
Darren sudah berada di kampusnya saat ini. Setelah istirahat selama tiga hari di rumah. Akhirnya anggota keluarganya, terutama keempat kakaknya yang satu ibu dengannya mengizinkannya untuk kuliah.
Darren, keempat sahabatnya yaitu Zidan, Chico, Barra dan Chello beserta dua puluh mahasiswa dan mahasiswi yang berstatus sebagai anggota tengah membahas masalab Bakti Sosial di Aula Pertemuan.
"Bagaimana persiapan untuk baksos dua minggu lagi?" tanya Darren.
"Semuanya sudah disiapkan, Ren!" jawab salah satu mahasiswi yang menjabat sebagai konsumsi.
"Untuk keperluan yang lain juga sudah siap semua," sela seorang mahasiswa berstatus sebagai pembawa acara.
Mendengar jawaban dari dua anggotanya. Darren dan keempat sahabatnya tersenyum. Mereka sangat puas hasil kerja para anggotanya.
"Oh iya. Acara baksosnya akan dilaksanakan dua minggu lagi. Kira-kira waktunya kapan akan laksanakan?" tanya salah satu mahasiswi.
"Kalau menurut kalian bagusnya kapan?" Darren balik bertanya.
Mereka saling berpikir untuk menentukan waktu acara baksos tersebut.
Detik kemudian...
"Darren. Ketika hari h nya tiba. Acara baksosnya kita laksanakan sekitar pukul 8 pagi sampai 5 sore. Kita buat acaranya menjadi dua. Dari pukul 8 pagi sampai pukul 12 siang acaranya dengan anak-anak panti. Anak-anak panti asuhan itu berasal dari dua panti asuhan yang berbeda. Acaranya kita lakukan di Kampus saja. Setelah itu, pukul 12 siang sampai pukul 5 sore baru acara penutupnya yaitu membagi-bagikan sembako untuk orang-orang yang membutuhkan." salah satu mahasiswa memberikan usul kepada Darren.
Mendengar usulan dari anggotanya. Baik Darren, Zidan, Chico, Barra, Chello dan anggota lainnya langsung seketika tersenyum. Mereka langsung setuju dengan usulan tersebut.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Darren
"Kami semua setuju!" seru mereka semua.
"Baiklah."
Setelah membuat keputusan untuk acara baksos yang tinggal satu minggu lagi. Mereka semua pun menutup acara rapat tersebut dan pergi meninggalkan Aula pertemuan itu.
***
Di sebuah rumah mewah terlihat seorang wanita yang tengah duduk di sofa ruang tengah. Wanita itu tengah bersedih sembari memikirkan orang-orang yang begitu dirindukannya.
"Sudah waktunya aku pulang. Aku sudah sangat merindukan mereka." monolog wanita itu.
Ketika wanita itu sedang berbicara pada dirinya sendiri. Datang seorang pria yang berstatus sebagai dokter yang selama ini merawat wanita itu.
"Selamat pagi nyonya."
Wanita itu langsung menolehkan wajahnya melihat kearah pria yang menyapanya.
"Ach! Selamat pagi juga Dokter."
"Bagaimana keadaan anda saat ini nyonya? Apa masih merasakan sakit di kepala?"
"Sudah tidak lagi. Sepertinya rasa sakit yang saya rasakan setelah sadar dari koma beberapa bulan sudah hilang. Bahkan kemarin saya sudah bisa pergi keluar rumah."
"Ach! Syukurlah kalau begitu. Saya ikut senang mendengarnya. Oh iya! Saya dapat kabar dari sopir nyonya. Kemarin ketika hendak pulang. Nyonya dan sopir nyonya dihadang oleh beberapa preman. Apa itu benar nyonya?"
"Iya. Ada tujuh preman yang ingin menyakiti saya. Bahkan salah satu preman itu telah melukai sopir saya."
"Astaga. Lalu apa yang terjadi nyonya?"
"Ada seorang pemuda tampan yang menyelamatkan saya." wanita berbicara sembari tersenyum mengingat wajah tampan pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya.
Melihat wanita itu tersenyum. Dokter itu pun langsung paham.
"Apa pemuda yang telah menyelamatkan nyonya itu salah satu putra nyonya?"
Wanita itu melihat kearah Dokter tersebut dan kembali tersenyum.
"Iya. Itulah alasanku menyuruhmu datang kemari untuk mengecek kondisiku. Aku sudah putuskan untuk pulang menemui keluargaku. Aku sudah sangat merindukan mereka."
"Baiklah, nyonya!"
Setelah itu, Dokter itu memeriksa keadaan wanita itu. Beberapa detik kemudian, Dokter itu pun selesai memeriksa keadaan wanita itu.
"Selamat nyonya! Keadaan nyonya sudah benar-benar dalam kondisi baik. Keadaan nyonya saya nyatakan seratus persen pulih."
Mendengar penuturan dari Dokter yang telah merawatnya selama satu tahun lebih ini tersenyum bahagia. Akhirnya keinginannya untuk pulang termenuhi.
"Benarkah Dokter?"
"Iya, nyonya!"
Wanita itu menatap wajah Dokter itu. "Terima kasih selama satu tahun lebih kau telah merawatku."
"Nyonya tidak perlu berterima kasih pada saya. Ini sudah kewajiban saya sebagai seorang Dokter. Saat itu nyonya sudah tidak bernyawa lagi. Namun Tuhan berkehendak lain. Saat saya mengabari tentang kematian nyonya kepada anggota keluarga nyonya. Beberapa menit kemudian, detak jantung nyonya kembali lagi. Saya benar-benar bahagia. Dan kebahagiaan itu langsung saya beritahu kepada anggota keluarga nyonya.
Namun saya urungkan karena saya tidak sengaja mendengar salah satu perawat yang bekerja di rumah sakit sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Perawat itu mengabari kepada seseorang itu bahwa nyonya telah dinyatakan meninggal dunia."
"Dari situlah saya mengambil kesimpulan bahwa nyawa nyonya dalam bahaya. Maka dari itulah saya merahasiakan keberadaan nyonya. Dan saya menggantikan tubuh nyonya dengan sebuah boneka yang menyerupai manusia. Jadi orang-orang beranggapan kalau nyonya benar-benar sudah meninggal. Termasuk orang itu."
Wanita itu tersenyum bahagia dan berucap syukur akan keberadaan Dokter tersebut. Jika bukan berkat Dokter tersebut. Mungkin wanita itu tidak akan bisa menghirup udara di dunia.
"Jadi kapan nyonya akan menampakkan diri di hadapan keluarga nyonya?"
"Sekarang! Sekitar pukul 4 sore."
__ADS_1
"Baiklah, nyonya! Izinkan saya untuk ikut mengantar nyonya."
"Baiklah."
***
Darren dan keempat sahabatnya masih di Kampus. Mereka kini berada di perpustakaan.
"Ren," panggil Chico. Darren langsung melihat kearah Chico.
"Ya, Chico! Ada apa?"
"Aku gak sengaja dengar obrolan kakak-kakak kamu di lapangan sebelum kelas pertama dimulai yang menyebut kalau kamu ingin menggali makam Mama kamu? Apa itu benar?"
"Iya, Chic! Itu benar," jawab Darren.
Zidan, Barra dan Chello menatap wajah Darren. Mereka menatap lekat di manik hitam Darren.
"Apa alasan kamu ingin menggali makam Mama kamu?" tanya Barra.
"Aku bertemu dengan perempuan yang wajahnya mirip Mama," jawab Darren lirih. Wajah Darren seketika berubah sedih.
Zidan, Chico, Barra dan Chello saling lirik. Kemudian kembali menatap wajah Darren.
"Benarkah?" tanya Barra.
"Kamu bertemu perempuan itu dimana?" tanya Chello.
"Apa yang terjadi?" tanya Zidan.
"Kapan?" tanya Chico.
Darren menatap satu persatu wajah keempat sahabatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Darren dapat melihat dari tatapan keempat sahabatnya itu mengisyaratkan permohonan.
"Aku bertemu perempuan itu setelah kita selesai makan di cafe itu tiga hari yang lalu. Saat itu, kalian memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Sementara aku harus langsung ke hotel dimana acara yang aku buat itu. Namun ditengah jalan aku melihat tujuh preman yang sedang berbuat jahat kepada seorang wanita. Kalian tahu sendiri bagaimana sifatku jika ada seorang wanita yang dijahati."
Mendengar ucapan Darren. Zidan, Chico, Barra dan Chello langsung mengangguk. Mereka tahu sifat Darren jika sudah menyangkut seorang perempuan.
"Saat melihat itu. Aku langsung menghentikan mobilku. Dan kemudian aku pun keluar dari dalam mobil untuk menolong perempuan itu. Beberapa detik kemudian, aku berhasil melumpuhkan ketujuh preman itu. Setelah itu, aku menghampiri wanita itu dan juga sopirnya. Sopir itu sedikit terluka bagian lengannya. Sementara perempuan itu ketakutan. Ketika mendengar perkataan dari sopirnya yang mengatakan kalau semuanya sudah aman. Perempuan itu kemudian memberanikan diri untuk melihat sekitarnya dan juga melihat kearahku."
"Ketika aku melihat wajah dari perempuan itu. Aku... Aku...,"
Darren tidak bisa melanjutkan perkataannya. Seketika air mata Darren meluncur begitu saja membasahi wajahnya.
PUK!
Barra yang kebetulan duduk di sampingnya langsung menepuk pelan bahu Darren. Barra paham apa yang dirasakan oleh Darren sejak bertemu dengan perempuan itu.
"Zidan, Chico, Barra, Chello. Perempuan... Perempuan itu mirip Mamaku. Dia benar-benar mirip Mama."
"Iya. Aku melakukan hal itu hanya semata-mata untuk membuktikan identitas perempuan itu. Apa dia Mama? Atau hanya sekedar mirip Mama! Aku tidak mau berharap lebih. Dan aku juga ingin hidup tenang."
"Kalau aku boleh tahu. Apa yang kau rasakan ketika melihat orang yang mirip dengan Mamamu?" tanya Chello.
"Kau sudah tahu apa yang aku rasakan selama satu tahun ini, Chel! Aku seorang anak yang sangat merindukan ibunya. Merindukan ibunya yang telah lama pergi. Dan ketika bertemu dengan perempuan yang mirip Mama. Aku berharap jika perempuan itu adalah Mama." Darren berucap dengan suara lirih.
Mendengar ucapan dari Darren membuat hati Zidan, Chico, Barra dan Chello merasakan kesedihan yang mendalam. Mereka tahu bagaimana besarnya rasa sayang, perhatian dan rasa hormat Darren terhadap ibunya. Bukan hanya pada ibunya. Kepada semua anggota keluarganya. Darren begitu tulus menyayangi semuanya.
Ketika mereka semua dalam keadaan sedih, terutama Darren. Ponsel milik Barra berbunyi yang menandakan panggilan masuk.
Barra yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
"Vicky," ucap Barra.
Darren, Zidan, Chico dan Chello menatap Barra. Sementara Barra langsung menjawab panggilan dari Vicky.
"Hallo, Vicky!"
"Hallo, Bos Barra! Bos Darren ada bersama Bos?"
"Iya, ada! Apa kau ingin bicara dengannya? Kenapa tidak langsung saja?"
"Aku sudah berulang kali menghubungi Bos Darren. Tapi ponselnya tidak aktif."
"Ren," panggil Barra.
"Ada apa?" tanya Darren.
"Ponselmu tidak aktif ya?" tanya Barra.
"Ach, iya Maaf! Ponselku kehabisan daya. Dan aku lupa mencas nya."
"Kebiasaan."
"Hallo, Vicky! Ini bicaralah dengan Bos mu ini."
Barra langsung memberikan ponselnya kepada Darren dengan menatap kesal wajah Darren yang selalu lupa untuk mencas ponselnya.
Darren langsung mengambil ponsel milik Barra dan langsung menjawab panggilan dari Vicky tangan kanannya.
"Hallo, Bos! Ada informasi yang ingin saya sampaikan pada Bos."
__ADS_1
"Informasi apa? Katakan!"
"Ini... Ini mengenai Perusahaan AYJ yang kini sudah menjadi milik Bos."
"Kenapa dengan Perusahaan itu? Apa ada masalah?"
"Begini Bos. Sebenarnya Perusahaan AYJ yang berhasil kita rebut dari Arnold ternyata perusahaan itu bukanlah milik tuan Nandito."
Mendengar pengakuan dari Vicky membuat Darren terkejut. Dirinya benar-benar syok mendengar kabar yang disampaikan oleh Vicky.
"Bagaimana bisa perusahaan itu bukan milik Papa Nandito. Bukankah bajingan itu yang sudah merebutnya dari Papa Nandito," batin Darren.
"Katakan padaku kenapa kau bisa mengatakan bahwa perusahaan AYJ bukanlah perusahaan Papa Nandito. Bukankah bajingan itu yang telah merebut perusahaan milik keluarga Abraham. Bahkan statusnya saja sudah berubah menjadi urutan ketiga di Australia?"
Zidan, Chico, Barra dan Chello terkejut ketika mendengar perkataan Darren. Bahkan mereka saling lirik satu sama lainnya.
"Dari informasi yang saya dapatkan bahwa Arnold telah menjual perusahaan milik tuan Nandito kepada keluarga terkaya nomor 12 di dunia dan di Australia. Keluarga tersebut memiliki perusahaan yang berada diurutan ke 9 di dunia dan di Australia. Dengan membeli perusahaan milik tuan Nandito berarti keluarga itu memiliki dua urutan. Urutan ke 9 dan urutan ke 12."
"Ketika Arnold menjual perusahaan milik tuan Nandito. Arnold merubah kedudukan perusahaan tuan Nandito terlebih dahulu. Dari posisi 3 menjadi posisi 9. Sementara perusahaan AYJ yang seharusnya berada di posisi 9 diubah menjadi posisi 3."
"Semasa hidupnya, Arnold memang sudah terkenal dengan aksi penipuannya. Arnold menipu setiap pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan miliknya. Dan semua aksinya itu, Arnold berhasil merebut 2 Perusahaan besar nomor tiga dan nomor sepuluh di dunia dan di Australia. Kedua perusahaan itu berada di sepuluh besar."
Darren menggeram marah ketika mendengar kabar mengenai kejahatan yang dilakukan oleh Arnold.
"Brengsek!" batin Darren.
"Katakan padaku. Siapa pemilik asli dari perusahaan AYJ itu?"
"Perusahaan itu sebenarnya milik keluarga Bernard dengan nama Perusahaan BR'Nard CORP. Nama pemilik aslinya adalah Fazio Bernard."
"Brengsek!" teriak Darren.
Darren benar-benar marah saat ini. Arnold telah menipunya mentah-mentah.
Darren berpikir jika dirinya telah berhasil merebut perusahaan milik ayah dari keempat kakak-kakaknya dari tangan Arnold.
Namun dugaannya salah. Justru perusahaan yang direbut olehnya itu bukan perusahaan milik ayah dari keempat kakak-kakaknya. Melainkan perusahaan milik orang lain yang juga direbut oleh Arnold.
Melihat Darren yang berteriak dan juga terkejut. Ditambah lagi ekspresi wajah Darren yang kentara amarahnya membuat semua pengunjung di perpustakaan menatap kearah mereka.
Zidan dan Chello yang paham akan sekitarnya langsung melipat tangan dengan tujuan meminta maaf karena sudah mengganggu ketenangan perpustakaan.
"Ren, ini perpustakaan!" tegur Chico.
"Maaf," jawab Darren.
"K-kau tidak salah informasikan Vicky?"
"Tidak Bos. Ini informasi yang benar-benar nyata Bos. Ada satu informasi lagi dan Bos akan lebih terkejut lagi mendengarnya."
"Katakan! Buruan!"
"Arnold membunuh dan membantai habis seluruh anggota keluarga Bernard. Dan hanya satu yang selamat karena telah berhasil diselamatkan oleh tangan kanannya. Dia adalah anak perempuan tuan Bernard dan nyonya Patrizia. Nama anak perempuannya adalah Arinda Bernard. Nona Arinda saat ini dan dibantu oleh beberapa tangan kanan ayahnya untuk mencari dalang pembantaian keluarganya dan juga sudah merebut Perusahaan ayahnya. Bos...! Dengan kata lain...,"
Mengerti akan perkataan terakhir dari Vicky. Darren pun langsung memotongnya.
"Aku mengerti. Anak perempuan dari Fazio dan Patrizia akan mengira akulah pelaku dari pembantaian keluarganya dan juga merebut Perusahaan ayahnya?"
"Iya, Bos!"
"Biarkan saja."
"Maksud Bos?"
"Maksudku. Biarkan saja dia salah paham padaku. Biarkan dia memakiku dan ingin membalaskan semuanya padaku. Jika dia tahu kebenaran yang sesungguhnya. Dan kemudian dia menyesal dan ingin meminta maaf. Aku Darrendra Smith tidak akan memberikan kata maaf untuknya. Aku akan membuatnya menyesal seumur hidupnya."
"Baik, Bos! Aku mengerti! Apa yang harus aku lakukan setelah ini Bos?"
"Cari tahu seperti apa wajah dari anak perempuan dari Fazio dan Patrizia. Setelah itu, awasi setiap pergerakannya dan juga orang-orang terdekatnya. Kumpulkan setiap informasi dari anak perempuannya dan para tangan kanan ayahnya."
"Baik, Bos!"
Setelah selesai berbicara. Baik Darren maupun Vicky sama-sama mematikan panggilannya.
"Ada apa?" Tanya Chico.
"Vicky bicara apa?" tanya Zidan.
"Perusahaan AYJ yang berhasil aku rebut itu bukanlah perusahaan milik Papa Nandito. Perusahaan itu milik keluarga Bernard. Nama pemilik perusahaan itu yaitu Fazio Bernard."
"Apa?!" Zidan, Chico, Barra dan Chello terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren.
"Kenapa kalian berteriak? Tadi kalian menegurku. Sekarang malah kalian yang berteriak," kesal Darren.
"Hehehehe. Maaf." mereka menjawabnya bersamaan.
"Terus," ucap Barra.
"Bukan hanya Perusahaan yang direbut oleh Arnold. Seluruh anggota keluarga Bernard juga dibantai oleh bajingan itu. Dan yang selamat hanya anak perempuannya. Dan lebih parah lagi anak perempuannya itu dan dibantu oleh para tangan kanan ayahnya untuk mencari dalang pembantaian keluarganya dan juga orang yang telah merebut Perusahaan milik ayahnya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Ren?" tanya Zidan.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh anak perempuan dari Fazio itu ketika bertemu denganku. Aku tidak ingin memikirkan masalah itu. Aku sudah menyerahkan masalah ini kepada Vicky. Kita tunggu saja kabar selanjutnya."
Setelah mengatakan itu, Darren beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Zidan, Chico, Barra dan Chello. Mereka semua pun pergi meninggalkan perpustakaan.