
"ARINDA BODOH, CEPAT KE KAMPUS SEKARANG ATAU KAU AKAN TERLAMBAT!"
Suara melengking milik seorang gadis di seberang telepon itu membuat Arinda yang masih bergumul di dalam selimutnya itu terlonjak kaget. Mata sayunya langsung tertuju pada jam dinding di hadapannya.
"Aish Sialan!" maki Arinda pada dirinya sendiri.
Dengan secepat kilat Arinda langsung berlari ke dalam kamar mandi. Dan tidak 5 menit kemudian Arinda sudah keluar dari kamar mandinya.
"Aish! 45 menit lagi. Apa aku bisa sampai dengan tepat waktu ke Kampus?" gumam Arinda kesal sembari mengumpulkan buku-buku kuliahnya ke dalam tasnya.
Ini memang yang paling mengesalkan untuknya di saat memiliki jadwal kuliah pagi. Ditambah lagi ini adalah lima hari dirinya masuk kuliah lagi setelah mengambil cuti beberapa bulan.
Ketika hari pertama Arinda kuliah. Empat sahabatnya menyambut kehadirannya dengan bahagia.
Setelah selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Dengan terburu-buru Arinda segera menarik tasnya dan tak lupa ponsel dan headseat sebelum keluar dari kamar.
Kakinya melangkah dengan cepat menuruni anak tangga yang ada di dalama rumahnya.
"Om, Tante! Aku pergi dulu!" teriak Arinda.
Tanpa menatap paman dan bibinya yang berada di meja makan. Arinda langsung menuju pintu utama. Memakai sepatu kets putihnya juga menarik kunci mobil kesayangannya.
Sementara paman dan bibinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Keduanya sudah terbiasa akan sikap Arinda jika sudah terlambat ke Kampus.
***
Arinda mengendarai mobilnya sedikit ngebut, tapi tiidak terlalu ngebut. Arinda tidak memperdulikan suara klakson pengendara lain karena membawa mobil sedikit mengebut sehingga hampir menyerempet kaca spion mereka.
Beberapa jam di dalam perjalanan akhirnya Arinda sampai di depan Kampus.
Sesampainya di kampus. Arinda memarkir mobilnya dengan asal tidak seperti biasanya karena Arinda akan kebingungan sendiri memilih tempat yang sangat strategis untuk bisa memarkirkan mobilnya kerennya ini.
Setelah memarkirkan mobilnya, kakinya Arinda yang mengambil alih dengan melangkahkan kakinya dengan cepat agar bisa mencapai kelasnya tepat waktu.
Ketika tiba di depan pintu kelasnya. Arinda langsung membuka pintu kelasnya dengan kasar. Dirinya tidak peduli jika dosennya akan memarahinya.
BRAAKK!
"Selamat pagi, pak! Maaf aku terlambat!" teriak Arinda dengan mata tertutup. Arinda benar-benar takut dan gugup saat ini.
Namun yang didapatkan oleh Arinda hanya kesunyian. Tanpa ada suara dan keributan sama sekali di dalam kelas.
"Eo? Kenapa tidak ada respon? Bahkan kelas ini seperti kuburan," batin Arinda.
__ADS_1
Arinda memberanikan diri untuk membuka kedua matanya dan mengedarkan pandangan pada kelasnya.
Arinda menatap kearah semua teman kelasnya. Seketika kedua matanya membulat terkejut dan dengan cepat melihat ke meja Dosen.
"KOSONG," batin Arinda.
Arinda mengigit bibir bawahnya menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubunnya.
"Huwahahahahaha." suara tawa terdengar satu kelasnya.
Teman sekelasnya Arinda tertawa karena mendengar Arinda tadi berteriak sangat keras mengingat Arinda sudah sangat telat.
"Belinda Dalmiro," geram Arinda sembari menatap Belinda yang dengan tenang duduk di bangkunya bersama ketiga sahabatnya yang lainnya sambil membaca novel romance.
"Akan kubunuh KAU!" kesal Arinda.
Sementara ketiga sahabatnya tersenyum melihat kekesalan Arinda.
^^^
Setelah mengikuti kelas selama dua jam. Kini Arinda dan keempat sahabatnya berada di Kantin.
Dengusan Arinda masih terdengar karena dendam yang masih bersarang dalam hati Arinda terhadap keempat sahabatnya itu, terutama pada Belinda.
Beberapa saat lalu, Arinda sudah memberikan pelajaran kepada Belinda dengan cara mencekik lehernya Belinda (Tidak benar-benar mencekik). Arinda hampir membunuh Belinda, namun justru Belinda hanya tertawa keras melihat kekesalanku dari Arinda.
Di kantin itu juga ada Darren, keempat sahabatnya, para kakaknya, para sahabat-sahabat kakaknya, Kiran, Daniel dan sahabatnya Kiran.
Hubungan Darren maupun para sahabat-sahabat dari ketiga kakaknya yaitu Vito, Velly dan Nasya sudah membaik. Begitu juga dengan Kiran. Darren sudah memaafkan kesalahan Kiran.
Baik Darren maupun Kiran kini kedua memutuskan untuk memulai awal yang baru menjadi sepasang sahabat bukan sepasang kekasih. Mereka akan melupakan masa lalu dan menatap masa depan.
Darren dan Kiran memutuskan membuat sebuah hubungan dengan ikatan persaudaraan. Bagaimana hubungan Darren dengan kakak-kakaknya seperti itulah hubungan Darren dengan Kiran. Begitu juga sebaliknya dengan Kiran. Bagaimana sayangnya Kiran dengan kedua kakaknya seperti itulah sayang Kiran dengan Darren.
Masalah cinta, Darren untuk saat ini tidak memikirkannya dulu. Darren tidak ingin terlalu cepat mencari pengganti Ataya. Hatinya masih tersimpan nama Ataya. Ditambah lagi, baru dua minggu Ataya meninggal.
Jadi Darren tidak akan bisa secepat itu untuk pacaran lagi. Jika pun Darren ingin mencari kekasih lagi. Darren ingin seperti Ataya. Wanita yang benar-benar mencintainya dan selalu ada untuknya disetiap kali dirinya mendapatkan masalah.
Sementara Kitan, hubungannya dengan Daniel makin baik. Kiran sudah mulai mencintai Daniel. Begitu juga dengan Daniel. Daniel berusaha menjadi pria yang baik untuk Lisa. Daniel banyak belajar dari Darren bagaimana cara menghargai, menyayangi dan mencintai seorang wanita. Daniel bersyukur karena Tuhan memperkenalkan dirinya dengan Darren, walau awal pertemuannya dengan Darren kurang baik.
Kini tinggal dirinya untuk memperbaiki hubungannya dengan Darren. Daniel akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan maaf dari Darren. Dirinya tidak peduli dan tidak akan marah jika Darren akan bersikap acuh dan kasar padanya. Daniel akan berusaha mengerti dan memahaminya. Karena bagaimana pun sikap kasar dan acuh Darren, dirinya lah penyebabnya.
"Darren," panggil Radika.
__ADS_1
"Hm." Darren hanya berdehem tanpa melihat kearah Radika, karena Darren tengah fokus menatap layar ponselnya.
Radika yang melihat hal itu hanya tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka sangat memaklumi akan hal itu.
Detik kemudian, tiba-tiba Naura mendapatkan ide untuk mendapatkan perhatian adik sepupunya itu.
Naura mengambil ponselnya, lalu mengirimkan sebuah pesan kepada Darren. Disini Darren tidak tahu nomor tersebut karena Naura menggunakan nomor lain.
TING!
Setelah terdengar notifikasi pesannya masuk ke ponsel Darren. Naura menonaktifkan nomornya tersebut sehingga adiknya itu tidak menghubunginya.
Darren yang mendapatkan notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenal olehnya langsung membuka dan membacanya.
TO : 0812 xxxx xxxx
Woi, siluman kelinci jelek.
Beberapa detik kemudian...
"Yak! Apa-apaan ini?!" teriak Darren melengking di kantin tersebut.
Mendengar teriakan tiba-tiba Darren membuat semua penghuni terkejut dan melihat kearahnya. Begitu juga para kakak-kakaknya, keempat sahabatnya, Kiran, Daniel dan sahabat-sahabatnya Kiran.
"Kamu kenapa teriakan-teriakan Darren? Ini di kantin. Tuh lihatlah. Mereka semuanya liatin kamu." ucap dan tanya Afnan.
"Habisnya aku benar-benar kesal Kak," jawab Darren.
"Kesal kenapa?" tanya Afnan lembut.
"Ini Kakak baca aja sendiri." Darren langsung menunjukkan pesan tersebut kepada kakaknya itu.
Melihat Darren memberikan ponselnya kepadanya. Afnan pun langsung mengambilnya dan melihat apa yang ditunjukkan oleh adiknya itu padanya.
Detik kemudian, Afnan tertawa. Namun seketika Afnan tersadar dan berusaha untuk menahan tawanya. Tapi sayangnya, Darren sudah terlebih dahulu melihat ekspresi wajahnya yang sempat tertawa.
"Ya, ya! Ketawain aja. Ngapain ditahan," sahut Darren menatap wajah kesal kakaknya, lalu menarik ponselnya dari tangan kakaknya itu.
Mendengar ucapan dan melihat wajah kesal adiknya membuat Afnan tak bisa lagi menahan tawanya. Tawa Afnan pun pecah.
"Hahahahaha."
Melihat kakaknya yang tertawa keras membuat Darren menatap horor kakaknya dengan mata yang begitu bulat. Dan jangan lupakan bibirnya yang bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapah untuk kakaknya itu.
__ADS_1
Sementara Naura, keempat sahabatnya, Kiran, Daniel, Vito, Velly, Nasya dan para sahabat-sahabatnya tersenyum melihat wajah kesal Darren. Mereka semua juga bingung apa yang menyebabkan Darren kesal dan Afnan tertawa. Tapi tidak dengan Naura. Karena dirinya adalah pelaku utamanya.