
Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilannya. Dan detik kemudian, Darren menghempaskan tubuhnya ke sofa sembari menyadarkan punggungnya.
"Kenapa harus Keluarga Parvez? Dan kenapa harus anak perempuan mereka? Tidak cukupkah Ataya saja? Dan kenapa harus terjadi lagi dengan Arinda."
"Ataya... Hiks," ucap Darren sembari terisak.
Felix menduduki dirinya di samping putranya. Kemudian tangannya langsung mengusap lembut pipi putranya itu sehingga membuat putranya itu terkejut dan melihat kearah dirinya.
"Papa."
"Mau cerita, hum? Papa sial menjadi pendengarmu."
Seketika Darren menangis ketika mendengar ucapan dari ayahnya. Tatapan matanya menyenduh.
"Kenapa harus terjadi lagi Papa? Kenapa harus keluarga Parvez lagi? Kenapa harus anak perempuan mereka lagi yang menjadi korbannya?"
Mendengar rentetan pertanyaan dari putranya membuat hati Felix sakit dan juga sesak. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya, terutama Clarissa, Saskia, Nuria, Marco dan Afnan. Mereka semua menangis.
"Maminya Ataya bilang padaku bahwa Arinda tidak ada kabar selama dua hari. Hilangnya Arinda setelah Arinda berada di kediaman Bernard di hari kedua. Maminya Ataya tahu Arinda hilang dari dua pengasuhnya Arinda yaitu Tante Pingkan dan Om Robby."
"Pa! Aku benar-benar takut kejadian itu terulang lagi dimana aku....."
Grep...
Felix langsung memeluk tubuh putranya. Dirinya sudah tidak kuat mendengar cerita dari putranya tentang keluarga Parvez.
"Hiks... Papa. Aku gagal menyelamatkan Ataya saat itu. Dan aku berharap untuk kali ini aku berhasil menemukan keberadaan Arinda dan juga berhasil menyelamatkannya. Aku melakukan ini demi Mami. Aku tidak ingin Mami kembali merasakan kehilangan lagi. Aku tidak ingin Mami, Papi, kak Nathan dan kak Azka harus kembali dipisahkan dengan putri dan adik perempuannya."
Felix makin mengeratkan pelukannya pada putranya. Felix tahu bahwa saat ini putranya merasakan ketakutan. Dan Felix juga yakin bahwa rasa takut dalam tubuh putranya kembali keluar.
Clarissa berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekati suami dan putra bungsunya.
Clarissa duduk di samping kanan putranya itu. Setelah duduk di samping putranya, tangannya mengusap-usap lembut kepala putranya.
__ADS_1
"Sayang."
Darren seketika langsung melepaskan pelukan ayahnya dan beralih memeluk tubuh ibunya.
"Mama."
"Kalau Mama boleh tahu. Siapa perempuan yang kamu panggil Mami?"
"Dia adalah ibu dari kekasihku yang bernama Ataya. Aku dan Ataya sudah bertunangan. Jika Ataya masih hidup sampai detik ini. Bulan depan aku dan Ataya akan menikah. Tapi... Hiks."
Clarissa mengeratkan pelukannya pada tubuh putranya. "Mami sudah tahu. Kakak-kakak kamu sudah menceritakannya pada Mama."
Tangan Clarissa mengusap lembut punggung putranya dam disertai kecupan di pucuk kepalanya.
"Apa Arinda itu putri dari Mami kamu itu?"
"Iya. Lebih tepatnya, Arinda adalah putri kembarnya Mami dan saudari kembar dari kekasihku."
"Jadi itu maksud kamu yang tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya. Kamu ingin menyelamatkan Arinda?"
Clarissa melepaskan pelukannya dan setelah itu, Clarissa menatap wajah tampan putranya yang basah karena air matanya.
Clarissa tersenyum lalu menghapus air mata putranya itu. "Apa maksud dari perkataan kamu yang mengatakan orang tua dan kakak yang gagal untuk Ataya?"
Darren seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari ibunya. Sepertinya ibunya ini mengetahui lebih banyak lagi tentang keluarga Parvez.
"Sejak kapan Mama berubah menjadi Reporter?" tanya Darren.
"Hahahaha."
Semua kakak-kakaknya tertawa keras ketika mendengar pertanyaan dari Darren. Begitu para orang tua.
Clarissa tersenyum sembari tangannya mengusap lembut kepala putranya dengan penuh sayang.
__ADS_1
"Sejak dimana Mama mengetahui tentang Ataya dari kakak-kakak kamu. Dan di hari ini ketika kamu menceritakan tentang Arinda," jawab Clarissa.
Tangan Clarissa berpindah pada pipi putih putranya. "Katakan semuanya sama Mama. Jangan ada satu pun yang terlewatkan."
"Dulu ketika Ataya masih hidup. Kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya tidak ada waktu untuk Ataya. Mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan yang berada di luar negeri. Sementara kedua kakak laki-lakinya sibuk dengan perusahaan dan kuliahnya."
Mendengar perkataan dari Darren membuat Clarissa terkejut. Dirinya tidak menyangka jika kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-laki dari Ataya tidak memiliki waktu untuk Ataya.
"Mereka sama sekali tidak memikirkan Ataya yang menginginkan perhatian, pelukan, kecupan di keningnya setiap pagi, siang dan malam. Yang ada di pikiran mereka adalah pekerjaan dan pekerjaan. Dengan mereka berkerja. Mereka bisa memberikan fasilitas mewah kepada anak-anaknya."
"Ataya memiliki satu trauma yaitu takut dengan kegelapan. Ketika trauma itu muncul, Ataya selalu menyebut nama kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya. Bahkan dalam kondisi ketakutan, Ataya masih sempat menghubungi mereka."
"Kenapa Ataya masih sempat-sempatnya menghubungi kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya. Itu dikarenakan aku selalu mengatakan padanya untuk selalu membawa ponsel kemana pun dia berada dan dalam keadaan apapun."
Darren menangis ketika menceritakan tentang keluarga Parvez kepada ibunya. Dirinya benar-benar takut saat ini.
"Ma! Aku benar-benar takut. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Arinda adalah saudari kembarnya Ataya. Jika aku gagal menyelamatkan Arinda. Otomotif aku kembali melihat jasad anak perempuan dari keluarga Parvez."
Clarissa kembali memeluk tubuh putranya. Hatinya benar-benar sakit ketika melihat kesedihan dan ketakutan dari di mata putranya.
"Semoga semua tidak terjadi. Semoga para tangan kanan kamu berhasil menemukan keberadaan Arinda sehingga kamu, sahabat-sahabat kamu dan kakak-kakak kamu berhasil menyelamatkan Arinda. Percayalah!"
Darren seketika melepaskan pelukannya. Tatapan matanya menatap wajah cantik ibunya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Dan Mama yakin kamu, sahabat-sahabat kamu dan kakak-kakak kamu akan berhasil menyelamatkan Arinda."
"Iya, Ren! Kamu harus punya keyakinan yang kuat. Kamu nggak boleh menjadi lemah hanya karena di masa lalu kamu gagal melindungi dan menyelamatkan Ataya," sahut Qenan.
"Kita berdoa kepada Tuhan dan meminta pada-Nya untuk melindungi dan menjaga Arinda," ucap Raka.
"Ingat, sayang! Kamu tidak sendirian. Ada kami, kakak-kakak kamu! Kita akan membantu untuk mencari Arinda!" seru Marco.
"Hm!" Qenan, Willy, Theo, Devano, Alfin, Andry, Garvin, Raka, Satya, Vito, Andra dan Adnan berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mendengar perkataan dari kakak kesayangannya dan juga jawaban dari kakak-kakaknya yang lain membuat Darren seketika tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar bersyukur memiliki banyak kakak yang begitu peduli, perhatian dan begitu menyayangi dirinya.
Melihat senyuman manis di bibir Darren membuat mereka semua sedikit merasakan kelegaan. Setidaknya perasaan dan pikiran kesayangannya itu sudah sedikit membaik.