REVENGE

REVENGE
Kesedihan Clarissa


__ADS_3

[Kediaman Keluarga Austin]


Clarissa dan Felix menatap khawatir putra bungsunya. Bagaimana tidak khawatir. Darren pulang dari kampus dalam keadaan yang tidak baik-baik saja dan di gendong oleh Afnan di punggungnya ketika memasuki rumah.


Kini semuanya ada di dalam kamarnya Darren, termasuk anggota keluarga Smith dan keluarga Julian.


Keluarga Smith mendapatkan kabar dari Naura tentang kondisi Darren yang kembali drop. Sementara keluarga Fernandez memang sudah merencanakan untuk mengunjungi keluarga Austin. Mereka sudah sangat merindukan keluarga Austin, terutama terhadap Darren.


"Kenapa Darren bisa drop lagi? Apa ada masalah?" tanya Ronald.


"Ataya," jawab Vito, Velly dan Nasya bersamaan.


Mendengar nama Ataya membuat anggota keluarga paham, kecuali Clarissa. Dirinya tidak tahu mengenai sosok Ataya.


"Ataya? Siapa Ataya?" tanya Clarissa.


Mereka semua melihat kearah Clarissa. Dan mereka semua pun menyadari bahwa hanya Clarissa yang belum mengenal sosok Ataya. Mereka semua merutuki kebodohan masing-masing karena tidak memberitahu Clarissa. Mereka hanya memberitahu Clarissa bahwa Ataya kekasihnya Darren.


"Ataya itu adalah perempuan yang begitu dicintai Darren, Ma! Bukannya aku dan yang lainnya sudah beritahu Mama." Saskia berbicara sembari menatap wajah ibunya.


Mendengar perkataan dari putri sulungnya. Clarissa tersenyum dan matanya menatap wajah sedikit pucat Darren. Di dalam hatinya membenarkan perkataan putrinya bahwa putrinya dan yang lainnya sudah memberitahu tentang Ataya. Dan dirinya sedikit melupakannya.


"Lalu dimana Ataya? Kenapa Ataya tidak datang? Apa Ataya dan Darren bertengkar?" tanya Clarissa yang tangannya membelai rambut Darren lembut.


Mendengar pertanyaan dari Clarissa. Mereka semua terdiam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.


"Lebih baik kita bicara diluar saja agar Darreb tidak terganggu dengan suara kita," sahut Julian.


Mendengar perkataan dari Julian. Mereka semua pun pergi meninggalkan Darren.


Sebelum mereka pergi meninggalkan Darren. Mereka semua secara bergantian memberikan ciuman di kening Darren.


^^^


Kini mereka semua sudah berada di ruang tengah. Clarissa menatap satu persatu wajah anggota keluarganya, terutama keempat anak-anaknya.


"Sekarang katakan padaku. Apa yang tidak aku ketahui tentang putra bungsuku selama aku dinyatakan meninggal?" tanya Clarissa dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Sayang, ini semua berawal dariku dan kelima anak-anakku. Aku dan kelima anak-anakku tidak mempercayai Darren, putra bungsu kita. Kami menyebutnya pembunuh. Bahkan kami juga tidak memberikan kesempatan Darren untuk melihat wajahmu untuk terakhir kalinya."


Felix berbicara dengan menatap wajah Clarissa dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Felix menangis ketika menceritakan kembali kejadian itu. Hatinya benar-benar sakit setiap kali mengingat kejadian tersebut.


"Mama. Maafkan kami yang telah berlaku buruk terhadap Darren," ucap Velly.


"Kami yang membuat Darren seperti ini," sela Nasya.


Clarissa hanya diam mendengar pengakuan suami dan kedua anak tirinya. Walau Clarissa sudah mengetahuinya dari pengakuan suami dan anak-anaknya. Tapi Clarissa belum mengetahui kondisi putra bungsunya setelah kejadian itu.


"Ceritakan semuanya tentang putra bungsuku. Jangan ada yang terlewatkan!" Clarissa berbicara dengan wajah datar dan dingin.


Clarissa benar-benar tidak bisa melihat anak-anaknya tersakiti. Sekali pun anak-anaknya berbeda ayah. Tapi bagi Clarissa mereka adalah anak-anaknya. Darah dagingnya. Dirinya yang mengandung selama sembilan bulan. Dan dirinya juga yang melahirkan kelima anak-anaknya itu dengan mempertaruhkan nyawanya. Apalagi ketika Clarissa mengingat saat melahirkan putra bungsunya. Putra bungsunya dinyatakan meninggal dunia.


Mendengar perkataan dan wajah dingin Clarissa membuat mereka semua sedikit takut. Baru kali ini mereka melihat wajah Clarissa seperti saat ini.


Robert selaku ayah, Erland, Ronald dan Clara selaku kakak laki-laki dan adik perempuannya sangat mengerti akan sifat protektif Clarissa terhadap anak-anaknya. Clarissa begitu menyayangi semua anak-anaknya. Baik anak-anaknya dari pernikahan pertamanya maupun anaknya dari pernikahan keduanya.


Clarissa paling tidak suka jika ada orang yang menyakiti anak-anaknya. Clarissa tidak peduli orang-orang yang menyakiti anak-anaknya itu dari keluarganya sendiri, keluarga dari mantan suaminya maupun dari keluarga suaminya yang sekarang ini. Jika sudah menyangkut anak-anaknya, maka Clarissa akan bertindak.


"Ma. Setidaknya lakukan untuk Darren. Kasihan Darren kalau kembali mengingat kejadian itu." Nuria juga ikut membujuk ibunya.


Clarissa menatap wajah cantik kedua putrinya. Detik kemudian, Clarissa tersenyum tulus dan hangat untuk kedua putrinya.


"Apa kalian berpikir Mama akan marah dan juga membenci Papa serta saudara-saudari kalian? Jawabannya tidak sayang. Mama tidak akan marah atau pun membenci Papa dan saudara-saudari kalian itu. Bagaimana mereka adalah suami dan anak-anak Mama. Mama menyuruh kalian menceritakan semua tentang Darren selama Mama tidak ada. Apa saja yang dialami oleh Darren. Dengan begitu Mama bisa menggantikan semuanya."


"Kalau Mama mau marah atau Mama ingin membenci Papa dan saudara-saudari kalian. Sudah Mama lakukan kemarin-kemarin dimana Papa dan saudara-saudari kalian mengaku kesalahannya di depan Mama."


Mendengar perkataan dari Clarissa. Mereka semua tersenyum dan bernafas lega. Awalnya mereka berpikir jika Clarissa akan marah dan membenci suami dan kelima anak-anak tirinya. Ternyata pikiran mereka salah.


Felix dan kelima anak-anaknya juga ikut merasakan kelegaan. Istrinya/ibunya tidak marah dan tidak membencinya.


"Setelah kejadian itu kondisi kesehatan Darren menurun. Darren sering jatuh sakit dan juga pingsan. Darren tertekan dan juga stress. Darren tertekan akan masalah yang selalu menghampiri hidupnya sehingga berakhir stres. Bahkan Darren pernah melakukan percobaan bunuh diri." Marco berbicara dengan nada bergetar ketika mengingat kejadian dimana adiknya yang ingin menyayat urat nadinya.


Clarissa terkejut ketika mendengar perkataan dari Marco. Clarissa tidak mengira jika putra bungsunya berniat ingin mengakhiri hidupnya.


"Darren sampai nekat seperti itu karena selalu disebut sebagai pembunuh. Dan ditambah lagi Darren selalu menyalahkan dirinya karena gagal menyelamatkan Mama dan tante Amanda." Afnan berucap.

__ADS_1


"Kondisi kesehatan Darren makin menurun dan Darren makin tertekan dimana pelaku pembunuhan tante Clarissa dan tante Amanda belum terungkap. Justru Darren dihadapkan dengan masalah baru." Qenan juga ikut berbicara.


"Masalah barunya itu adalah Ataya," sahut Alfin.


"Kenapa dengan Ataya? Apa Ataya meninggalkan Darren?" tanya Clarissa.


"Ataya meninggal tante," jawab Garvin.


"Apa? Me-meninggal," ucap Clarissa dengan suara bergetarnya.


"Iya, Tan! Ataya meninggal karena dibunuh," jawab Devano.


"Ataya dibunuh karena ulah dari sekretarisnya Darren," kata Tamara.


"Sekretarisnya itu menyukai Darren dan ingin memiliki Darren sepenuh. Dikarenakan Darren sudah memiliki Ataya. Makanya sekretarisnya itu meminta bantuan kepada kelompok mafia untuk membunuh Ataya. Jadi dengan Ataya meninggal, maka sekretarisnya itu bisa memiliki Darren sepenuhnya," sahut Marco.


Clarissa menangis ketika mendengar cerita tentang putra bungsunya. Dirinya tidak menyangka jika hidup putranya jauh dari kata baik, terutama kesehatannya.


Felix yang duduk di samping istrinya langsung mengusap lembut punggungnya. Felix merasakan sesak di dada ketika melihat Clarissa menangis.


"Sayang. Maafkan aku. Jika saat itu aku lebih memilih percaya dengan putra bungsu kita. Maka putra bungsu kita tidak akan menderita seperti ini. Aku gagal menjadi ayah untuk putra bungsu kita. Aku orang yang harus disalahkan." Felix berbicara dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.


Clarissa langsung menolehkan wajahnya melihat kearah suaminya. Clarissa melihat suaminya yang sudah menangis.


Clarissa menggenggam tangan suaminya. "Aku sudah memaafkanmu sayang. Semuanya sudah terjadi. Dan kamu tidak perlu mengingat-ingatnya kejadian itu lagi. Bukankah hubungan kamu dengan putra bungsumu itu sudah membaik. Sekarang lakukanlah tugasmu. Jadilah ayah yang baik dan perhatian untuknya. Ingat, Felix! Kamu sudah kehilangan putra bungsumu untuk yang kedua kalinya. Pertama, ketika Darren dilahirkan Dokter menyatakan bahwa Darren meninggal. Kedua, kejadian saat aku meninggal kau tidak mempercayai Darren dan menuduh Darren sebagai pembunuh sehingga berakhir Darren membencimu. Sekarang Darren telah kembali padamu. Jaga dia dan lindungi dia."


Felix tersenyum. "Baik sayang. Tanpa kau minta pun Aku akan melakukannya. Aku tidak ingin kehilangan putraku lagi."


Clarissa tersenyum mendengar jawaban dari suaminya, lalu Clarissa kembali menatap anggota keluarga lainnya


"Lalu bagaimana dengan pola makannya Darren? Apa Darren masih sama seperti dulu sebelum kejadian itu?" tanya Clarissa.


"Mama sudah tahu jawabannya," sahut Nuria.


"Dan Mama juga sudah tahu bagaimana sifat putra bungsu Mama itu," ucap Afnan.


Mendengar jawaban dari Nuria dan Afnan. Clarissa tersenyum. Clarissa memang sangat tahu dan hafal akan sifat putra bungsunya itu.

__ADS_1


__ADS_2