REVENGE

REVENGE
Rasa Syukur Felix Dan Kelima Anak-anaknya


__ADS_3

Felix, Rafael dan anak-anak termasuk Darren dan keempat sahabatnya kini berada di ruang tengah. Mereka semua menatap khawatir Darren.


"Sayang, kita ke rumah sakit saja ya. Papa benar-benar khawatir sama kamu. Apalagi kamu baru sadar dari pingsan."


"Aku baik-baik saja Pa. Aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa seperti ini. Jadi wajar saja," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Sekeras apapun mereka membujuknya. Darren akan tetap pada pendiriannya.


"Atau gini aja. Om telepon Dokter aja ya! Setidaknya biar kita semua tahu kalau kamu benar baik-baik saja sayang," usul Rafael.


"Om Rafael benar. Kita panggil Dokter aja ya. Kamu mau ya Darren." Vito memohon kepada adiknya.


Mendengar desakan dan melihat kekhawatiran dari anggota keluarganya dan juga keempat sahabatnya. Darren hanya bisa menurunkan keras kepalanya.


"Hah! Baiklah. Terserah kalian saja. Jika Dokternya datang. Kalian yang bayar. Aku tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua melongo. Namun detik kemudian, mereka tertawa.


"Hahahaha."


"Selama ini jika lo sakit yang bayar biaya rumah sakit itu om Erland, om Ronald dan Opa Robert. Lo mana pernah mengeluarkan uang," ledek Barra.


Darren langsung menatap sangar Barra. Sementara Barra hanya acuh dan tak mempedulikan tatapan sangar Darren.


BUGH!


Darren melemparkan bantal sofa ke arah Barra. Dan lemparannya tepat mengenai wajahnya.


"Makan tuh bantal," ucap Darren.


"Hahahaha." mereka semua tertawa.


Setelah itu, Rafael pun menghubungi Dokter untuk memeriksa keadaan keponakannya.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mereka juga sudah selesai melaksanakan makan malam bersama.


Darren masih berada di rumah keluarga Austin. Sementara keempat sahabatnya sudah kembali pulang ke rumah masing-masing. Mereka saat ini berada di ruang tengah.


"Apa yang akan kita lakukan kepada tiga iblis itu Ren?" tanya Vito.

__ADS_1


"Nyawa dibayar nyawa," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren mereka semua pun paham. Bagaimana pun Marissa dan suaminya serta Andara dan suaminya Arnold sudah melakukan banyak kejahatan. Hukuman seumur hidup di penjara sudah tak pantas lagi untuk mereka. Yang lebih pantas untuk mereka berempat adalah kematian.


"Jika kalian tidak sanggup melakukannya. Serahkan saja padaku, keluarga Smith dan keluarga Abraham. Tapi jika kalian sanggup untuk melakukannya. Maka buang jauh-jauh rasa kasihan dan empati kalian terhadap perempuan yang sudah melukai kalian." Darren berbicara sambil menatap satu persatu wajah anggota keluarga Austin.


"Aku ingatkan sekali lagi. Marissa atau Martina Harvey. Perempuan itu telah menyakiti Papa, membohongi Papa. Perempuan itu juga yang sudah membuat Perusahaan Papa bangkrut sehingga perempuan itu memiliki alasan untuk meninggalkan Papa dan kelima anak-anak Papa. Perempuan itu tidak peduli sama sekali dengan Papa dan kelima anak-anak Papa. Saat perempuan itu kembali. Perempuan itu tidak menunjukkan rasa iba, rasa kasihan dan rasa penyesalan. Bahkan rasa rindunya kepada kelima anak-anaknya juga tidak ada. Tapi justru sebaliknya. Perempuan itu kembali ingin merebut rumah ini melalui kelima anak-anaknya. Perempuan itu juga salah satu tersangka dalam pembunuhan Nandito Abraham, ayah dari keempat kakak-kakakku."


Mendengar perkataan Darren membuat Felix dan kelima anak-anaknya hanya bisa diam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Terutama Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.


"Untuk om Rafael. Ingat! Andara yang sudah membunuh istri pertama om. Andara melakukan itu agar bisa masuk ke dalam keluarga Austin. Andara sudah menikah sebelum menikah dengan om. Andara yang sudah membunuh nenek dan Tante Amanda. Andara tidak menginginkan Michel dan hanya memanfaatkan Michel selama ini."


Sama hal nya dengan Felix dan kelima anak-anaknya. Rafael dan ketiga anaknya hanya diam. Namun di hati mereka masing-masing membenarkan setiap perkataan Darren.


"Jika kalian benar-benar sanggup untuk melakukan itu. Jika kalian benar-benar sanggup untuk membunuh para pembunuh itu. Kita akan melakukannya besok di markas milikku. Aku juga sudah memberitahu om Julian. Om Julian ingin ikut andil dalam membalaskan dendamnya untuk Tante Amanda. Begitu juga dengan Kak Andra, Kak Adnan dan Kak Merryn."


Ketika mereka tengah membahas masalah hukuman untuk ketiga pelaku pembunuhan terhadap keluarganya. Ponsel milik Darren tiba-tiba berbunyi.


Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya itu di saku celananya.


Setelah ponselnya ada di tangannya. Darren melihat nama 'Rama' asistennya di Perusahaan DRN''CORP.


"Hallo, Rama."


"Hallo, Bos. Aku sudah mengirimkan beberapa dokumen penting ke email Bos. Apa Bos sudah buka dan membacanya?"


"Ach. Maaf Rama. Aku belum membuka laptopku dari tadi siang. Terakhir saat di Perpustakaan Kampus. Kapan dibutuhkan dokumen-dokumen itu?"


"Paling lambat besok pagi Bos."


"Baiklah. Besok pagi aku akan ke Kantor. Aku harus mempelajari dokumen-dokumen itu terlebih dahulu."


"Baik, Bos."


Setelah itu, baik Darren maupun Rama sama-sama mematikan panggilan.


"Darren," panggil Rafael.


"Ada apa om," jawab Darren sambil menatap kearah Rafael.


"Sekarang inikan hubungan kita sudah membaik. Eemm... Bagaimana ka..." perkataan Rafael terpotong karena Darren sudah terlebih dahulu memotongnya.

__ADS_1


"Om tidak perlu khawatir masalah itu. Kedua Perusahaanku dan Perusahaan RFL CORP milik om akan kembali menjalin kerja sama."


Mendengar perkataan dari Darren membuat Rafael menatap dengan mata yang berkaca-kaca.


"Benarkah itu Darren?"


"Hm."


Rafael berpindah duduk dan duduk di samping Darren. Dan Rafael langsung memeluk erat tubuh keponakannya itu.


"Hiks... Sayang. Terima kasih," ucap Rafael disela isakannya.


Baik Darren, Felix maupun anak-anak mereka tersenyum geli kala melihat Rafael yang menangis di pelukan Darren.


"Aish, Papa! Sejak kapan Papa jadi cengeng seperti ini? Malu kali Pa," ejek Michel.


"Kamu itu masih kecil. Diam saja dan jangan ikut campur urusan orang dewasa," jawab Rafael membalas perkataan putra bungsunya itu.


Mendengar perkataan dari ayahnya membuat Michel melotot. Sementara Felix dan yang lainnya tertawa mendengar perdebatan ayah dan anak.


"Hahahahaha."


Setelah puas memeluk keponakannya. Rafael pun melepaskan pelukannya itu.


"Terus bagaimana dengan Perusahaan Papa dan Perusahaan keluarga Austin sayang?" tanya Felix.


Mendengar pertanyaan dari ayahnya. Darren pun langsung menjawabnya.


"Perusahaan yang mana? Bukannya Papa dan keluarga Austin sudah tidak memiliki Perusahaan lagi? Bahkan rumah ini saja sudah menjadi milikku." Darren berbicara dengan menatap wajah ayahnya dengan menarik turunkan kedua alisnya.


Mendengar perkataan dari Darren membuat Felix melongo dan tak percaya. Begitu juga dengan Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.


"Iya... Iya! Kamu benar. Papa tidak memiliki Perusahaan lagi. Dan rumah ini adalah milik kamu," jawab Felix dengan nada dan wajah dibuat sesedih mungkin.


Mendengar jawaban pasrah dari ayahnya membuat Darren tersenyum. Senyumannya kali ini adalah senyuman tulus dari hatinya. Tidak dibuat-buat, tidak dipaksa dan tanpa beban sama sekali.


Felix, Raka, Satya, Vito, Velly, Nasya, Rafael,Dara, Jerry dan Michel tersenyum hangat ketika melihat senyuman tulus dari Darren. Mereka semua tahu senyuman Darren kali ini adalah senyuman tulus tanpa beban dan tanpa dipaksakan.


"Kami merindukan senyumanmu itu Darrendra Austin," batin Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya.


"Terima kasih Tuhan. Kau telah mengembalikan putraku ke dalam pelukanku kembali. Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindunginya, terutama senyumannya," batin Felix berdoa.

__ADS_1


__ADS_2