Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XXIX. Sebuah tamparan


__ADS_3

"Aku nggak ngerti Win. Apa sih maksudmu?" Anggun bertanya pada Erwin. Keduanya masih berdiri di ambang pintu kamar yang hanya terbuka separuh.


"Mbak, cincin ini kutemukan di ruang makan tadi malam. Cincin milikmu ini tergeletak di lantai sekitar mayat Mas Erfan," Erwin terus mendesak, meminta penjelasan pada Anggun.


"Aku benar benar nggak tahu kenapa cincin itu ada disana," bantah Anggun cepat.


"Please katakan sejujurnya Mbak. Aku memikirkannya dari tadi malam. Orang yang berkeliaran di dekat mayat Mas Erfan pastilah pelaku yang berusaha menghilangkan bukti atau apapun itu yang mungkin tertinggal disana. Dan kalau benar Mbak Anggun pelakunya, biarkan aku membantumu. Untuk itu, kumohon jujur saja padaku," Erwin meraih lengan Anggun dan mencengkeramnya kuat kuat.


"Kamu sudah gila!" Pekik Anggun. Suaranya serak, matanya melotot. Dia mengguncang guncangkan tangannya, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Erwin, tapi tidak bisa. Tenaga Erwin jauh lebih kuat.


"Aku tidak akan melepaskanmu Mbak, sebelum kamu cerita yang sebenarnya. Tak kan kubiarkan keharmonisan keluarga ini rusak gara gara Mbak salah jalan. Bagaimana perasaan Mas Ferry jika tahu isteri yang disayanginya menjadi seorang tersangka kasus pembunuhan?" Erwin menatap Anggun dengan raut wajah sayu. Terlihat jelas kesedihan di sorot matanya.


"Tahu apa kamu Win!" Bentak Anggun.


"Aku tahu Mbak. Aku tahu semuanya. Mas Ferry sangat menyayangimu. Tapi setiap kali aku memperhatikan Mbak Anggun, aku merasa Mbak tak sepenuh hati menjadi istri Mas Ferry. Aku selalu mengawasimu, Mbak Anggun. Bahkan saat teman teman Mbak datang, aku coba untuk mendekat, dan mencegah agar kamu tidak main mata," ucap Erwin sungguh sungguh. Anggun geleng geleng kepala, tak menyangka dengan apa yang baru di dengarnya dari mulut Erwin.


"Kamu nggak ngerti Win. Kamu berusaha menjadi anj*ng penjaga bagi keluarga ini, tapi kamu nggak tahu apa yang kamu jaga!" Anggun menunjuk nunjuk wajah Erwin dengan jari tangan kirinya.


"Apa yang nggak kumengerti Mbak?" Erwin menuntut penjelasan.


"Aku selalu menyayangi Ferry, tapi Ferry yang tak pernah sepenuh hati padaku Win! Mertua dan adik iparku juga orang orang buruk yang menggerogoti kesehatan mentalku!" Anggun melotot, mendekatkan wajahnya pada Erwin.


"Kamu menjaga keluarga yang salah! Kamu hanya seekor anak anj*ng yang berhutang karena diberi tulang oleh keluarga busuk ini!" Lanjut Anggun setengah berbisik.


"Asal kamu tahu Win. Aku tak pernah ada sedikitpun niatan untuk selingkuh, aku setia dan sayang pada Ferry. Tapi coba tanyakan pada Mas mu itu, pernahkah dia menyentuh tubuhku? Pernahkah dia menjamahku?" Anggun kali ini mendesak Erwin.


Perlahan, Erwin melepas cengkeraman tangannya di lengan Anggun. Setelah mendengar kata kata Anggun, Erwin terdiam. Dia bingung dan merasa bersalah. Dia mundur beberapa langkah menjauhi Anggun.

__ADS_1


Anggun meraba lengannya yang terlihat memerah bekas cengkeraman Erwin. Ada rasa perih, dan panas yang berdenyut di area kulitnya yang kemerahan. Anggun segera masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu. Sedangkan Erwin beringsut menjauhi kamar Anggun.


Dengan langkah gontai, Erwin berjalan menuruni tangga. Langkahnya terhenti kala melihat sosok Ferry berdiri di tengah anak tangga. Ferry berdiri bersedekap sambil menatap Erwin penuh kebencian.


"Mas Ferry?" Erwin menelan ludah ketakutan.


"Ikut aku!" perintah Ferry singkat.


Erwin menurut, dia mengekor di belakang Ferry. Mereka berjalan ke dapur, kemudian keluar menuju halaman belakang. Ferry menghentikan langkahnya saat sampai di bawah pohon beringin besar di belakang rumah.


"Untuk apa kamu ke kamarku Win?" Tanya Ferry. Suaranya lirih, namun penuh penekanan.


"Menemui Mbak Anggun Mas," jawab Erwin jujur. Dia merasa tak ada gunanya juga untuk berbohong.


"Ada perlu apa kamu dengan isteriku? Bahkan sampai berani berkunjung ke kamar. Apakah kamu berniat mengkhianati aku, orang yang sudah memberimu kehidupan yang layak? Hah?" Ferry mulai meninggikan nada bicaranya.


"Tidak Mas, aku hanya ingin mengembalikan cincin milik Mbak Anggun ini," ucap Erwin sembari menunjukkan cincin di genggaman tangannya.


"Dimana kamu menemukannya?" Tanya Ferry kemudian.


"Di lantai Mas, di ruang makan," jawab Erwin singkat.


Dengan cepat Ferry merebut cincin yang ada di tangan Erwin. Ferry menggenggamnya sekejap kemudian memasukkan cincin itu ke dalam saku celananya.


"Darimana kamu tahu kalau cincin ini milik Anggun?" Ferry menatap Erwin bagaikan singa yang hendak menerkam mangsanya.


"Aku seringkali melihat Mbak Anggun memakainya Mas. Cincin dengan ukiran lambang Ananta atau infinity. Aku yakin itu pemberian dari Mas Ferry sebagai lambang rasa sayang yang tak terbatas untuk Mbak Anggun," jawab Erwin menjelaskan.

__ADS_1


"Jangan sok tahu!" Bentak Ferry tiba tiba. Wajahnya merah padam menahan amarah.


"Aku ingatkan padamu untuk terakhir kalinya Win. Jangan dekati istriku, apapun alasannya, aku tidak bisa mentolerirnya!" Ferry mengacungkan jarinya di hadapan Erwin.


"Mas Ferry perlu tahu kalau aku tidak akan pernah mengkhianati keluarga ini. Aku hanya ingin dianggap sebagai bagian dari Ibuk, juga kamu Mas," Erwin kali ini balik menatap Ferry.


"Aku ingin membalas budi dan berguna bagimu," lanjut Erwin dengan suara bergetar.


"Dengan diam, kamu akan berguna," jawab Ferry singkat. Dia merasa sudah sangat muak berada di hadapan Erwin. Dari dulu Ferry tidak pernah suka Bu Rofida mengangkat Erwin sebagai putranya.


"Tapi Mas," Erwin mencoba mendebat.


PLAAKKKKK


Sebuah tamparan keras dan telak menghantam pipi kanan Erwin. Laki laki berambut gondrong itu jatuh tersungkur. Bibirnya meneteskan cairan merah kental yang beraroma anyir.


"Tutup mulutmu!" Bentak Ferry setelah melayangkan tamparan pada Erwin. Setelahnya, laki laki berbadan tambun itu berjalan pergi meninggalkan Erwin yang masih terduduk di tanah.


Erwin menangis. Dia hanya ingin berguna untuk keluarga Ferry Lawanto. Tapi nyatanya, semakin dia berusaha semakin terasa betapa tak berguna hidupnya untuk Sang pengusaha kaya raya itu.


Erwin merogoh saku celananya, mengambil HP dan mengirim pesan pada Inge agar menemuinya di sungai samping rumah. Dia ingin bercerita, sekaligus ingin didengarkan untuk saat ini.


Setelah membersihkan celananya yang kotor, Erwin berjalan menyusuri area belakang rumah. Pipi kanannya terasa ngilu dan sedikit bengkak. Erwin melewati puing puing rumah Zainul Rich Man, kemudian turun ke sungai. Dia duduk di atas batu besar yang berwarna kehijauan di tepi sungai.


Suara gemericik air sedikit membawa ketenangan pada hati Erwin. Matahari sudah tinggi, namun sinarnya tak terasa menyengat sama sekali. Hutan yang rimbun membawa angin kesejukan yang mengalahkan teriknya sang surya. Beberapa mendung ke abu abuan juga nampak di kaki langit.


Erwin menghela nafas, mendongak menatap langit. Sesekali bayangan wajah Ali yang telah menjadi mayat terlintas di benaknya, namun hal itu sudah tak lagi mengganggunya. Perkataan Anggun, juga ucapan Ferry padanya yang kini berputar putar dan terus terngiang di telinganya.

__ADS_1


Erwin tidak menyadari, ada sosok yang mengendap ngendap mendekatinya dari belakang.


Bersambung ___


__ADS_2