REVENGE

REVENGE
Kedatangan Marissa Dan Arnold


__ADS_3

Darren dan ketiga kakaknya sudah berada di Kampus. Darren dan keempat sahabatnya berada di Perpustakaan. Sementara ketiga kakaknya berada di kelas.


"Ren," panggil Chico.


"Hm." Darren menjawab dengan berdehem sambil matanya masih fokus menatap layar laptopnya.


"Apa rencanamu sekarang?" tanya Chico.


"Tidak ada," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Chico menatap dengan mata melotot. Begitu juga dengan Zidan, Barra dan Chello.


Darren melirik sekilas keempat sahabatnya, lalu tersenyum. Setelah itu, Darren kembali menatap layar laptopnya.


"Jangan perlihatkan wajah jelek kalian seperti itu," sahut Darren.


Mendengar perkataan dari Darren membuat keempat sahabatnya mendengus kesal.


"Selesai!" seru Darren dengan senyuman manis di bibirnya.


Darren mendorong laptop miliknya kearah keempat sahabatnya. "Ini kalian lihatlah!"


Zidan, Chico, Barra dan Chello langsung mengalihkan pandangannya kearah layar laptop milik Darren. Keempatnya melihat dan membaca seksama apa yang ada di layar laptop milik sahabat kelincinya itu.


Sepuluh menit kemudian, Zidan, Chico, Barra dan Chello tersenyum sambil menatap wajah Darren.


"Ren, ini..."


"Iya, Chello! Bagaimana?" ucap dan tanya Darren sambil menatap wajah keempat sahabatnya.


"Wah, Ren! Ini benar-benar menakjubkan," puji Barra.


"Kau benar-benar kejam, Ren!" Zidan berucap.


Zidan, Chico, Barra dan Chello barusan melihat dan membaca apa yang tertera di layar laptop milik Darren. Di sana tertulis bahwa Perusahaan AYJ CORP milik Arnold sudah resmi menjadi milik Darren. Bahkan klian-klian terbesar yang bekerja sama dengan Perusahaan milik Arnold itu turut bahagia akan berita tersebut. Mereka semua justru senang jika Darren yang memegang tampuk kepemimpinan di Perusahaan AYJ CROP.


"Bagaimana cara kau melakukannya?" tanya Barra.


"Ayo, Ren! Katakan pada kami!" seru Chico.


Melihat antusiasnya keempat sahabatnya ingin mengetahui bagaimana cara Darren merebut Perusahaan AYJ CROP.


Ketika Darren ingin menjelaskan bagaimana cara dirinya merebut Perusahaan AYJ CROP, tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.


"Ren," panggil orang itu.


Baik Darren maupun keempat sahabatnya menolehkan wajahnya kearah orang itu.


"Kak Nasya," ucap Darren.


Orang itu adalah Nasya Austin yang datang sendiri. Dan terlihat wajahnya tampak khawatir.

__ADS_1


Darren, dan keempat sahabatnya berdiri. Kemudian Darren melangkah mendekati sang Kakak.


"Ada apa Kak? Kenapa sendirian? Kak Vito dan Kak Velly mana?"


"Darren. Kita pulang ke rumah Papa sekarang ya. Kak Vito dan Velly sudah dalam perjalanan pulang ke rumah. "


"Apa mantan istrinya Papa sudah datang?" tanya Darren langsung keinti permasalahan.


"Iya, Ren. Perempuan itu sudah datang. Bahkan Perempuan itu datang bersama dengan sekutunya," jawab Nasya.


"Sekutu," ucap Darren, Zidan, Chico, Barra dan Chello bersamaan mengulangi perkataan Nasya.


"Maksud Kak Nasya apa?" tanya Chello.


"Incaran kita keluar dari sarangnya," sahut Nasya.


Darren, Zidan, Chico, Barra dan Chello saling melirik satu sama lainnya. Detik kemudian terukir senyuman di sudut bibir mereka. Setelah itu, mereka melihat kearah Nasya.


"Arnold Yoseph Jecolyn!"


Nasya tersenyum ketika mendengar ucapan kompak dari Darren dan keempat sahabatnya.


"Iya. Bajingan itu keluar dari sarangnya. Bajingan itu masih mengincar tanda tangan kamu, Ren!" Nasya berucap sambil menatap wajah adiknya.


"Tuhan. Lindungi adikku Darrendra Smith. Dan lindungi juga semua anggota keluargaku. Baik keluarga Austin, keluarga Smith maupun keluarga Julian. Jangan ada yang pergi lagi. Biarkan kami merasakan kebersamaan dan juga kebahagiaan bersama terlebih dahulu di dunia ini." Nasya berdoa di dalam hatinya.


Darren menatap lekat wajah Kakak perempuannya. Dirinya dapat melihat ada tatapan khawatir disana akan dirinya.


"Kakak sayang kamu, Ren!"


"Aku percaya."


Darren langsung memeluk tubuh kakaknya itu erat. Dan dapat dirasakan oleh Darren bahwa tubuh kakaknya itu bergetar.


"Berjanjilah pada Kakak kalau kamu akan baik-baik saja," ucap Nasya.


"Aku janji. Kakak juga."


"Iya. Kakak janji."


Setelah puas memeluk kakaknya. Darren pun melepaskan pelukannya. Kemudian Darren menatap wajah cantik kakaknya itu.


"Ya, sudah. Kita pulang sekarang!"


Darren melihat kearah keempat sahabatnya. "Kalian ke markas SCORPIO sekarang. Kerahkan 1000 anggota untuk datang ke kediaman keluarga Austin. Setiba di rumah Papaku. Aku akan membuka akses masuk melalui kamera pengintai yang aku pasang di setiap sudut rumah. Dari akses itu kalian bisa melihat pergerakan orang-orang yang ada di dalam rumah. Jika ada yang mencurigakan kalian bisa langsung ambil tindakan."


Mendengar perintah dari Darren. Zidan, Chico, Barra dan Chello pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Baik."


Setelah itu, Darren, Nasya dan keempat sahabatnya pergi meninggalkan perpustakaan.

__ADS_1


Darren dan Nasya akan pulang ke rumah keluarga Austin. Sementara Zidan, Chico, Barra dan Chello akan ke markas.


***


Di kediaman keluarga Austin kini tampak ramai dimana mereka kedatangan perempuan begitu mereka benci selama ini. Bukan itu saja. Perempuan itu datang dengan membawa suami, ketiga anaknya dan membawa sekutunya yang tak lain ada incaran keluarga Austin, keluarga Smith dan keluarga Julian.


Perempuan yang sangat dibenci oleh keluarga Austin adalah Marissa dengan nama asli Martina Harvey. Perempuan itu adalah mantan istri dari Felix Austin.


"Apa kau tidak merindukanku, Felix!" seru Marissa dengan menatap meremehkan.


Mendengar pertanyaan dari Marissa. Felix hanya diam. Dirinya tidak akan perlu repot-repot untuk menjawab pertanyaan tak bermutu dari perempuan yang sudah menghancurkan hidupnya dan anak-anaknya.


Tidak mendapatkan jawaban dari mantan suaminya. Marissa kemudian menatap kedua putra tertuanya yaitu Raka dan Satya.


"Hallo, sayang! Apa kalian tidak merindukan Mama, hum?" tanya Marissa dengan senyuman manisnya.


"Kami sangat merindukan Mama," jawab Raka.


"Kami merindukan kedatangan Mama karena kami ingin memberikan sebuah hadiah untuk Mama," ucap Satya.


Mendengar jawaban dari kedua putranya membuat Marissa tersenyum bahagia. Begitu juga dengan suaminya.


Baik Marissa, suaminya maupun Andara dan Arnold mengira kalau hadiah yang dimaksud oleh Satya itu adalah berupa rumah mewah dan Perusahaan milik keluarga Austin.


Padahal yang dimaksud dari perkataan Satya itu adalah nyawa mereka sebagai hadiahnya.


"Hadiah apa itu sayang?" tanya Marissa.


"Nanti Mama akan tahu juga," jawab Raka.


Andara menatap Rafael. Begitu juga dengan Rafael. Tatapan Rafael kali ini bukan tatapan cinta. Melainkan tatapan menjijikkan.


"Hallo, Rafael. Maaf jika aku telah menipumu selama ini. Aku melakukan semua itu hanya ingin merebut Perusahaan milikmu dan milik kakak laki-lakimu. Bahkan yang paling penting adalah Perusahaan utama keluarga Austin yaitu Perusahaan AUSTIN CORP." Andara berbicara dengan wajah santainya.


Sementara Rafael yang mendengar ucapan dari Andara hanya bersikap biasa saja.


Tiba-tiba Arnold melempar sebuah map di atas meja. Felix, Raka, Satya, Dara dan Jerry melihat kearah map yang ada di atas meja itu.


"Panggil putramu dan suruh putramu untuk menandatangani map itu!" seru Arnold dengan menatap tajam Felix.


"Maaf tuan Arnold. Kedatangan anda kali ini sia-sia saja. Adikku tidak tinggal di rumah ini lagi. Jadi hari ini bukanlah hari keberuntungan anda," sahut Raka dengan tatapan mengejeknya.


"Apa istri kesayanganmu itu tidak memberitahumu tentang hubungan kami dengan putra dari kakakku, hum?" tanya Rafael dengan senyuman di sudut bibirnya.


Melihat tatapan dan mendengar nada mengejek dari Raka dan Rafael membuat Arnold emosi.


BRAAKK!


Arnold langsung memukul keras meja tersebut. Dirinya benar-benar marah akan sikap dari keluarga Austin.


"Aku tidak peduli. Hubungi putramu itu sekarang juga. Dan suruh dia datang!" bentak Arnold.

__ADS_1


"Apa anda sudah merindukanku, tuan Arnold Yoseph Jecolyn!" seru seseorang.


__ADS_2