REVENGE

REVENGE
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Saat ini Darren dan anggota keluarganya tengah menikmati sarapan pagi bersama. Mereka sarapan pagi dengan penuh kebahagiaan, terutama Daren.


Sejak ibunya kembali. Sejak itulah Darren merasakan kebahagiaan begitu besar apalagi ketika berada di meja makan. Darren kembali makan dengan ibunya.


"Nasi goreng buatan Mama yang terbaik," sahut Darren disela makannya.


Mendengar pujian dari putra bungsunya membuat Clarissa tersenyum bahagia.


"Semenjak Mama kembali dan semenjak Mama mengambil alih tugasnya. Kamu selalu muji masakan Mama. Sementara masakan Kakak kamu lupain. Bahkan nggak pernah kamu puji lagi," ucap Saskia sembari memperlihatkan wajah sedihnya kepada Darren.


Mendengar perkataan dari kakaknya. Darren langsung melihat kearah kakaknya itu. Dapat Darren lihat wajah sedih kakaknya. Padahal Saskia tidak benar-benar sedih. Saskia hanya menjahili adiknya itu.


"Kakak," lirih Darren.


Darren berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kursi kakaknya itu. Dan detik kemudian, Darren memeluk kakaknya dari belakang.


GREP!


Saskia tersenyum ketika adiknya memeluk dirinya. Baik Saskia, Nuria maupun Marco dan Afnan sangat mengatahui kebiasaan adiknya jika mereka dalam mode merajuk atau sedih.


"Masakan kakak juga enak kok. Baik masakan kakak, masakan Mama dan masakan kakak-kakakku yang lainnya. Bagi aku semuanya enak. Hanya saja yang nomor satu itu tetap masakan Mama. Kakak juga pasti gitukan bilang masakan Mama yang terbaik." Darren berbicara lembut sambil mengeratkan pelukannya.


Saskia mengusap-ngusap lembut tangan adiknya. Dirinya tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban dari adiknya itu.


Sejujurnya, di dalam hati Saskia membenarkan apa yang dikatakan oleh adik bungsunya tentang masakan ibunya. Masakan ibunya memang terbaik. Dan seorang anak pasti akan memuji masakan ibunya.


"CUP! Kakak jangan cemburu ya sama Mama. Masakan kakak juga enak. Masakan kak Nuria, masakan kak Velly, masakan kak Nasya, masakan kak Lory. Pokoknya semua masakan keluarga aku itu yang terbaik."


Saskia tersenyum penuh kebahagiaan ketika mendapatkan ciuman di pipinya dari adik manisnya. Hatinya menghangat.


"Tapi balik lagi. Masakan Mama yang paling terbaik dari yang terbaik... Hehehehe!"


"Iya, iya!" Saskia menjawab perkataan adiknya.


"Aku sayang kakak."


"Kakak juga sayang kamu."


Setelah itu, Darren kembali ke kursi dan melanjutkan sarapannya.


Sementara anggota keluarga lainnya. Semuanya tersenyum gemas mendengar dan melihat interaksi antara Saskia dan Darren.


Beberapa detik kemudian, ponsel Darren berbunyi menandakan panggilan masuk.


Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ketika ponselnya sudah berada di tangannya. Terlihat nama 'Satria' tangan kanannya.


Darren langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu. Sementara anggota keluarganya memasang telinga agar bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Darren di telepon.


"Hallo, Satria. Ada apa?"


"Bos, gawat!"


"Gawat kenapa? Apa yang terjadi?"


Mendengar nada bicara Darren. Serta melihat mimik wajah Darren yang berubah membuat Clarissa, Felix dan yang lainnya seketika merasakan ketakutan.


"Saya melihat mobil milik keluarga Smith dihadang oleh beberapa orang bermotor!"


"Apa?" Darren berteriak dan langsung berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka juga ikut berdiri.


"Ada berapa mobilnya? Dan siapa yang ada di dalam mobil itu?"


"Mobilnya ada dua, Bos! Di mobil pertama ada nona Cavitta dan nona Lory. Dan mobil kedua ada nona Tamara dan nona Naura."

__ADS_1


"Apa? Bagaimana keadaan mereka?"


"Mereka masih di dalam mobil, Bos! Tapi orang-orang yang menghadang dua mobil itu memaksa mereka untuk keluar dari dalam mobil."


"Berapa jumlah mereka?"


"Banyak Bos. Sekitar 100 orang."


"Brengsek! Baiklah. Sekarang hubungi para anggota SCORPIO untuk datang ke lokasi itu. Sementara kau tetap awasi kedua mobil itu dan juga penumpangnya. Jangan sampai mereka kenapa-napa."


"Baik, Bos!"


PIP!


Darren langsung mematikan panggilannya. Setelah itu, Darren kembali menghubungi seseorang.


Dan tak butuh lama, panggilan Darren pun dijawab oleh orang itu.


"Ren, tolongin kakak!"


"Kak Lory! Kak Lory dan kak Cavitta baik-baik saja kan?"


"Kakak dan kak Cavitta baik-baik saja. Tapi kakak takut, Ren! Di belakang mobil kakak ada mobilnya Naura. Naura bersama Tamara."


"Ya, kak! Aku tahu. Tadi tangan kananku baru memberitahuku. Kakak tenang, oke!"


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Ren?"


"Kakak jangan keluar dari dalam mobil sampai aku dan yang lainnya datang. Pastikan juga kak Naura dan kak Tamara. Katakan pada mereka untuk tidak keluar dari dalam mobil."


"Baiklah, Ren! Tapi jangan lama-lama datangnya. Kakak takut."


"Iya, kak!"


Panggilan dimatikan oleh Lory.


Darreb menatap wajah anggota keluarganya. Dan dapat dilihat olehnya wajah ketakutan terpancar di wajah masing-masingnya.


"Gak ada waktu untuk jelasinnya. Kak Lory, kak Cavitta, kak Naura dan kak Tamara dalam bahaya. Mobil mereka dihadang oleh beberapa orang bermotor."


Mendengar perkataan dari Darren membuat anggota keluarganyanya terkejut, terutama Clarissa, Saskia, Nuria, Marco dan Afnan.


"Kak Marco kerahkan beberapa orang-orang kakak untuk ke lokasi. Aku sudah share lokasinya ke ponsel kakak."


"Baik," jawab Marco.


Marco pun langsung menghubungi beberapa orang-orang-orangnya.


"Kak Afnan, aku juga sudah share lokasi dimana kak Lory, kak Cavitta, kak Naura dan kak Tamara berada. Aku mau kakak blokir jalan itu agar tidak ada yang bisa melewati jalan itu selain anggota kita. Takutnya orang-orang itu meminta bantuan jika mereka gagal."


"Baiklah, Reb!" Afnan pun langsung mematuhi perintah adiknya itu, karena memang itu keahliannya.


"Beres!" Marco dan Afnan.


"Lebih baik kita pergi sekarang!" seru Darren.


"Kami ikut Ren!" seru Raka, Satya dan Vito.


"Hm!" Darren menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan kediaman Austin menuju lokasi dimana Lory, Cavitta, Naura dan Tamara berada.


"Tuhan, aku mohon padamu! Lindungi anak-anakku dan keponakan-keponakanku. Jangan biarkan mereka terluka," doa Clarissa di dalam hatinya.

__ADS_1


"Selamat anak-anakku dan keponakan-keponakanku, Tuhan!" doa Felix di dalam hatinya.


"Lindungi mereka semua Tuhan," batin Rafael, Dara, Jerry dan Michel.


"Ma," lirih Saskia dan Nuria.


"Saskia, Nuria... Hiks," isak Clarissa.


"Mama tenang, oke! Semuanya akan baik-baik saja. Kita berdoa saja untuk Darren, Marco, Afnan, Raka, Satya, Vito, Lory, Cavitta, Naura dan Tamara. Semoga mereka semua selamat tanpa ada luka sama sekali." Saskia berusaha untuk menghibur ibunya, walau hatinya juga sama seperti ibunya. Takut!


***


DUG... DUG... DUG..


Bunyi kaca mobil yang berulang kali dipukul dengan keras oleh beberapa orang dari luar. Lory, Cavitta, Naura dan Tamara sudah ketakutan di dalam mobil.


Lory, Cavitta, Naura dan Tamara bukan tidak bisa bela diri. Mereka jago bela diri. Hanya saja mereka tidak mau mati konyol dengan melawan 100 orang sekaligus apalagi orang-orang itu membawa senjata di tangan masing-masing.


Jika jumlah hanya sekitar dua puluh orang dan tanpa senjata. Baik Cavitta, Lory, Naura dan Tamara sudah menghabisi mereka dengan sekali tendangan saja.


"Lory, bagaimana ini?" tanya Cavitta.


"Tenanglah, kak! Semoga Darren dan yang lainnya datang tepat waktu," jawab Lory.


"Tapi kalau mereka terus-terusan memukul kaca mobil itu. Lama-lama kaca mobil itu juga bakal pecah," ucap Cavitta.


Cavitta melihat kearah belakang mobilnya. Dan dapat dilihat oleh Cavitta. Mobil yang ditumpangi oleh Naura dan Tamara berhasil dibuka oleh salah orang-orang itu. Sontak hal itu membuat Cavitta terkejut dan ketakutan.


"Lory, lihat!" seru Cavitta dengan menunjuk ke belakang.


Lory seketika membelalakkan matanya ketika melihat orang-orang itu berhasil menarik dan membuka pintu mobil Naura dengan cara mencongkelnya.


Ketika dua dari orang-orang itu hendak menarik Naura dan Tamara keluar dari dalam mobil. Terdengar suara tembakkan.


DOR... DOR..


Tembakan itu tepat ke kaki dua laki-laki yang hendak menarik Naura dan Tamara sehingga membuat keduanya mundur. Begitu juga dengan yang lainnya.


Orang-orang itu mencari dari mana asal tembakkan itu.


"Keluar! Jangan bersembunyi seperti pecundang!" teriak sang pemimpin.


"Kalian! Geledah lokasi ini. Pasti pelaku penembakkan itu bersembunyi di semak-semak itu!"


"Baik, Bos!"


Ketika orang-orang itu tengah mencari pelaku penembakkan itu, keluarlah enam orang dari arah balik mobil Lory dan Cavitta.


Lory, Cavitta, Naura dan Tamara yang mengenal dua dari keenam laki-laki itu bisa merasakan kelegaan. Dua laki-laki itu adalah tangan kanannya Darren dan Marco.


"Ayo, nona!"


Lory, Cavitta, Naura dan Tamara keluar dari dalam mobilnya untuk ikut bersama keenam laki-laki itu.


Setelah tiba diluar dan hendak pergi, dua dari orang-orang itu melihat kearah mobil milik Naura dan Lory.


"Mereka kabur!"


Mendengar teriak dari dua orang-orangnya membuat yang lainnya melihat kearah mobil Naura dan Lory. Dan benar saja. Baik sang pemimpin dan anak buahnya melihat enam laki-laki yang membawa pergi targetnya.


"Kejar mereka. Jangan biarkan mereka lolos!" teriak sang pemimpin.


Mereka semua pun mengejar keenam laki-laki itu dan keempat targetnya.

__ADS_1


__ADS_2