
Darren, Zidan, Chico dan Barra saat ini berada di ruang penyiksaan. Di dalam ruang penyiksaan itu juga terdapat sekitar 30 anggota mafiosonya. Dan dua tangan kanannya yaitu Vicky dan Satria.
Baik Darren maupun Zidan, Chico dan Barra tengah duduk di sofa yang ada di ruang penyiksaan itu sembari tatapan matanya menatap kearah seseorang di hadapannya yang kini tengah teringat di kursi dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Cemal," ucap Darren dengan tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan membunuhnya. "Aku menemukanmu. Dan sebentar lagi keluargamu akan hancur di tanganku," ucap Darren.
Cklek..
Terdengar suara pintu dibuka. Darren, Zidan, Chico dan Barra langsung melihat kearah pintu. Begitu juga dengan para anggotanya. Mereka melihat kedatangan Faza, Kevin, Briyan dan Chello.
"Akhirnya Kalian datang juga," sahut Darren melihat kedatangan keempat sahabatnya.
Faza, Briyan, Kevin dan Chello melangkah mendekati Darren, Chico dan Barra yang duduk di sofa.
"Siapa dia?" tanya Kevin melihat kearah pemuda yang teringat di kursi.
"Menurutmu siapa dia?"
Bukannya jawaban yang diberikan oleh Darren. Justru pertanyaan yang diberikan oleh Darren kepada Kevin.
"Coba kalian perhatikan dari penampilannya," sahut Chico.
"Lalu ingat dengan informasi yang diberikan oleh Reno dua hari yang lalu ketika kita di Kampus," ucap Zidan.
Mendengar perkataan dari Chico dan Zidan. Baik Kevin maupun Chello, Briyan dan Faza langsung menatap kearah pemuda yang teringat di kursi yang ada di hadapannya secara seksama. Mereka menatap pemuda itu dari atas sampai bawah.
Dan beberapa detik kemudian...
"Cemal Carlton!" seru Faza, Kevin, Briyan dan Chello bersamaan setelah mengetahui tentang pemuda yang ada di hadapannya itu.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren, Chico dan Barra ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Faza, Briyan, Chello dan Kevin.
"Siapa yang membawa dia kesini?" tanya Chello.
"Alex dan Justin. Karena aku memberikan perintah kepada mereka untuk mencari keberadaan Cemal sesuai dengan petunjuk dari Reno." Darren yang menjawab pertanyaan dari Chello.
Darren beserta ketujuh sahabat-sahabatnya menatap nyalang kearah Cemal yang saat ini masih belum sadarkan diri.
"Apa rencana selanjutnya, Ren?" tanya Faza.
Darren seketika beranjak dari duduknya. Kemudian kakinya melangkah mendekati Cemal. Diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Bangunkan dia!"
"Baik King!"
Setelah itu dua orang anggota mafiosonya langsung membangunkan Cemal dengan cara menyirami tubuh Cemal dengan air dingin berisikan es batu.
__ADS_1
Byur..
Seketika tubuh Cemal basah kuyup akibat disiram oleh dua anggota Mafioso Darren sehingga membuat tubuh Cemal bergetar karena dingin.
Berlahan Cemal membuka kedua matanya. Ketika matanya sudah terbuka sempurna seketika dirinya terkejut dengan tubuhnya dalam keadaan terikat.
"Enak tidurnya tuan Cemal Carlton?!"
Mendengar suara seseorang yang sangat jelas membuat Cemal melihat kearah depan dimana matanya menatap delapan pemuda yang kini tengah menatap dirinya tajam.
Cemal yang masih dalam mode penyamaran seketika terkejut. Dirinya tidak menyangka jika penyamarannya telah diketahui.
Yang membuat Cemal lebih terkejut lagi adalah ketika matanya menatap kearah salah satu pemuda yang sangat familiar baginya.
Flashback On
"Lepaskan tangan gue!"
"Lepaskan dulu tangan gadis ini!"
"Kalau gue tidak mau. Lo mau apa, hah?!"
"Jangan harap gue bakal lepasin tangan lo."
Cemal menatap tajam kearah Darren. Begitu juga dengan Darren. Dan detik kemudian Cemal pun melepaskan pegangan tangan dari tangan Arinda.
Flashback Off
"Hai! Kita bertemu lagi," ucap Darren.
"Penyamaran yang bagus," ejek Chico.
"Tapi tetap saja ketahuan... Hahahaha." Briyan berucap disertai tawa khasnya.
"Kenapa kalian mengurus gue disini, hah?! Lepasin gue!" teriak Cemal.
Mendengar pertanyaan sekaligus teriakan dari Cemal membuat Darren dan ketujuh sahabatnya memperlihatkan senyuman manisnya.
"Para tangan kanan dan para anggota-anggota gue sudah susah payah nangkep lo. Dan lo seenaknya minta untuk dilepaskan. Enak saja!" Darren berbicara sembari tersenyum di sudut bibirnya.
Cemal menatap tajam kearah Darren. Sejak pertemuan pertama dengan Darren dijalan ketika dirinya hendak membawa pergi Arinda. Sejak itulah Cemal begitu dendam terhadap Darren.
"Apa alasan lo dan pengikut busuk lo itu menangkap gue, hah?!"
Mendengar perkataan serta hinaan dari Cemal membuat Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya marah.
Detik kemudian..
__ADS_1
Duagh..
Faza seketika langsung memberikan tendangan kuat tepat di dada kiri Cemal sehingga membuat Cemal terbatu dan memuntahkan cairan kental merah dalam mulutnya.
"Itu balasan atas mulut lo yang nggak bisa dijaga!" bentak Faza.
Saat ini mood Faza masih buruk dikarenakan masalah yang menimpa ayahnya. Ditambah lagi ketika melihat kondisi ayahnya kembali terpuruk sehingga Faza tidak bisa menahan emosinya.
Puk..
Kevin yang berdiri di sampingnya langsung mengusap-usap lembut bahu Faza. Dirinya tahu bahwa sahabatnya ini masih dalam suasana tak baik.
Darren menatap wajah Cemal yang saat ini sudah kembali diposisi semula karena dia anggota mafiosonya mengangkat tubuh Cemal yang terikat di kursi.
"Apa lo yakin ingin tahu alasan gue dan ketujuh sahabat-sahabat gue membawa lo kemari, hum?"
"Cuih!" Cemal meludah ke samping secara kasar. "Tidak usah berbelit-belit. Katakan saja apa alasan lo bawa gue Kemari?!" bentak Cemal.
"Eemm.. baiklah! Pertama, lo meminta kepada ayah dan paman lo buat bermain curang dengan perusahaan milik gue. Lo melakukan hal itu karena marah sudah menggagalkan lo untuk bawa Arinda pergi."
Deg..
Cemal seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren. Dirinya tidak menyangka jika Darren tahu hal itu.
"Kedua, akibat ulah lo. Ayah dan paman lo itu berani membuang gue setelah gue nyetor uang banyak sama mereka. Ditambah lagi proyek sudah berjalan selama beberapa bulan. Dan ketiga, lo yang udah membawa Arinda ke sebuah gudang dan menyekap dia disana. Lo membayar orang untuk membawa Arinda kesana."
Cemal kembali terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren yang menyebut dirinya yang telah memberikan perintah kepada beberapa orang untuk membawa Arinda pergi.
"Dan satu lagi....."
Darren menatap wajah Cemal dengan tatapan matanya yang mengerikan. Dirinya saat ini sangat menikmati wajah terkejut Cemal.
"Lo adalah dalang atas kematian mantan tunangannya Arinda yang tak lain adalah sahabat lo sendiri. Nama sahabat lo itu adalah Alzam Abrizam!"
Seketika Cemal membelalakkan matanya terkejut ketika mendengar ucapan dari Darren tentang kecelakaan sahabatnya itu. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika Darren mengetahui semua perbuatannya.
"Ba-bagaimana bisa? Siapa yang memberitahu lo? Pasti ada yang memberitahu lo. Tidak mungkin lo tahu semudah itu!" teriak Cemal.
Darren melihat kearah ketujuh sahabatnya. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya yang juga menatap dirinya.
"Hahahahaha!"
Darren, Zidan, Chico, Barra, Chello, Faza, Kevin dan Briyan seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Cemal.
"Lo dan keluarga lo sudah salah mencari musuh. Dikarenakan lo dan juga keluarga lo sudah berani bermain curang. Bersiaplah! Sebentar lagi keluarga lo akan hancur. Dan lo akan berakhir di dalam penjara."
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan ruang penyiksaan itu untuk menuju ruang pribadinya diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya di belakang.
__ADS_1
"Jaga dia!"
"Baik Prince!"