REVENGE

REVENGE
Tiga Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Darren saat ini berada di Perusahaan DRN'CORP. Sepulang dari Kampus. Darren memutuskan untuk ke Perusahaan miliknya.


Darren ke Perusahaan karena sedikit pekerjaannya yang harus diselesaikan. Ditambah lagi proyek yang akan dikerjakannya dua minggu lagi dengan dua Perusahaan yang cukup terkenal dari negara Australia.


Darren memeriksa satu persatu dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya yang diantar oleh asistennya. Dirinya mengecek secara teliti isi dari berkas tersebut sebelum menandatanganinya.


Ketika Darren sedang fokus memeriksa berkas-berkas kerjanya, tiba-tiba pintu ruang kerjanya dibuka tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


CKLEK!


Pintu ruang kerja Darren pun terbuka. Setelah itu, orang yang membuka pintu tersebut langsung melangkah masuk ke dalam ruang kerja Darren.


Darren yang sangking fokusnya dengan berkas-berkas kerjanya sehingga tidak menyadari tiga makhluk tampan yang sudah duduk anteng di sofa ruang kerjanya.


"Wah! Lihat siapa yang bekerja sampai tidak menyadari jika ada orang yang sudah masuk ke ruang kerjanya!" seru salah satu dari tiga makhluk tampan itu.


"Jika ada orang lain yang masuk sambil bawa senjata. Pasti sudah hilang tuh nyawa," sela yang satunya.


"Dasar setan kerja," sahut yang ketiga.


DEG!


Darren terkejut ketika mendengar tiga suara yang berbeda di ruang kerjanya. Ketiga suara itu sangat hafal oleh Darren.


"Faza Oscar, Briyan Teodorico, Kevin Jarvas." Darren menyebut satu persatu nama dari ketiga makhluk tampan itu.


Yah! Ketiga makhluk tampan yang memasuki ruang kerja Darren adalah ketiga sahabat Darren yang ada di Amerika.


Mereka adalah Faza, Briyan dan Kevin. Ketiganya juga sahabatnya Zidan, Chico, Barra dan Chello.


Briyan, Faza dan Kevin tersenyum geli ketika melihat ekspresi wajah Darren yang sedang berusaha mencerna dan mengingat suara yang barusan didengarnya.


"Woi, siluman kelinci sialan!" Kevin berucap dengan begitu kejam. Sementara Faza dan Briyan tersenyum.


Darren menghentikan kegiatannya, lalu berlahan menolehkan wajahnya ke arah sofa. Seketika matanya membelalak sempurna.


"Yak! Kenapa kalian disini?! Terus Perusahaanku di Amerika, bagaimana?!" Darren seketika langsung berteriak ketika matanya melihat ketiga sahabatnya sedang duduk santai di sofa.


Mendengar teriakan dari Darren. Briyan, Faza dan Kevin hanya bersikap acuh dan cuek. Mereka sudah sangat tahu dan hafal akan tabiat dari sahabat kelincinya itu.


Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari ketiga sahabatnya itu. Darren kembali ingin berteriak. Namun Briyan sudah terlebih dahulu bertindak.


"Dari pada lo teriak-teriak gak jelas. Mending lo pesan makanan dan minuman yang enak untuk kita bertiga," sahut Briyan.


"Apa kau tega melihat kami kelaparan? Kami belum makan ketika kami sampai di Australia," Faza.


"Setidaknya berikan sedikit sambutan untuk ketiga sahabatmu yang tampan ini," sela Kevin.


Mendengar aksi protes dan keluhan dari ketiga sahabatnya itu membuat Darren hanya bisa menghela nafasnya. Dan pada akhirnya, Darren pun memesan makanan dan minuman untuk ketiga sahabatnya itu.


Sementara Briyan, Faza dan Kevin tersenyum melihat wajah pasrah Darren ketika diminta untuk memesan makanan dan minuman untuknya.


Kini Darren telah bergabung dengan ketiga sahabatnya di sofa dengan makanan dan minuman sudah tersaji di atas meja.


Briyan, Faza dan Kevin membelalakkan matanya ketika melihat makanan dan minuman kesukaannya ada di hadapannya.


Tanpa pikir panjang lagi ketiga langsung seperti orang kesetanan membuka makanan dan minuman.


Sementara Darren yang melihat kelakuan ketiga sahabatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa dirinya memiliki sahabat yang kelakuannya sepert anak kecil.


"Yak! Kalian bisa nggak makannya pelan-pelan saja? Kalian seperti tidak makan berhari-hari," sahut Darren.


"Kami sangat lapar," jawab Faza disela memasukkan makanan ke mulutnya.


"Dari keberangkatan kami dari Amerika menuju Australia membutuhkan waktu berjam-jam," ucap Briyan sembari mengunyah makanannya.


"Ditambah lagi setelah kami meninggalkan bandara untuk mendatangi Perusahaanmu. Itu butuh waktu 15 jam. Jadi dengan kata lain selama 15 jam tenaga kami terkuras," ucap Kevin dengan mulut yang menggembung.


Mendengar ucapan demi ucapan dari ketiga sahabatnya itu. Darreb hanya memutar bola matanya malas.


"Jangan asal. Mana ada sampai 15 jam jarak tempuh bandara ke Perusahaanku. Itu hanya akal-akalan kalian saja," sahut Darren.


Mendengar perkataan dari Darren. Briyan, Faza dan Kevin seketika menolehkan wajahnya kearah Darren.


Dan detik kemudian...


Briyan, Faza dan Kevin memperlihatkan senyuman manis di hadapan Darren. Setelah itu, mereka kembali fokus pada makanan mereka.


Sementara Darren hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan ketiga sahabatnya itu.


"Lo gak makan Ren?" tanya Briyan sambil melirik sahabat kelincinya itu.


"Gue udah kenyang duluan ketika melihat cara makan kalian itu," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren. Briyan, Faza dan Kevin tersenyum. Di dalam hati mereka masing-masing tersenyum bahagia karena sudah berhasil mengerjai Darren.


Baik Faza maupun Briyan dan Kevin. Ketiganya sangat merindukan Darren. Satu tahun mereka berpisah dengan Darren. Darren memutuskan untuk kembali ke Australia dan mempercayakan Perusahaan DRN'2 CORP yang ada di Amerika kepada ketiga sahabatnya.

__ADS_1


Darren menunjukkan Faza sebagai Direktur. Sementara Briyan dan Kevin sebagai wakilnya.


Ketika Darren sedang memperhatikan ketiga sahabatnya yang begitu lahap menikmati makanannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan langsung melihat nama 'Barra' di layar ponselnya. Darren pun langsung menjawabnya.


"Hallo, Bar."


"Hallo, Ren! Kamu dimana?"


"Aku di Perusahaan DRN'CORP."


Mendengar Darren menyebut nama Barra. Seketika Briyan, Faza dan Kevin menghentikan acara makannya. Mereka dengan kompak menatap wajah Darren.


"Ren. Itu Barra?" tanya Kevin.


"Bukan. Orang lain. Kebetulan namanya sama," jawab Darren asal.


Mendengar jawaban dari Darren. Briyan, Faza dan Kevin mendengus kesal. Sementara Barra yang berada di seberang telepon dibuat bingung.


"Ren, ada apa? Kau bicara dengan siapa?"


"Bukan siapa-siapa. Tidak terlalu penting." Darren menjawab dengan asal.


Sementara Briyan, Faza dan Kevin menatap tajam ketika Darren ketika mendengar jawaban dari Darren.


SREET!


(bunyi ponsel yang dirampas oleh Kevin dari tangan Darren)


"Yak! Kurus sialan. Kembalikan ponselku!" teriak Darren.


Kevin tidak memperdulikan teriakan dari Darren. Justru Kevin mematikan panggilan dari Barra. Setelah itu, Kevin kembali menghubungi Barra melalui video call.


Detik kemudian...


"Hallo, Barra Mourella."


Briyan, Faza dan Kevin menyapa Barra dengan penuh semangat dengan melambaikan tangan mereka di depan layar ponsel Darren.


Barra pun langsung terkejut dan juga bahagia melihat ketiga sahabatnya.


"Briyan, Faza, Kevin! Kapan kalian tiba di Australia?"


"Beberapa jam yang lalu," jawab Faza.


"Iya. Setiba kami di bandara Australia. Kami memutuskan untuk langsung mendatangi Darren ke Perusahaannya." Briyan menjawab pertanyaan dari Barra.


"Apa anak kelinci itu menyambut kedatangan kalian dengan baik?"


Mendengar perkataan sarkas Barra membuat Darren mendengus kesal. Darren berpikir. Kenapa punya sahabat gini banget?


Briyan, Faza dan Kevin melirik sahabat kelincinya, lalu kembali menatap ke layar ponsel.


"Sangat buruk," jawab mereka kompak.


"Kedatangan kami gak dianggap oleh anak kelinci itu." Kevin berucap.


"Bahkan kami tidak diberi makan," ucap Briyan.


"Jangankan diberi makan. Diberikan minuman saja pun tidak," sela Faza.


Mendengar perkataan dari Briyan, Faza dan Kevin membuat Darren benar-benar kesal.


"Yak! Kalian benar-benar menyebalkan ya!" teriak Darren dengan menatap kesal ketiga sahabatnya.


"Hahahahaha."


Briyan, Faza dan Kevin tertawa keras melihat wajah super kesal Darren. Akhirnya mereka berhasil seratus persen membuat sahabat kelincinya menjadi kesal.


Mendengar tawa keras Briyan, Faza dan Kevin. Serta mendengar teriakan kekesalan Darren membuat Barra yang di seberang layar juga ikut tertawa.


***


Di kediaman Darren semua anggota berkumpul di ruang tengah. Mereka semua tampak bahagia karena kembalinya Clarissa ditengah-tengah mereka semua.


Yang paling bahagia diantara mereka adalah Saskia, Nuria, Marco dan Afnan. Mereka bahagia bisa bertemu dan memeluk ibu mereka lagi.


Ketika mereka semua tengah bahagia sehingga mereka tanpa sadar melupakan sosok imut, sosok menyenangkan dan sosok menggemaskan yaitu Darrendra Austin.


Seketika salah satu dari mereka pun bersuara karena menyadari ada yang kurang.


"Hei, tunggu dulu!" seru Merryn.


Mereka semua melihat kearah Merryn dengan tatapan bingung.


"Ada apa Merryn?" tanya Vito.

__ADS_1


"Wah, kalian semua benar-benar ya! Kalian berbahagia diatas penderitaan seseorang," sahut Merryn.


Mendengar perkataan Merryn. Mereka semua makin bingung. Mereka benar-benar tidak mengerti.


"Maksud kamu apa Merryn?" tanya Lory.


"Iya, Lory? Apa maksud kamu?" tanya Nuria.


"Wah! Kalian benar-benar melupakan dia disaat kalian bahagia bersama tante Clarissa," ucap Merryn.


Mereka semua berusaha mencerna perkataan dari Merryn.


Beberapa detik kemudian...


"Darren!" seru Velly, Nasya dan Tamara tiba-tiba.


Mendengar Velly, Nasya dan Tamara menyebut nama Darren membuat yang lainnya tersadar. Dan mereka mengakui kesalahan karena mereka melupakan Darren.


"Aish! Kenapa kita bisa melupakan Darren sih?" ucap Cavitta.


"Oh iya! Inikan sudah pukul 5 sore. Kenapa Darren belum pulang juga?" ucap dan tanya Safina.


"Iya, ya! Ini sudah pukul 5 sore. Seharusnya satu jam yang lalu Darren sudah pulang," sela Clara.


"Aku akan menghubungi Darren!" seru Marco, lalu mengambil ponselnya dan mencari nama adiknya.


Setelah mendapatkan nama kontak adiknya. Marco pun langsung meredial nama tersebut.


"Marco. Jangan lupa panggilannya di loundspeaker sayang. Mama ingin dengar suara putra bungsu Mama. Mama benar-benar merindukannya."


"Baik, Ma!"


Beberapa detik kemudian, terdengar suara dari seberang telepon. Semua anggota keluarga juga mendengarnya.


"Hallo, Kak Marco!"


"Hallo, Ren! Kamu dimana? Ini sudah pukul 5 sore. Kenapa belum pulang juga, hum?"


"Seharusnya sejam yang lalu aku sudah berada di rumah. Tapi gara-gara tiga curut itu. Akhirnya kepulanganku tertunda."


Mereka semua tersenyum ketika mendengar nada kesal Darren dan juga perkataan Darren yang mengatakan tiga curut.


"Tiga curut? Memangnya siapa mereka?"


"Siapa lagi kalau bukan ketiga sahabat aku yang di Amerika."


"Maksud kamu Briyan, Faza dan Kevin l?"


"Iya. Mereka kembali ke Australia. Dan langsung mendatangi Perusahaanku. Bukannya bantu malah justru gangguin aku. Gara-gara mereka kerjaan aku jadi terhenti."


Lagi-lagi mereka semua tersenyum mendengar keluhan Darren. Mereka tahu jika Darren tidak benar-benar marah terhadap ketiga sahabatnya itu.


"Apa kamu marah sama mereka, hum?"


"Nggak! Sampai kapan pun aku tidak akan bisa marah dengan mereka, kak! Mereka sahabat-sahabat aku sekaligus saudara aku. Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan, Faza dan Kevin. Mereka semua sahabat-sahabat aku."


Marco tersenyum ketika mendengar jawaban dari adiknya itu. Marco sangat tahu bagaimana hubungan adiknya itu dengan ketujuh sahabat-sahabatnya itu. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya itu dengan Darren. Adiknya itu sudah berhubungan baik dengan ketujuh sahabat-sahabatnya itu sejak duduk dibangku Sekolah Dasar hingga sekarang.


Junmyeon dan seluruh anggota keluarga Shin juga tahu bahwa ketujuh sahabat-sahabatnya Jungkook itu juga memiliki Perusahaan masing-masing. Baik Jungkook maupun ketujuh sahabat-sahabatnya itu memiliki sifat, watak dan kekejaman yang sama.


"Kakak bangga sama kamu dan juga sahabat-sahabat kamu."


"Terima kasih, kak!"


"Sekarang kamu dimana? Jam berapa pulang?"


"Ini aku lagi di jalan pulang, kak!"


"Oh! Ya, sudah! Kamu hati-hati di jalan. Jangan terlalu ngebut bawa mobilnya. Biar terlambat asal selamat. Mengerti!"


"Nasehati orang nomor satu. Padahal sendiri kalau bawa mobil seperti mau balapan," gerutu Darren.


Marco seketika membelalakkan ketika matanya ketika mendengar gerutuan dari adiknya. Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum ketika melihat wajah syok dan terkejut Marco.


"Oh, sudah berani ngomongin kakak ya, hah!"


Darren seketika terkejut ketika mendengar perkataan dari kakaknya. Dan detik kemudian, Darren memukul pelan mulutnya.


"Hehehe. Kakak Marco. Kakak Marco tampan dech. Udah ya kak. Aku tutup teleponnya."


TUTT!


TUTT!


TUTT!


Darren pun mematikan panggilannya. Dan detik kemudian, terdengar suara tawa dari Saskia, Nuria, Cavitta, Velly, Nasya, Merryn, Naura, Tamara, Lory dan Dara.

__ADS_1


"Hahahahaha."


__ADS_2