
Darren, keempat sahabatnya dan para kakak-kakaknya yaitu Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya saat ini sedang berjalan menyusuri koridor Kampus untuk menuju ke kelas masing-masing. Dikarenakan jalan menuju kelas mereka searah.
Sementara para sahabat dari kakak-kakaknya itu sudah berada di dalam kelas.
Beberapa jam yang lalu Darren, kelima kakaknya dan keempat sahabatnya telah membicarakan tentang tugas nanti malam yaitu memberikan hukuman kepada orang-orang yang sudah membunuh orang-orang yang mereka sayangi.
Ketika Darren, keempat sahabatnya dan para kelima kakaknya sedang berjalan menyusuri koridor Kampus. Dari arah berlawanan, Arinda dan keempat sahabatnya tengah melangkahkan kakinya menuju kelasnya.
Baik Darren maupun Arinda sama-sama memberikan tatapan mematikan mereka. Sementara kelima kakaknya dan keempat sahabatnya hanya memperhatikan keduanya tanpa ada niat untuk melerai.
"Kamu lagi! Dimana-mana selalu ada kamu. Oh! Jangan-jangan...," ucapan Darren terhenti.
"Jangan-jangan apa, hah?!" Arinda menatap Darren menantang. Tanpa sadar wajah Darren dan Arinda berdekatan.
Afnan, Naura, Vito, Velly, Nasya, Zidan, Chico, Barra, dan Chello menatap keduanya dengan senyuman penuh arti dengan tangan mereka di lipat di dada.
Beberapa detik kemudian, Darren yang sadar langsung mendorong Arinda.
"Yak! Menjauh dariku." Darren berucap ketus.
"Dasar cowok gak punya otak, gak punya perasaan, gak punya hati, gak punya..."
"Gak punya apa! Gak punya mata. Ini mata gue ada dua nih!" Darren berbicara ngegas sambil menunjuk kedua matanya.
"Yeeeyy! Sensi amat jadi cewek," ejek Arinda.
"Yak! Apa kau bilang, hah?! Apa matamu buta? Aku ini laki-laki bukan perempuan!" Darren berbicara sambil menunjuk kearah Arinda dengan jari telunjuknya.
"Jangan salahkan mataku. Salahkan saja mulutku yang bicaranya suka benar," jawab Arinda.
Mendengar perang mulut antara Darren dan Arinda membuat kelima kakaknya dan keempat sahabatnya sedari menahan tawa. Bahkan mereka tersenyum gemas melihat keduanya.
Mereka sengaja membiarkan Darren dan Arinda berperang mulut. Mereka ingin tahu siapa diantara keduanya yang kalah atau menyerah sebelum ditentukan pemenangnya. Begitu juga dengan keempat sahabatnya Arinda. Mereka juga tidak ada niatan untuk melerai sahabatnya itu.
Darren sontak membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Arinda.
"Dasar perempuan gila."
"Kamu yang gila."
"Kamu."
"Kamu."
"Dasar nenek lampir."
"Kamu kakek lampir."
"Sok kecantikan."
"Sok ketampanan."
Dan pada akhirnya....
"STOOOOPPPP!"
"BERHENTIIIII!"
Kelima kakaknya, keempat sahabatnya dan keempat sahabat Arinda berteriak secara bersamaan tepat di telinga Darren dan Arinda sehingga membuat telinga Darren dan Arinda berdengung karena mendengar teriakan tersebut.
Darren dan Arinda secara kompak memberikan tatapan mautnya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Menyebalkan!"
Setelah mengatakan itu, Darren dan Arinda pergi. Arinda melangkah memasuki kelasnya yang kebentulan sudah berada di depan kelasnya. Dan Darren pergi menuju kelasnya meninggalkan kelima kakaknya dan keempat sahabatnya.
***
Darren dan keempat sahabatnya sudah di markas BLACK LION. Bukan hanya Darren dan keempat sahabatnya saja melainkan Erland, Ronald, keempat kakaknya yaitu Saskia, Nuria, Marco dan Afnan, ayahnya dan kelima kakaknya, Rafael serta Julian dan ketiga anak-anaknya.
__ADS_1
Kini mereka semua sudah berada di ruang penyiksaan. Ketika mereka memasuki ruang penyiksaan. Mereka disuguhi pemandangan yang begitu mengerikan dimana para mafioso BLACK LION tengah menyiksa Arnold, Andara, Marissa dan suaminya. Keadaan mereka tidak bisa dikatakan dengan kata baik. Kondisi mereka sangat buruk. Banyak terdapat luka di seluruh tubuh mereka, termasuk wajah.
Darren dan keempat sahabatnya telah memberikan perintah kepada para mafiosonya untuk setiap hari memberikan penyiksaan kepada Arnold, Andara, Marissa dan suaminya.
Dalam satu hari itu mereka diberikan penyiksaan sebanyak tiga kalian dan selama dua jam. Jenis siksaan yang diberikan adalah cambukan, sayatan di seluruh tubuh dengan menggunakan katana, pukulan dan juga tendangan. Bahkan siksaan yang paling mengerikan adalah sengatan listrik di tubuh mereka.
Melihat pemandangan yang mengerikan itu membuat Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya menangis. Bagaimana pun salah satu orang yang disiksa itu adalah orang yang telah melahirkan mereka.
Namun kesedihan mereka hanya sebentar. Baik Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya seketika ekpresi wajah mereka berubah dan tatapan mata mereka menunjukkan tatapan kebencian terhadap orang yang ada di hadapannya.
Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya sama sekali tidak memiliki rasa kasihan, rasa peduli dan rasa empati sedikit pun kepada ibu kandung mereka.
Apa yang dirasakan oleh kelima anak-anaknya dan keponakannya. Itu juga yang dirasakan oleh Felix dan Rafael. Keduanya menatap marah dan juga dendam kepada orang yang dulunya pernah singgah di hati mereka dan pernah hidup bersama mereka selama beberapa tahun. Orang itu adalah Marissa dan Andara.
Felix begitu mencintai Marissa. Rafael begitu mencintai Andara. Namun kedua perempuan tersebut dengan tega mengkhianati Felix dan Rafael dengan cara berselingkuh dan membunuh orang-orang terdekat mereka.
Mereka semua menatap dengan penuh kebencian dan dendam kearah Arnold, Andara, Marissa dan suaminya terutama Darren, Saskia, Nuria, Marco dan Afnan.
"Bangunkan mereka!" seru Darren.
"Baik, King!"
Delapan mafioso langsung menyiramkan masing-masing dua ember air dingin yang di dalamnya ada banyak es batu ke seluruh tubuh Arnold, Andara, Marissa dan suaminya.
BYUURRR!
BYUURRR!
Mendapatkan guyuran air dingin lengkap dengan es batu kecil-kecil membuat Arnold, Andara, Marissa dan suaminya seketika terbangun. Tubuh mereka menggigil.
Marissa seketika menangis ketika melihat wajah kelima anak-anaknya yang dulu tidak pernah diurus olehnya.
"Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya." Marissa berucap lirih.
Mendengar nama mereka disebut membuat Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya menatap marah kearah Marissa.
"Jangan memanggil nama kami dengan mulut kotormu itu sialan!" teriak Nasya.
"Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya. maafkan Mama."
Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya saling memberikan tatapan. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah mantan ibunya itu.
"Tidak akan pernah." Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya menjawab bersamaan.
"Kau pergi meninggalkan kami. Meninggalkan banyak luka untuk kami," ucap Velly dengan menatap tajam ibunya.
"Kau kembali menemui kami bukan karena rasa bersalahmu dan juga rasa penyesalanmu selama ini," ucap Vito.
"Justru kau kembali dengan tujuan menghancurkan kami untuk yang kedua kalinya," ucap Satya.
"Apa kau masih pantas disebut sebagai seorang ibu? Apa kau masih pantas untuk dimaafkan?" tanya Raka dengan tatapan matanya menatap penuh amarah.
"Jika saja hari ini adalah hari kemenanganmu. Mungkin saja kau akan bersenang-senang diatas penderitaan dan kesedihan kami. Bahkan kau tidak akan peduli dengan kami!" teriak Nasya.
Mendengar ucapan demi ucapan dari kelima anak-anaknya. Marissa hanya bisa diam. Di dalam hatinya Marissa membenarkan semua perkataan kelima anak-anaknya.
Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya melihat kearah Darren, Saskia, Nuria, Marco dan Afnan.
"Kami serahkan semuanya kepada kalian. Terserah kalian mau berbuat apa kepada perempuan itu. Kami sudah tidak memiliki hubungan apapun kepada perempuan itu." Raka berbicara dengan penuh kebencian.
Setelah mengatakan itu. Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya pergi meninggalkan ruang penyiksaan.
Melihat kepergian Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya membuat Darren, Saskia, Nuria, Marco dan Afnan menjadi tidak tega.
Baik Darren maupun kakak-kakaknya dapat melihat sedikit kerinduan dan juga kata maaf untuk ibu kandungnya di tatapan matanya Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya. Melihat itu, Darren dan kakak-kakaknya pun telah membuat keputusan bersama.
"Kau telah membuang kesempatanmu Marissa. Jika kau kembali dengan tujuan ingin bertemu kelima anak-anakmu. Jika kau kembali dengan tujuan merindukan kelima anak-anakmu. Maka aku bisa jamin kelima anak-anakmu akan menerimamu dan memaafkan kesalahanmu. Dan jika saja kau tidak berniat buruk. Maka kehidupanmu akan lebih baik."
Felix berbicara dengan menatap penuh kebencian mantan istrinya itu. Setelah itu, Felix menatap kearah putra bungsunya.
__ADS_1
"Papa tidak bisa. Papa serahkan padamu dan kalian. Apapun keputusan kalian. Papa mendukung sepenuhnya."
Setelah mengatakan itu, Felix pergi meninggalkan ruang penyiksaan. Melihat kepergian ayahnya membuat hati Darren sedih. Darren menatap sendu punggung ayahnya.
Darren berlahan melangkah mendekati Arnold. Kemudian tangannya menarik kasar rambutnya sehingga membuat Arnold mendongakkan kepalanya.
Darren menatap penuh amarah dan juga dendam. "Kau sudah salah bermain-main denganku. Kau sudah membuatku menderita selama ini. Dan kau..." Darren menghentikan ucapannya. Darren mengeluarkan sebuah pisau lipatnya dari saku jacket hitamnya. "Kau sudah merebut perempuan yang paling aku sayangi di dunia ini. Perempuan itu adalah ibuku."
"Aku ingin segera mengakhiri semua ini. Aku benar-benar lelah dan aku ingin istirahat. Jadi dengan sangat menyesal. Aku akan mempercepat kematianmu. Ucapkan selamat tinggal kepada istri tercintamu."
Setelah mengatakan itu, Darren langsung mengarahkan pisau lipatnya ke leher Arnold.
SREEETTT!
Darren melukai leher Arnold dengan sangat dalam, memanjang dan putus. Darah menyembur dan mengenai wajah dan tubuhnya.
"Tidaaaakkk! Arnold!" teriak Andara.
Andara menangis ketika melihat kondisi suaminya yang mati dengan sangat mengerikan.
Darren menangis menatap tubuh Arnold yang sudah tak bernyawa dengan lehernya setengah putus. Tubuhnya bergetar hebat.
PRAANNGG!
Seketika pisau yang dipegang Darren terlepas dari tangannya.
"Ma-mama," lirih Darren.
Melihat tanda-tanda adiknya dalam keadaan yang tak baik. Saskia kemudian menghampiri adiknya dan langsung memberikan pelukan hangatnya.
Ketika memeluk tubuh adiknya. Saskia dapat merasakan tubuh adiknya yang bergetar.
"Hiks... Kakak," isak Darren di pelukan kakaknya.
"Tenang, oke! Kakak disini. Jika kamu nggak sanggup dan ingin berhenti. Katakanlah. Jangan diteruskan."
Nuria, Marco dan Afnan mendekati kedua saudaranya itu. Ketiganya memberikan usapan sayang di kepala dan punggung Darren.
"Kita berhenti saja sampai disini. Jangan diteruskan. Kini tersisa tante Andara, tante Marissa dan suaminya. Kita serahkan mereka ke polisi," sahut Marco.
"Walau kita tidak jadi membunuh mereka bertiga. Bukan berarti kita membiarkan mereka tetap hidup. Mereka tidak mati ditangan kita. Tapi mereka akan mati ditangan hukum. Mereka akan mendapatkan hukuman mati dari pengadilan."
Afnan berbicara sambil tangannya masih mengusap-ngusap punggung adiknya. Afnan dapat merasakan tubuh adiknya yang bergetar.
"Apa yang dikatakan Afnan benar. Biarkan pengadilan saja yang memberikan hukuman mati untuk mereka bertiga," sela Nuria.
Marco mengalihkan perhatiannya melihat wajah Rafael, Julian, Andra, Adnan dan Merryn..
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Marco kepada Rafael, Julian, Andra, Adnan dan Merryn.
Rafael, Julian, Andra, Adnan dan Merryn melihat kearah Darren. Dapat mereka lihat kondisi Darren yang tidak baik-baik saja. Jika ini tetap dilanjutkan. Maka Darren yang akan tersakiti.
Andara adalah perempuan yang pernah dicintai oleh Rafael sekaligus ibu dari Michel. Marissa adalah ibu dari kelima kakaknya. Walau kelima kakaknya itu sudah tidak peduli. Namun tidak bisa dipungkiri ada rasa rindu yang tersimpan dari sorot mata kelima kakaknya itu.
"Kami setuju. Kita berhenti saja sampai disini. Jangan dilanjutkan." Rafael yang bersuara terlebih dahulu.
Rafael tidak tega melihat Darren yang saat ini. Jika tetap dilanjutkan, maka dirinya dan yang lainnya secara tidak sengaja telah menyakiti Darren. Sudah cukup Darren menderita dan juga bersedih akan dendamnya.
"Om juga setuju. Kita serahkan saja mereka ke pihak hukum. Biarkan hukum yang memberikan hukuman mati kepada mereka." Julian ikut bersuara. Julian melakukan ini karena rasa sayangnya terhadap Darren.
"Kami juga setuju," sahut Andra, Adnan dan Merryn bersamaan.
Mendengar jawaban dari Rafael, Julian, Andra, Adnan dan Merryn. Erland, Ronald, Saskia, Nuria, Marco dan Afnan tersenyum.
Setelah memutuskan hal itu, Marco meminta keempat sahabat adiknya untuk membawa Andara, Marissa dan suaminya ke kantor polisi.
"Zidan, Chico, Barra, Chello. Kakak serahkan mereka kepada kalian. Urus mereka. Pastikan mereka mendapatkan hukuman mati dari pengadilan."
"Baik, Kak Marco." Zidan, Chico, Barra, dan Chello menjawab bersamaan.
__ADS_1
Setelah itu, Marco mengambil alih tubuh adiknya dan membawanya pergi meninggalkan ruang penyiksaan dan ikuti oleh Saskia dan yang lainnya.