
Darren saat ini berada di sofa ruang tengah dengan laptop di pangkuannya. Darren tengah fokus menatap layar laptopnya.
Darren sedang mengecek email yang dikirim oleh tangan kanannya Reno. Dalam email berisi data-data dua Perusahaan yang tiba-tiba saja memutuskan kerja samanya dengan Perusahaan DRN'CORP.
"Kalian sudah salah bermain-main denganku. Enak saja kalian memutuskan kerja sama secara sepihak tanpa memberitahuku. Kalian memutuskan kerja disaat proyek sedang berjalan dan Perusahaanku sudah mengeluarkan uang yang lumayan banyak. Kalian mendepakku dan mencari penggantiku. Baiklah jika itu inginkan. Aku akan mengikuti permainan kalian. Aku akan membuat kalian berdua kehilangan Perusahaan kalian!" Darren berbicara sambil matanya menatap layar ponselnya.
Ketika Darren sedang fokus dengan layar laptopnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Darren melihat kearah ponselnya dan dilihat olehnya nama tangan kanannya yaitu Reno di layar ponselnya.
Tanpa berpikir panjang lagi Darren langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo, Reno! Bagaimana? Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan?"
"Sudah, Bos! Dua Perusahaan itu sedang mencari pengganti Bos. Dan sesuai keinginan Bos. Wakil Perusahaan cabang kita yang menggantikan posisi Bos dalam melanjutkan kerja sama dalam proyek itu. Bahkan kedua Perusahaan itu mengatur ulang dari awal dengan rekan kerja barunya itu. Bahkan kedua Perusahaan itu tidak membahas masalah Perusahaan milik Bos. Kedua Perusahaan itu sudah mendapatkan pembayaran sebesar $20000 dari kita."
"Bagus. Buat kedua Perusahaan itu mengalami kegagalan sehingga kedua Perusahaan itu harus mengganti kerugian kepada rekan kerja barunya itu dengan lima kali lipat. Jika kedua Perusahaan itu tidak mampu membayar kerugian tersebut. Maka mereka harus bersiap-siap untuk kehilangan Perusahaannya."
"Baik, Bos."
Setelah mengatakan itu, Darren pun langsung mematikan panggilannya. Dan ketika kemudian, terukir senyuman di sudut bibirnya.
"Sebentar lagi Perusahaan kalian akan menjadi milikku," ucap Darren pelan.
Setelah mengucapkan itu, tiba-tiba Darren teringat tentang kejadian kemarin sore dimana dirinya membanting ponsel miliknya. Dan untungnya Darren memiliki lebih dari satu ponsel.
Penyebab Darren yang berteriak dan membanting ponselnya hingga hancur. Itu dikarenakan Darren mendapatkan kabar dari tangan kanannya Maxi.
Maxi mengatakan bahwa pemuda yang bernama Cemal telah melakukan kecurangan terhadap dirinya melalui Perusahaan DRN'CORP.
Maxi juga mengatakan bahwa pemuda yang bernama Cemal itu mencari tahu latar belakang dirinya. Salah satunya adalah Perusahaan miliknya. Alhasil, Cemal berhasil menemukan satu nama milik Darren. Perusahaan itu adalah DRN'CORP.
Maxi mengatakan pada Darreb bahwa dua Perusahaan yang bekerja sama dengan Perusahaan DRN'CORP adalah milik ayah dan paman dari Cemal.
Mengetahui hal itu, Cemal pun mengambil kesempatan tersebut untuk membalas kekalahannya saat kejadian dimana Cemal ingin membawa Arinda pergi secara paksa. Dan kemudian Darren serta ketujuh sahabat-sahabatnya datang dan menggagalkan rencananya.
"Cemal. Tunggu saja kabar kehancuran Perusahaan milik ayah dan pamanmu. Kedua Perusahaan itu akan jatuh ke tanganku," batin Darren.
Saat Darren sedang bermain-main dengan pikirannya, tiba-tiba Darren dikejutkan dengan suara kakak-kakaknya.
"Darren," panggil mereka secara bersamaan.
Darren mengalihkan perhatiannya untuk melihat kearah kakak-kakaknya. Dan dapat dilihat olehnya semua kakak-kakaknya sudah duduk di sofa. Sementara Saskia langsung duduk di samping adiknya.
"Ngapain? Gangguin aja," ucap Darren dengan wajah masamnya.
__ADS_1
Mereka yang mendengar ucapan dari Darren hanya bisa pasrah akan sikap adik bungsunya. Mereka tahu bahwa adiknya itu masih dalam keadaan mood yang buruk.
"Sayang," ucap Saskia lembut sambil tangannya bermain di kepala belakang adiknya.
"Apa sayang-sayang," jawab Darren yang tatapan matanya menatap layar laptopnya.
"Ih, kok gitu jawabnya! Kan kakak nggak ada salah sama kamu. Kenapa kakak diambekin juga?" ucap dan tanya Saskia yang kini tangannya berpindah mengelus wajah putih adiknya.
"Bodo," jawab Darren singkat dengan tatapan masih fokus ke layar laptopnya.
"Hah!" Saskia hanya bisa menghela nafasnya mendengar jawaban dari adiknya itu. Begitu juga dengan yang lainnya.
Afnan berdiri dari duduknya, lalu berpindah duduk di samping adiknya yang keras kepala itu.
Setelah duduk di samping adiknya itu, Afnan langsung memeluk tubuh adiknya dan mengucapkan kata maaf.
"Maafkan kakak ya, Ren! Kamu salah paham sama kakak kemarin. Kakak nggak membela Arinda. Dan Arinda sama sekali nggak ada menghasut kakak, Vito, Velly, Nasya dan Naura buat bicara sama kamu. Nggak ada sayang." Afnan berbicara lembut kepada adiknya. Afnan berharap adiknya mau mengerti dan juga percaya.
"Iya, Ren! Apa yang dikatakan kak Afnan benar? Kita nggak belain Arinda ataupun terhasut sama omongan Arinda. Memang kemarin kak Afnan bilang ingin membahas masalah Arinda. Tapi bukan membahas masalah kamu dan Arinda melainkan masalah lain. Yang menjadi topik pembicaraannya memang Arinda."
Velly juga ikut menyakinkan adiknya dan membuat adiknya itu percaya padanya dan juga kepada Afnan, Vito, Nasya dan Naura.
"Iya, Ren! Itu benar. Jadi kakak mohon sama kamu. Kamu percaya ya sama kakak, kak Afnan, kak Naura, kak Velly dan kak Nasya." Vito berbicara sambil menatap wajah adiknya.
Afnan melepaskan pelukannya, lalu matanya menatap wajah adiknya dari samping.
"Ayolah, Ren! Maafkan kakak ya. Kakak janji bakal beli apa yang kamu mau. Pleeaasseee!!" Afnan berbicara sambil jari telunjuknya menekan-nekan pipi adiknya. Bahkan sesekali Afnan mencubit gemas pipi adiknya itu.
Saskia, Nuria, Marco, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tersenyum ketika melihat sikap Afnan yang sedang berusaha merayu Darren.
Darren melirik sekilas ke samping untuk sekedar melihat wajah kakaknya itu. Setelah itu, Darren kembali menatap ke layar laptopnya.
Melihat kelakuan adiknya membuat Afnan seketika mendengus kesal. Dirinya menatap horor adiknya itu.
"Dasar keras kepala. Siluman kelinci sialan. Sudah baik-baiki, sudah dirayu-rayu. Masih saja gagal," batin Afnan menatap kesal adiknya itu.
Beberapa detik kemudian, Afnan pun mendapatkan ide cemerlang. Semoga dengan ide tersebut bisa membuat adiknya menatapnya.
"Yak! Siluman kelinci kurap! Kamu itu punya hati nggak? Kamu punya perasaan nggak? Kenapa sih susah sekali bujukin kamu?"
Mendengar perkataan dari Afnan membuat Darren membelalakkan matanya dan mulutnya sedikit terbuka dan berbentuk huruf o karena terkejut.
Seketika Darren menolehkan wajahnya melihat kearah kakaknya itu dengan tatapan terkejut.
__ADS_1
Saskia, Nuria, Marco, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya langsung memekik gemas di dalam hati mereka masing-masing ketika melihat wajah Darren yang benar-benar lucu dan menggemaskan. Sudah layaknya kaya anak kecil berusia 5 tahun.
Bahkan Afnan yang melihat dari dekat berusaha menahan senyumannya ketika melihat wajah lucu dan menggemaskan adiknya itu. Jika tidak memikirkan bahwa adiknya sedang marah padanya mungkin saat ini juga Darren sudah memberikan dua cubitan di kedua pipi adiknya itu.
Seketika raut wajah Darren berubah masam dan juga merengut menatap wajah Afnan.
Afnan yang melihat perubahan wajah adiknya seketika menelan air ludahnya kasar.
"Mampus. Sebentar lagi sikelinci bakal ngamuk," batin Afnan.
Sementara Saskia, Nuria, Marco, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya tersenyum geli ketika melihat ekspresi wajah kedua saudaranya itu.
"Kak Afnan benar-benar menyebalkan. Sudah tahu salah. Malah membuat kesalahan lagi," sahut Darren.
Darren langsung membuang wajahnya ke depan dan kembali menatap layar laptopnya.
"Bukannya berusaha lebih keras lagi untuk membujuk aku atau merayu aku. Kak Afnan malah seenaknya ngatain aku siluman kelinci," ucap Darren dengan mempoutkan bibirnya.
Mendengar perkataan dan melihat wajah manyun adiknya membuat Afnan merasa bersalah. Tapi Afnan bahagia saat ini karena adiknya mau bicara dengannya. Ya, walaupun masih terdengar nada ketus dan juga nada kesal. Tapi Afnan tidak mempermasalahkan hal itu.
GREP!
Afnan memeluk tubuh adiknya itu dengan erat dan disertai dengan kata-kata sayang yang keluar dari mulut Afnan.
"Ikatan keluarga sejati bukan tentang satu darah yang sama, namun rasa hormat dan kasih sayang kepada sesama. Seperti halnya kakak yang sangat sayang sama kamu. Apapun itu akan kakak korbankan untuk kebaikanmu. Kakak menyayangi kamu. Selamanya!"
Darren yang mendengar kata-kata indah dari kakaknya itu tersenyum haru.
"Tak ada cinta yang lebih dari seorang kakak kepada adik-adiknya. Seorang kakak adalah benteng yang kokoh untuk melindungi adiknya. Seorang kakak adalah petunjuk terbaik untuk membimbing adiknya. Terima kasih kakak selama ini telah menjadi pelengkap dalam hidupku. Aku menyayangi kakak. Jangan pernah bosan untuk terus menyayangiku, menjagaku dan juga menasehatiku."
Seketika air mata Afnan jatuh membasahi wajahnya kala mendengar ucapan dari adiknya. Afnan mengeratkan pelukannya.
Setelah puas memeluk tubuh adiknya. Afnan pun melepaskan pelukannya itu. Afnan menatap wajah adiknya, lalu mengecup kening adiknya.
"Kakak nggak akan pernah bosan untuk memberikan kasih sayang, perhatian, perlindungan kepadamu. Sekali pun nanti kakak sudah memiliki pasangan, lalu menikah dan punya anak. Kakak nggak akan pernah melupakan tanggung jawab kakak sebagai kakak untuk kamu." Afnan berucap dengan kesungguhan hatinya. Sedangkan Darren tersenyum mendengar ucapan dari Afnan, kakak kesayangannya.
"Kami juga!" seru Saskia, Nuria, Marco, Raka, Satya, Vito, Velly dan Nasya bersamaan.
"Walau kita sudah menikah nantinya. Kita akan terus bersama-sama," sahut Nuria.
"Kita akan terus saling menjaga dan saling melindungi," ucap Nasya.
"Hm." mereka semua menganggukkan kepalanya.
__ADS_1