
Felix, Clarissa dan anak-anaknya sudah dalam keadaan rapi dan sudah berada di meja makan. Hanya tinggal sibungsu saja.
"Kalian sarapan lah dulu. Mama akan bangunkan adik kalian," ucap Clarissa.
Clarissa melihat kearah suaminya. "Kamu juga sayang. Makanlah dulu," ucap Clarissa lagi.
Ketika Clarissa hendak melangkahkan kakinya, mereka semua pun mendengar derap langkah kaki menuruni anak tangga.
TAP!
TAP!
TAP!
Mereka semua pun langsung mengalihkan perhatiannya melihat keasal suara. Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing. Apalagi ketika melihat penampilan kesayangan mereka yang begitu tampan.
"Mama, Papa, kakak! Aku langsung ke Kampus ya! Aku nggak ikut sarapan!" teriak Darren yang langsung melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Mendengar teriakan dan perkataan Darren membuat mereka semua terkejut. Dan tanpa pikir panjang lagi. Dengan kompaknya Afnan dan Vito langsung berdiri dari duduknya dan berlari mengejar sang adik.
Felix, Clarissa, Saskia, Nuria, Marco, Raka, Satya, Velly dan Nasya yang melihat kepergian Afnan dan Vito untuk mengejar sibungsu hanya diam di tempat. Mereka semua siap-siap memasang telinga mendengar teriakan dari sibungsu akan ulah dari kedua kakak-kakaknya.
"Kena kamu."
Afnan mencekal tangan Darren dan Vito menarik kerah belakang adiknya dari belakang yang hendak membuka pintu.
Merasakan pegangan di tangan dan tarikan di bajunya membuat Darren medengus kesal.
"Yak! Kak Afnan, Kak Vito! Apaan sih." Darren menatap kesal kakaknya itu.
Sementara Afnan dan Vito hanya mempelihatkan wajah tampan tak bersalahnya ketika melihat wajah kesal adiknya.
Tanpa pikir panjang lagi, keduanya langsung menarik adiknya untuk menuju ruang makan.
Kini Darren sudah berada di meja makan dengan memperlihatkan tampang kusutnya. Tak ada senyum-senyumnya sama sekali.
Mereka semua tersenyum ketika melihat wajah masam Darren akan ulah Afnan dan Vito.
Bagaimana tidak kesal? Afnan dan Vito menarik Darren ke ruang makan seperti menarik anak kambing. Apalagi Vito. Vito menarik kerah belakang Darren dengan cara mengangkatnya ke atas seperti ingin menggantung adiknya.
"Sudah. Jangan perlihatkan wajah jeleknya seperti itu. Apa mau gelar ketampanannya hilang, hum?" ucap Clarissa sembari menggoda putra bungsunya.
"Apaan sih, Ma!"
Darren menjawab ibunya sambil memasukkan makanan ke mulutnya. Dan jangan lupa matanya yang menatap kesal kedua kakaknya itu.
Afnan dan Vito yang menyadari bahwa adik bungsunya tengah menatapnya langsung memperlihatkan senyuman manis mereka. Melihat kedua kakaknya itu tersenyum membuat Darren makin memperlihatkan wajah macamnya.
"Dasar bantet kurap dan alien hitam kudisan," ucap Darren pelan.
Namun ucapannya itu masih terdengar oleh kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya.
Mereka yang mendengar ucapan Darren tersenyum geli ketika mendengar ejekan dari Darren. Sementara Afnan dan Vito mendengus kesal.
***
Darren sudah berada di Kampus. Kedatangan langsung disambut heboh oleh sahabat-sahabatnya. Paling heboh adalah Briyan, Faza dan Kevin.
"Darren!" teriak para sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
Darren sontak terkejut ketika mendengar teriakan dari para sahabat-sahabatnya, terutama Briyan, Faza dan Kevin.
"Norak kalian semua," kesal Darren.
Darren pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya yang kelebihan dosis itu.
"Yak, Ren!" teriak mereka lalu mengejar Darren.
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya berjalan menyusuri koridor kampus. Ketika sedang fokus berjalan. Darren melihat dari arah berlawanan musuh bebuyutannya. Seketika tatapan Darren berubah.
Yah! Orang yang dilihat oleh Darren adalah Arinda.
Baik Darren dan sahabat-sahabatnya maupun Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya menghentikan langkahnya.
Arinda menatap Darren dengan tatapan bersalah dan penuh penyesalan. Sementara Darren menatap Arinda dengan tatapan benci.
Darren yang tidak ingin berlama-lama berurusan dengan Arinda. Apalagi menatap wajah Arinda. Darren pun kembali melangkahkan kakinya untuk menuju kelasnya.
Namun, ketika kaki Darren hendak melangkah. Arinda dengan beraninya menahan tangan Darren.
Melihat Arinda yang berani memegang tangan Darren membuat ketujuh sahabat-sahabatnya sedikit khawatir terhadap Arinda. Mereka takut jika Darren akan bersikap buruk kepada Arinda.
"Berani sekali kau memegang tanganku. Lepaskan!" bentak Darren dengan tatapan amarahnya. Dan langsung menarik kuat tangannya.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk memegang tanganmu," sahut Arinda.
Darren menatap nyalang Arinda. "Enyahlah dari hadapanku. Dan jangan perlihatkan wajahmu di depanku," ucap Darren ketus.
Setelah mengatakan itu, Darren pun pergi meninggalkan Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya.
Namun langkah kembali terhenti karena Arinda berdiri di hadapannya. Arinda menghadang jalannya.
"Maafkan aku karena telah mengira bahwa kau yang telah membantai seluruh anggota keluargaku dan juga yang sudah merebut Perusahaan ayahku. Dan..." setetes air mata menetes membasahi wajah cantiknya.
"Dan aku sudah merusak laptop milikmu. Aku... Aku sudah membeli laptop baru untukmu." Arinda berbicara dengan suara bergetarnya.
Arinda melihat kearah Belinda. Belinda yang mengerti langsung mengeluarkan laptop yang ada di dalam tasnya. Dan setelah itu, Belinda memberikan pada Arinda.
"Ini laptop baru untukmu. Laptop ini adalah laptop tercanggih. Dengan laptop ini semua data yang hilang akan kembali. Cukup menulis kata kuncinya. Maka semua data-data yang dibutuhkan akan muncul. Asal saat kamu menulis di laptop lama kamu. Kamu ingat semua data-datanya, kodenya, nama judulnya dan juga sandinya. Maka tidak masalah untuk laptop baru ini." Arinda berbicara sambil menjelaskan cara kerja laptop baru yang dipegang olehnya.
Mendengar perkataan Arinda membuat Zidan, Chico, Barra, Chello, Briyan, Faza dan Kevin menatap kearah laptop yang ada di tangan Arinda.
Sementara Darren hanya melirik kearah laptop itu tanpa ada niat untuk mengambilnya.
"Kau pikir aku tidak punya uang untuk membeli laptop baru, hah?! Apa kau meremehkanku?!" bentak Darren.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk meremehkanmu. Aku membelikan laptop baru untukmu karena aku sudah menghancurkan laptop milikmu."
Arinda berbicara sembari menjelaskan alasan sebenarnya kepada Darren. Arinda tidak bermaksud untuk menghina atau pun meremehkan Darren. Justru Arinda tahu jika Darren mampu membeli apapun yang diinginkan olehnya.
"Aku nggak butuh. Aku bisa beli sendiri. Minggir!" Darren berbicara ketus kepada Arinda.
BRUUKK!
DUG!
Darren mendorong tubuh Arinda ke samping sehingga tubuh Arinda tersungkur. Dan laptop di tangan Arinda jatuh ke lantai. Setelah itu, Darren pergi begitu saja.
Baik keempat sahabat-sahabatnya Arinda maupun ketujuh sahabat-sahabatnya Darren terkejut ketika melihat Arinda yang tersungkur dan laptop yang juga ikut jatuh.
__ADS_1
Setelah itu, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren pergi menyusul Darren. Mereka tidak ingin membuat Darren makin bertambah marah jika tidak melihat wajah mereka.
"Hiks... Hiks," isak Arinda.
"Arinda," lirih Belinda, Carla, Cheryl dan Delina.
"Arinda," panggil Afnan.
Afnan datang bersama Vito, Naura, Velly, Nasya dan para sahabat-sahabatnya. Mereka semua menghampiri Arinda yang terlihat tak baik-baik saja.
Baik Afnan, Naura, Vito, Velly dan Nasya maupun para sahabat-sahabatnya sedari tadi melihat perdebatan antara Arinda dan Darren. Mereka awalnya ingin menghampiri Darren. Namun mereka mengurungkan niat mereka.
Jika mereka menghampiri Darreb dan berusaha membujuknya. Bisa-bisa Darren akan beranggapan kalau mereka memihak kepada Arinda. Dan berakhir masalah makin runyam. Bagaimana pun mereka semua sudah sangat paham akan sifat keras Darreb selama ini, terutama Afnan dan Naura.
GREP!
Naura memeluk Arinda. Dan tangannya mengusap lembut punggungnya. Naura dapat merasakan tubuh bergetar Arinda.
"Kakak mohon sama kamu untuk memaklumi sifat Darren ya. Jangan dimasukkan ke dalam hati setiap perkataannya. Darren memang seperti itu." Naura berbicara lembut kepada Arinda.
"Jika ada orang yang menyakitinya. Apalagi sampai menuduhnya. Darren itu akan sulit memberikan kata maaf untuk orang tersebut," ucap Vito.
"Kami sudah merasakannya," sahut Velly dan Nasya bersamaan.
Arinda melepaskan pelukannya. Setelah itu, Arinda melihat kearah Vito, Velly dan Nasya.
"Maksud kakak apa?" tanya Arinda.
Vito, Velly dan Nasya tersenyum. Begitu juga yang lainnya.
"Kami juga sama sepertimu. Kami dulu sempat menuduh adik kami pembunuh sehingga kami menjadi musuh." Nasya berucap sambil menatap wajah Arinda.
Mendengar perkataan dari Nasya membuat Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya terkejut.
"Be-benarkah?" tanya Arinda.
"Iya," jawab Vito, Velly dan Nasya bersamaan.
"Kami bertiga satu ayah dengan Darren. Sementara Afnan satu ibu dengan Darren. Sejak kejadian dimana kami menuduh Darren dan tidak mempercayai Darren. Hidup kami benar-benar hancur. Hancur akan kebencian dan dendam Darren." Velly berbicara sembari kembali mengingat perlakuan buruknya dulu.
"Jadi kakak mohon padamu untuk tidak berkecil hati. Jika kau benar-benar menyesal dan benar-benar tulus meminta maaf kepada Darren. Kakak yakin berlahan Darren pasti akan memaafkan kamu. Percayalah!" Afnan berbicara sambil memberikan semangat kepada Arinda dengan memberikan kepalan tinju ke udara.
Afnan melirik kearah laptop yang tergeletak di lantai. Laptop itu berada di dalam tas khusus. Dan tasnya juga tebal. Kemungkinan laptop tersebut tidak rusak atau hancur.
Afnan mengambil laptop tersebut dan memberikan kepada Arinda. Namun Arinda menolaknya.
"Kak, tolong berikan laptop ini kepada Darren ya. Aku mohon!"
"Baiklah. Kakak akan berikan kepada Darren. Tapi kakak tidak akan memberikannya langsung. Kakak akan menyimpannya dulu. Kalau kakak berikan langsung kepada Darren, maka nyawa laptop ini akan berakhir seketika." Afnan berbicara sambil sedikit memberikan hiburan.
"Kakak pikir laptop ini punya nyawa," sahut Arinda dengan senyuman manisnya.
"Lah kan iya. Kalau gak bernyawa. Apa laptop ini bisa dinyalakan?" tanya Afnan.
"Iyain aja deh," jawab Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya.
"Hahahaha."
Mereka semuanya tertawa mendengar jawaban kompak dari Arinda dan keempat sahabat-sahabatnya.
__ADS_1