REVENGE

REVENGE
Mencari Pengganti Ataya


__ADS_3

Di kediaman Austin terlihat semua anggota keluarga berkumpul, termasuk keluarga Smith dan keluarga Fernandez. Semuanya berada di ruang tengah.


Mereka semua tampak bahagia karena Darren dan sahabat-sahabatnya serta pada anggotanya berhasil menyelamatkan Arinda.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika laki-laki itu tega berbuat seperti itu terhadap Arinda," ucap Safina


"Apalagi aku kak Safina. Ada ya laki-laki seperti itu," ucap Clara menambahkan.


"Tapi aku turut bahagia kalau Arinda tidak kenapa-kenapa," ucap Steffany.


"Ini semua berkat kerja kerasnya dari para tangan kanannya dan para anggota mafianya Darren. Jika bukan dari mereka, kita tidak akan tahu keberadaan Arinda!" tutur Steven.


"Jika terlambat sedikit saja, ntah apa yang akan terjadi terhadap tubuh Arinda jika laki-laki itu terus menerus menyuntikkan obat itu ke tubuh Arinda," ucap Julian.


Anggota keluarga Austin, keluarga Smith, keluarga Fernandez sudah mengetahui penyebab anggota tubuh Arinda yang tidak bisa digerakkan sama sekali. Dokter yang menangani Arinda mengatakan bahwa ada cairan dalam tubuh Arinda yang menyebabkan anggota tubuh Arinda tidak bisa digerakkan.


Dokter itu juga mengatakan bahwa cairan itu masuk ke dalam tubuh Arinda dengan cara disuntik.


Disaat semua anggota keluarganya tengah mengobrol membahas Arinda. Darren yang sejak tadi hanya banyak diam.


Darren saat ini tengah memikirkan kejadian ketika dirinya bersama yang lainnya sedang menyelamatkan Arinda dimana Darren yang memakaikan jaket miliknya ke tubuh Arinda sampai dirinya menggendong tubuh Arinda.


"Apa aku sudah mulai suka dengan Arinda? Tidak! Itu bukan perasaan suka. Aku melakukan hal itu semata-mata demi Mami, Papi, kak Nathan dan kak Azka. Tidak lebih. Sampai saat ini hanya ada nama Ataya di hatiku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menghapusnya," batin Darren.


Darren seketika memejamkan kedua matanya sembari membayangkan wajah kekasih sekaligus tunangannya yaitu Ataya.


Saskia dan Marco yang menyadari bahwa adik kesayangannya sejak tadi hanya diam langsung mengalihkan perhatiannya menatap kearah adiknya itu. Dan dapat mereka lihat bahwa adiknya saat ini tengah bersandar di punggung sofa dengan mata terpejam.


"Pa, Ma!" panggil Saskia.


Felix dan Clarissa langsung melihat kearah Saskia. Dan Saskia langsung menunjuk kearah adiknya dengan dagunya.


Felix dan Clarissa langsung melihat kearah dimana arah dagunya Saskia menoleh. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lainnya.


"Sejak tadi Darren hanya diam saja," ucap Saskia.


"Darren bahkan tidak ikut dalam obrolan kita tadi," sela Marco.


Mereka semua menatap sedih kearah Darren yang saat ini masih setia memejamkan kedua matanya.


Dan detik kemudian, mereka semua dikejutkan dengan ucapan dari Darren.


"Ataya! Tetaplah bersamaku walau hanya dalam mimpi," ucap Darren.

__ADS_1


"Di dunia nyata kau telah pergi meninggalkanku. Dan untuk kali ini tetaplah bersamaku di dunia mimpi."


Mendengar perkataan dan nada lirih Darren membuat Clarissa, Felix dan anggota keluarga lainnya menangis. Mereka semua tahu bagaimana besarnya rasa cinta Darren terhadap Ataya terutama keempat kakak-kakaknya yang satu ibu dengannya. Mereka yang lebih paham perasaan Darren.


Tes..


Setetes air mata jatuh membasahi wajah tampannya. Darren menangis ketika Ataya datang dalam mimpinya. Di dalam mimpi itu, Ataya ingin berpamitan kepada Darren. Dan bahkan Ataya meminta kepada Darren untuk melupakan dirinya dan menjalin hubungan dengan Arinda yang tak lain adalah saudari kembarnya. Dengan kata lain, Ataya memberikan izin untuk Darren berpacaran lagi.


"Tidak, Ataya! Jangan pergi!"


[Aku mencintaimu Darrendra Smith. Hiduplah dengan baik. Kau berhak untuk hidup bahagia]


"Tidak!"


Seketika Darren membuka kedua matanya dengan nafas yang memburu. Dan jangan lupakan air matanya yang masih setia mengalir membasahi wajahnya.


"Sayang," lirih Felix dan Clarissa bersamaan.


"Darren," lirih para kakak-kakaknya.


Mereka semua menangis melihat Darren yang saat ini. Hati mereka benar-benar sesak setiap kali melihat Darren yang menangis.


Ketika Clarissa ingin menghampiri putranya, tiba-tiba Saskia sudah terlebih dulu berdiri dan menghampiri putranya itu. Melihat putri sulungnya menghampiri putra bungsunya, Clarissa kembali menduduki pantatnya.


Saskia menarik pelan tubuh adiknya dan membawa ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Darren pecah di pelukan kakak perempuannya.


"Hiks... Hiks," isak Darren.


Saskia mengusap-usap lembut punggung adiknya. Dan Saskia dapat merasakan tubuh adiknya yang bergetar.


"Ada apa hum? Mau cerita sama kakak?" tanya Saskia.


"Ataya," jawab Darren.


"Kenapa dengan Ataya?"


"Ataya sudah tidak ingin menemuiku di mimpiku. Justru dia berpamitan padaku dan memintaku untuk mencari pengganti dirinya."


"Kakak, aku tidak mau. Aku tidak ingin mencari pengganti Ataya. Aku mencintai Ataya. Aku mencintai Ataya... Hiks," ucap Darren disela isakannya.


Mendengar ucapan demi ucapan serta isakan dari Darren membuat hati Saskia sakit. Dan tanpa diminta air matanya berlomba-lomba keluar membasahi wajah cantiknya. Begitu juga dengan yang lainnya.


Saskia makin mengeratkan pelukannya dan tangannya mengusap lembut punggung adiknya.

__ADS_1


Setelah adiknya tenang, Saskia berlahan melepaskan pelukannya lalu matanya menatap wajah tampan adiknya itu.


Saskia menghapus air mata adiknya dengan tersenyum memandangi wajah adiknya itu.


"Kalau kakak boleh tahu. Kenapa kamu tidak ingin pengganti Ataya, hum?"


"Aku... Aku tidak ingin gagal lagi untuk kesekian kalinya kak. Dua kali memiliki kekasih. Dua-duanya memilih pergi meninggalkanku."


Akhirnya mereka semua paham akan ketakutan Darren yang tidak ingin pacaran lagi.


"Kakak paham akan ketakutanmu sayang. Kalau kamu belum siap untuk pacaran lagi. Tidak apa-apa. Kamu fokus saja dengan kuliah dan pekerjaan kamu. Masalah kamu ingin memiliki kekasih lagi atau tidak. Biarkan waktu yang yang menentukan. Dengan seiringnya berjalannya waktu, berlahan kamu akan merasakan cinta itu kembali tumbuh di hati kamu."


Saskia membelai wajah putih adiknya dengan lembut. Setelah itu, Saskia memberikan satu ciuman di kening adiknya itu.


"Kamu sayang kakak kan?"


"Aku sayang kakak banyak-banyak."


"Kalau begitu. Hiduplah dengan baik. Tetap semangat dan jangan sedih lagi. Kamu tidak sendirian. Ada kakak dan kakak-kakak kamu yang lainnya. Ada Papa, ada Mama, ada Om, ada Tante dan ada opa!"


"Iya, sayang!" seru Robert, Erland, Ronald, Steven, Clara, Steffany, Safina, Felix, Clarissa, Julian dan Rafael bersamaan.


"Iya, Ren!" seru semua kakak-kakaknya dan sepupunya.


Darren seketika tersenyum ketika mendengar seruan dari anggota keluarganya. Dirinya benar-benar bahagia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu mencintainya.


Mereka semua tersenyum ketika melihat senyuman Darren. Dan mereka sudah bisa sedikit lega melihatnya.


"Nah, kalau kamu senyum seperti ini kan ketampanannya makin bertambah. Bahkan ketampanan semua kakak laki-laki kamu kalah dengan ketampanan kamu. Wajah mereka pas-pasan," ucap Saskia sembari menjahili kakak dan adik laki-lakinya.


Mendengar perkataan dari Saskia membuat para kaum laki-laki yang berstatus sebagai kakak dan adiknya mendengus kesal.


"Sempat-sempatnya mengejek kami demi sikelinci buluk itu," sahut Alfin tak terima.


"Berkorban demi sikelinci buluk ini. Tidak apa kan?"


"Iya, iya! Sikelinci buluk. Terima kasih gelarnya. Nama yang bagus," ucap Darren dengan wajah masamnya.


"Terima kasih kembali adikku sayang," balas Saskia dan Alfin bersamaan.


"Aish!"


"Hahahaha!"

__ADS_1


Mereka semua tertawa ketika melihat wajah kusut dan wajah masam Darren. Akhirnya mereka pun berhasil mengembalikan keceriaan di wajah Darren yang sempat sedih beberapa menit yang lalu.


__ADS_2