REVENGE

REVENGE
Janji Velly Dan Nasya


__ADS_3

Sesuai yang diinginkan Vito ketika berbicara dengan Darren di telepon bahwa Vito meminta kepada adiknya itu agar diberikan izin untuk tinggal bersama di rumahnya. Tujuan Vito meminta izin adiknya itu untuk tinggal disana agar Vito bisa ikut andil menjaga adiknya itu.


Dari Darren kecil, baik itu Vito maupun keempat saudaranya yang lainnya begitu sangat menyayangi dan memanjakan Darren. Mereka selalu ada untuk Darren. Mereka selalu mengabulkan apa yang diinginkan Darren. Mereka tidak pernah menolak apapun yang menyangkut Darren. Apa yang dilakukan keluarga Smith itu pula yang dilakukan oleh keluarga Austin kepada Darren.


Apa yang telah mereka perbuat terhadap Darren itu semua adalah kebodohan dan kekhilafan mereka. Mereka terlalu buta sehingga tidak bisa melihat kebenarannya. Dan berujung adik kesayangan mereka tersakiti.


Dan dengan adanya kejadian itu membuat Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya banyak belajar. Salah satunya adalah belajar saling mempercayai. Sebesar apapun masalah yang datang. Kepercayaan itu amat sangatlah penting.


Kini di rumah Darren bukan hanya ada Lory dan Vito. Melainkan si kembar Velly dan Nasya juga ada di rumah Darren.


Baik Velly maupun Nasya, keduanya merengek kepada Darren agar diizinkan juga tinggal bersamanya. Alasan keduanya sama seperti Vito yaitu ingin menjaga Darren.


Melihat kedua kakak kembarnya merengek bak anak kecil membuat Darren pasrah dan memberikan izin keduanya untuk tinggal dengannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi Lory, Vito, Velly dan Nasya sudah bangun dari tidurnya. Kini mereka berada di dapur. Vito, Velly dan Nasya membantu Lory untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Velly, Nasya. Lebih baik kalian bangunkan Darren. Biar Kakak sama Lory yang menyiapkan sarapan paginya!" seru Vito.


"Baik, Kak!" keduanya menjawab secara kompak.


Setelah itu, Velly dan Nasya pun pergi meninggalkan dapur untuk menuju kamar Darren.


^^^


Kini Velly dan Nasya sudah berada di dalam kamar Darren. Mereka melangkah mendekati ranjang Darren.


Velly dan Nasya sudah berada di samping ranjang Darren. Keduanya tersenyum ketika menatap wajah damai Darren ketika tidur. Detik kemudian, baik Velly dan Nasya menangis. Mereka menangis teringat akan perlakuan mereka setahun yang lalu.


Velly dan Nasya merutuki kebodohannya karena lebih percaya dengan ucapan laki-laki itu dan juga video yang diperlihatkan oleh Andara. Bahkan mereka tidak mau mendengarkan penjelasan dari Darren terlebih dahulu.


Antara Velly dan Nasya. Velly yang paling bersalah terhadap Darren, adik kesayangannya. Pertemuan pertama mereka dengan adiknya, Velly menyebut Darren pembunuh dengan suara yang cukup keras sehingga terdengar oleh para pelayat.


Velly berlahan mengusap lembut kepala Darren sehingga terlihat kening mulus dan putih adiknya itu. Air mata Velly jatuh membasahi wajah cantiknya.


"Maafkan Kakak, Ren. Maafkan Kakak. Kakak seharusnya dengerin kamu saat itu dan gak langsung percaya dengan video dan omongan laki-laki sialan itu. Maafkan Kakak yang ngatain kamu pembunuh saat di pemakaman tante Amanda," ucap Joy disela tangisannya.


"Kakak Nasya juga minta maaf sama kamu, Ren. Kakak juga salah telah ikut nyakitin kamu." Nasya memegang tangan Darren lalu menggenggamnya.


"Darren! Mulai detik ini dan seterusnya. Kakak berjanji akan selalu ada untuk kamu. Kakak sudah belajar banyak dari kesalahan Kakak setahun yang lalu. Kamu benar sayang. Dalam sebuah hubungan, baik itu dalam hubungan persaudaraan, hubungan suami istri, hubungan persahabatan dan hubungan orang yang pacaran harus ada kepercayaan satu sama lainnya. Jika kepercayaan itu tidak ada dalam diri kita masing-masing. Maka hubungan itu akan hancur. Dengan adanya kepercayaan satu sama lainnya. Pihak manapun tidak akan bisa mempengaruhi kita."


"Selama kakak masih bernafas. Selama itulah kakak akan berusaha menjadi kakak yang baik untuk kamu. Kakak akan menggantikan rasa sakitmu dan rasa sedihmu sejak kejadian itu. Kamu adalah adik kesayangan kakak. Dan kakak tidak ingin kehilangan kamu lagi. Kakak tidak ingin dibenci kamu lagi. Dan kakak tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, baik sama kamu maupun sama yang lainnya."

__ADS_1


Velly berbicara sambil tangannya bermain-main di kepala Darren. Dan setelah itu, Velly memberikan kecupan sayang di keningnya Darren.


Nasya tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan dan janji Velly untuk Darren adik kesayangannya itu. Sama halnya dengan Velly. Nasya juga berjanji akan menjadi Kakak yang baik untuk Darren. Nasya akan selalu ada untuk adiknya itu. Nasya akan membuat adiknya selalu tersenyum. Dan Nasya tidak akan membuat adiknya menangis lagi.


Nasya menggenggam erat tangan Darren, lalu mengecup punggung tangan adiknya itu. "Kakak juga Darren! Kakak akan selalu ada untuk kamu. Kakak akan berusaha menjadi kakak yang baik untuk kamu."


Tanpa disadari oleh Velly dan Nasya. Vito dan Lory kini berada di luar kamar Darren. Mereka berniat untuk memanggil ketiga adik mereka yang tak kunjung turun ke bawah. Dan alhasilnya, Lory dan Vito menyusul mereka ke kamar Darren.


Ketika mereka ingin masuk ke kamar Darren. Mereka mendengar ucapan demi ucapan dari Velly dan Nasya.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Velly dan Nasya. Lory menangis bahagia. Dirinya benar-benar bahagia karena Velly dan Nasya sudah kembali menyayangi adik sepupunya.


Baik Lory dan anggota keluarga Smith sudah memaafkan kesalahan keluarga Austin. Mereka semua berharap hubungan keluarga Austin dan Darren kembali seperti dulu lagi sebelum adanya kejadian itu. Namun keluarga Smith tidak mau terlalu ikut campur karena mereka tidak ingin menyakiti Darren. Ini murni masalah intern Darren dan keluarga dari pihak ayahnya. Tugas mereka hanya menasehatinya saja.


Setelah puas memperhatikan dan menguping pembicaraan Velly dan Nasya. Lory pun memutuskan untuk masuk ke kamar Darren dan diikuti oleh Vito.


"Dari tadi kita tungguin di bawah. Tapi kalian berdua belum juga bangunin anak kelinci itu!" seru Lory.


Seketika Velly dan Nasya menghapus air matanya dengan cepat. Mereka tidak ingin melihat kedua kakak mereka melihat mereka tengah menangis. Tapi terlambat. Vito dan Lory sudah melihat mereka menangis.


Namun mereka pura-pura tidak mengetahuinya. Mereka berdua juga mengerti dan mereka juga tidak akan bertanya. Vito dan Lory bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Kak Vito, Kak Lory. Maafkan kami. Kami belum sempat bangunin anak kelinci ini. Habisnya kami gemas melihat wajah imutnya ketika sedang tertidur." Nasya menjawab pertanyaan dari Lory.


"Jangan lebay deh Kak Vito," sahut Velly.


"Gini caranya kalau mau bangunin anak kelinci ini," sahut Lory sambil mendekati ranjang Darren.


Kini Lory sudah berada di samping ranjang Darren. Lory mendekatkan wajahnya ke telinga Darren kemudian membisikkan sesuatu di sana.


"Hei, anak kelinci. Mau sampai jam berapa tidurnya. Jika kamu gak bangun sekarang. Kamar kamu akan kakak buat menjadi gudang sampah."


Seketika Darren membuka kedua matanya ketika mendengar ucapan dan nada ancaman dari Lory.


Sementara Vito, Velly dan Nasya tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mengetahui cara Lory yang membangunkan adiknya tidur.


Darren langsung menduduki tubuhnya dengan menatap horor kakak sepupunya itu. Dan jangan lupakan bibir yang sudah melengkung ke bawah.


"Apa gak ada cara yang lebih baik lagi saat membangunkan aku, Lory Smith!" Darren berucap sembari menatap kesal kakaknya itu.


Lory yang mendengar ucapan adiknya sembari menyebut namanya lengkap dengan marga dan tanpa ada kata kakak di depan namanya membuat Lory mendengus kesal.

__ADS_1


"Sudah berani ya sekarang, hum! Mau kakak cubit mulutnya itu," ucap Lory.


"Memangnya kakak tega sama aku?" tanya Darren sambil memperlihatkan wajah bak anak kecil yang imut kepada Lory.


Lory yang melihat hal itu langsung menghembuskan nafas kasarnya.


"Huff!"


Vito, Velly, dan Nasya hanya tersenyum melihat kedua kakak adik itu.


"Hei, kita disini bukan untuk menyaksikan perdebatan kalian berdua," sahut Nasya.


"Jangan jadikan kami obat nyamuk disini," sela Velly.


Lory dan Vito tersenyum. Sementara Darren langsung mengalihkan perhatiannya melihat Vito, Velly dan Nasya. Dirinya baru sadar, ternyata di kamarnya bukan hanya ada Lory melainkan ada ketiga kakaknya yang lainnya.


"Kak Vito, kak Velly, kak Nasya." Darren menyebut satu persatu nama kakak-kakaknya.


"Selamat pagi adik kakak yang paling tampan," ucap Vito, Velly dan Nasya bersamaan sembari tersenyumlah hangat menatap wajah Darren.


"Selamat pagi juga Kak," jawab Darren kikuk. Mereka tersenyum.


"Ya, sudah. Kamu mandi sana. Bukankah hari ini kamu kuliah?" ucap dan tanya Lory.


"Sudah jam berapa?" tanya Darren.


"Sudah setengah delapan," jawab Vito.


"Yak! Jam setengah sembilan aku harus ketemu Rektor untuk membahas kegiatan BAKSOS."


Darren langsung turun dari tempat tidurnya dan langsung buru-buru ke kamar mandi.


Sementara Lory, Vito, Velly dan Nasya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya.


"Kalian juga sih. Kenapa gak langsung dibangunin Darren nya? Kan kasihan tuh harus buru-buru gitu," ucap Vito.


"Maaf kak Vito. Bukan kita sengaja," jawab Nasya.


"Iya, Kak! Kita niatnya mau bangunin Darren. Eh, saat kita lihat wajah Darren yang sedang tertidur. Aku dan Nasya jadi gemes sendiri. Wajah Darren seperti anak kecil yang imut dan menggemaskan kalau sedang tidur. Apalagi ini pertama kalinya setelah kita baikan." Velly menjawab perkataan Vito.


"Ya, sudah kalau begitu. Lebih baik kita ke bawah!" seru Lory.

__ADS_1


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan kamar Darren untuk menuju lantai bawah.


__ADS_2