
[Kantin Kampus]
Terlihat tujuh gadis cantik tengah menikmati sarapan paginya sembari mengobrol membahas masalah cowok.
"Hena, Kalya, Lola! Apa kalian nggak mencoba mendekati Briyan, Faza dan Kevin lagi?" tanya Triya.
"Iya, nih! Mana perjuangan kalian selama ini ingin menjadikan Briyan, Faza dan Kevin kekasih kalian. Kok berhenti?" celetuk Aruna.
"Mumpung orangnya udah balik lagi ke Jerman. Bahkan udah ngumpul lagi mereka nya," sahut Geya.
Hena, Kalya dan Lola selama ini menaruh rasa cinta terhadap Briyan, Faza dan Kevin. Selama berada di kampus. Mereka bertiga selalu mendekati Briyan Faza dan Kevin.
Namun sampai detik ini, usaha ketiganya belum membuahkan hasil. Briyan, Faza dan Kevin sama sekali tidak tertarik dengan Hena, Kalya dan Lola.
Hena, Kalya dan Lola menatap satu persatu wajah kelima sahabatnya.
"Terus kalian bagaimana?" tanya Hena.
Mendengar pertanyaan dari Hena membuat Moly, Prisa, Triya, Geya dan Aruna langsung menatap wajah Hena.
"Kami?" tanya mereka bersamaan.
"Iya, kalian!" Hena, Kalya dan Lola menjawab dengan kompak.
"Kenapa dengan kami?" tanya Prisa mewakili keempat sahabatnya.
"Nggak usah pura-pura Prisa! Kita tahu lo suka kan sama Darren," sahut Lola.
"Rasa suka lo itu dah lama terhadap Darren. Sejak Darren masih pacaran sama Kiran sampai Darren pacaran sama Ataya," ucap Kalya.
"Sekarang Darren sendirian. Dan dengar-dengar Darren belum ada niatan buat nyari pengganti Ataya. Nah! Ini kesempatan buat lo. Dekatin Darren dan ambil hatinya dia. Ajak dia ngobrol lalu jalan. Jadikan Darren teman lo terlebih dahulu. Setelah itu, baru lo nyatakan perasaan lo sama dia." Hena berbicara sembari memberikan jalan untuk Prisa mendekati Darren.
"Kalian juga lakukan hal serupa sama sahabat-sahabatnya Darren," kata Lola.
"Mari kita berjuang untuk mendapatkan pujaan hati kita masing-masing!" seru Triya dengan penuh semangat.
"Ayo!"
"Semangat!"
***
Di kediaman Austin terlihat ramai dimana semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tengah. Termasuk keluarga Smith. kecuali Darren yang masih di kamarnya.
"Marco, Afnan!" panggil Clarissa.
"Iya, Ma!" Marco dan Afnan menjawab bersamaan.
"Bagaimana dengan perusahaan ayah kalian yang ada di tangan keluarga yang kedudukannya berada nomor 12?" tanya Clarissa.
"Kita sudah mengetahui asal keluarga itu. Dan kita sudah bertemu serta membahasnya," jawab Marco.
"Apa tanggapan mereka?" tanya Erland.
__ADS_1
"Mereka akan mengembalikan perusahaan itu kepada kita asal kita mau membayar ganti ruginya," jawab Afnan.
"Tak masalah. Berikan berapa yang mereka minta. Disini mereka tidak bersalah. Justru mereka telah ditipu oleh Arnold. Mereka membeli perusahaan itu dari Arnold. Jadi nggak ada salahnya kita mengeluarkan uang untuk membeli kembali perusahaan itu."
Mendengar perkataan dari Robert membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Bagaimana pun keluarga itu telah membeli perusahaan tersebut dari Arnold. Jadi mereka juga harus membeli perusahaan tersebut jika perusahaan itu ingin kembali.
Kita merenung tengah membahas perusahaan milik Nandito Abraham, seketika mereka semua dikejutkan dengan suara langkah kaki menuruni anak tangga.
Dengan kompak mereka semua melihat keasal suara. Dan seketika mereka semua tersenyum melihat orang tersebut.
Yah! Orang yang menuruni anak tangga itu adalah Darrendra Austin, kesayangannya Papa dan Mama. Serta kesayangannya semua kakak-kakaknya. Dan juga kesayangannya om, tante dan kakek Robert.
Darren saat ini tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Lebih tepatnya dengan orang kepercayaan di perusahaan DRN'CORP.
"Baiklah. Kerjakan saja itu dulu. Nanti setelah selesai letakkan di meja kerja saya. Saya akan mengeceknya ketika saya berada di perusahaan."
"Oh iya! Jangan lupa kirimkan saya laporan keuangan bulan kemarin sama bulan sekarang!"
Setelah mengatakan itu, Darren langsung menutup teleponnya. Kemudian Darren memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya sembari menuruni anak tangga kedua paling bawah.
Darren melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dan seketika Darren tersenyum ketika melihat semua anggota keluarganya telah berkumpul di ruang tengah yang kini menatap dirinya.
"Selamat pagi semuanya!" Darren menyapa anggota keluarganya.
"Pagi juga!" semua anggota keluarganya menjawab sapaannya secara bersamaan.
Darren menduduki pantatnya di samping ibunya dan langsung mendapatkan satu ciuman dari ibunya di pipi kanannya.
"Sama-sama putraku yang tampan," jawab Clarissa.
"Hahahaha."
Semuanya tertawa ketika mendengar ucapan dari Darren dan jawaban dari Clarissa.
"Apa kamu sudah mendapatkan kabar dari keluarga Parvez mengenai kondisi Arinda, Ren?" tanya Nuria.
"Sudah kak," jawab Darren.
"Bagaimana kondisi Arinda saat ini?" tanya Clarissa.
"Arinda sudah sadar. Tapi kondisi masih sedikit lemah. Mami mengatakan kepadaku kalau Arinda masih butuh istirahat yang banyak," sahut Darren.
"Oh iya! Bagaimana dengan laki-laki itu?" tanya Steven.
"Menghilang!"
Mendengar jawaban dari Darren yang mengatakan bahwa laki-laki tersebut menghilang membuat mereka semua terkejut.
"Menghilang, maksudnya?" tanya Devano.
"Nggak ada kabar sama sekali dari dia. Terakhir informasi yang aku dapatkan dari Vicky. Cemal melarikan diri ketika mengetahui Arinda yang sudah tidak ada lagi di gedung itu. Ada yang memberitahu kepada Cemal bahwa ada beberapa orang yang sedang memburunya. Mendapatkan kabar itu, Cemal melarikan diri."
"Apa kamu dan ketujuh sahabat-sahabat kamu sudah mengetahui dimana dia sekarang?" tanya Garvin.
__ADS_1
"Belum kak Garvin. Zidan dan Reno masih terus mencari tahu keberadaannya," jawab Darren.
"Terus bagaimana dengan keluarganya? Perusahaan ayahnya dan perusahaan Pamannya yang sudah bermain curang terhadap perusahaan kamu?" tanya Theo.
Mendengar pertanyaan dari Theo. Darren langsung melihat kearah Theo. Dan detik kemudian, terukir senyuman manis di bibir Darren.
Melihat senyuman manis di bibir Darren. Theo dan semua anggota keluarga meyakini bahwa Darren telah melakukan sesuatu terhadap dua orang yang sudah bermain licik terhadap perusahaannya.
"Pasti kamu sudah melakukan hal yang tak terduga terhadap dua perusahaan itu? Iyakan?" tanya Afnan.
"Menurut kakak Afnan?" tanya Darren balik tanpa menghilangkan senyumannya.
"Iya. Kamu sudah melakukan hal itu," jawab Afnan.
Senyuman Darren makin mengembang. "Kakak Afnan benar. Aku sudah melakukan sesuatu terhadap dua perusahaan itu. Perusahaan itu sudah menjadi milikku. Hanya saja, aku masih memberikan kesempatan mereka berdua untuk merayakan perpisahan terhadap perusahaan mereka sebelum aku merebutnya."
Mendengar penuturan dari Darren membuat mereka semua tersenyum penuh kebahagiaan. Tidak ada rasa iba dan belas kasihan sama sekali di wajah mereka. Bagi mereka semua itu adalah hukuman karena sudah berani bermain licik.
"Kakak suka cara pembalasan dari kamu," puji Qenan.
"Aku seperti ini juga belajar dari kakak Qenan dan kalian semua," sahut Darren sembari menatap semua anggota keluarga Smith.
Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Darren membuat semua anggota keluarga Smith tersenyum.
"Sayang," panggil Clarissa dengan tangannya mengelus kepala belakang putranya.
Darren langsung melihat kearah ibunya. Lalu Darren memberikan ciuman di pipi ibunya itu.
"Ada apa, Ma?"
"Apa kamu tidak ingin mengunjungi Arinda di rumah sakit? Sejak kamu, sahabat kamu dan anggota kamu menyelamatkan Arinda. Sejak itulah kamu tidak pernah menjenguk Arinda," ucap dan tanya Clarissa.
Mendengar pertanyaan dari ibunya. Darren langsung membuang wajahnya menatap lurus ke depan. Darren tidak langsung menjawab pertanyaan dari ibunya itu.
Melihat keterdiaman Darren membuat Clarissa merasa bersalah. Dirinya tahu bahwa putranya itu tidak ingin memiliki hubungan apapun terhadap Arinda. Clarissa juga tahu bahwa putranya itu belum sepenuhnya memaafkan kesalahan Arinda yang sudah merusak laptop kesayangannya.
"Sudah banyak yang menjaga dia di rumah sakit. Jadi aku tidak perlu kesana. Lagian dia bukan siapa-siapa aku. Aku tidak mau membuat dia salah mengartikan kebaikanku. Jadi lebih baik seperti ini," ucap Darren.
Darren melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "Sudah pukul 8. Aku berangkat sekarang. Ada rapat di perusahaan DRN'Smith."
Darren seketika berdiri dari duduknya. Lalu tatapan matanya menatap ketiga kakaknya yaitu Vito, Velly dan Nasya. Karena mereka bertiga masuk kuliah sama jadwalnya dengan Darren. Sementara Afnan dan Naura jadwal kuliahnya hari ini sekitar pukul 12 siang.
"Kak Vito, kak Velly, kak Nasya. Izinkan aku di jam pertama dan kedua ya sama dosen aku. Aku hanya bisa masuk di jam ketiga sampai pulang."
"Siap komandan!" Vito, Velly dan Nasya menjawab secara bersamaan sembari memberikan hormat kepada Darren.
Darren tersenyum lebar ketika mendengar jawaban kompak dari ketiga kakaknya itu.
"Ya, sudah! Kalau begitu aku pergi!"
"Hati-hati!"
"Iya!"
__ADS_1