
Darren berada di kamarnya. Dan sudah dalam keadaan rapi. Dirinya kini tengah duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya sembari memegang foto Ataya.
Darren memandangi wajah cantik Ataya yang sedang tersenyum. Tangannya mengusap lembut bingkai foto Ataya.
"Ataya. Apa kau sudah tahu bahwa kau memiliki saudari kembar? Bahkan keluargamu sudah bertemu dengan saudari kembarmu itu." Darren menatap foto Ataya dengan matanya berkaca-kaca.
"Ataya. Bagaimana denganmu? Apa kau bahagia? Apa kau senang memiliki saudari kembar?" seketika air mata Darren jatuh membasahi bingkai foto Ataya.
"Kau tahu tidak Ataya? Saudari kembarmu itu sangat menyebalkan. Dia selalu mencari masalah denganku. Setiap pagi dia selalu membuat darahku mendidih. Bahkan ketika di perusahaan, dia tidak menghormatiku sama sekali sebagai atasannya. Dan dia juga sudah menghancurkan laptop kesayanganku."
Darren masih mengusap lembut foto Ataya sembari tersenyum kecil. "Kau tahu tidak Ataya? Di laptop itu bukan hanya tersimpan file-file penting. Bukan hanya tersimpan semua data-data pekerjaanku. Di laptop itu juga tersimpan tentang momen-momen kebersamaan kita berdua. Dari mulai awal pertemuan kita sampai kita bertunangan di rumah sakit Amerika. Semuanya tersimpan rapi disana. Aku bahkan belum sempat menyalin dan memindahkan ke tempat lain karena aku pikir itu tidak perlu. Menurutku, laptop itu sudah cocok untuk menyimpan semua hal-hal pribadi disana."
Air mata Darren jatuh makin banyak ketika membayangkan bagaimana dirinya yang begitu bahagia menyimpan semua yang dianggap penting di laptop kesayangannya itu.
"Semuanya hilang Ataya. Aku tidak bisa lagi memutar video itu dan tidak bisa melihat wajah dan senyumanmu."
"Apa boleh aku membalas perbuatan saudari kembarmu yang menyebalkan itu, hum?" tanya Darren.
Ketika Darren masih fokus memandangi dan berbicara dengan foto Ataya. Tanpa Darren sadari, diluar kamarnya ketiga kakak laki-laki yaitu Raka, Satya dan Vito mendengar setiap ucapannya. Mereka menangis dan hati mereka sakit setiap kali mendengar isak dan tangisan Darren.
Setelah puas menguping dan mendengar ucapan adiknya dengan foto Ataya. Raka, Satya dan Vito pun memutuskan untuk memasuki kamar Darren yang mana pintu kamar Darren sedikit terbuka.
Mereka melangkahkan kakinya menghampiri Darreb di sofa. Setelah tiba di dekat Darren. Raka membelai lembut kepala Darren.
Darren yang merasakan belaian lembut di kepalanya langsung mengalihkan perhatiannya dari bingkai foto Ataya untuk melihat kearah orang yang membelai kepalanya.
"Kak Raka, kak Satya, kak Vito." Darren berucap menyebut satu persatu kakaknya.
Raka, Satya dan Vito tersenyum mendengar adiknya yang menyebut namanya. Setelah itu, mereka menduduki pantatnya di sofa dengan Raka duduk di sampingnya.
"Ada apa, hum? Mau cerita?"
Darren tersenyum, lalu kembali memandangi foto Ataya. "Aku merindukan Ataya, kak!"
Mendengar nada lirih Darren membuat Raka, Satya dan Vito merasakan kesedihan. Dari dulu sebelum kejadian itu. Mereka paling tidak suka melihat kesedihan Darren. Mereka merasakan sesak dan sakit di dada setiap melihat Darren bersedih dan juga terisak.
GREP!
Raka langsung menarik tubuh Darren dan membawanya ke pelukannya. Seketika isak tangis Darren pecah.
"Hiks... Kakak. Aku benar-benar merindukan Ataya. Aku merindukan Ataya... Hiks."
Setetes air mata Raka jatuh membasahi wajah tampannya ketika mendengar isak tangis adik bungsunya. Begitu juga dengan Satya dan Vito. Mereka juga ikut menangis.
Raka makin mengeratkan pelukannya. Dan Raka dapat merasakan tubuh bergetar adiknya.
"Kakak tahu perasaan kamu sayang," ucap Raka dengan makin mengeratkan pelukannya.
Setelah dirasakan adiknya sudah sedikit tenang. Raka pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Kakak boleh nanya gak sama kamu?" tanya Raka hati-hati. Dirinya tidak mau salah bertanya.
__ADS_1
"Kakak mau nanya apa?" Darren balik bertanya.
"Maaf kalau kakak lancang dan maaf juga jika pertanyaan kakak ini nyinggung kamu. Kakak gak bermaksud apapun." Raka berbicara lembut kepada adiknya.
"Aku mengerti," sahut Darren.
"Apa kamu sudah mengikhlaskan kepergian Ataya?" tanya Raka yang sedikit gugup. Raka takut jika adiknya marah atau tersinggung.
Mendengar pertanyaan dari sang kakak. Darren hanya bisa diam. Darren tidak menjawab pertanyaan dari kakaknya itu.
"Ren. Kamu dengar kakak. Maaf jika pertanyaan kakak buat kamu tambah sedih." Raka berbicara sambil mengecup kepala Darren.
Darren melepaskan pelukan kakaknya. Setelah itu, Darren menatap wajah tampan kakaknya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Baik Raka maupun Satya dan Vito merasakan kehangatan di hati masing-masing ketika melihat senyuman Darren.
"Kakak tidak salah. Jadi kakak nggak perlu merasa bersalah gitu. Masalah pertanyaan kakak tadi. Aku juga tidak tahu. Apa aku sudah mengikhlaskan kepergian Ataya atau belum?" Darren berbicara lembut sembari tetap memberikan senyumannya.
Raka membelai lembut kepala adiknya. "Kakak hanya minta satu hal dari kamu. Kakak ingin kamu selalu tersenyum dan bahagia. Kakak nggak mau kamu selalu bersedih atau pun menangis. Sudah cukup air mata kamu terbuang dengan masalah yang kamu hadapi selama ini. Termasuk air mata kamu yang terbuang gara-gara kakak, Papa dan kakak-kakak kamu yang lain. Kakak sudah tidak sanggup melihat kamu menangis."
"Ya, Ren! Apa yang dikatakan Kak Raka benar? Sudah cukup kamu bersedih selama ini. Sudah waktunya kamu bahagia. Mama sudah kembali bersama kita. Jadi tidak alasan lagi buat kamu bersedih." Vito juga ikut menghibur adiknya.
"Kakak juga. Sudah cukup kamu membuang air mata kamu. Kamu adik kakak. Adik kesayangan kakak. Kakak mohon sama kamu. Jika kamu ada masalah. Ceritakanlah sama kakak. Jangan dipendam sendiri. Mintalah bantuan dari kakak dan kami semua. Kami pasti akan membantumu. Sekali pun nyawa taruhannya. Kakak siap memberikannya." Satya berbicara tulus dengan menatap hangat adiknya.
Mendengar perkataan-perkataan tulus dari ketiga kakak-kakak laki-laki membuat hati Darren merasakan kebahagiaan berlipat.
"Terima kasih kak Raka, kak Satya, kak Vito. Aku janji sama kalian. Mulai hari ini dan seterusnya aku gak akan nangis lagi."
Mendengar janji manis adiknya membuat mereka tersenyum bahagia. Mereka juga berjanji akan selalu ada untuk kesayangannya itu apapun yang terjadi. Begitu juga untuk kedua adik kembar perempuannya dan keempat saudara-saudaranya yang lainnya.
"Hm!" Darren menganggukkan kepalanya. Dan jangan lupa senyuman manisnya sehingga memperlihatkan dua gigi besarnya yang ada di depan.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan kamar Darren untuk menuju lantai bawah.
^^^
Di lantai bawah tepatnya ruang tengah. Anggota keluarga telah berkumpul. Seperti yang dikatakan oleh Raka bahwa kedua orang tuanya, keenam saudara-saudaranya, ketiga sepupunya dan om nya sudah berada di sana.
"Kenapa kak Raka, kak Satya, kak Vito dan Darren lama sekali? Ngapain aja mereka di dalam kamarnya Darren?" tanya Nasya dengan wajah kesal.
Mendengar pertanyaan dan nada kesal Nasya. Felix, Clarissa, Rafael dan yang lainnya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Ada cembukur tuh," ledek Michel.
Mendengar ledekan dari Michel membuat Nasya mendengus kesal. "Bacot lo," sahut Nasya.
"Hahahaha." Michel tertawa kencang. Sementara yang lainnya hanya geleng-geleng kepala.
TAP!
TAP!
TAP!
__ADS_1
Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Mendengar suara langkah kaki tersebut. Mereka semua melihat kearah suara tersebut.
"Mama." Darren langsung duduk di samping ibunya dan memeluk erat pinggang ibunya.
Clarissa hanya tersenyum melihat sifat manja putranya. Dan tangannya mengelus lembut punggung putranya dan tak lupa memberikan kecupan di pucuk kepalanya.
"Ada apa, hum?" tanya Clarissa.
"Tidak ada apa-apa. Ingin meluk Mama aja," jawab Darren dengan mengeratkan pelukannya.
"Aku sayang Mama. Sayang banyak-banyak," ucap Darren.
"Mama juga sayang kamu. Sayang Mama lebih banyak dari kamu." Clarissa berbicara sambil menjahili putra bungsunya.
Mendengar perkataan dari ibunya, Darren langsung melepaskan pelukannya.
"Mana bisa gitu. Aku yang paling banyak menyayangi Mama. Kenapa sih Mama nggak ngalah aja sama aku?"
"Hahahahaha." Clarissa tertawa ketika mendengar perkataan putranya yang menurutnya lucu. Begitu juga dengan yang lainnya.
Darren mempoutkan bibirnya kesal akan ulah ibunya. Darren berdiri dari duduknya, lalu berpindah duduk di samping ayahnya.
Setelah duduk di samping ayahnya. Darren memeluk tubuh ayahnya itu. Felix yang mendapatkan pelukan dari putra bungsunya merasakan kebahagiaan berlipat di hatinya.
"Ada apa, hum? Apa kamu mau Papa menghukum Mamamu?" tanya Felix sembari menjahili istrinya.
"Papa tidak boleh menghukum Mama. Apapun kesalahan Mama. Papa nggak boleh hukum Mama. Mama itu beda dengan kebanyakan perempuan diluar sana. Mama itu sangat berbeda dengan yang lain. Mama itu memiliki banyak cinta untuk Papa dan semua anak-anaknya."
Mendengar perkataan dari putra bungsunya membuat Felix cengo dengan kedua matanya yang melotot. Namun detik kemudian, Felix tersenyum. Dirinya benar-benar bangga pada putra bungsunya ini.
Sementara Clarissa merasakan kebahagiaan dan kehangatan di hatinya ketika mendengar kata-kata manis dari putra bungsunya itu.
"Cinta yang dimiliki Mama itu begitu besar. Cinta Mama itu di ibaratkan seperti bumi yang bulat dan luas. Nggak seperti istri Papa yang...," seketika Darren menutup mulutnya ketika sadar akan ucapannya.
"Oopss!"
Darren langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah ayahnya serta wajah kelima kakak-kakaknya.
Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya menatap kearah Darren. Darren yang ditatap oleh Ayah dan kelima kakak-kakaknya langsung menelan air ludahnya kasar.
Melihat ekspresi wajah Darren membuat Clarissa, Saskia, Nuria, Marco, Afnan, Rafael, Dara, Jerry dan Michel tersenyum gemas. Menurut mereka wajah Darren benar-benar lucu.
"Papa, kakak. Aku...," perkataan Darren terpotong karena Felix, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tiba-tiba tertawa. Mereka tertawa keras.
"Hahahahaha."
Mendengar tawa keras dari Ayah dan kelima kakak-kakaknya. Darren seketika membulatkan matanya.
Dan detik kemudian...
"Aish." Darren merengut kesal. Mereka semua tersenyum gemas melihat kekesalan Darren.
__ADS_1