannya, sementara dia tidak pernah mengusik orang tersebut, maka Darren akan sulit memberikan maaf terhadap orang tersebut sekali pun orang itu berusaha terus menerus meminta maaf dengan tulus dan bersungguh-sungguh.
Arinda di seberang telepon seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren. Dia tidak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu.
Ketika Darren hendak mematikan panggilannya, Arinda pun bersuara. Nada sedikit bergetar.
"Aku mau mengucapkan terima kasih padamu."
Deg..
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih atas apa yang kamu lakukan kepadaku. Kamu sudah menyelamatkan aku dari gudang itu. Jika bukan berkat kamu, mungkin aku tidak akan ada lagi di dunia ini."
Darren seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan terakhir dari Arinda. Bagi Darren apa yang dikatakan oleh Arinda itu sangat berlebihan.
"Yang menolong kamu itu bukan aku saja. Ketujuh sahabat-sahabatku juga ikut membantumu. Bahkan anggota-anggotaku juga ikut membantumu. Jadi ucapan terima kasih kamu itu sangat berlebihan. Ditambah lagi ketika kamu mengatakan bahwa jika tidak ada aku, maka kamu tidak akan ada lagi di dunia ini. Jangan terlalu memuji apalagi menyanjung seseorang setelah apa yang orang itu lakukan padamu. Hidup dan mati seseorang ada di tangan Tuhan bukan di tanganku. Kamu mati atau pun hidup saat kejadian itu, semuanya bukan karena aku. Itu semua karena Tuhan."
Darren berbicara dengan ekspresi wajah yang tak mengenakkan. Dia tidak ingin seseorang yang dia bantu terlalu berlebihan ketika mengucapkan ucapan terima kasih. Dia tulus melakukan semua itu dan dia tidak mengharapkan apapun, sekali pun orang tersebut tidak mengucapkan terima kasih.
Sementara anggota keluarganya dan ketujuh sahabat-sahabatnya hanya diam tanpa mengeluarkan kata-katanya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Darren yang berbicara dengan Arinda. Mereka semua paham dan mengerti arti dari semua ucapan Darren tersebut.
"Aku minta maaf karena kata-kataku menyinggungmu. Apa yang kamu katakan itu memang benar. Tapi tidak ada salahnya aku secara pribadi mengucapkan terima kasih dengan mengatakan hal itu padamu. Karena pada saat aku dikurung di tempat gelap itu yang aku pikirkan saat itu adalah kematian. Aku saat itu benar-benar mati rasa dan juga aku ketakutan. Aku bahkan tidak memiliki harapan lagi saat itu. Aku akan benar-benar mati."
"Darren, aku tahu kamu masih belum mau memaafkan kesalahanku yang mana aku telah menuduhmu yang telah membunuh keluarga angkatku dan aku juga yang sudah menghancurkan laptop kesayanganmu. Tapi aku benar-benar tulus meminta maaf kepadamu. Aku menyesal, Ren! Sampai kapan kamu membenciku? Tidak adakah sedikit celah buat aku mendapatkan maaf dari kamu. Setidaknya maafkan aku demi Ataya."
"Cukup! Yang salah itu kamu. Yang harus berjuang meminta maaf padaku juga kamu. Jangan membawa-bawa atas nama Ataya agar aku mau memaafkanmu. Jangan berharap aku akan memaafkanmu dengan mudah hanya karena kamu adalah saudari kembarnya Ataya!" teriak Darren.
Pip..
Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilannya. Dia tidak ingin berlama-lama berbicara dengan perempuan tidak tahu diri akan statusnya.
"Brengsek!" teriak Darren penuh amarah.
"Sayang." Clarissa mengusap-usap lembut punggung putranya.
"Dia yang salah, sekarang seenaknya bawa-bawa nama Ataya agar kesalahannya dimaafkan dengan mudah. Dulu ketika Ataya melakukan kesalahan, dia berusaha untuk meminta maaf kepadaku tanpa membawa nama orang lain atau membawa nama keluarganya agar kesalahannya dimaafkan," ucap Darren.
Tes..
Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya ketika sudah menyebut nama Ataya. Seketika ingatan ketika dia pacaran dulu dengan Ataya berputar-putar di kepalanya.
"Ataya," ucap Darren lirih.
Grep..
Clarissa seketika menarik tubuh putranya dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Darren pecah.
"Hiks... Hiks... Hisk," isak Darren.
Semuanya ikut menangis kala mendengar isak tangis Darren di pelukan ibunya. Darren sangat sensitif jika sudah berhubungan dengan Ataya. Mereka tahu Darren paling tidak suka ada pihak lain yang membawa-bawa nama Ataya dalam suatu masalah.
__ADS_1