REVENGE

REVENGE
Merencanakan Pembalasan


__ADS_3

Darren berada di rumah keluarga Smith. Dikarenakan kondisi tubuhnya kembali drop kemarin di Kampus sehingga membuat Afnan dan Naura memutuskan membawa Darren pulang ke rumah utama keluarga Smith.


Ketika Afnan dan Naura membawa pulang Darren. Mereka disambut dengan berbagai macam pertanyaan dari anggota keluarga Smith. Terutama dari ketiga kakak-kakaknya yaitu Saskia, Nuria dan Marco.


Dikarenakan mendapatkan serangan pertanyaan dari anggota keluarganya. Afnan dan Naura pun menceritakan apa yang terjadi di Kampus hingga berakhir Darren kembali drop.


Mendengar cerita dari Afnan dan Naura membuat anggota keluarga Smith lebih mengkhawatirkan kesehatan Darren.


Ketika mereka tengah membahas mengenai kesehatan Darren. Mereka tiba-tiba dikejutkan dengan suara Darren yang menuruni anak tangga sambil berteriak.


"Kakak Marco," panggil Darren dengan suara kerasnya.


Mereka semua hanya bisa menghela nafas pasrah ketika mendengar suara teriakan Darren. Sementara Marco langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri adiknya yang berdiri di anak tangga nomor lima dari bawah.


"Ada apa?" tanya Marco yang saat ini sudah berdiri di hadapan adiknya itu.


Darren memberikan senyuman manisnya kepada Marco sambil berucap, "Gendong."


Mendengar ucapan dari Darren membuat Marco terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Selama ini Darren tidak pernah meminta digendong secara terang-terangan kecuali mereka sendiri yang ingin menggendong Darren.


Melihat kakaknya hanya diam dan menatap dirinya membuat Darren merengut.


"Jadi Kakak gak mau gendong aku?" tanya Darren dengan memperlihatkan wajah super sedihnya.


Melihat wajah sedih adiknya membuat Marco menjadi kasihan. Dan akhirnya Marco pun mengabulkan keinginan adiknya itu.


Marco membalikkan badannya, lalu sedikit membungkuk agar adiknya bisa naik keatas punggungnya.


"Naiklah," sahut Marco.


Mendengar hal itu terukir senyuman manis di bibir Darren. Anggota keluarga Smith tersenyum bahagia ketika melihat senyuman manis Darren.


Kini Darren dan Marco sudah berada di ruang tengah dan bergabung dengan anggota keluarga Smith lainnya.


"Bagaimana keadaan cucu opa, hum?" tanya Robert kepada cucunya Darren.


"Baik, Opa!"


Darren menatap satu persatu wajah anggota keluarga Smith.


Melihat Darren yang menatap mereka membuat mereka yakin jika ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Darren.


"Apa ada yang ingin disampaikan, hum?" tanya Ronald.


Darren melihat kearah Ronald. "Iya. Memang ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua. Dan ini sudah waktunya."


"Apa itu sayang? Katakanlah," ucap dan tanya Erland.


"Ini tentang pelaku pembunuhan Mama, Tante Amanda dan Nenek Victoria," jawab Darren.


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua berubah menjadi marah. Tak terkecuali Robert selaku Ayah dari Clarissa.


"Katakan pada Kakak, Ren! Siapa dia? Siapa orang yang sudah membunuh Mama?" tanya Afnan dengan raut wajah marahnya.

__ADS_1


"Andara Jecolyn," jawab Darren.


"Maksud kamu Andara Austin, istri Rafael Austin?" tanya Nuria.


"Jadi benar wanita sialan itu yang sudah membunuh Mama?" tanya Saskia.


"Iya," jawab Darren.


"Brengsek!" Marco dan Afnan benar-benar marah terhadap Andara.


"Tapi tunggu dulu. Ren! Kamu barusan bilang Andara. Maksudnya apa?" tanya Willy.


Darten tersenyum mendengar pertanyaan dari Willy, Kakak sepupu tertua nomor dua di keluarga Smith.


"Andara itu adalah istri dari orang yang memiliki marga Jecolyn. Perempuan itu menikah dengan om Rafael hanya mengincar kekayaan keluarga Austin. Kekayaan keluarga Austin berada diposisi kedua di dunia dan di Australia. Jika perempuan sialan itu bersama suaminya berhasil menguasai kekayaan keluarga Austin atau lebih tepatnya berhasil membunuh sang pemimpin dalam keluarga tersebut, maka keluarga Jecolyn akan naik ke posisi kedua menggantikan posisi keluarga Austin." Darren menjelaskan niat busuk dari keluarga Jecolyn selama ini.


Darren menatap wajah keempat kakaknya. "Kalian pasti akan lebih terkejut lagi kalau aku memberitahu hal ini," ucap Darren.


"Apa Ren?" tanya Saskia, Nuria, Marco dan Afnan bersamaan.


"Ini tentang Papa Nandito," jawab Darren.


"Papa!" seru Saskia, Nuria, Marco dan Afnan bersamaan.


Saskia, Nuria, Marco dan Afnan menatap wajah adiknya. "Katakan Ren!" seru mereka bersamaan.


"Papa Nandito meninggal bukan karena sakit. Tapi diracuni," sahut Darren.


"Orang itu memberikan racun kepada Papa Nandito sehingga racun itu akan membuat organ-organ penting dalam tubuh Papa Nandito tidak berfungsi dengan baik. Racun itu bekerja secara berlahan. Racun itu tidak bisa dideteksi oleh dokter. Jadi ketika Papa Nandito dibawa ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Papa Nandito memiliki beberapa penyakit di dalam tubuhnya dan akan bertahan selama enam bulan."


TES!


Saskia, Nuria, Marco dan Afnan menangis ketika mendengar penjelasan tentang kondisi ayah kandung mereka dari mulut adik kesayangan mereka. Selama ini mereka mengira bahwa ayah mereka benar-benar sakit parah. Ternyata semua itu salah. Ayah mereka dalam kondisi baik-baik saja sehingga ada orang yang berbuat buruk kepada ayah mereka dan berakhir kematian sang ayah.


"Aakkhhh! Brengsek!" teriak Marco.


"Dari mana kau mengetahui semua ini, Darren?" tanya Cavitta yang sudah tidak mampu menahan tangisnya.


"Dari flashdisk yang diberikan oleh Nenek Victoria. Saat aku menolong Nenek Victoria. Nenek mengatakan padaku bahwa Andara yang telah membunuh Mama dan Tante Amanda.  Dan tanpa aku sadari, Nenek memasukkan sesuatu ke dalam saku celanaku."


"Dan itulah alasan kenapa Andara ingin membunuh Nyonya Victoria saat itu," sahut Steffany.


"Ya, Kak Steffany. Kakak benar. Nyonya Victoria sudah mengetahui kejahatan perempuan itu makanya perempuan itu ingin melenyapkan Nyonya Victoria agar kejahatannya tidak diketahui oleh keluarga Austin." Clara berucap.


"Tapi sayangnya dewi fortuna tidak memihak padanya," sela Steven.


"Keluarga Jecolyn berada diposisi ketiga saat ini setelah berhasil menyingkirkan Papa Nandito yang berasal dari keluarga Abraham yang berada diposisi ketiga saat itu. Dan sekarang ini keluarga brengsek itu mengincar posisi keluarga Austin yang berada dinomor dua." Darren berbicara sambil menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


Mendengar penjelasan dari Darren tentang apa yang telah dilakukan oleh keluarga Jecolyn membuat Robert, Erland dan Ronald menatap khawatir Darren. Mereka sangat yakin jika keluarga Jecolyn pasti akan mengincar cucu/keponakannya.


"Jadi ini alasan Felix menyerahkan semua kekayaan keluarga Austin menjadi atas nama Darren!" seru Ronald.


Mendengar ucapan dari Ronald membuat mereka seketika sadar atas apa yang telah dilakukan oleh Felix.

__ADS_1


"Sial. Kenapa aku baru menyadari hal ini? Demi melindungi kekayaan keluarga Austin. Nyawa adikku menjadi taruhannya." Marco berbicara dengan nada amarahnya.


"Kak Marco. Kakak tenang saja ya. Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Percayalah! Aku sangat yakin bajingan itu tidak akan berani membunuhku langsung sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Bajingan itu mengincar tanda tanganku. Jadi bajingan itu akan bermain hati-hati denganku."


"Tapi tetap saja Darren! Kakak benar-benar mengkhawatirkan kamu," ucap Marco menatap khawatir wajah adik manisnya.


"Maka dari itulah kenapa aku membahas masalah ini dengan kalian. Kita yang akan terlebih dahulu bermain-main dengan mereka. Aku sudah mendapatkan satu kelemahan suami dari perempuan sialan itu. Kalian bisa bermain-main dengan kelemahannya itu terlebih dahulu."


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua tersenyum. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.


"Apa kelemahan bajingan itu, Ren?" tanya Alfin.


"Michel Austin," jawab Darren.


"Michel," ucap mereka bersamaan.


"Michel putra bungsu Rafael maksud kamu?" tanya Garvin.


"Hm." Darren berdeham sambil menganggukkan kepalanya.


"Kok bisa? Buk..." perkataan Afnan terpotong.


"Michel bukan putra kandung om Rafael. Tapi putra kandung dari perempuan sialan itu dengan suami pertamanya. Selama ini om Rafael telah ditipu oleh perempuan itu."


"Apa?!"


Mereka semua terkejut mendengar kabar yang mengatakan bahwa Michel bukanlah putra kandung dari Rafael Austin.


"Kalian bisa mendekati Michel. Tapi kita tidak akan menyakiti Michel. Michel tidak salah. Dia juga korban kebohongan kedua orang tuanya."


"Kami mengerti Darren. Kita mendekati Michel untuk memancing agar ayah kandungnya keluar dari persembunyian," ucap Devano.


"Kita bagi tugas saja. Kalian para anak-anak bermain-main dengan Michel. Sementara kami para orang tua akan menyelidiki latar belakang dari keluarga Jecolyn!" seru Erland.


"Hm."


"Sekalian cari tahu juga tentang keluarga Cassandra. Keluarga Cassandra itu adalah keluarga dari perempuan itu." Darren berucap.


"Baik sayang," jawab Erland.


"Yang lainnya biarkan aku yang urus. Aku juga harus menyampaikan masalah ini kepada keluarga Austin dan keluarga Fernandez. Bagaimana pun kedua keluarga itu berhak tahu, apalagi om Julian."


Mendengar perkataan dari Darren mereka semua mengangguk setuju. Mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren.


Setelah selesai membahas masalah pembunuhan anggota keluarga mereka. Detik kemudian, sikap Darren berubah. Darren tiba-tiba berubah manja kepada kakak perempuannya Saskia.


"Kakak Saskia, aku lapar. Aku mau dibuatkan spaghetti. Spaghetti buatan kakak paling enak." Darren berbicara sambil memperlihatkan wajah manis dan lucunya kepada Saskia sehingga membuat mereka semua tersenyum.


"Baiklah. Kakak akan buatkan special untuk kamu," jawab Saskia sambil mencubit hidung mancung adiknya itu.


"Terima kasih, Kak! Kakak yang terbaik."


Setelah itu, Saskia beranjak dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan ruang tengah menuju dapur.

__ADS_1


__ADS_2