Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
1. Sepucuk surat


__ADS_3

Akhir bulan Desember, hujan begitu lebat mengguyur kabupaten T, di daerah pesisir selatan Jawa Timur. Pagi yang seharusnya membawa semangat untuk mengawali aktivitas seharian, nyatanya terasa lebih muram dan kelam saat ini.


Bayu Khairil, duduk di sofa dengan segelas kopi arabica hangat yang mengepulkan asap putih tipis di hadapannya. Laki laki berusia tiga puluh tahun itu tengah asyik membaca sebuah buku usang. Sesekali dia mengusap kedua mata birunya. Terdengar pula hembusan nafas yang terasa berat, seakan memberi penegasan dia sedang gundah kali ini.


Buku usang yang dia baca hampir sampai di halaman terakhir. Dan kegelisahan semakin terlihat jelas di rona wajahnya. Tinggal beberapa lembar lagi untuk menuntaskan membaca buku yang dia dapatkan beberapa hari yang lalu itu.


Tok tok tok


Terdengar sebuah ketukan dari pintu depan. Bayu memicingkan matanya, bertanya dalam hati, siapa gerangan yang bertamu di tengah hujan seperti saat ini?


Bayu meletakkan buku usang di tangannya. Dia berjalan perlahan ke arah pintu depan. Bayu mengintip dari jendela di samping pintu, dia penasaran siapa yang telah mengetuk pintu rumahnya.


Seorang laki laki, memakai jas hujan berwarna oren terlihat berdiri mematung di depan pintu. Di tangannya nampak sebuah benda terbungkus plastik hitam, digenggam dengan begitu erat.


Tok tok tok


"Permisii, . .pakett,"


Terdengar suara dari balik pintu. Rupanya kurir pengantar paket yang datang. Bayu segera menarik gagang pintu, dan serta merta angin yang sangat dingin menerobos masuk bersamaan dengan pintu kayu jati yang terbuka.


"Paket untuk Pak Bayu Khairil," Ujar kurir membaca tulisan yang tertempel di atas bungkusan berwarna hitam. Tulisan terlihat basah dan sedikit luntur terkena rintik hujan.


"Paket?" Bayu mengernyitkan dahi. Dia merasa sedang tidak memesan apapun.


"Iya, ini ada paket untuk atas nama Bayu Khairil," Ujar sang kurir sambil menyodorkan benda berbungkus plastik hitam di tangannya.


Sedikit ragu, akhirnya Bayu menerima paket tersebut. Sambil tersenyum sekilas, kurir segera beranjak pergi meninggalkan Bayu yang masih berdiri termenung memperhatikan benda hitam yang kini ada di genggaman tangannya.


Sebuah paket berbentuk kotak, semacam box kardus yang terasa ringan. Ada perasaan curiga dan penasaran bercampur menjadi satu di hati Bayu. Sebagai seorang petugas kepolisian, Bayu memiliki insting tajam yang membuatnya lebih waspada dan hati hati. 


"Paket di hari minggu? Oh, tunggu. . .," Bayu terperanjat, seakan baru teringat sesuatu. Dia mengedarkan pandangannya, mencari sosok kurir yang tadi berada di hadapannya. Namun kini, kurir itu sudah lenyap, hilang tak berbekas.


Bayu menyadari, di daerah tempat tinggalnya tak ada ekspedisi ataupun kurir yang mengantarkan paket di hari minggu. Apalagi di jam yang terlampau pagi seperti saat ini.


Bayu akhirnya memutuskan membuka paket yang ada di tangannya itu. Rasa penasarannya sudah tak tertahankan. Dengan sedikit kasar, dia membuka plastik hitam pembungkus benda misterius itu.


Dan benar saja, di dalamnya terdapat sebuah box karton berwarna coklat tua. Ada sebuah pengait di ujungnya. Bayu menarik pengait dan terbukalah box tersebut.


Sepucuk surat dan sebuah foto. Foto yang tidak asing, tercetak kecil dengan resolusi gambar yang diperbaiki. Dalam foto terlihat beberapa anak berseragam putih abu abu berdiri berjajar di depan papan tulis yang bertuliskan XI IPA 5.


Bayu menemukan dirinya dalam foto tersebut. Foto yang membuat Bayu bernostalgia, teringat teman teman sekelasnya waktu di SMA dulu.

__ADS_1


Kemudian Bayu beralih memperhatikan sepucuk surat yang di gulung serta ditali dengan seutas benang berwarna emas. Bayu menarik benang tersebut, hingga akhirnya gulungan surat itu terbuka. 


Semakin aneh saja melihat surat yang sudah terbuka. Surat tersebut tidak ditulis tangan ataupun diketik komputer dengan rapi. Tulisan dalam surat terlihat seperti potongan kata dan kalimat di koran yang dipotong kemudian ditempelkan pada selembar kertas.


Bayu bergegas membaca isi surat tersebut.


Hallo


Apa kabar kawan kawanku?


Semoga kalian dalam keadaan sehat dan bahagia ya.


Masih ingat denganku?


Aku adalah orang yang mengambil foto yang sedang kalian pegang dan lihat saat ini


Foto kelas kita, XI IPA 5.


Yah, aku memang nggak ada dalam foto itu, tapi aku yakin kalian tidak lupa denganku


Aku adalah Zainul Rikhman, tapi sekarang semua orang memanggilku Zainul Rich man


Ha ha


Orang paling kaya di Kabupaten T tahun 2021, yang tinggal di rumahnya yang terletak di pedalaman hutan


Yah, itu adalah aku


Untuk apa aku mengirimkan surat aneh ini pada kalian?


Jawabannya karena aku suka sesuatu yang aneh aneh dan unik


Aku berniat mengundang kalian semua ke istanaku


Ke rumahku, rumah yang terletak di tepian sungai di tengah hutan yang sangat eksotis dan damai


Aku ingin berbagi dengan kalian, sungguh


Aku bisa menjadi seperti sekarang ini juga berkat kalian


Kalau kalian bersedia datang, lusa berangkatlah

__ADS_1


Ada jamuan special untuk kalian


Juga aku ingin membagi sedikit uangku untuk kalian


Kalau kalian bersedia mengunjungiku aku akan mentransfer 300 juta rupiah ke rekening kalian


Jangan khawatir, aku tidak sedang membual


Begitu kalian sampai di rumahku, 100 juta akan langsung masuk ke rekening kalian


Sisanya akan kuberikan secara cash jika kita sudah bertemu


Sampai jumpa di rumahku ya


Aku rindu kalian, sungguh


Bayu membaca dengan seksama surat tersebut. Dia menopang dagu, terlihat memikirkan sesuatu. Instingnya sebagai seorang petugas kepolisian seperti memberi peringatan untuk berhati hati.


Bayu meraih HP di atas meja. Dia mencoba menelepon seseorang.


"Hallo," sebuah suara yang terdengar lembut menyapa melalui sambungan telepon.


"Hei, emm aku mau tanya. Apa kamu mendapat undangan dari Zainul?" Bayu bertanya, wajahnya semakin terlihat gusar.


"Iya nih. Baru juga aku buka surat undangannya,"


"Baiklah, sepertinya Zainul ingin mengumpulkan teman SMA nya dulu," Bayu menghela nafas.


"Kenapa? Kamu terdengar tidak suka kita reunian?"


"Yah, berkumpul dengan mereka bukan ide bagus menurutku. Masa lalu yang kurang baik untuk dikenang, apalagi untuk Zainul," Bayu terdiam setelah mengucap kalimatnya. Wajahnya terlihat sendu.


"Oke, kita sambung lagi obrolannya lain waktu. Bye," Bayu menutup teleponnya.


Bayu kembali meraih buku usang yang tadi dia letakkan di sudut sofa. Dia meneruskan membaca buku yang tadi sempat tertunda. Sampailah dia di halaman terakhir, dan tiba tiba saja butir air mata menetes perlahan membasahi pipi petugas kepolisian yang masih betah melajang itu.


Sementara itu di tempat lain, satu persatu alumni kelas XI IPA 5 mendapatkan paket yang sama dengan yang didapatkan oleh Bayu. Sebuah box dengan foto dan sepucuk surat di dalamnya.


Setiap orang yang mendapatkan surat undangan itu terkecuali Bayu, nampak senang dan bahagia. Uang yang dijanjikan dalam surat tersebut memang menggiurkan. 


Tak ada yang curiga bahwa surat undangan itu akan mengantarkan mereka pada sebuah tragedi. Manusia seringkali lupa dengan kejahatan yang telah diperbuatnya. Mereka sering membungkus perilaku buruk dengan dalih bergurau. Namun mereka lupa, hati yang terlanjur luka bagaikan bara api yang tetap menyala menunggu pemantik untuk membakar semua yang telah melukainya.

__ADS_1


Bersambung ___


__ADS_2