REVENGE

REVENGE
Menyiapkan Sebuah Berkas


__ADS_3

Keesokkan paginya di rumah Darren terlihat Darren, Lory, Vito, Velly dan Nasya sedang menyantap sarapan paginya. Mereka menyantap sarapan paginya dengan penuh kebahagiaan.


"Apa rencana kamu selanjutnya, Ren?" tanya Lory.


"Yang pastinya pagi ini aku sedang menunggu bajingan itu keluar dari persembunyiannya Kak," jawab Darren sambil mengunyah makanannya.


Baik Lory, Vito, Velly dan Nasya saling lirik satu sama lain. Kemudian mereka tersenyum penuh seringai.


"Keluar dalam keadaan amarah yang membuncah," sahut Lory, Vito, Velly dan Nasya bersamaan.


"Hm." Darren mengangguk.


"Pasti wajah bajingan itu memerah karena amarah ketika mengetahui seluruh anggota keluarganya mati dan kelompok mafianya telah binasa." Velly berucap sambil membayangkan wajah marah dan wajah murka seorang Arnold Yoseph.


"Hahahaha." Lory dan Nasya tertawa. Sementara Darren dan Vito hanya tersenyum.


"Bukan itu saja Velly. Bajingan itu pasti akan berubah menjadi singa yang kelaparan untuk mencari tahu siapa orang yang sudah membantai habis seluruh anggota keluarganya dan juga kelompok mafianya." Lory berucap dengan wajah bahagianya.


Keempat sahabat Darren yaitu Zidan, Chico, Barra dan Chello beserta empat tangan kanannya dan bersama keempat kakak sepupunya telah berhasil membunuh dan membantai semua anggota keluarga Cassandra, keluarga Jecolyn dan kelompok mafia SINALOA tanpa ada yang tersisa. Beserta dengan empat kelompok pendukung. Bahkan markas dan rumah milik keluarga Jecolyn dan keluarga Cassandra dibakar.


Baik keempat sahabatnya, keempat kakak sepupunya, keempat tangan kanannya dan para mafioso BLACK WOLF dan para mafioso dari keempat kakak sepupunya tidak mengalami luka serius. Hanya mengalami luka-luka ringan saja.


"Aku mendapatkan kabar dari tangan kananku yaitu Reno. Hari ini perempuan itu akan datang," sahut Darren yang tatapan matanya fokus pada sarapannya.


Mendengar perkataan dari Darren. Vito, Velly dan Nasya langsung mengerti maksud dari kata perempuan yang dimaksud adiknya itu. Ketiganya hanya diam. Mereka saat ini sedang memikirkan balasan apa yang akan mereka berikan kepada perempuan itu.


Vito, Velly dan Nasya sudah tidak menganggap perempuan itu sebagai ibu mereka. Di hati dan pikiran mereka hanya Clarissa ibu kandung mereka. Vito, Velly dan Nasya sudah bertekad dan akan berjuang untuk mempertahankan kebahagiaan keluarganya. Mereka tidak akan membiarkan siapa pun berusaha untuk menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Sekali pun orang itu adalah ibunya sendiri. Mereka tidak peduli. Mereka akan melawan perempuan itu.

__ADS_1


Darren melirik sekilas Vito, Velly dan Nasya. Dapat dilihat olehnya amarah dan kebencian di mata ketiga kakaknya itu.


"Aku tahu perasaan kalian. Tapi bagaimana pun perempuan itu tetap ibu kalian. Satu hal yang aku minta dari kalian. Jangan lemah ketika bertemu dan bertatap muka dengan ibu kalian. Dan jangan buat perempuan itu berhasil memperdayai pikiran kalian. Perempuan itu datang bukan untuk meminta maaf kepada kalian dan Papa. Tujuan kedatangannya adalah untuk merebut rumah dan seluruh kekayaan keluarga Austin. Perempuan itu tidak datang sendiri. Melainkan datang bersama dengan suami dan ketiga anaknya." Darren berbicara sambil menatap satu persatu wajah ketiga kakaknya.


"Satu lagi. Jangan sampai perempuan itu berhasil merusak kebahagiaan keluarga Austin."


Mendengar ucapan demi ucapan dari adiknya. Vito, Velly dan Nasya tersenyum hangat menatap wajah tampan adiknya. Di dalam hati Vito, Velly dan Nasya membenarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut adiknya itu. Mereka juga bertekad akan mempertahankan kebahagiaan keluarganya dan tidak akan membiarkan orang lain menghancurkannya. Sekali pun orang itu adalah ibu mereka sendiri.


"Kakak akan memilih mempertahankan kebahagiaan keluarga Austin dan mempertahankan kamu sebagai adiknya kakak. Hanya kamu adiknya kakak." Vito berbicara sambil menyentuh dan mengusap lembut wajah adik manisnya.


Mendengar ucapan tulus dari kakaknya itu. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Baik Lory, maupun Vito, Velly dan Nasya merasakan kehangatan di hati mereka.


***


Di kediaman pribadi Arnold Yoseph, terlihat Arnold dan istrinya Andara berada di ruang tengah. Keduanya sedang mempersiapkan sebuah berkas. Berkas itu berisi penyerahan kepemilikan Perusahaan AUSTIN CORP dari Felix Austin menjadi Arnold Yoseph Jecolyn.


"Sudah sayang," jawab Arnold.


"Oh iya. Satu jam lagi Marissa, suaminya dan ketiga anaknya akan segera sampai di Australia. Dan mereka akan menginap di hotel. Dan dari sana mempersiapkan semuanya untuk mendatangi keluarga Austin." Andara berbicara sambil memperhatikan suaminya kini tengah memasukkan berkas itu ke dalam map.


"Baiklah," jawab Arnold.


"Sesuai perjanjian kita dengan Marissa bahwa Marissa akan mengambil alih rumah keluarga Austin dan kita akan mengambil alih Perusahaan AUSTIN CORP." Andara berucap.


"Iya, sayang. Aku ingat dengan perjanjian itu. Bagaimana pun Marissa dan suaminya itu sudah banyak membantu kita untuk mendapatkan apa yang kita mau selama ini. Dan berkat mereka juga kita berhasil menyingkirkan Nandito Abraham dan merebut posisinya menjadi orang terkaya nomor tiga di dunia dan di Australia." Arnold berbicara sambil mengingat bagaimana bantuan Marissa dan suaminya.


"Baiklah. Kita akan menunggu kabar dari Marissa. Jika Marissa sudah dalam perjalanan ke rumah keluarga Austin. Barulah kita mulai bergerak," ucap Arnold lagi.

__ADS_1


"Baik, sayang." Andara menjawab.


***


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Terlihat anggota keluarga Austin sedang berada di ruang tengah, termasuk Rafael dan ketiga anaknya.


Rafael sudah mengetahui semuanya. Felix selaku kakaknya dan anggota keluarganya yang tersisa sudah menjelaskan semuanya. Setelah diyakinkan oleh kakaknya. Rafael pun mengerti dan meminta maaf kepada kakaknya itu.


"Papa minta pada kalian untuk tidak termakan akan ucapan ibu kalian," ucap Felix.


"Papa. Perempuan itu bukan ibu kami. Hanya Mama Clarissa ibu kami dan akan selama menjadi ibu kami. Walaupun Mama Clarissa sudah pergi untuk selamanya." Raka langsung menyela perkataan ayahnya itu.


"Apa yang dikatakan oleh Kak Raka benar? Perempuan itu bukan ibu kami. Ibu kami itu adalah Mama Clarissa." Satya berbicara dengan ekspresi marah dan dendam.


Mendengar ucapan dari kedua putra tertuanya. Felix hanya bisa diam dan tidak berkomentar apapun. Felix tahu bagaimana sakitnya hati putra dan putrinya akan perlakuan buruk Marissa mantan istrinya itu terhadap putra putrinya. Marissa sama sekali tidak peduli kepada putra putrinya sendiri.


Semenjak Felix menikah dengan Clarissa. Hidupnya berubah menjadi dua kali lipat merasakan kehangatan dan kebahagiaan. Clarissa memberikan apa yang tidak didapat olehnya dan putra putrinya dari Marissa. Clarissa menjadi istri dan ibu yang penuh cinta, penuh kasih sayang, penuh perhatian dan juga penuh kepedulian. Bahkan Clarissa begitu sangat menyayangi putra dan putrinya dengan tulus.


"Papa tahu sayang. Hanya saja Papa berharap apapun yang akan dikatakan oleh perempuan itu kalian jangan sampai lemah dan terpedaya," sahut Felix.


"Kalau masalah itu Papa tidak perlu khawatir. Kami bukan anak kecil lagi. Kami sudah banyak belajar dari kesalahan kami dulu," ucap Raka.


"Kami belajar dari kesalahan kami ketika menyakiti Darren dulu. Mana ucapan yang harus dipegang dan dipercayai. Dan mana ucapan yang harus dibuang dan tak layak untuk dipercayai." Satya berucap dengan penuh penekanan disetiap kata.


"Hanya saja aku dan Satya berencana untuk mengikuti permainan perempuan itu dan suaminya ketika mereka datang nanti," kata Raka.


"Jadi seolah-olah perempuan itu mengira kalau aku dan Kak Raka benar-benar percaya akan setiap perkataannya," sela Satya.

__ADS_1


Mendengar ide Raka dan Satya membuat Felix dan Rafael mengangguk setuju. Mereka juga berencana juga akan ikut dalam permainan mantan istri dan mantan kakak iparnya itu.


__ADS_2