
Semuanya telah berkumpul di ruang tengah, termasuk Darren. Dan lengkap dengan banyak makanan dan minuman di atas meja.
Ya! Sejam yang lalu Darren pulang dengan menenteng banyak makanan dan minuman. Sementara anggota keluarganya, terutama para kakak-kakaknya tersenyum melihat wajah kusut Darren ketika melangkah memasuki rumah dengan menenteng banyak makanan dan minuman.
Darren saat ini memeluk tubuh ibunya dengan erat. Dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang ibu. Mereka yang melihat tersenyum.
"Mama," panggil Darren.
"Ada apa, hum?" Clarissa membelai lembut kepala putranya itu dan tak lupa mengecupnya.
"Mama nggak beneran nyita rumah aku kan?" tanya Darren.
"Memangnya kenapa?" tanya Clarissa.
"Dosa loh kalau Mama beneran nyita rumah aku," jawab Darren.
"Kenapa harus dosa? Bukankah rumah kamu itu rumahnya Mama." Clarissa sengaja mengatakan hal itu hanya untuk menjahili putra bungsunya saja.
"Ya, udah! Kalau Mama mau ambil lagi rumah itu. Ambil saja. Aku nggak masalah. Lagian aku bisa beli rumah sendiri. Bahkan aku akan beli rumah yang lebih besar dari pada rumah Mama." Darren menjawab perkataan dari ibunya dengan bibir yang melengkung ke bawah.
Mendengar ucapan dari putra bungsunya. Clarissa hanya tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Sekalian aja sita Perusahaan DRN'Smith. Bukankah Perusahaan itu dari Mama juga," ucap Darren dengan suara lirihnya.
DEG!
Clarissa terkejut mendengar perkataan dari putra bungsunya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tidak menyangka jika Darren akan berkata seperti itu.
"Kalau Mama nyita perusahaan DRN'Smith, aku nggak masalah. Lagian aku memiliki banyak perusahaan. Bukan satu perusahaan doang. Salah satunya adalah perusahaan DRN'CORP."
Baik Clarissa maupun anggota keluarga lainnya menatap sedih Darren. Mereka benar-benar tak menyangka jika Darren akan berbicara seperti itu.
Dan mereka semua kini sadar bahwa Darren tidak bisa diajak bercanda dalam hal seperti ini. Darren itu memiliki sifat sensitif, perasa dan rasa iba dalam dirinya.
"Sayang," ucap Clarissa lembut.
"Hiks... Hiks," isak Darren tiba-tiba.
Mereka semua sontak terkejut ketika mendengar isakan dari Darren.
Clarissa melepaskan pelukan putranya. Kemudian tangannya menyentuh kedua wajah putranya, lalu mengangkatnya ke atas. Clarissa tersenyum sembari mengusap lembut air mata putranya itu.
"Hei, kenapa nangis?" Clarissa membelai lembut kepala putranya.
"Mama jahat... Hiks... Mama tega sama aku. Mama udah ngasih rumah itu untuk aku sebagai hadiah ulang tahun aku. Tapi Mama... Hiks... Malah ngambil lagi," jawab Darren disela isakannya.
Mendengar perkataan dan isakan dari putra bungsunya. Clarissa antara mau sedih dan mau tertawa. Baginya, putra bungsunya ini benar-benar polos dan lucu. Segitu takutkah putranya kehilangan apa yang sudah menjadi miliknya.
Tak jauh beda dengan Clarissa. Anggota keluarganya yang lainnya merasakan hal yang sama seperti Clarissa. Mereka semua menatap dengan gemas Darren. Wajah Darren berubah seperti anak kecil yang berusia 5 tahun ketika sedang berbicara dengan ibunya.
"Sayang, dengarkan Mama! Nggak ada yang ngambil rumah kamu itu. Itu rumah kamu sayang."
Mendengar ucapan dari ibunya. Darren menatap wajah cantik ibunya. Darren menatap tepat dimanik hitam ibunya.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Darren dengan berurai air mata.
"Benar sayang. Kalau nggak percaya. Coba tanya sama kak Saskia, kak Nuria, kak Marco dan kak Afnan." Clarissa berbicara sambil menghibur putranya.
Darren langsung melihat kearah keempat kakak-kakaknya. Melihat adiknya menatapnya. Mereka tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya.
"Itu benar, Ren!" seru Saskia, Nuria, Marco dan Afnan bersamaan.
"Terus tadi pas di tele...," perkataan Darren terpotong karena Afnan langsung menyela.
"Itu semua bohong sayang. Kak Willy hanya ngerjain kamu aja agar kamu mau membelikan semua pesanan mereka," jawab Afnan.
Mendengar jawaban dari kakaknya. Darren seketika memberikan tatapan mautnya kearah Willy. Sementara Willy yang ditatap oleh adik sepupunya itu hanya memberikan cengirannya.
Melihat kakaknya yang hanya cengar cengir tak jelas membuat Darren mendengus.
"Punya kakak-kakak perampok semua. Nggak malu apa ngerampok adek sendiri," ucap Darren dengan menatap kesal wajah para kakak-kakaknya.
Mereka hanya tersenyum dan cengar cengir mendengar perkataan dari Darren. Mereka sama sekali tidak marah kepada Darren. Namun sebaliknya, Darren itu terlihat lucu dan imut ketika sedang marah dan juga kesal.
Darren melihat kearah Afnan. "Kakak Afnan," panggil Darren.
"Ada apa, hum?" tanya Afnan.
"Aku dengar Kakak, kakak Vito, kakak Velly dan kakak Nasya pergi ke rumahnya Ataya. Memangnya ada apa? Apa ada masalah?" tanya Darren.
"Eeemm! Darren, gini! Kamu pasti nggak akan percaya apa yang akan kakak omongin. Tapi ini sudah benar-benar terbukti." Afnan menatap lekat adiknya.
"Ada apa, kak?" tanya Darren yang penasaran.
"Arinda? Kenapa dia? Kenapa malah bahas dia?" tanya Darren yang seketika mimik wajahnya berubah tak enak.
"Masalah Arinda yang akan kakak omongin sama kamu," sahut Afnan.
"Kalau masalah dia. Aku males dengarnya. Oh, jangan-jangan dia yang meminta kakak untuk membahas masalah itu. Iyakan?"
"Darren!" Afnan tanpa sadar meninggikan nada bicaranya.
Darren seketika berdiri dari duduknya. "Yang adik kakak itu siapa? Aku atau dia? Kenapa kakak kayak gini sama aku? Segitunya kakak ngebelain dia. Yang korbannya itu aku. Dia nuduh aku yang telah membunuh keluarganya dan juga merebut Perusahaan ayahnya. Dia juga sudah hancurin laptop aku. Kakak tahu nggak di dalam laptop aku itu banyak file-file penting hasil kerja aku dan hasil pemikiran aku yang aku simpan. Dan semuanya belum aku pindahkan ke flashdisk. Dan seenaknya dia menghancurkan semuanya. Emangnya dia itu siapa!" Darren berbicara sambil berteriak. Dan jangan lupa air matanya yang sudah menetes membasahi wajahnya.
"Ren, buk...," perkataan Afnan terpotong karena Darren langsung memotongnya.
"Kakak Afnan jahat. Kakak Afnan udah nggak sayang lagi sama aku," ucap Darren.
"Darren." Afnan menggelengkan kepalanya cepat. Afnan menangis ketika melihat adiknya yang sudah menangis.
"Apa kakak Afnan udah nggak senang punya adek kayak aku?" tanya Darren menatap kecewa Afnan.
Air mata Afnan makin deras mengalir ketika mendengar perkataan dari Darren.
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Melihat kepergian Darren. Seketika tangisan Afnan pun pecah. Hatinya benar-benar hancur ketika melihat adik kesayangannya menangis. Adiknya salah paham padanya.
__ADS_1
"Hiks... Hiks... Hiks," isak Afnan.
Clarissa langsung beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di samping putranya itu.
GREP!
Clarissa langsung memeluk tubuh putranya itu.
"Hiks... Mama... Hiks... Hiks... Darren," isak Afnan di pelukan ibunya.
"Mama paham dan Mama mengerti. Ini hanya salah paham kok. Kamu tenang aja. Adikmu gak benar-benar marah sama kamu. Nanti jika amarah adikmu reda. Kamu baru kasih tahu pelan-pelan. Untuk saat ini biarkan saja dulu. Jangan didekatin." Clarissa mengusap-ngusap punggung putranya lembut.
"Benar itu sayang. Biarkan dulu adikmu di kamar. Jangan diganggu dulu. Nanti setelah reda. Baru ajak adikmu bicara." Clara ikut menghibur keponakannya.
Beberapa detik kemudian...
"Aarrgghh!" teriak Darren di dalam kamarnya.
PRAANNGG!
Mereka semua terkejut mendengar teriakan dan suara benda jatuh dari kamar Darren. Tanpa pikir panjang lagi. Mereka semua berlari ke kamar Darren. Mereka semua sangat mengkhawatirkan Darren.
BRAAKK!
Pintu kamar Darren dibuka paksa oleh Raka dan Marco. Setelah pintu kamarnya Darren terbuka. Mereka semua melangkah masuk ke dalam kamarnya Darren.
Ketika mereka sudah berada di dalam kamarnya Darren. Mereka semua terkejut melihat Darren yang sudah terduduk di lantai dengan punggung bersandar di dinding dan jangan lupa wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
Qenan tanpa sengaja melihat kearah pecahan di lantai. Dan bisa dipastikan bahwa pecahan itu adalah ponsel milik Darren.
Qenan melangkah menuju pecah tersebut, lalu memungutnya. Setelah itu, Qenan memperlihatkan ponsel Darren yang sudah hancur kepada anggota keluarganya.
"Om, tante, Papa, Mama, Opa!" Qenan memanggil Felix, Clarissa, kedua orang tuanya, Ronald, Safina, Clara, Steven dan sang kakek. Mereka yang dipanggil langsung melihat kearah Qenan.
"Lihatlah ini. Ini ponselnya Darren," sahut Qenan sambil memperlihatkan ponsel Darren yang sudah hancur.
Mereka melihat ponsel Darren yang sudah hancur di tangan Qenan. Dan mereka semua berpikir bahwa seseorang barusan menghubungi Darren.
"Darren, kamu kenapa sayang?" tanya Saskia yang sudah menangis.
"Brengsek! Nasibku berubah sial semenjak bertemu dengan dia. Dia benar-benar gadis pembawa sial," ucap Darren.
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua beranggapan bahwa gadis yang dimaksud oleh Darren adalah Arinda.
Seketika Darren merasakan sakit di kepalanya. Darren meremat rambutnya kuat.
"Darren! Kamu kenapa?" Saskia, Nuria, Marco dan Afnan berteriak panik melihat adiknya yang tiba-tiba meringis kesakitan sambil tangannya meremat kuat rambutnya.
BRUUKK!
Seketika Darren menjatuhkan kepalanya di bahu Marco. Dan kesadarannya mengambil alih tubuhnya.
"Darren!" teriak mereka semua ketika melihat Darren yang tak sadarkan diri.
__ADS_1
Marco mengangkat tubuh Darren dibantu oleh Willy dan Devano. Kemudian mereka membawa tubuh Darren ke tempat tidur. Dan membaringkan disana.