REVENGE

REVENGE
Kebahagiaan Clarissa Dan Felix


__ADS_3

Arinda yang mendengar suara orang yang sangat familir di telinganya langsung membuka kedua matanya. Setelah itu, Arinda melihat kearah laki-laki itu.


DEG!


"Da-darren," ucap Arinda.


Darren menatap tajam Cemal dengan tangan yang masih memegang tangan Cemal.


"Lepas!" bentak Cemal sembari berusaha untuk melepaskan tangannya dari pegangan tangan Darren.


"Lepaskan dulu tangan gadis itu," sahut Darren dengan wajah datar dan dinginnya.


"Memang kau itu siapa, hah! Berani sekali kau mencampuri urusanku dan memerintahku!" bentak Cemal.


"Aku bukan siapa-siapa gadis itu. Tapi dia satu kampus denganku. Berarti sudah kewajibanku untuk menolongnya," jawab Darren yang makin mengeratkan pegangan di tangan Cemal.


"Lepaskan tanganku, brengsek!" teriak Cemal lagi.


"Aku sudah katakan padamu. Lepaskan dulu tangan gadis itu." Darren menjawab perkataan Cemal dengan wajah meremehkan.


"Jangan sok menjadi pahlawan kesiangan. Kau sendirian. Sementara aku membawa lima teman-temanku!" bentak Cemal.


Mendengar perkataan dari Cemal. Darren hanya tersenyum. Lebih tepatnya senyuman meremehkan.


"Siapa yang hilang sendirian, hah!" seru Chico yang datang menghampiri Darren bersama Zidan, Barra, Chello, Briyan, Faza dan Kevin. .


Cemal maupun kelima teman-temannya langsung melihat kearah keasal suara. Mereka melihat sekitar tujuh pemuda yang datang menghampiri Darren.


Ketika melihat kedatangan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren membuat Cemal dan kelima teman-temannya terkejut. Mereka kalah jumlah.


"Kenapa melihat kami seperti itu?" tanya Barra.


"Takut, hum?" ejek Faza.


Baik Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya menatap remeh Cemal dan kelima teman-temannya.


"Lepaskan tangan gadis itu," ucap Darren.


"Brengsek," batin Cemal.


Setelah itu, Cemal pun melepaskan tangan Arinda.


Melihat Cemal yang sudah melepaskan tangan Arinda. Darren pun juga melepaskan tangan Cemal.


"Sudah sana pergi. Ngapain masih disini," usir Kevin.


Cemal menatap kearah Arinda. Arinda yang ditatap seperti itu sedikit takut.


Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya dapat melihat ada ketakutan di matanya Arinda.


"Sudah sana. Kenapa kau malah menatap gadis itu seperti itu? Apa kau berniat untuk balas dendam, hah?!" bentak Briyan.


Setelah melihat Arinda. Arinda dan kelima teman-temannya pun pergi menuju motor mereka.


Namun seketika langkah kaki Cemal terhenti karena Daren memanggilnya.


"Tunggu."


Cemal membalikkan badannya dan langsung menatap tajam kearah Darren.


"Ini bukan sekedar ancaman. Tapi aku akan benar-benar melakukannya. Menjauhlah dari gadis ini. Jangan mengganggu apalagi mengusik kehidupannya. Jika gadis ini terluka sedikit saja atau aku tidak melihatnya di kampus. Maka kau akan habis ditanganku."


Cemal menggeram marah ketika mendengar ucapan dan ancaman dari Darren.


Namun dirinya saat ini berusaha untuk mengikuti permainan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Dan berusaha untuk bersikap tenang.


Cemal tersenyum di sudut bibirnya. Setelah itu, Cemal kembali melangkahkan kakinya menuju motornya.


Kini Cemal sudah berada di atas motornya. laki-laki itu kemudian menghidupkan motornya. Setelah itu, laki-laki itu pun pergi meninggalkan Arinda, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


Melihat motor Cemal dan kelima teman-temannya sudah menjauh. Zidan, Chico, Barra Chello, Briyan, Faza dan Kevin melihat kearah Arinda.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Zidan.


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku," jawab Arinda.


"Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia gangguin kamu?" tanya Briyan.


"Palingan pacarnya. Iyakan?" Darren langsung menyambar pertanyaan dari Briyan.


TAK!


TAK!

__ADS_1


Chello dan Chico langsung memberikan masing-masing satu jitakkan di kening Darren.


"Yak! Chello, Chici. Kenapa kalian menjitakku sialan?!" teriak Darren.


"Apa? Mau lagi?" tanya Chello dan Chico bersamaan.


Mendengar pertanyaan balik dari Chello dan Chico membuat Darren mendengus kesal.


"Siapa dia Arinda?" tanya Zidan.


"Dia Cemal sahabat dari mendiang calon tunangan aku," jawab Arinda.


"Calon Tunangan?" beo Briyan, Faza dan Kevin.


"Iya. Aku punya kekasih dan kita akan segera bertunangan. Aku dan kekasihku sudah pacaran selama satu tahun dua bulan. Dan bulan ketiga kami memutuskan untuk bertunangan. Ketika di hari pertunangan itu diselenggarakan. Calon tunanganku mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat." seketika air mata Arinda jatuh membasahi wajah cantiknya.


Melihat Arinda yang menangis membuat mereka semua menjadi iba. Sementara Darren menatap Arinda intens. Lebih tepatnya, Darren menatap tepat di mata Arinda.


"Ataya! Tatapan matanya mirip tatapan matanya Ataya. Dan... Dan ketika dia menangis juga mirip seperti Ataya. Siapa dia?" batin Darren.


"Ataya," batin Darren lagi dengan matanya yang masih menatap wajah Arinda.


Zidan yang menyadari bahwa Darren yang sedang menatap lekat kearah Arinsa sangat paham. Bagaimana pun masalah yang dihadapi oleh Arinda hampir sama dengan masalah yang dihadapi oleh Darren sahabatnya. Keduanya sama-sama kehilangan orang sangat berarti dalam hidupnya.


PUK!


Zidan memukul pelan pundak Darren sehingga membuat Darren tersadar dari kegiatannya menatap Arinda.


"Kenapa? Aku sudah mulai jatuh hati kepada Arinda, hum?" tanya Zidan berbisik di telinga Darren.


Darren memberikan potototan kepada Zidan ketika mendengar perkataan dari Zidan.


Setelah itu, Darren pergi meninggalkan Zidan dan yang lainya menuju motornya dengan wajah kesalnya.


Melihat kepergian Zidan yang begitu saja membuat Barra, Chico, Chello, Briyan, Faza dan Kevin menatap bingung Darren.


"Kenapa anak kelinci itu?" tanya Barra kepada Zidan.


Zidan hanya menjawab pertanyaan dari Barra dengan cara mengangkat kedua bahunya. Padahal dirinya yang telah membuat sahabat kelincinya itu kesal.


"Ya, sudah! Lebih baik kamu masuklah ke dalam mobil. Dan langsung lah pulang jika tidak ada keperluan lain. Takutnya laki-laki brengsek itu akan mengganggumu lagi." Chello berbicara sambil menatap kearah Hyunjin.


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih. Sampai terima kasihku kepada Darren."


Setelah itu, Arinda masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan lokasi tersebut.


Setelah melihat kepergian Arinda. Barulah ketujuh sahabat-sahabatnya Darren pergi meninggalkan lokasi tersebut.


Sementara Darren sudah tidak ada lagi di lokasi itu. Darren benar-benar pergi meninggalkan ketujuh sahabat-sahabatnya.


***


Darren sudah sampai di gerbang rumah keluarga Austin. Ketika sampai di gerbang rumahnya. Terlihat security yang berlari membukakan pintu gerbang untuk Darren.


"Selamat sore tuan muda Darren," sapa security itu.


"Selamat sore juga Paman," jawab Darren lembut.


Darren pun masuk ke perkarangan rumahnya. Setelah turun dari motornya. Darren melihat kearah security dan bertanya.


"Paman," panggil Darren.


"Ya, tuan muda!"


"Siapa aja di dalam?" tanya Darren.


"Semuanya sudah pulang. Mereka saat ini berada di ruang tengah. Mereka semua sudah menunggu kepulangan tuan muda."


"Oh, begitu! Terima kasih Paman!"


"Sama-sama tuan muda."


Setelah itu, Darren pun melangkahkan kakinya memasuk orang tuanya.


"Mama, Papa, Kakak! Aku pulang!" teriak Darren yang sudah berada di ruang tamu. Darren menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dirinya benar-benar lelah.


Kedua orang tuanya dan para kakak-kakaknya yang mendengar teriakan darinya langsung beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


Setelah berada di ruang tamu. Mereka semua tersenyum melihat Darren yang sedang menyandarkan tubuhnya di punggung sofa dengan memejamkan matanya.


Ketika mereka semua tengah menatap wajah lelah Darren. Seketika mereka dikejutkan dengan ucapan Darren.


"Ataya... Ataya!"

__ADS_1


"Ataya? Siapa Ataya?" tanya Clarissa.


"Ataya itu kekasihnya Darren, Ma!" Saskia menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Benarkah? Akhirnya Mama punya calon menantu juga. Tuh, lihat! Adik kalian saja sudah punya pacar. Terus kalian kapan?"


Clarissa berbicara dengan penuh kebahagiaan. Dirinya benar-benar bahagia salah satu anak-anaknya sudah memiliki pasangan.


"Ataya... Hiks aku merindukanmu," isak Darren.


"Eh, tunggu! Itu... Itu kenapa Darren menangis? Apa mereka bertengkar? Kenapa Darren berbicara seperti itu?" tanya Clarissa yang seketika berubah panik ketika mendengar isakan dari putranya.


"Ataya..." ketika Marco ingin mengatakan yang sebenarnya, Erland langsung berdehem.


Marco dan yang lainnya melirik kearah Erland. Melihat ekspresi Erland, mereka pun langsung paham.


"Ataya kenapa, Marco?" tanya Clarissa lagi.


"Ataya saat ini berada di Amerika sedang melakukan pelatihan beberapa materi kuliahnya."


"Iya, Ma! Dari kampus dipilih masing-masing 4 mahasiswa dan 4 mahasiswi yang mewakili." Afnan ikut bersuara.


Mendengar jawaban dan penjelasan  dari Marco dan Afnan membuat Clarissa langsung percaya. Dirinya bahagia putranya sudah memiliki kekasih. Ditambah lagi kekasih dari putranya itu sangat pintar.


Di dalam hatinya Clarissa tidak sabaran untuk bertemu dengan Ataya, calon menantunya itu.


Sementara untuk anggota keluarganya terpaksa harus membohongi Clarissa untuk sementara waktu. Mereka melakukan ini hanya semata-mata untuk membuat Clarissa bahagia.


Menurut mereka semua, Clarissa baru kembali dan baru beberapa minggu berkumpul dengan mereka semua. Dan mereka tidak ingin memberikan kesedihan kepada Clarissa dengan memberitahu tentang kematian Ataya. Mereka akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ini kepada Clarissa.


Clarissa melangkahkan kakinya menghampiri putra bungsunya itu. Ketika sampai di hadapan putranya. Clarissa langsung menduduki pantatnya di samping putranya itu.


Tangannya mengusap lembut kepala putranya dan tak lupa memberikan ciuman di keningnya.


Berlahan Darren membuka kedua matanya ketika merasakan sentuhan di kepalanya dan ciuman di keningnya.


"Mama," ucap Darren. Clarissa tersenyum.


"Kamu lelah, hum!"


"Sangat."


"Mama."


"Ada apa, hun?"


"Boleh minta sesuatu nggak?"


"Apa yang diinginkan putra Mama yang tampan ini, hum?"


"Aku mau Mama buatkan aku nasi goreng seafood dan nasi goreng sosis. Minuman susu coklat."


"Tumben menunya nambah. Biasanya hanya satu," sahut Clarissa yang menjahili putranya.


Sejujurnya Clarissa senang mendengar permintaan putra bungsunya itu. Beberapa hari ini putra bungsunya itu susah sekali disuruh makan. Setiap makan selalu tersisa banyak. Hanya beberapa suap saja yang masuk ke perutnya.


Bukan Clarissa saja yang khawatir dengan pola makan Darren. Melainkan ayah dan para kakak-kakaknya juga sangat mengkhawatirkan pola makan Darren yang tidak teratur. Dan makannya juga sedikit.


"Sekali-kali menunya nambah nggak apakan? Mumpung saat ini aku benar-benar lapar. Aku hanya makan nasi sama soto daging saja ketika di kampus. Itu pun empat jam yang lalu," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Clarissa dan yang lainya hanya bisa menghela nafas dan juga geleng-geleng kepala.


"Kamu ini. Kebiasaan sekali. Ya, sudah! Sekarang pergilah ke kamar dan bersih-bersih. Bau badan kamu udah menyengat. Mama sudah tidak tahan," ucap Clarissa sambil berpura-pura menutup hidungnya menjahili putranya.


"Aish, Mama! Badan aku nggak bau kali." Darren mempoutkan bibirnya kesal atas perkataan ibunya.


Mendengar aksi protes putranya. Clarissa tersenyum gemas melihat wajah kesal dan lucu putranya. Begitu juga dengan Felix sang Ayah dan para kakak-kakaknya.


Setelah mengatakan itu, Darren pun beranjak dari duduknya. Namun sebelumnya, Darren memberikan dua ciuman di kedua pipi ibunya.


"Papa, Kakak!" sapa Darren yang melihat ayah dan kakak-kakaknya yang kini tengah menatapnya. Mereka semua tersenyum hangat menatap wajah Darren.


"Hanya Mama saja yang dicium. Terus Papa bagaimana?" tanya Felix.


Mendengar perkataan dari ayahnya membuat Darren tersenyum.


"Papa mau dicium juga?" tanya Darren. Felix langsung mengangguk dengan cepat.


Darren pun langsung mendekat kepada ayahnya. Dan kemudian langsung memberikan ciuman di kedua pipi ayahnya itu.


Felix sangat-sangat bahagia ketika mendapatkan ciuman dari putra bungsunya. Hatinya menghangat.


"Sudahkan? Kalau gitu aku ke kamar."

__ADS_1


Darren pun pergi meninggalkan keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua.


__ADS_2