REVENGE

REVENGE
Kekesalan Briyan, Faza, Dan Kevin


__ADS_3

Dokter itu sudah berada di dalam ruang operasi. Matanya menatap wajah pucat Clarissa.


Beberapa menit kemudian, salah satu perawat melihat jari telunjuk Clarissa bergerak. Dan hal itu sukses membuat perawat itu terkejut dan berteriak.


"Dokter, lihatlah! Jari pasien bergerak. Saya melihatnya!"


Dokter tersebut melihat kearah jari telunjuknya Clarissa. Dan benar saja. Clarissa kembali memberikan reaksinya.


Melihat hal itu, baik Dokter tersebut maupun lima perawat yang ikut membantu tersenyum bahagia dan berucap syukur.


"Pasang alatnya kembali!"


"Baik, Dok!"


"Nyonya Clarissa. Terima kasih. Saya sangat yakin anda adalah perempuan yang kuat. Anda melakukan ini demi putra anda."


Setelah satu jam menangani Clarissa. Dokter itu pun keluar hendak memberi kabar anggota keluarga.


Namun saat tiba diluar, Dokter itu melihat seseorang yang bersembunyi di balik tembok yang tak jauh dari ruang operasi dan beberapa anggota keluarga yang saat ini masih di depan ruang operasi.


Dokter itu keluar dari dalam ruang operasi sembari berpura-pura sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Dokter itu berjalan menuju kearah seseorang yang bersembunyi di balik tembok. Dan kebetulan orang itu tidak menyadari bahwa kelakuannya telah diketahui dan juga didengar percakapannya.


"Hallo, Bos! Wanita sialan itu telah mati."


"Apa kau yakin?"


"Yakin, Bos! Dokter itu sendiri yang memberitahu anggota keluarga Austin bahwa wanita itu telah mati."


"Bagus. Ini adalah berita yang sangat menggembirakan. Bagaimana dengan Amanda? Apa wanita sialan itu juga ikut mati bersama kakak iparnya?"


"Maaf Nyonya. Untuk masalah nyonya Amanda. Saya tidak tahu. Mereka berdua berada di ruang operasi yang berbeda. Dan dokternya juga berbeda."


"Sekarang pergilah cari ruang operasi Amanda. Pastikan dia juga ikut mati bersama Clarissa."


"Baik, Nyonya!"


Setelah mengatakan itu, orang itu mematikan panggilan tersebut.


"Aku harus menemukan ruang operasi Nyonya Amanda. Dan memastikan jika wanita itu juga mati."


Dokter itu terkejut mendengar perkataan dari orang itu. Dan tanpa pikir panjang lagi. Dokter itu pun langsung pergi meninggalkan tempat itu. Tujuannya saat ini adalah menemui rekannya yang saat ini tengah melakukan tugasnya menyelamatkan pasien yang bernama Amanda.


Kini Dokter itu sudah berada di depan ruang operasi dimana di dalamnya ada Amanda.


Dokter itu langsung membuka pintu ruang operasi itu. Dan hal itu membuat orang yang ada di dalam terkejut.


"Dokter Fanya. Ada apa?"


Dokter yang menangani Clarissa adalah Dokter Fanya. Dokter Fanya masuk dalam keadaan buru-buru.

__ADS_1


"Maaf, Dokter Sonya jika saya mengganggu!"


"Tidak apa-apa. Ada apa Dokter Fanya?"


"Begini. Saya barusan tidak sengaja mendengar seseorang berbicara di telepon. Dari yang diucapkannya kalau orang itu dan orang yang di teleponnya itu adalah orang yang mencelakakan kedua pasien kita Dokter Sonya. Bahkan orang itu sudah memberitahu tentang kematian pasienku nyonya Clarissa dengan orang yang di teleponnya itu. Orang itu juga ingin kesini untuk mengetahui pasien anda Dok. Apakah pasien anda selamat atau sudah meninggal?"


"Apa?!" Dokter Sonya terkejut ketika mendengar perkataan dari Dokter Fanya.


"Terus apa yang akan dilakukan oleh orang itu jika pasienku selamat?"


"Sudah pasti jika orang itu akan membunuh pasien anda dokter."


"Gila."


"Bagaimana dengan pasien anda, Dokter Fanya?"


"Awalnya aku gagal. Pasienku meninggal. Tapi setelah beberapa menit, detak jantungnya kembali lagi."


"Lalu apa rencanamu?" tanya Dokter Sonya.


"Aku sudah memberitahu anggota keluarga Austin jika nyonya Clarissa meninggal. Dan saat jenazah dibawa pulang. Jenazah itu bukan jenazah asli dari nyonya Clarissa, melainkan boneka yang mirip dengan nyonya Clarissa. Aku sudah menghubungi seseorang yang akan membuat boneka itu. Hanya butuh dua jam boneka itu selesai. Nanti akan diantar langsung menggunakan peti mati ke kediaman keluarga Austin."


"Eeemmm! Rencana bagus. Aku juga akan menyarankan kepada tuan Julian agar membawa istrinya ke Amerika. Sepertinya nyonya Amanda koma setelah melakukan operasi ini. Sekali pun orang itu mengetahui keadaan nyonya Amanda. Aku sangat yakin. Orang itu tidak akan bisa menyentuh nyonya Amanda. Rumah sakit yang akan aku rekomendasikan itu sangat bagus. Ada kamera pengintai bukan kamera cctv. Dan para keamanan disana sangat ketat. Salah satunya adalah keamanan untuk menjaga setiap kamar pasien. Jadi siapa pun yang masuk dan ingin berbuat jahat. Akan langsung terdeteksi dan terlacak."


Mendengar perkataan dari Dokter Sonya membuat Dokter Fanya tersenyum lega. Setidaknya dengan cara seperti ini mereka bisa melindungi pasien-pasien mereka.


FLASHBACK OFF


"Jadi itu alasan kenapa tante Andara tidak berkutik sama sekali ketika mendengar Mama akan dipindahkan ke rumah sakit di Amerika. Ternyata tante Andara sudah mengetahui tentang rumah sakit itu." Merrryn berbicara dengan wajah yang penuh amarah.


"Jelaslah Merryn. Mana mungkin dia berani. Kalau sampai dia nekat. Otomatis dia sendiri yang akan mengantarkan nyawanya," sela Naura.


"Tapi untuk Nyonya Amanda. Dokter Sonya juga mengatakan pada saya. Kemungkinan sangat kecil untuk Nyonya Amanda bisa bertahan. Tapi Dokter Sonya berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Nyonya Amanda sadar dari komanya." Dokter Fanya berbicara sembari menatap wajah Julian dan ketiga anak-anaknya.


"Tidak apa-apa, Dokter! Saya mengerti. Terima kasih untuk dokter dan juga dokter Sonya yang sudah bekerja keras menyelamatkan kakak ipar saya dan juga istri saya. Kalau bukan berkat laporan dari anda dan juga anjuran dari dokter Sonya untuk membawa Amanda ke Amerika. Mungkin perempuan sialan itu sudah berhasil membunuh istri saya."


Mereka semua membenarkan apa yang dikatatakan oleh Julian. Jika bukan karena laporan dari Dokter Fanya dan anjuran dari dokter Sonya. Mungkin Andara sudah berhasil membunuh Amanda di rumah sakit Pladys Hospital. Dan kemungkinan juga mereka tidak akan mendapatkan bukti-bukti tersebut melalui flashdisk itu.


"Oh iya! Soal flashdisk yang diberikan oleh dokter yang menangani nyonya Amanda selama di Amerika kepada tuan Julian itu terlebih dahulu diketahui oleh salah satu perawat dokter Sonya. Kemudian Dokter Sonya menyelipkan ke saku baju nyonya Amanda ketika mau berangkat ke Amerika. Setelah kepergian nyonya Amanda dan juga tuan Julian. Dokter Sonya menghubungi sahabatnya yang ada di rumah sakit Amerika dan memberitahu soal flashdisk itu. Dokter Sonya meminta sahabatnya itu untuk memberikan flashdisk itu kepada tuan Julian dengan dalih bahwa dia yang telah menemukan flashdisk itu dan berpura-pura tidak tahu mengenai flashdisk itu."


"Apa tuan sudah menerima flashdisk itu?" tanya Dokter Fanya.


"Sudah, Dokter! Dan kami semua sudah melihat isinya," jawab Julian.


Dokter Fanya menatap satu persatu wajah anggota keluarga dari pasiennya yaitu Clarissa. Dan detik kemudian, Dokter Fanya berdiri dari duduknya.


Melihat dokter Fanya yang tiba-tiba berdiri. Mereka semua pun ikut berdiri. Mereka menatap wajah dokter Fanya.


"Baiklah. Tugas saya sudah selesai. Nyonya Clarissa telah kembali dengan selamat di rumah putra bungsunya. Dan telah berkumpul dengan semua anggota keluarganya. Saya turut bahagia melihatnya. Jadi saya mau pamit pulang karena ini sudah malam."

__ADS_1


"Apa dokter pulang sendiri?" tanya Darren.


"Iya, tuan!"


"Jangan panggil tuan. Panggil saja Daren. Apa saya boleh panggil Dokter Fanya dengan sebutan tante Tante?"


Dokter Fanya tersenyum. Hatinya menghangat ketika mendengar permintaan sederhana dari Darren.


"Boleh. Dengan senang hati."


"Baiklah, Tante Fanya! Dikarenakan Tante Fanya mau pulang. Dikarenakan Tante adalah seorang tamu istimewa disini dan aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan tante. Aku tidak mengizinkan tante Fanya pulang sendiri."


Darren menatap ketiga sahabatnya yaitu Briyan, Faza dan Kevin dengan senyuman manisnya.


Briyan, Faza dan Kevin yang menyadari tatapan mata Darren lengkap dengan senyumannya itu paham dan mengerti. Sahabat kelincinya itu pasti akan meminta mereka untuk mengantar pulang dokter Fanya.


Mengetahui niat sahabat kelincinya itu. Briyan, Faza dan Kevin pura-pura tidak mengetahuinya. Bahkan ketiganya dengan kompak langsung bersuara.


"Maaf, Ren! Gue sakit perut. Gue mau ke kamar mandi dulu!"


"Aku mengantuk, Ren!"


"Aku lupa mengerjakan laporan keuangan Perusahaan!"


Briyan, Faza dan Kevin langsung berdiri dan melangkah pergi.


"Jika kalian berani melangkah sedikit pun. Putus hubungan kita!" seru Darren.


Mendengar ancaman dari Darren membuat Briyan, Faza dan Kevin langsung berhenti dan kembali ke tempatnya masing-masing. Mereka kembali menduduki pantatnya dengan mulut yang bergerak-gerak mengeluarkan sumpah mematikan untuk Darren.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren ketika berhasil membuat ketiga sahabatnya tak berkutik.


Sementara anggota keluarganya dan keempat sahabatnya Zidan, Chico, Barra dan Chello. Serta dokter Fanya tersenyum melihat sikap patuh Briyan, Faza dan Kevin. Dan mendengar perkataan dari Darren.


"Sudah. Berhentilah menyumpahiku. Apa mulut kalian itu tidak capek menyumpahiku terus? Anggap saja ini balasan dariku karena kalian bertiga sudah menggangguku ketika di kantor. Dan kalian juga memfitnahku di depan Barra dengan mengatakan bahwa aku tidak memberikan kalian makan." Darren berbicara sembari menatap wajah kesal Briyan, Faza dan Kevin.


Mendengar perkataan kejam dari Darren membuat Briyan, Faza dan Kevin hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya.


"Baiklah," jawab Briyan, Faza dan Kevin bersamaan.


Mereka pun berdiri dari duduknya dengan wajah yang ditekuk. Mereka yang melihat tersenyum gemas.


"Ini. Pakai mobilku. Jangan pake mobil kalian." Darren melemparkan kunci mobilnya kepada Faza. Dan ditangkap dengan baik oleh Faza.


"Kau dengan Kevin. Dan Briyan dengan Tante Fanya menggunakan mobil Tante Fanya. Antarkan Tante Fanya selamat sampai di rumahnya. Jangan sampai lecet. Jika lecet. Tubuh kalian akan aku kuliti." Darren berbicara sembari menjahili ketiga sahabatnya itu.


"Dasar siluman kelinci sialan," batin Faza.


"Psikopat tengik," batin Kevin.

__ADS_1


"Nyesel gue balik ke Australia," batin Briyan.


Mereka membatin sambil melangkahkan kakinya menuju pintu utama diikuti oleh Dokter Fanya dan anggota keluarga lainnya di belakang. Mereka mengantar dokter Fanya sampai di depan rumah.


__ADS_2