REVENGE

REVENGE
Dalang


__ADS_3

Semua anggota keluarga berada di ruang rawat Raka, termasuk keluarga Smith dan keluarga Fernandez. Mereka semua menatap sedih kearah Raka.


Darren berlahan melangkahkan kakinya menuju ranjang Raka. Dan jangan lupakan air matanya yang mengalir membasahi wajahnya. Mereka yang melihatnya menjadi iba dan tidak tega.


Kini Darren sudah berada di samping ranjang kakaknya. Tangannya pun langsung memegang tangan kakaknya yang terbebas dari infus.


"Kakak Raka... Hiks." Darren terisak.


"Sayang." Clarissa mengusap lembut kepala belakang putranya.


"Mama, aku takut... Hiks."


GREP!


Clarissa langsung memeluk putra bungsunya dan mengusap-ngusap lembut punggungnya.


"Percayalah! Kakak kamu itu kakak yang paling kuat. Sebentar lagi kakakmu pasti akan bangun."


Ketika Darren dipeluk oleh ibunya, tiba-tiba Darren merasakan genggaman di tangannya. Darren langsung melepaskan pelukan ibunya dan langsung mengalihkan pandangannya kearah tangannya.


"Ka-kak Raka" ucap Darren.


Mendengar ucapan Darren dan melihat tatapan Darren ke bawah. Lebih tepatnya kearah tangannya dan tangan Raka membuat mereka semua menatap Darren dan Raka secara bergantian.


Mereka semua terkejut dan juga bahagia ketika melihat tangan Raka yang bergerak menggenggam tangan Darren.


"Kak Raka," ucap Darren.


Darren membalas menggenggam tangan Raka.


Berlahan Raka membuka matanya yang sudah tertutup selama tiga jam setelah selesai operasi.


Mereka semua kembali tersenyum. Dan senyuman kali ini adalah senyuman kebahagiaan dan kelegaan.


Darren menatap wajah Raka. Begitu juga Raka. Dan detik kemudian, keduanya tersenyum.


"Kakak."


"Ren," lirih Raka sembari tangannya menggenggam tangan adiknya.


"Aku senang kakak bangun. Kakak jahat," ucap Darren.


Raka hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya yang mengatakan dirinya jahat.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu? Apa ada yang sakit, hum?" tanya Clarissa dengan tangannya membelai rambut Raka dan mencium keningnya.


"Aku baik-baik saja, Ma! Hanya punggungku terasa nyeri," jawab Raka.


"Untung kamu cepat sadar, kak Raka! Kalau kakak nggak segera sadar setelah selesai operasi. Masalah akan semakin buruk!" seru Marco.


"Kenapa bisa begitu? Memangnya apa yang akan terjadi?" tanya Raka kepada Marco.


Raka menatap Marco bingung.

__ADS_1


Marco melirik kearah adik bungsunya. Mereka yang melihat Marco yang melirik kearah Darren langsung mengerti. Mereka semua diam-diam tersenyum evil.


Darren yang mengetahui akal bulus kakaknya itu dan menyadari orang-orang ada di sekitarnya tengah menatapnya. Dirinya hanya bisa mendengus dan mengumpat di dalam hati.


Raka menatap satu persatu anggota keluarganya. Setelah itu, kembali menatap wajah adiknya. Seketika Raka ingin tersenyum.


Melihat Raka yang tersenyum, Darren pun langsung bersuara.


"Gak usah senyum," sahut Darren dengan menatap kesal Raka.


Raka seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan adiknya. Dirrinya tidak menyangka jika adiknya tahu bahwa dirinya ingin tersenyum.


"Kalian juga. Jika kalian masih saja tersenyum, maka aku akan mengabaikan kalian selama satu tahun!" seru Darren.


GLEK!


Mereka secara bersamaan menelan air ludahnya takut dan terkejut. Dan dengan kompaknya, mereka semua melihat kearah Darren.


"Gak usah liat aku kayak gitu. Aku tahu arti dari senyuman kalian itu. Dan untuk kakak Marco. Aku lagi gak mood untuk bercanda." Darren berbicara dengan wajah kesalnya.


"Hehehehe. Adik manisnya kakak ngambek ya," ucap Marco sambil mengelus kepala belakang adiknya.


Darren menatap Raka intens. Raka yang melihat tatapan mata adiknya paham. Raka kemudian tersenyum dan tangannya kembali menggenggam tangan adiknya.


"Kakak baik-baik saja. Hanya dua tembakkan yang mengenai punggung kakak. Dan dua tembakkan itu tidak membuat kakak mati." Raka berbicara sambil tersenyum.


"Kakak pikir ini lucu," sahut Darren dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Raka yang melihat adiknya yang akan menangis menjadi tidak tega dan merutuki dirinya akan ucapannya tersebut. Raka tahu bagaimana sifat sensitif adiknya itu.


"Kakak tahu tidak bagaimana perasaan aku ketika Kakak yang tiba-tiba menghadang peluru itu demi melindungiku?" tanya Darren.


Raka hanya diam dan tak berkomentar. Raka menatap wajah adiknya dan mendengar setiap ucapan adiknya itu. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Dan keempat sahabatnya.


"Hati aku benar-benar hancur kak. Aku harus kembali melihat orang-orang yang aku sayangi terluka di depanku. Apalagi orang itu terluka karena ingin melindungiku." Darren berbicara dengan menatap sedih dan rasa bersalahnya kearah Raka. Dan Raka menyadari hal itu.


"Maafkan kakak yang sudah buat kamu nangis dan ketakutan." Raka menggenggam tangan adiknya.


"Sayang, dengarkan kakak. Kamu adalah adiknya kakak. Apapun akan kakak lakukan untuk kamu. Tidak ada seorang Kakak yang hanya diam saja ketika matanya melihat nyawa adiknya dalam bahaya."


Mendengar perkataan dari sang Kakak. Seketika air matanya mengalir membasahi wajah tampannya. Darren menangis.


Raka yang melihat adiknya menangis tersenyum manis. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata adiknya itu.


"Jelek kalau nangis. Kakak nggak mau lihat kamu nangis. Tetaplah tersenyum."


Melihat interaksi antara Darren dan Raka. Dan mendengar pembicaraan keduanya membuat mereka semua merasakan kebahagiaan di dalam hati masing-masing.


"Kakak sayang kamu banyak-banyak," ucap Raka sembari memperlihatkan senyumannya.


"Aku juga sayang kakak Raka," jawab Darren.


Ketika mereka semua tengah bahagia dan bersyukur melihat kondisi Raka yang tidak terluka parah dan baik-baik saja, walau mendapatkan dua tembakkan di punggungnya. Ponsel milik Darren tiba-tiba berdering.

__ADS_1


Mendengar ponsel miliknya berdering, Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya. Terlihat nama 'Zidan' sahabatnya. Dan tanpa pikir panjang lagi. Darren pun langsung menjawabnya.


"Hallo, Dan. Ada apa?"


"Hallo, Ren. Bagaimana keadaan Kak Raka? Aku dengar dari Barra kalau kak Raka tertembak."


"Iya. Kak Raka memang tertembak. Tapi keadaannya baik-baik saja."


"Kok bisa?"


"Biasalah. Kak Raka ingin mengetes tubuhnya apakah tubuhnya itu tahan ketika terkena peluru. Eeh, ternyata dugaannya salah. Baru kena dua tembakkan. Kak Raka langsung KO." Darren berbicara seenak jidatnya.


Mendengar perkataan dari Darren membuat Raka, anggota keluarganya dan keempat sahabatnya melongo dan membelalakkan kedua matanya. Mereka benar-benar tidak menyangka jika Darren berkata seperti itu.


"Dasar siluman kelinci sialan," batin Raka.


"Oh iya! Ren, aku sudah tahu siapa dalang dari orang-orang yang menghadang dan ingin menculik keempat kakak sepupu kamu."


Mendengar perkataan dari Zidan. Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya. Melihat senyuman di bibir Darren membuat mereka semua langsung paham akan arti dari senyuman itu.


"Siapa mereka? Dan dari kelompok mana mereka semua?"


"Dalang yang sudah membayar kelompok itu ada tiga orang. Mereka bersekutu. Ketiganya adalah rival nya om Erland, om Ronald dan om Steven."


Mendengar hal itu membuat Darren menggeram marah. Lagi-lagi ada orang yang cemburu, iri dan dengki dengan keberhasilan keluarganya.


"Awalnya mereka hanya menculik tiga kakak sepupu kamu yaitu kak Lory, kak Tamara dan kak Naura. Dikarenakan kak Lory pergi bareng kak Cavitta. Akhirnya kak Cavitta juga ikut dalam penculikan itu."


"Jadi maksud kamu. Mereka ngincar putri bungsu dari om Erland, om Ronald dan om Steven. Begitu?"


"Iya, Ren!"


"Brengsek!"


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua tampak marah. Sama hal seperti Darren. Lagi-lagi orang-orang diluar sana iri dan cemburu akan keberhasilan mereka didunia bisnis dan rela melakukan apa saja untuk menghancurkan saingannya itu.


"Katakan padaku, Dan! Siapa mereka dan dari kelompok mana mereka?"


"Rival dari om Erland dari Perusahaan DG'CR COMPANY, rival om Ronald dari Perusahaan HR'Jrdan dan rival dari om Steven adalah Perusahaan LN'Troye."


"Mereka dari keluarga Christopher, Jordan dan Troye. Perusahaan mereka berada diurutan ke 20, 21 dan 22. Begitu juga dengan urutan kekayaan mereka."


"Tujuan mereka menculik ketiga kakak sepupu kamu itu adalah mereka menginginkan posisi kedudukan Perusahaan milik om Erland, om Ronald dan om Steven. Kelompok yang menyerang dan menghadang mobil keempat kakak sepupu kamu dari kelompok mafia DRAGON."


Mendengar apa yang disampaikan oleh Zidan padanya membuat Darren benar-benar marah. Ditambah lagi ketika mendengar nama kelompok mafia DRAGON.


"Kau dan kelompok mafiamu kembali berulah. Kau dan kelompokmu kembali mengusikku dan keluargaku. Kali ini aku tidak akan mengampunimu. Aku akan benar-membunuhmu, kelompokmu dan seluruh anggota keluargamu," batin Darren.


"Apa kau sudah melacak mereka semua?"


"Sudah, Ren! Aku dan Reno sudah mendapatkan semuanya tentang mereka. Tinggal kapan membalasnya."

__ADS_1


"Bagus. Ya, sudah! Aku akan bahas masalah ini dengan keluargaku."


Setelah berbicara dengan Zidan. Darren pun mematikan panggilannya.


__ADS_2