REVENGE

REVENGE
Kabar Dari Sang Tangan Kanan


__ADS_3

Kini semuanya sudah berkumpul di ruang tengah. Baik Darren, keluarga Austin, keluarga Julian, Zidan, Chico, Barra, Chello dan Lory.


Mereka akan membahas masalah dalang pembunuhan Clarissa, Amanda, Victoria dan kecelakaan yang menimpa Darren satu tahun yang lalu.


"Alasan aku menyuruh kalian untuk datang ke rumahku karena aku akan membahas masalah dalang pembunuhan Mama, Tante Amanda, Nenek dan kecelakaan yang menimpaku satu tahun yang lalu." Darren berbicara sambil menatap satu persatu wajah anggota keluarganya dan keempat sahabatnya.


Mendengar ucapan dari Darren membuat keluarga Austin dan keluarga Julian terkejut. Mereka juga tidak sabaran untuk mengetahui siapa orang yang sudah membunuh istri/Ibu/Tante/Nenek mereka. Dan mereka semua juga tidak sabaran untuk membalaskan kematian ketiganya.


"Siapa Darren? Siapa orang yang sudah membunuh Mama, Tante Clarissa dan Nenek?" tanya Andra.


"Kalian sudah tahu siapa orangnya," jawab Darren.


"Tante Andara," sahut Vito.


"Iya," jawab Darren.


"Jadi benar Tante Andara pelakunya?" tanya Raka.


Darren tidak menjawab pertanyaan dari Raka. Justru Darren mengalihkan perhatiannya kearah laptop yang ada di hadapannya. Setelah itu, Darren pun menghidupkan laptopnya itu.


Melihat Darren yang tidak menjawab pertanyaannya. Raka hanya bisa bersabar. Dirinya tidak marah akan sikap acuh adiknya itu.


Darren kemudian memutar sebuah video tentang kejahatan Andara dan suaminya selama ini sehingga berakhir Andara masuk ke keluarga Austin dan menikah dengan Rafael Austin.


"Kalian lihatlah ini!" Darren memutar laptopnya agar mereka semua bisa melihatnya.


Baik Felix, kelima anak-anaknya maupun Julian dan ketiga anaknya melihat kearah layar laptop tersebut. Mereka semua melihat secara seksama tanpa ada yang terlewatkan.


Ketika mereka melihat video yang diputar di laptop milik Darren. Tersirat amarah dan dendam di wajah mereka masing-masing, terutama Andra, Adnan dan Merryn.


"Brengsek! Dasar wanita sialan. Selama ini dia hanya pura-pura baik!" Andra benar-benar marah saat ini.


"Kebaikan hanya kedok," ucap Adnan.


"Jangan-jangan orang itu adalah suruhan dari wanita sialan itu," sahut Velly.


"Yaelah! Kenapa baru nyadar sekarang? Kemarin-kemarin kemana aja? Kalian saat itu lebih percaya perempuan ular itu dibandingkan Darren. Dan bukan itu saja. Bahkan kalian juga langsung percaya saat laki-laki itu mengatakan bahwa Darren yang telah membunuh tante Clarissa." Merryn berucap dengan sinis dan ketus.


Mendengar nada sinis dan nada sindir yang diberikan oleh Merryn. Baik Felix maupun kelima anak-anaknya hanya diam. Mereka tidak marah dengan apa yang dikatakan oleh Merryn.


"Merryn," tegur Julian.


"Maaf, Pa!"


"Aku kasihan sama Om Rafael. Selama ini Om Rafael telah ditipu mentah-mentah oleh wanita sialan itu. Padahal Om Rafael begitu mencintanya." Andra berucap sembari membayangkan reaksi Rafael.


"Bagaimana cara kita menyampaikannya kepada Om Rafael tentan kejahatan Tante Andara?" tanya Vito.


"Masalah Om Rafael biar aku yang urus. Aku akan bicara dengan Om Rafael secara baik-baik. Jika Om Rafael masih tidak mempercayai ucapanku. Tidak ada cara lain. Aku akan langsung bertindak. Aku tidak peduli berapa besar cinta Om Rafael terhadap perempuan murahan itu. Disini aku hanya ingin menyelesaikan tugasku yaitu membalaskan kematian Mama. Jika Om Rafael tidak peduli atas kematian adik perempuannya dan ibunya. Itu urusan dia. Disini niat dan tujuanku hanya satu. Aku ingin segera menyelesaikan masalah ini secepatnya. Aku sudah cukup lelah. Aku ingin hidup tenang."


Darren berbicara dengan kondisi yang saat ini masih dikatakan tidak baik-baik saja. Kebencian dan dendam Darren makin meningkat semenjak balas dendamnya kepada Alonso dan Veronika terbalaskan.


Lory yang duduk di samping Darren berusaha untuk memberikan ketenangan pada adiknya. Lory tidak ingin adiknya kembali drop.


"Tenang, Ren! Jangan terlalu emosi, oke! Pikirkan kesehatanmu. Kamu baru pulih kemarin." Lory mengusap-ngusap lembut punggung adik sepupunya.

__ADS_1


"Tapi aku benar-benar lelah, Kak! Aku ingin segera menyelesaikan masalah ini. Aku tidak akan bisa hidup tenang jika aku belum membalaskan kematian Mama." Darren seketika menangis sembari menatap wajah cantik kakak sepupunya itu.


Mendengar lirihan dan kesedihan Darren membuat Felix, Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya, Julian, Andra, Adnan dan Merryn menjadi tidak tega. Mereka ikut merasakan kesedihan yang teramat di hati mereka masing-masing ketika mendengar ucapan dan melihat wajah sedih Darren.


"Iya. Kakak tahu. Bukan kamu saja yang ingin segera menyelesaikan masalah ini. Kakak dan keluarga Smith juga memikirkan hal yang sama. Apalagi Kakek. Kakek sangat terpukul akan kepergian Mama kamu. Hanya saja Kakek tidak menunjukkannya ke kita."


Lory membelai lembut kepala Darren dan tak lupa memberikan kecupan sayang di keningnya.


"Kita bermain cantik dan lembut sehingga musuh-musuh kita tidak mengetahuinya. Dan dengan begitu kita bisa menghancurkan mereka semua tanpa ampun. Jadi kakak minta tenang ya!"


"Baiklah," jawab Darren.


Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarga Austin dan keluarga Julian. "Aku minta kepada kalian. Jangan membenci Michel. Michel tidak salah. Dia juga korban disini."


"Baik, Ren!" Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya,Andra, Adnan dan Merryn menjawab secara bersamaan.


"Untuk rencana pertama. Kalian harus lebih dekat lagi dengan Michel. Beri perhatian lebih padanya. Setelah itu, kalian update kebersamaan kalian dengan Michel keakun media sosial milik kalian dengan menggunakan akun palsu. Lalu..." perkataan Darren terpotong karena Barra telah terlebih dahulu memotongnya.


"Lalu buat dengan kata-kata jika kita akan menyakiti Michel jika kedua orang tuanya, terutama ayahnya tidak mengabulkan keinginan kita. Begitu kan Ren?"


Darren melihat Barra. Dan detik kemudian, Darren tersenyum menyeringai. "Kau pintar sekali dalam menebak rencanaku, saudara Barra Rainart Mourella!"


"Terima kasih pujiannya, saudara Darrendra Arka Smith." Barra membalas perkataan Darren.


Sementara mereka semua yang mendengar keduanya hanya tersenyum.


"Dan untukmu Zidan. Seperti biasa. Kau bertugas mencari tahu semua informasi mengenai suami dari wanita sialan itu. Suaminya berasal dari keluarga Jecolyn. Dan perempuan itu berasal dari keluarga Cassandra. Cari tahu latar belakang dua keluarga itu. Dan hancurkan. Buat mereka tidak memiliki apa-apa lagi."


"Siap, Bos!" Zidan memperagakan dengan memberi hormat kepada Darren.


Ketika mereka tengah membahas rencana pertama pembalasan. Mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel milik Darren yang berdering.


"Hallo, Bos."


"Ada apa Justin?"


"Aku ada kabar baik Bos."


"Katakan Justin. Jangan buat aku penasaran."


"Begini Bos. Bos masih ingat dengan Aron yang saat itu ingin membunuh Bos di Kampus?"


"Iya. Aku masih ingat. Kenapa?"


"Aron itu adalah kepercayaan Tuan Felix di perusahaan AUSTIN. Dia bekerja di Perusahaan AUSTIN atas suruhan dari keluarga Jecolyn. Saya sudah mendapatkan biodatanya dan latar belakang keluarganya. Saya mendapatkan sedikit informasi dari keluarganya mengenai atasan dari Aron."


"Siapa?"


"Namanya adalah Arnold Yoseph Jecolyn. Nama Perusahaannya adalah AYJ CROP."


Mendengar jawaban dari Justin membuat Darren tersenyum bahagia. Hari ini dewi fortuna memihak padanya dan keluarganya.


"Arnold Yoseph Jecolyn," batin Darren.


"Tapi saya minta maaf Bos. Saya belum mendapatkan wajah dari laki-laki itu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Masalah itu biar Zidan dan Reno yang melakukannya. Kabar darimu ini sudah sangat membantu."


"Oh iya, Bos! Tunggu dulu jangan tutup teleponnya. Masih ada satu lagi."


"Katakan."


"Laki-laki itu seorang ketua mafia. Kelompok mafianya berada diurutan nomor 4 di dunia. Bos pasti tahu apa nama kelompok mafia laki-laki itu?"


Mendengar perkataan dari Justin. Darren kembali tersenyum.


"SINALOA."


"Ya, Bos! Itu nama kelompok mafia laki-laki itu."


"Baiklah, Justin. Kau bekerja sangat baik hari ini. Aku akan memberikan bonus untukmu."


"Terima kasih, Bos!"


Setelah itu, Darren langsung mematikan panggilannya.


Darren saat ini benar-benar bahagia karena salah satu tangan kanannya telah memberikan kejutan terbesar padanya.


"Mama. Sebentar lagi. Sebentar lagi semuanya akan selesai. Setelah semua ini selesai. Mama akan bahagia dan tenang disana," batin Darren.


"Ren. Apa yang dikatakan oleh Justin?" tanya Chico.


Darren menatap wajah keempat sahabatnya, wajah anggota keluarga Austin, wajah anggota keluarga Julian dan Lory.


"Dewi fortuna sepertinya memihak kekita. Justin sudah mengetahui nama dari suami wanita sialan itu. Bukan itu saja. Justin juga mengetahui nama Perusahaan dan nama kelompok mafia laki-laki bajingan itu."


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua tersenyum bahagia.


"Benarkah Ren?" tanya Julian.


"Hm." Darren mengangguk.


"Siapa nama pria brengsek itu, Ren?"  tanya Vito.


"Arnold Yoseph Jecolyn. Nama Perusahaannya adalah Perusahaan AYJ CROP."


"Lalu nama kelompok mafianya apa Darren?" tanya Chello.


"Kelompok mafianya ada diurutan keempat," jawab Darren.


Zidan, Chico, Barra dan Chello saling melirik satu sama lainnya. Kemudian keempat nya menatap wajah Darren sembari berucap.


"SINALOA!"


"Yup!


"Justin belum berhasil mengetahui wajah dari pria brengsek itu dan aku menyerahkan tugas ini padamu dan Reno," ucap Darren dengan menatap ke arah Zidan.


"Serahkan padaku," jawab Zidan.


"Maaf tuan Darren, nona Lory. Makan siangnya sudah siap!" seru seorang pelayan yang tiba-tiba datang menghampiri Darren dan yang lainnya di ruang tengah.

__ADS_1


Darren dan Lory melihat kearah pelayan itu. "Baik, Bibi! Darren dan Lory menjawab bersamaan.


Dan setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju ruang makan.


__ADS_2