REVENGE

REVENGE
Ucapan Dan Pelukan Sang Ayah


__ADS_3

Dor... Dor...


Dor...


Kelompok mafia Darren dan kelompok mafia Marco datang dengan menembaki orang-orang yang hendak mengejar Lory, Cavitta, Naura dan Tamara.


Sekitar 30 orang mati dengan kepala dan jantung berlubang akibat tembakan dari kelompok Darren dan kelompok Marco.


"Darren, Kak Marco!" seru Lory, Cavitta, Naura dan Tamara bersamaan.


Darren, Marco, Raka, Satya dan Vito melihat kearah Cavitta, Lory, Naura dan Tamara.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Marco.


"Iya, kak! Kami baik-baik saja," jawab Cavitta, Lory, Naura, dan Tamara bersamaan.


Seperti yang diperintahkan oleh Darren. Kelompok mafia Darren yang datang adalah kelompok SCORPIO. Bukan hanya anggota mafiosonya saja yang datang. Keempat sahabat-sahabatnya yaitu Faza, Kevin, Barra dan Chico juga datang.


Sementara Zidan, Chello dan Briyan berada di markas besarnya yaitu BLACK WOLF untuk menyelidiki atau mencari orang yang sudah menyuruh kelompok itu untuk menculik anggota keluarga Smith.


"Siapa kalian? Dan kenapa kalian menghadang mobil dari keempat adikku?!" bentak Marco dengan menatap nyalang orang-orang yang ada di hadapannya.


"Kalian tidak perlu tahu siapa yang menyuruh kami. Lebih baik kalian pulang saja dan biarkan kami membawa keempat gadis itu!" teriak pemimpin kelompok itu.


Mendengar teriakan dan perkataan dari pemimpin kelompok tersebut membuat Darren dan Marco marah. Baik Darren maupun Marco menatap nyalang pemimpin kelompok itu.


"Kau pikir kami akan menuruti keinginanmu itu, hah! Tidak akan!" teriak Marco.


"Serang!" perintah Darren.


Dan terjadi pertarungan yang amat mengeringkan dari kelompok mafia SCORPIO, kelompok mafia COBRA melawan 70 kelompok yang identitas belum diketahui.


BAGH.. BUGH..


DUAGH..


SREETT.. KREEAAKK...


DOR.. DOR..


JLEB.. JLEB..


Darren, Marco, Raka, Satya dan Vito memberikan pukulan, tendangan secara brutal pada setiap kelompok orang-orang yang berniat untuk menculik keempat saudara perempuannya. Begitu juga dengan Faza, Kevin, Chico dan Barra. Mereka juga sama kejamnya dengan Darren dan kakak-kakaknya.


Bukan hanya pukulan dan tendangan saja yang mereka berikan. Mereka juga menyayat-nyayat dan menusuk-nusukkan pisau belati miliknya ke perut dan ke jantung musuh-musuhnya. Bahkan mereka juga mematahkan anggota tubuh musuh-musuhnya seperti kepala, tangan dan kaki sehingga timbul teriakan kesakitan dari mulut musuh-musuhnya.


Tak butuh waktu lama. Darren, Marco, Raka, Satya, Vito dan keempat sahabat-sahabatnya Darren serta para kelompok mafia mereka berhasil mengalahkan dan membunuh secara sadis sekitar 50 orang.


Kini tersisa 20 orang lagi. Dan 20 orang itu dalam keadaan terluka, termasuk sang pemimpin.


"Lebih baik kau menyerah. Kau dan anak buahmu hanya tersisa 20 orang saja.


Tanpa Darren dan yang lainnya ketahui. Salah satu dari dua puluh orang yang tersisa dan dalam keadaan terluka diam-diam mengambil pistol di balik punggungnya. Setelah itu, orang itu mengarahkan pistol itu kearah Jungkook.


DOR.. DOR..


"Kak Raka!"


"Kakak Raka!"


Tembakkan itu mengenai punggung Raka. Ketika peluru itu ingin mengenai tubuh Darren. Raka tiba-tiba langsung memeluk tubuh adiknya dan menjadikan tubuhnya tameng untuk adik manisnya itu.


DOR.. DOR.. DOR..


Para kelompok mafia Darren dan kelompok mafia Marco beserta keempat sahabat-sahabatnya Darren langsung menembak mati semua orang-orang yang ada di hadapan mereka.


Tubuh Darren membeku di tempat dengan Raka memeluknya. Raka memeluk adiknya erat dengan menggumam kata sayang.


"Kakak menyayangimu. Amat sangat menyayangimu," ucap Raka di telinga Darren.


Mendengar perkataan manis dari kakak tertuanya. Seketika air mata Darren meluncur membasahi wajah tampannya.


"Ka-kakak," lirih Darren.

__ADS_1


Dan detik kemudian, tubuh Raka ambruk. Melihat hal itu, Marco dan Satya langsung menahan tubuh Raka.


Keduanya langsung membawa Raka ke rumah sakit. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Raka.


"Kalian pergilah!" seru Afnan kepada anggota mafia adik dan kakaknya.


"Baik, Bos!"


"Kalian juga pergilah ke rumah sakit. Dan jangan lupa kabari anggota keluarga," ucap Afnan kepada Cavitta, Lory, Naura dan Tamara.


"Baik," jawab mereka bersamaan.


Kini tinggal Darren, Afnan, Vito, Faza, Kevin, Barra dan Chico.


BRUUKK!


Darren jatuh terduduk di aspal. Air matanya berlomba-lomba keluar membasahi wajahnya.


Seketika Darren berteriak histeris disertai tubuh yang bergetar.


"Kakak Raka!" teriak Darren


"Darren," lirih Afnan dan Vito. Keduanya langsung memeluk tubuh Darren.


"Hiks... Hiks... Ka-kakak," isak Darren.


Afnan dan Vito menangis kalau sudah melihat kondisi Darren yang histeris. Mereka sangat mengkhawatirkan Darren, terutama Afnan.


Afnan tahu bagaimana kondisi adiknya yang sebenarnya. Adiknya itu paling lemah jika menyangkut keluarganya apalagi melihat orang-orang yang begitu di sayanginya terluka di hadapan matanya.


"Kamu tenang, oke! Kita berdoa dan meminta kepada Tuhan agar kakak Raka selamat dan baik-baik saja." Afnan berbicara sembari mengusap-ngusap punggung adiknya.


"Kakak... Hiks," isak Darren.


"Semuanya akan baik-baik saja. Kakak yakin jika kak Raka akan selamat. Kak Raka itu kakak kita yang paling kuat." Vito juga ikut menghibur adiknya.


Afnan dan Vito melepaskan pelukannya. Keduanya menatap wajah basah adik manisnya itu. Dan kemudian tangannya menghapus air mata adiknya itu lembut.


"Ya, sudah! Lebih kita ke rumah sakit sekarang!" seru Vito.


Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan lokasi untuk menuju rumah sakit.


***


Kini mereka semua sudah berada di rumah sakit. Sementara para tangan dan mafioso sudah kembali ke markas.


Mereka menatap pintu ruang operasi dengan tatapan sedih dan juga takut. Afnan dan Vito masih setia mendampingi sang adik.


"Ka-kakak... Hiks," isak Darren.


Afnan dan Vito menggenggam erat tangan adiknya. Hati mereka sakit ketika mendengar lirihan dan isakan dari Darren.


Marco berjongkok di hadapan adik manisnya, kemudian tangannya mengambil alih salah satu tangan adik bungsunya dari genggaman kedua adiknya yang lainnya.


Marco mengusap-ngusap punggung tangan adiknya, lalu mengecupnya sayang. Setelah itu, Marco menatap wajah sedih adiknya itu.


"Darren, sayang! Dengarkan kakak ya. Tidak akan terjadi apa-apa sama kakak Raka. Percayalah! Kakak Raka itu kakaknya kamu yang paling kuat."


Marco berbicara dengan penuh kelembutan kepada adik bungsunya. Hatinya juga sakit ketika melihat wajah sendu dan juga wajah tak bergairah sama sekali adiknya.


"Kakak Raka," gumam Darren.


Marco, Afnan, Satya, Vito, Lory, Cavitta, Naura dan Tamara menangis melihat wajah sedih dan mendengar gumaman Darren. Begitu juga dengan keempat sahabat-sahabatnya yaitu Chico, Barra, Faza dan Kevin. Mereka menatap sedih Darren.


Ketika mereka semua tengah memikirkan kondisi mental dan kesehatan Darren. Serta memikirkan Raka yang masih berada di ruang operasi. Mereka semua dikejutkan dengan suara derap langkah kaki beberapa orang dan disertai dengan suara panggilan.


"Marco, Afnan, Vito, Satya!"


Mendengar suara panggilan seseorang. Mereka semua menolehkan wajahnya melihat ke asal suara, kecuali Darren yang tatapan matanya yang kosong.


"Mama, Papa!"


"Tante, Om!"

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Raka?" tanya Clarissa.


"Kak Raka masih di dalam, Ma!" Marco menjawab pertanyaan dari ibunya.


Clarissa, Felix, Rafael dan ketiga anak-anaknya, anggota keluarga Smith lainnya dan juga Julian beserta ketiga anak-anaknya menatap sedih kearah Darren.


Clarissa berlahan menghampiri putra bungsunya, namun langkahnya terhenti karena Felix menahannya.


Melihat tatapan suaminya. Clarissa pun mengerti dan membiarkan suaminya untuk menghibur putranya.


Melihat ayahnya ingin menghampiri adiknya. Marco pun beranjak dari posisinya dan membiarkan ayahnya untuk berbicara dengan adiknya itu.


Felix menggenggam erat tangan putra bungsunya dan tak lupa mengecupnya. Felix benar-benar hancur melihat kondisi putra bungsunya saat ini.


"Darren, sayang! Darren dengar Papa, Nak! Ini Papa sayang. Lihat Papa dong sayang." Felix berbicara dengan meneteskan air matanya.


Darren sama sekali tidak memberikan respon apapun. Bahkan menatap wajah ayahnya saja pun tidak.


"Kakak Raka," ucap Darren.


Felix mengusap lembut wajah putranya. Felix berharap putranya memberikan respon dengan menatap wajahnya. Namun usahanya lagi-lagi gagal. Putranya sama sekali tidak memberikan respon apapun.


Felix menangis. Begitu juga dengan yang lainnya. Hati mereka semua benar-benar hancur. Darren kembali merasakan sakit untuk yang kesekian kalinya.


"Baiklah. Jika Darren tidak mau melihat Papa. Jika Darren tidak mau bicara dengan Papa. Tidak apa-apa. Papa tidak marah. Tapi sebelumnya, Papa ingin mengatakan sesuatu sama kamu. Papa pamit. Papa mau pergi. Untuk apa Papa disini jika Darren tidak mau Melihat papa dan tidak mau bicara dengan Papa."


Mendengar perkataan dari Felix. Mereka semua melihat kearah Darren. Mereka berharap kali ini Darren memberikan respon.


Dan benar saja. Seketika Darren mengalihkan pandangannya menatap wajah Felix. Air matanya berlomba-lomba keluar membasahi wajahnya.


"Pa-papa... Hiks," isak Darren.


Felix tersenyum bahagia. Usahanya kali ini berhasil. Putranya mau melihatnya dan mau bicara dengannya.


GREP!


Felix langsung memeluk tubuh putranya itu. Dan dapat Felix rasakan tubuh bergetar putra bungsunya itu.


"Papa... Hiks... Kakak Raka... Kakak Raka... Hiks."


Felix makin mengeratkan pelukannya pada putranya. Dan tangannya mengusap-ngusap lembut punggung putranya dengan lembut.


Felix melepaskan pelukannya, lalu tangannya mengusap lembut air mata putranya.


"Mau cerita sama Papa."


"Maafkan aku," lirih Darren.


"Maaf untuk apa, hum? Memangnya kamu salah apa sama Papa?"


"Seharusnya... Seharusnya aku yang ada di dalam itu. Bukan Kakak Raka. Tapi... Tapi... Hiks...,"


"Kakakmu melindungimu, begitu?"


Darren menatap wajah ayahnya tepat di manik hitam ayahnya. Dan detik kemudian, Darren mengangguk.


Felix tersenyum gemas melihat wajah sedih dan juga lucu putranya. Felix benar-benar gemas ketika melihat wajah putranya saat ini.


Bukan hanya Felix. Clarissa dan anggota keluarga yang lainnya juga tersenyum gemas melihat wajah Darren. Menurut mereka semua, wajah Darren saat ini benar-benar lucu, imut dan menggemaskan seperti anak kecil.


"Sayang, dengarkan Papa ya! Semuanya akan baik-baik saja. Kakak Raka akan baik-baik saja. Percayalah!"


"Tapi aku takut... Hiks."


"Apa yang kamu takutkan, hum? Jangan pikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi sayang. Doakan yang terbaik untuk kakakmu. Doa terbaik itulah yang akan membuat orang-orang yang kita sayangi baik-baik saja. Kamu maukan mendoakan kakakmu, hum?"


"Hm!" Darren mengangguk. Felix tersenyum.


"Ini baru namanya putra Papa. Putra Papa itu kuat, pemberani dan juga hebat." Felix berbicara sambil tangannya mengusap lembut rambutnya dan tak lupa memberikan kecupan sayang di keningnya.


"Aku menyayangi Papa."


"Papa tidak."

__ADS_1


"Papa... Hiks."


"Papa bercanda sayang. Papa juga menyayangimu. Sangat!"


__ADS_2