
"Benar King, Prince!"
"Benar dugaanku kalau bajingan itu dalang atas kecelakaan yang dialami oleh mendiang tunangan Arinda," ucap Zidan.
"Keluarganya juga ikut terlibat dalam kecelakaan itu King, Prince!"
"Baiklah, Reno! Sekarang dengarkan aku. Kamu terus awasi pergerakan dari bajingan. Setiap ada yang mencurigakan kamu rekan dan kirim padaku atau kepada ketujuh sahabat-sahabatku. Dan satu lagi, kerahkan beberapa anggota mafia kita. Suruh mereka menyebar di sekitar tempat tinggal keluarga Cemal. Baik keluarga dari pihak ayahnya maupun keluarga dari pihak ibunya. Awasi setiap pergerakan dari dua keluarga itu."
"Baik King!"
"Kamu jangan lupa kirimkan foto laki-laki itu ketika sedang menyamar," ucap Kevin.
"Baik Prince!"
Setelah mengatakan itu, baik Zidan maupun Reno sama-sama mematikan panggilannya.
Dan detik kemudian...
Baik Darren maupun ketujuh sahabat-sahabatnya tersenyum di sudut bibirnya ketika mengetahui titik terang dari Cemal.
"Ren," panggil Kevin.
Darren langsung menatap kearah Kevin yang juga tengah menatap dirinya."
"Iya, Vin. Ada apa?" tanya Darren.
"Aku mau nanya?" tanya Kevin.
"Yaelah! Ribet amat hidup lo kurus. Tinggal nanya doang apa susahnya sih," ucap Zidan seenaknya.
"Diem lo hitam. Lo jangan ikut campur. Ini urusan gue sama Darren," jawab Kevin dengan wajah super kesalnya.
Sementara Darren, Chico, Barra, Chello Faza dan Briyan tersenyum ketika mendengar pertengkaran kecil kedua sahabatnya.
Ketika Zidan hendak membalas Kevin. Darren seketika menghentikan niat dari Zidan.
"Lupain si hitam itu. Ntar dia diam sendiri. Tadi lo mau nanya apa?" ucap dan tanya Darren.
Mendengar perkataan kejam dari Darren membuat Zidan mendengus kesal.
"Pertanyaan gue ini berhubungan dengan Prisa," sahut Kevin.
"Kenapa lo bawa-bawa tuh cewek?" tanya Darren.
__ADS_1
"Bukan begitu. Gue hanya ingin memastikan saja. Apa yang akan lo lakuin jika Prisa masih terus ngejar-ngejar lo. Kita semua tahu bagaimana dia dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu. Prisa dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu menaruh perasaan dengan kita semua," ucap Kevin.
"Lo ngapain mikirin mereka. Biarin aja mereka terus ngejar-ngejar kita. Yang penting dari kitanya. Jangan kita ladeni mereka. Kita fokus aja dengan urusan kita, pekerjaan kita dan kebersamaan kita!" Briyan berucap dengan wajah dinginnya.
"Benar kata Briyan. Jika sekali kita ngeladeni mereka. Selanjutnya mereka akan terus dekati kita," sela Faza.
"Kita biarkan saja apa yang akan mereka lakukan. Sementara kita lakukan apa yang menjadi urusan kita. Bereskan?" sahut Barra.
"Kita akan bertindak jika apa yang mereka lakukan sudah diluar batasan," sela Chello.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Briyan, Faza, Barra dan Chello membuat Darren, Kevin dan Zidan menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataan dari keempat sahabatnya itu.
***
"Brengsek!"
Prang...
Terdengar suara teriakan dari seorang pria paruh baya bersamaan dengan bantingan beberapa benda pecah belah ke lantai.
"Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut perusahaanku dan juga perusahaan adikku!" teriak pria itu
Mendengar suara teriakan disertai dengan bunyi suara pecahan membuat seorang wanita paruh baya yang sedang berada di dalam kamar seketika terkejut.
Ketika tiba di ruang tengah, wanita itu terkejut ketika melihat begitu banyak pecahan kaca berserakan di lantai.
Kemudian wanita itu melihat kearah pria yang kini tengah terduduk lemas di sofa. Pria itu adalah suaminya Rivo Carlton.
Wanita itu berlahan melangkah mendekati suaminya. Setelah berada di dekat suaminya, wanita itu langsung menduduki pantatnya di samping suaminya.
Puk..
Wanita itu menepuk pelan bahu suaminya lalu mengusap-usap lembut bahu suaminya itu.
Merasakan usapan di bahunya. Seketika Rivo langsung menolehkan wajahnya melihat ke samping.
Rivo tersenyum kala melihat wajah cantik istrinya yang saat tengah tersenyum menatap dirinya.
"Ada apa? Mau cerita padaku?" tanya wanita itu.
"Ada seseorang yang ingin merebut perusahaanku. Bukan hanya perusahaanku saja. Perusahaan Rado juga."
Mendengar penuturan dari Rivo suaminya membuat wanita itu seketika terkejut.
__ADS_1
"Bahkan perusahaan itu bukan lagi atas namaku, melainkan sudah atas nama orang itu. Begitu juga dengan perusahaan milik Rado," ucap Rivo.
Deg..
Wanita itu seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari suaminya. Dirinya tidak menyangka jika ada orang seperti itu yang telah berani merebut perusahaan suami dan adik iparnya.
Rivo menatap wajah cantik istrinya dengan berlinang air mata. Dirinya benar-benar hancur saat ini.
"Nina, aku tidak ingin kehilangan perusahaanku. Aku tidak ingin Nina!"
Wanita cantik yang saat ini tengah menghibur suaminya bernama Nina Alfredo yang telah berubah menjadi Nina Carlton.
"Bagaimana bisa itu terjadi sayang? Perusahaan itukan milik kamu dan juga milik adik kamu," ucap dan tanya wanita itu.
"Aku juga tidak tahu sayang. Aku tahu dari Rado ketika dia mendatangi perusahaanku. Rado mengatakan padaku bahwa perusahaan RV'Crton bukan lagi miliknya. Dan dia juga mengatakan padaku bahwa perusahaanku bukan lagi milikku." Rivo menjawab pertanyaan dari Nina istrinya sembari menjelaskan apa yang disampaikan oleh adiknya padanya.
"Apa kamu tahu orang yang sudah merebut perusahaan kamu itu?"
"Dari pengakuan Rado. Yang merebut perusahaanku dan perusahaannya adalah perusahaan Helmet Company.
"Perusahaan Helmet Company? Bukankah itu perusahaan yang menggantikan perusahaan DRN'CORP yang kabur dalam proyek besar itu?" tanya Nina kepada suaminya.
"Iya, sayang!" jawab Rivo.
Nina tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh suaminya. Yang Nina tahu bahwa suami dan adik iparnya mengalami kerugian besar karena perusahaan DRN'CORP yang menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan suami dan adik iparnya kabur dengan membawa begitu banyak uang.
Sementara untuk Rivo dan Rado tidak menceritakan yang sebenarnya kepada Nina dan kepada anggota keluarganya yang lain tentang apa yang telah mereka lakukan.
Nina menatap suaminya dengan tatapan sedih dan tatapan tak tega. Di dalam hatinya, Nina merutuki dan menyumpahi CEO perusahaan Helmet Company yang telah merebut perusahaan dan membawa kabur uang milik suami dan adik iparnya itu. Dirinya tidak terima akan perbuatan dari CEO perusahaan Helmet Company tersebut.
"Terus apa rencana kamu selanjutnya? Apa kamu akan diam saja melihat perusahaan kamu diambil oleh CEO perusahaan Helmet Company itu?" tanya Nina.
"Tidak sayang. Justru aku sudah menyuruh beberapa orang untuk menyelidiki latar belakang dari CEO perusahaan Helmet Company itu."
"Apa sudah dapat kabar?"
"Belum.
"Semoga orang-orang suruhan kamu itu berhasil mendapatkan indentitas dan latar belakang keluarga dari CEO perusahaan Helmet Company itu. Kamu yang sabar ya," ucap Nina sembari menghibur suaminya.
"Terima kasih sayang. Aku bersyukur memiliki dirimu dalam hidupku," ucap Rivo.
"Sama-sama sayang. Aku jauh lebih bersyukur memiliki kamu dalam hidupku," jawab Nina.
__ADS_1
Apa jadinya jika Nina tahu akan kebohongan suaminya dan adik iparnya mengenai kerja sama perusahaan RV'Crton dan RV'Crton dengan perusahaan DRN'CORP yang sebenarnya? Dan apakah Nina akan memaafkan kesalahan suami dan adik iparnya jika dirinya tahu akan kebohongan keduanya hingga menyebabkan kehancuran keluarganya, termasuk keluarga Alfredo keluarga kedua orang tuanya.