
Di lapangan Kampus nampak sedikit keributan dimana kedua orang tua dan kedua kakaknya Ataya bersama tiga orang polisi mendatangi Kampus.
Kedua orang tua dan kedua kakaknya Ataya mencari mahasiswi yang bernama Kiran. Di lapangan itu juga ada Darren, Zidan, Chico, Barra dan Chello.
Beberapa menit yang lalu, Chico sudah menceritakan kepada Darren apa yang diceritakan oleh Kiran kepadanya.
Ketika mendengar cerita dari Chico. Ekspresi dan reaksi Darren tetap sama. Darren benar-benar marah atas apa yang telah diperbuat oleh Kiran. Darren percaya jika Kiran tidak memiliki niat untuk menyakiti atau pun membunuh Ataya. Tapi bagi Darren. Apapun alasannya, Kiran tetap bersalah. Kesalahan Kiran adalah ingin menghancurkan hubungannya dengan Ataya dengan cara membuat dirinya dan Ataya bermusuhan.
"Siapa diantara kalian yang bernama Kiran Rasendria?" tanya Papinya Ataya.
Lalu Maminya Ataya melihat kearah Darren yang saat ini berdiri tak jauh dari dirinya, suaminya dan kedua putranya.
Berlahan Maminya Ataya berjalan mendekati Darren dan keempat sahabatnya. Melihat istrinya/ibunya berjalan menghampiri Darren dan keempat sahabatnya. Papinya Ataya dan kedua kakaknya Ataya beserta tiga polisi itu mengikuti Maminya Ataya.
"Darren. Mana orangnya?" tanya Maminya Ataya.
Saat Darren ingin membuka mulutnya, tiba-tiba salah satu mahasiswi berteriak sembari menyebut nama Kiran.
"Itu mahasiswi yang bernama Kiran!"
Mendengar teriakan salah satu mahasiswi sembari menunjuk kearah Kiran. Baik Darren, keempat sahabatnya maupun kedua orang tuanya Ataya, kedua kakaknya Ataya melihat kearah Kiran yang datang bersama dengan kakaknya Radika, Vito, Nasya dan para sahabatnya.
Melihat wajah Kiran membuat kedua orang tuanya Ataua dan kedua kakaknya Ataya seketika marah. Kedua orang tuanya Ataya dan kedua kakaknya Ataya sudah tahu hubungan Darren bersama Kiran dulu.
"Jadi kamu yang bernama Kiran?" tanya Maminya Ataya.
"I-iya. Saya Kiran," jawab Kiran gugup.
PLAAKK!
"Aaakkkhh!" Kiran meringis merasakan sakit di pipinya.
"Maaf tante. Tante siapa? Kenapa tante tiba-tiba menampar adik saya?" tanya Radika.
"Oh. Jadi kamu kakaknya? Kamu pasti tahu apa yang sudah dilakukan oleh adikmu ini?" tanya Maminya Ataya.
"Saya adalah ibu dari Ataya Parvez. Ibu yang putrinya sudah dibunuh oleh wanita tidak tahu diri ini!" bentak Maminya Ataya.
__ADS_1
DEG!
Mendengar perkataan dari Maminya Ataya. Ataya dan Radika terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya. Dan seketika mereka teringat ketika ada seorang ibu-ibu yang datang menemui Darren dan keempat sahabatnya saat itu.
Maminya Ataya menatap tajam Kiran. "Apa salah putriku padamu sehingga kau tega menghabisi nyawanya? Apa kau marah pada putriku karena putriku menjadi kekasihnya Darren? Apa kau marah melihat kedekatan putriku dengan Darren? Apa kau cemburu setiap kali melihat kebersamaan mereka ketika di Kampus?" Maminya Ataya menangis.
"Putriku itu anak yang baik-baik. Putriku tidak pernah mengganggu hubungan orang lain. Putriku tidak merebut milik orang lain," lirih Maminya Ataya.
"Kau..." tunjuk Maminya Ataya kearah wajah Kiran. "Kau yang telah membuang Darren. Kau membuangnya ketika kau sudah mendapatkan yang baru. Kau membuangnya ketika dia mendapatkan masalah besar dalam hidupnya. Kau membuangnya ketika keluarganya tidak mempercayainya. Kau memakinya dan memintanya pergi menjauh dari kehidupanmu. Bahkan kau tidak sudi memiliki kekasih pembunuh seperti dia!"
"Tapi kenapa? Disaat putriku masuk dalam kehidupan Darren dan menjadi bagian dari hidupnya Darren. Putriku memberikan semangat dan cinta yang tulus untuk Darren. Bahkan mereka akan segera menikah setelah selesai melaksanakan ujian sementara 2 ini. Justru kau menghancurkan semuanya. Kau menghancurkan impian putriku dan calon menantuku!" bentak Maminya Ataya. Maminya Ataya tak kuasa menahan tangisnya.
Nathan datang mendekati ibunya. Lalu tangannya mengelus lembut punggung ibunya.
"Mi," lirih Nathan.
"Nathan. Kau lihat perempuan ini. Dia yang sudah menyakiti adik perempuanmu. Dia sudah mengambil Ataya kita, Nathan!"
BRUKK!
Kiran bersimpuh di kaki Maminya Ataya. Kiran menangis menatap wajah Maminya Ataya sambil melipat kedua tangannya.
Mendengar pengakuan dari Kiran membuat kedua orang tuanya Ataya, kedua kakaknya Ataya, semua mahasiswa dan mahasiswi. Bahkan para Dosen dan Rektor terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika Kiran sejahat itu ingin menghancurkan hubungan Darren dan Ataya.
"Aku tidak peduli akan pengakuanmu itu. Sekali pun kau tidak terlibat atas kematian putriku. Tapi kau tetap bersalah. Kesalahanmu adalah berusaha untuk menghancurkan kebahagiaan putriku. Kau berusaha menghancurkan hubungan putriku dengan Darren. Aku sudah putuskan. Aku akan membawa masalah ini kejalur hukum." Maminya Ataya berucap dengan tegas.
Darren yang sedari tadi memperhatikan dan mendengar ucapan demi ucapan dari Maminya Ataya dan juga pengakuan dari Kiran membuat Darren bingung.
Saat ini yang Darren rasakan adalah kepalanya yang tiba-tiba pusing. Kilasan-kilasan dimana saat dirinya masih berpacaran dengan Kiran hingga berakhir menyedihkan sampai bertemu dengan Ataya ketika dirawat di rumah sakit Amerika dan berakhir menjalin hubungan. Ataya adalah sahabatnya ketika duduk di bangku SMP.
Chello yang berdiri di sampingnya menyadari gerak gerik aneh dari Darren. Chello sedari tadi melihat Darren yang berusaha menahan rasa sakit di kepalanya. Chello tahu bahwa saat ini Darren kembali teringat dimana dirinya dipertemukan dengan dua gadis cantik yang pernah singgah di hatinya. Dua gadis yang sangat dicintainya. Satu sudah menjadi mantannya. Dan yang satu telah pergi meninggalkan untuk selamanya.
"Ren, kau tidak apa-apa? Apa kepalamu pusing?" tanya Chello.
Mendengar pertanyaan dari Chello. Zidan, Chico dan Barra langsung melihat kearah Darren. Dapat mereka lihat Darren yang berusaha menahan rasa pusing di kepalanya. Dan wajahnya yang sedikit pucat.
Ketika Maminya Ataya masih tidak terima atas perbuatan Kiran terhadap putrinya. Dan masih terus berteriak dan memarahi Kiran, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang membuat Maminya Ataya berhenti menyalahkan Kiran.
__ADS_1
"Sudah cukup Tante Claudia!" seru Afnan yang datang bersama dengan Naura dan sahabat-sahabatnya.
Naura menghampiri adik sepupunya. Sementara Afnan menghampiri Claudia, Maminya Ataya.
"Afnan," ucap Claudia.
"Hentikan tante. Sudah cukup. Tante lihat kearah sana." Afnan berbicara sambil menunjuk kearah Darren adik laki-lakinya.
Baik Claudia, Nathan, Vito, Velly dan Nasya maupun Kiran, Radika dan para sahabatnya melihat kearah tunjuk Afnan.
Mereka semua dapat melihat Darren yang saat ini tengah menahan rasa pusing di kepalanya. Dan Naura memberikan sedikit pijatan di kepalanya.
"Apa Tante ingin menyakiti adikku dengan terus menyalahkan Kiran. Aku tahu perasaan Tante seperti apa. Aku sudah menganggap Ataya seperti adikku sendiri. Aku juga marah terhadap Kiran. Bahkan kemarahanku jauh lebih besar. Tapi Kiran sudah mengakui kesalahannya. Dan Kiran tidak terlibat atas kematian Ataya."
Afnan menatap wajah Claudia, Maminya Ataya. Setelah itu, Afnan menatap wajah Kiran yang tampak kacau dan juga menyesal.
Afnan kembali menatap Maminya Ataya. "Pikirkan Darren tante. Disini Darren yang akan tersakiti. Kiran dan Ataya, dua wanita yang pernah hadir dalam hidup Darren. Dan keduanya juga sama-sama pergi meninggalkan Darren. Kiran pergi meninggalkan Darren karena masalah Darren dengan keluarga Austin. Sementara Ataya pergi meninggalkan Darren karena dibunuh. Saat ini pasti Darren tertekan akan masalah ini. Jika Tante terus seperti ini. Itu sama saja Tante menyakiti Darren. Aku mohon Tante. Berilah kesempatan untuk Kiran. Setidaknya lakukanlah demi Ataya dan Darren."
Maminya Ataya hanya diam. Tatapan matanya menatap sendu kearah Darren. Sementara disisi lain, Naura sedang berusaha untuk membujuk Papinya Ataya dan Aksa, kakak keduanya Ataya. Baik Naura maupun Afnan berharap keluarga Ataya mau menyelesaikan secara kekeluargaan.
Maminya Ataya melangkah mendekati Darren yang saat ini sedang bersandar di pundak Naura. Dapat dilihat oleh Maminya Ataya wajah Darren yang sedikit pucat.
"Darren," panggil Maminya Ataya sambil tangannya menyentuh pipi Darren. "Maafkan Mami ya. Mami sudah buat kamu tertekan seperti ini."
"Mi," lirih Darren.
"Iya, sayang! Katakanlah," ucap Maminya Ataya.
"Maafkan kesalahan Kiran. Jangan bawa masalah ini ke polisi. Selesaikan saja secara kekeluargaan. Mami mau kan?" ucap dan tanya Darren dengan suara lirihnya.
"Baiklah sayang. Jika itu mau kamu. Mami, Papi dan kedua kakak kamu akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan," jawab Maminya Ataya.
"Benarkah?" tanya Darren.
"Iya, Darren." Zaidan, Papinya Ataya yang menjawabnya.
"Iya, Ren!" Nathan dan Aksa juga ikut mengabulkan keinginan Darren.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Darren.
Mendengar ucapan dari keluarga Ataya dan Darren yang mengatakan akan menyelesaikan secara kekeluargaan membuat Radika dan Kiran tersenyum bahagia. Mereka berdua bersyukur karena masalah tersebut tidak jadi dibawa ke jalur hukum.