REVENGE

REVENGE
Terlambat Bangun


__ADS_3

Masih di rumah Darren. Dan seluruh anggota keluarga masih berada di rumah Darren. Mereka semua sudah memutuskan untuk menginap selama satu bulan di rumah Darren. Dan merencanakan menghabiskan waktu bersama agar lebih akrab lagi diantara mereka, terutama Felix dengan keempat anak-anaknya Clarissa.


Seluruh anggota keluarga saat ini berkumpul di ruang tengah. Ruang tengah yang begitu luas. Mereka semua berselonjoran duduk di karpet bulu. Mereka meninggalkan semua pekerjaannya dan memilih berkumpul dengan anggota keluarga.


Baik keluarga Smith maupun keluarga Fernandez dan keluarga Austin tampak sangat bahagia. Mereka bahagia karena masalah telah selesai. Balas dendam telah selesai terbalaskan. Orang-orang yang menyakiti anggota keluarganya telah mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.


"Darren belum bangun ya?" tanya Raka.


"Kayak belum deh," jawab Tamara.


Ketika Afnan ingin ke kamar adiknya ingin membangunkan adik kesayangannya itu. Saskia pun bersuara.


"Afnan. Gak usah dibangunin dulu Darren nya. Biarkan Darren tidur dulu. Beberapa hari ini Darren kurang istirahatnya," ucap Saskia.


"Saskia benar. Beberapa hari ini Darren kurang tidurnya. Darren terlalu fokus sama balas dendam dan juga kerjaannya. Ditambah lagi kuliahnya," ucap Lory.


"Oh iya! Opa baru ingat. Darren pernah mengatakan pada kita bahwa 2 minggu lagi Darren akan meresmikan nama baru untuk Perusahaan yang berhasil Darren rebut dari Arnold. Ditambah dengan perusahaan-perusahaan lainnya!" seru Robert.


Mendengar seruan dari Robert membuat mereka semua pun ingat akan hal itu.


"Bukankah hari ini ya!" seru Cavitta.


Mendengar ucapan Cavitta. Mereka semua terkejut. Pergantian nama Perusahaan dan peresmiannya hari ini. Tapi adiknya belum bangun dari tidurnya.


"Biar aku yang membangunkan Darren!" seru Satya.


Setelah itu, Satya berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju lantai dua.


Namun langkah Satya terhenti tepat di hadapan anak tangga dan hendak menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, tiba-tiba terdengar langkah kaki menuruni anak tangga disertai dengan suara keras seseorang. Siapa lagi kalau bukan Darren.


"Sial! Sial! Sial!"


"Kenapa gak ada yang bangunin aku sih? Aish! Apa mereka sengaja? Benar-benar menyebalkan!"


Darren terus mengomel sepanjang kakinya menuruni anak tangga. Sementara anggota keluarganya yang mendengar omelannya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Ketika sedang mengomel, Darren melihat kakak keduanya yang satu ayah dengannya berdiri tepat di hadapannya dengan tatapan matanya menatap kearahnya.


Darren memelan langkah kakinya menuruni anak tangga. Langkah kaki berhenti tepat di hadapan kakaknya itu. Tidak ada yang bersuara melainkan mereka saling menatap satu sama lain.


Karena merasa jengah kakaknya tidak juga buka suara. Sedari kakaknya itu hanya menatapnya dengan senyumannya. Hal itu sukses membuat Darren mendengus kesal.


"Apa? Kenapa melihatku seperti itu? Kalau Kakak lapar, pergi makan sana. Aku gak mau jadi menu makan kakak pagi ini karena Kakak terus menatapku," ucap Darren dengan wajah bad moodnya.


Mendengar ucapan dari Darren. Satya tersenyum. Begitu juga anggota keluarganya yang lainnya.


Satya melangkahkan kakinya menaiki anak tangga dan ingin mendekati adiknya yang masih berdiri di anak tangga kelima belas.


Kini Satya sudah berdiri di hadapan adiknya. Tangannya kemudian mengelus pipi adiknya, lalu berpindah ke kepalanya. Dan setelah itu, Satya memberikan kecupan sayang di kening adik bungsunya.


"Kakak merindukanmu, Ren!" ucap Satya.


"Bukannya kita setiap hari bertemu. Bahkan anggota keluarga Austin menginap di rumahku," jawab Darren.


Mendengar jawaban dari Darren membuat Satya dan anggota keluarga lainnya hanya bisa menghela nafas pasrah dan menepuk jidat mereka masing-masing. Bukan jawaban itu yang mereka inginkan, apalagi Satya.


Darren menatap lekat tepat di manik hitam kakaknya itu. Dapat Darren lihat ada kerinduan yang begitu besar di sana. Dan Darren tahu itu.


"Jika Kakak ingin memelukku. Peluk aku sekarang! Jika kakak tidak memelukku sekarang juga. Maka selamanya kakak tidak memiliki kesempatan untuk memelukku lagi!" seru Darren.


Mereka semua terkejut dicampur bahagia ketika mendengar perkataan Darren. Inilah yang mereka tunggu-tunggu dan ingin mereka dengar. Begitu juga dengan Satya.

__ADS_1


Satya pun langsung memeluk tubuh adiknya yang dirindukannya sejak kejadian itu. Seketika tangis Satya pecah karena adiknya sudah sepenuhnya kembali padanya. Bahkan adiknya telah memberikan izin untuknya memeluknya.


"Hiks... Ren, adiknya kakak. Terima kasih sayang," ucap Satya disela isakannya.


Darren yang mendengar isakan dan ucapan dari kakaknya membuat hatinya bahagia. Sejujurnya Darren juga sangat merindukan pelukan kedua kakaknya yaitu Raka dan Satya. Karena hanya mereka yang belum dimaafkan oleh Darren.


Bukan belum memaafkan. Tapi belum sepenuhnya memaafkan kesalahan kedua kakaknya itu.


"Kakak menyayangi kamu. Maafkan kesalahan Kakak padamu. Maafkan Kakak yang telah menggoreskan luka di hatimu."


Melihat Satya adiknya yang berhasil mendapatkan maaf dari adik bungsunya. Bahkan adiknya itu juga berhasil memeluk adik bungsunya. Raka pun mulai bertindak.


Raka beranjak dari duduknya, kemudian melangkahkan kakinya untuk menghampiri kedua adiknya itu.


Sementara anggota keluarganya hanya sebagai pendengar dan penonton setia drama yang dimainkan oleh ketiga Austin bersaudara.


"Apa hanya si beruang kutub itu saja yang Darren maafkan? Apa hanya si beruang kutub itu saja yang diizinkan untuk memeluk kamu? Terus Kakak bagaimana? Kakak kan yang tertua di keluarga Austin," ucap dan tanya Raka.


Mendengar pertanyaan dan perkataan seenak jidatnya dari Raka. Satya mendengus kesal sembari melepaskan pelukannya.


Sementara anggota keluarga lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perkataan sarkas dari Raka.


Baik Satya maupun Darren sama-sama menatap kesal Raka, lalu dengan kompak berkata.


"Mengganggu saja."


Raka langsung membelalakkan kedua matanya ketika mendengar ucapan kompak dari kedua adiknya itu.


Sementara anggota keluarganya langsung tertawa keras, terutama Velly dan Nasya. Keduanya tertawa begitu kencang sehingga membuat Raka mendengus kesal akan ulah kedua adik kembarnya.


"Aish. Dasar adik kurang ajar," gumam Raka.


Darren dan Satya tersenyum kemenangan mendengar gumaman kekesalan Raka.


Setelah beras di hadapan adiknya. Tangannya mengelus rambutnya sehingga terlihat kening putih sang adik. Sama seperti Satya. Raka juga memberikan kecupan sayang di kening adiknya itu.


"Kakak sayang kamu. Selamanya Kakak sayang kamu. Maafkan kakak yang telah gagal menjadi kakak terbaik untuk kamu satu tahun yang lalu. Izinkan kakak untuk menebus semuanya. Izinkan kakak untuk menggantikan semua kesedihan kamu satu tahun yang lalu akan sikap kakak yang tak mempercayaimu."


Mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut kakak tertuanya membuat hati Darren menghangat. Darren dapat melihat dari tatapan mata kakaknya itu ada ketulusan dan kesungguhan disana.


"Aku sudah memaafkan kesalahan Kak Raka, Kak Satya, Kak Vito, Kak Velly dan Kak Nasya. Benar apa yang dikatakan oleh Kak Saskia dan Kak Marco. Sebesar apapun kebencianku dan dendamku pada kalian. Kalian tetap keluargaku. Walau kita tidak satu ibu, tapi kita satu ayah. Darah yang mengalir dalam tubuh kita adalah darah keluarga Austin."


Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua tersenyum bahagia dan berucap syukur karena Darren sudah memaafkan kesalahan dari keluarga Austin.


"Akhirnya!" seru para anggota keluarga, terutama keluarga Smith dan keluarga Fernandez.


Dan beberapa detik kemudian...


"Yak! Aku terlambat!"


Darren tiba-tiba berteriak. Setelah itu, Darren langsung berlari menuruni anak tangga sehingga membuat anggota keluarganya berteriak.


"Darren!" teriak mereka semua ketika melihat Darren yang berlari menuruni anak tangga.


Darren berlari langsung menuju pintu utama. Dan mengabaikan para anggota keluarganya yang menatapnya kesal.


"Darren, kamu belum sarapan!" teriak Naura.


"Gak sempat. Aku sudah terlambat!" teriak Darren sembari memasang sepatunya.


"Memangnya kamu mau kemana? Buru-buru amat!" teriak Vito.

__ADS_1


"Kencan!" teriak Darren.


Mendengar kata 'kencan' dari mulut Darren membuat mereka semua cengo. Dan detik kemudian, Saskia dan para saudara lainnya baik itu saudara dari keluarga Smith, keluarga Austin maupun keluarga Fernandez berlari ke ruang tamu dan meninggalkan para orang tua.


"Darren," panggil Marco yang sedikit berteriak. Padahal dirinya dan yang lainnya sudah berada di dekat adiknya itu.


Akibat dari teriakannya itu membuat Darren terkejut dan mengumpat kesal. Sementara para kakaknya tersenyum ketika melihat Darren yang terkejut atas ulah Marco.


Darren berdiri setelah selesai memasang sepatunya, lalu matanya menatap kesal dengan bibir yang mengeluarkan sumpah mematikannya yang ditujukan untuk kakaknya Marco.


Sedangkan Marco terkekeh melihat wajah kesal adiknya itu. Marco memang suka membuat adiknya kesal.


"Kenapa? Aku harus pergi sekarang!" sahut Darren.


"Apa kamu beneran mau pergi kencan?" tanya Velly.


Darren menatap bingung Velly "Kencan," batin Darren.


"Darren," panggil mereka bersamaan.


"Yak! Kenapa kalian hobi sekali mengagetkanku sih?" tanya Darren kesal.


"Siapa suruh melamun," jawab Tamara dan Naura.


"Sekarang jawab pertanyaan kakak. Apa benar kamu pergi kencan?" tanya Saskia.


"Iya. Aku memang pergi kencan. Kenapa?" jawab dan tanya Darren.


"Benarkah? Siapa gadis beruntung itu? Katakan sama Kakak." Nuria berbicara dengan mimik wajah yang begitu bahagia.


"Kakak-kakakku yang paling tampan, paling cantik. Dengarkan aku ya. Aku memang mau pergi kencan. Tapi bukan artian pergi kencan dengan seorang perempuan. Aku berkencan dengan pekerjaanku di Perusahaan. Hari ini aku benar-benar sibuk. Ditambah lagi aku melupakan hal penting itu."


"Huuufftt!!"


Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka menjadi tidak tega. Terlihat jelas dari tatapannya matanya ada kecemasan dan rasa takut disana.


"Apa kamu butuh bantuan, hum?" tanya Afnan.


"Kita siap membantu," ucap semua kakak-kakaknya.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren. Dirinya menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya itu.


"Boleh?" tanya Darren.


"Tentu," jawab mereka kompak.


"Aku mau kalian menyiapkan tempat untuk acara peresmian dan pergantian nama baru untuk beberapa Perusahaan yang berhasil aku rebut itu, termasuk perusahaan Papa Nandito. Acaranya akan diadakan sekitar pukul 3 sore. Sekarang pukul 8 pagi. Bisa?"


"Serahkan semuanya pada kami, kakak-kakak kamu. Kamu tinggal menerima hasilnya," jawab Raka.


"Selesai kamu berkencan dengan berkas-berkas kantormu. Kamu langsung saja datang ke acara itu. Nanti alamatnya akan kita kirim kekamu," ujar Satya.


"Aish!" Darren mempoutkan bibirnya kesal akan perkataan Satya. "Gak usah pake kata kencan juga kali," ucap Darren.


Mereka semua tersenyum ketika mendengar ucapan dan wajah kesal Darren.


"Ya, sudah pergi sana! Katanya tadi buru-buru," ucap Marco yang menjahili adiknya.


"Aish! Kak Marco benar-benar menyebalkan."


Setelah itu, Darren pun pergi meninggalkan para kakak-kakaknya yang super menyebalkan.

__ADS_1


Melihat Darren yang benar-benar telah pergi. Akhirnya tawa mereka semua pun pecah. Mereka semua tertawa karena telah berhasil membuat Darren kesal.


__ADS_2