
Keesokkan paginya seluruh anggota keluarga telah berkumpul di ruang tengah minus Darren. Mereka semua masih berada di rumah Darren.
Baik keluarga Smith, keluarga Austin maupun keluarga Fernandez tengah merayakan kemenangan dan juga kebahagiaan mereka karena semua masalah dan juga balas dendam sudah benar-benar selesai. Bahkan mereka semua mengucapkan rasa syukur kepada yang maha kuasa karena semuanya dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada yang terluka termasuk kesayangan mereka yaitu Darren.
Mereka awalnya sempat merasakan ketakutan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Darren dengan keputusan yang mereka buat.
Namun diluar dugaan dan tanpa mereka ketahui bahwa rencana yang mereka buat telah digagalkan dan dihancurkan oleh Darren. Dan digantikan dengan rencana Darren sendiri.
"Aku benar-benar bahagia semuanya dalam keadaan baik-baik saja," sahut Vito.
"Kami juga Tae," sela Naura.
"Tapi aku masih penasaran dengan apa yang Darren lakukan!" seru Tamara.
"Sejak kapan Darren berada diluar dan langsung berhadapan dengan Merry?" tanya Lory.
"Dan sejak kapan juga anggota mafianya Darren datang dan membunuh 100 orang anggotanya Merry yang datang bersama Merry?" tanya Satya.
"Benar-benar misterius tuh anak kelinci!" seru Cavitta.
Ketika mereka tengah membicarakan Darren yang tiba-tiba sudah berada di luar bersama Merry. Mereka dikejutkan dengan suara langkah kaki yang menuruni anak tangga.
Mereka semua melihat kearah anak tangga tersebut. Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing.
Darren melangkahkan kakinya langsung menuju pintu utama. Mereka yang melihat Darren yang mengabaikan mereka semua langsung membelalakkan matanya dan mulut yang terbuka. Mereka saling melirik satu sama lainnya. Setelah itu kembali menatap kearah ruang tamu.
"Yak! Darren!" teriak para kakak-kakaknya.
Marco dan Afnan berdiri dari duduknya dan langsung berlari mengejar Darren.
"Kena kamu!" seru Marco dan Afnan bersamaan.
Marco dan Afnan berhasil mencekal kedua tangan adiknya. Setelah itu, keduanya menarik pelan kedua tangan adiknya itu untuk kembali ke ruang tengah.
Darren yang kedua tangannya ditarik oleh kedua kakaknya mendengus kesal. Mulutnya bergerak-gerak menyumpahi kedua kakaknya itu. Sementara Marco dan Afnan tersenyum gemas melihat wajah kesal adiknya.
Ketika ketiganya sampai di ruang tengah. Anggota keluarganya tersenyum gemas melihat wajah kesal Darren yang kedua tangannya ditarik oleh Marco dan Afnan.
"Lepasin." Darren menarik kuat tangannya dari pegangan kedua kakaknya. "Apaan sih narik-narik? Kakak pikir aku ini anak kambing ditarik-tarik." Darren memasang wajah kesalnya.
Setelah mengatakan itu, Darren berniat untuk pergi. Namun usaha berhasil digagal oleh kedua kakak perempuannya yaitu Naura dan Cavitta.
__ADS_1
Naura dan Cavitta dengan kompak menarik tangan Darren sehingga membuat Darren duduk diantara mereka berdua. Setelah itu, Naura dan Cavitta mengapit Darren agar Darren tidak kabur.
Sementara anggota keluarganya tersenyum melihat kelakuan Cavitta dan Naura. Serta kekesalan Darren.
"Ada apa? Kenapa sikap kamu jadi cuek gini sih?" tanya Marco.
Darren tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya itu. Namun justru Darren memasang wajah kesalnya dan menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Mereka yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya.
"Ayolah, Ren! Ada apa, hum?" tanya Cavitta sembari tangannya mencolek dagu adiknya.
Tetap sama. Darren sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Wajahnya malah justru makin bertambah kesal.
Melihat adiknya yang masih menunjukkan wajah kesalnya dan juga wajah cueknya. Akhirnya membuat Saskia turun tangan. Saskia berdiri dari duduknya dan bertukar tempat dengan Naura.
Kini Saskia sudah duduk duduk di samping adiknya. Tangannya terangkat mengelus rambutnya.
"Dari kemarin sifat kamu seperti ini. Ada apa, hum? Apa kamu sedang marah sama Kakak atau dengan yang lainnya?"
Darren masih diam. Tapi ekspresi wajah telah berubah. Dan mereka semua melihat perubahan itu. Mereka melihat kesedihan di tatapan matanya Darren.
"Ayolah, sayang! Jangan hukum Kakak kayak gini. Jika Kakak dan yang lainnya ada salah. Kakak dan yang lainnya minta maaf. Kalau kamu diam kayak gini. Kita semua bingung." Saskia berbicara dengan begitu lembut.
Seketika air mata Darren mengalir membasahi wajah tampannya. Melihat Darren yang tiba-tiba menangis membuat mereka semua makin dibuat bingung dan juga khawatir.
"Ada apa? Kakak mohon jangan seperti ini," ucap Saskia.
Darren menatap lekat wajah kakak kesayangannya itu.
"Kenapa Kakak bisa punya ide gila seperti itu?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari Darren. Akhirnya mereka semua pun paham dan akhirnya tahu kenapa Darren yang bersikap cuek kepada mereka sejak kemarin.
"Maafkan Kakak. Kakak mela...," perkataan Saskia terpotong.
"Kakak ngelakuin hal itu demi aku. Begitu?" tanya Darren.
Saskia hanya diam ketika mendengar perkataan dari adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Kenapa kalian mau dan rela melakukan ide gila itu? Kenapa kalian rela berpura-pura membenciku didepan perempuan sialan itu? Kenapa kalian tidak libatkan aku dalam rencana kalian!" teriak Darren disertai air matanya yang jatuh membasahi wajah tampannya.
"Terus bagaimana dengan kamu?" tanya Afnan.
__ADS_1
"Apa maksud Kak Afnan?" Darren balik bertanya.
"Kamu juga sama seperti kami. Kamu sudah mengetahui semua rencana jahat perempuan itu. Tapi kamu meminta Zidan dan Reno untuk merahasiakannya dari kami semua. Bahkan kamu tidak melibatkan kami dalam rencana kamu untuk menyerang anggota perempuan itu."
Darren hanya diam ketika mendengar jawaban dari kakaknya itu. Darren melakukan hal itu hanya semata-mata untuk melindungi keluarganya. Darren tidak ingin keluarganya terluka.
"Aku melakukan itu untuk melindungi kalian. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan kalian. Aku tidak mau kehilangan kalian semua. Sudah cukup aku kehilangan Mama. Aku tidak mau kehilangan lagi." Darren memangis.
"Apa bedanya dengan kami, Ren! Kami semua menyayangimu. Kami semua peduli padamu. Kami semua juga tidak ingin kehilangan kamu. Kami semua ingin kamu baik-baik saja!" seru Willy.
"Sudah cukup kamu dan sahabat-sahabat kamu berjuang demi keluarga. Sudah cukup selama ini kamu dan sahabat-sahabat kamu bekerja keras mencari bukti tentang pelaku pembunuhan Mama kamu, tante Amanda, nenek Victoria. Bahkan mencari bukti tentang kematian Ataya," sahut Alfin.
"Kami melakukan hal itu semua juga untuk melindungi kamu, Ren!" seru Qenan.
"Kamu adalah adik kami. Kamu paling kecil diantara kita semua. Dan sudah sepantas kami sebagai kakak-kakak kamu yang bertugas melindungi kamu. Dan mengambil alih semuanya," sahut Devano.
"Hiks... Hiks... Hiks," isak Darren.
Mendengar isakan dari Darren membuat hati mereka sesak. Mereka semua sangat tahu bagaimana sensitifnya Darren.
GREP!
Saskia menarik tubuh adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap-ngusap lembut kepalanya. Cavitta yang ada di samping juga ikut mengusap punggungnya.
"Hiks... Maaf," ucap Darren disela isakannya. Mereka semua tersenyum mendengar perkataan maaf dari Darren.
Saskia melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan adiknya itu. Dan setelah itu, Saskia memberikan kecupan di keningnya.
"Kakak tahu tidak ketika aku mendapatkan informasi mengenai rencana perempuan itu. Perempuan itu ingin memfitnahku didepan kakak dan didepan semua anggota keluarga Smith. Jika hal itu terjadi. Jika rencana perempuan itu berhasil mencuci pikiran kalian. Jika perempuan itu berhasil membuat kalian semua membenciku. Jika kalian semua lebih percaya kepada perempuan itu dibandingkan aku yang jelas-jelas bagian dari kalian. Maka berakhirlah sudah kehidupanku di dunia ini. Aku akan benar-benar menyusul Mama. Dan kalian semua bakal kehilangan aku untuk selamanya."
"Untungnya saat itu aku mendengar semua pembicaraan kalian sehingga aku berhasil menggagalkan rencana gila kalian itu. Jika saat itu aku tidak mendengar pembicaraan kalian, kemungkinan besar rencana kalian itu akan berjalan dengan sempurna. Jika rencana kalian berhasil. Bukan aku saja yang tersakiti. Tapi kalian juga."
Mendengar perkataan dari Darren mereka semua terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Jika rencana mereka berhasil. Bukan hanya Darren saja yang terluka. Tapi mereka juga.
"Maafkan Kakak," lirih Saskia.
"Maafkan kita, Ren!" seru mereka semua kompak.
"Jangan buat rencana itu lagi. Jangan pernah membenciku. Jangan pernah tinggalkan aku. Kalian semua adalah kebahagiaan dan juga semangat hidupku," ucap Darren.
Mereka tersenyum bahagia ketika mendengar perkataan dari Darren.
__ADS_1
"Tidak akan. Apapun yang terjadi kita akan selalu bersama-sama," jawab para kakak-kakaknya kompak.