Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
48. Penonton pertunjukan


__ADS_3

Dengan sepucuk pistol yang mengarah kepadanya, Mak Ijah masih tetap terlihat tenang. Mimik wajahnya tidak berubah. Seakan perempuan tua itu menantang Bayu untuk menarik pelatuknya.


"Sepertinya pistol memang tidak bisa menakutimu Mak Ijah," Bayu tergelak. Dia kembali memasukkan pistol pada tempatnya di sebelah ikat pinggang.


"Kematian bukanlah sesuatu yang aku khawatirkan Tuan," jawab Mak Ijah singkat.


"Lalu apa yang menjadi kekhawatiranmu Mak?" Bayu bertanya, dahinya nampak mengkerut.


"Aku hanya khawatir Tuan Zainul gagal menggapai tujuannya," jawab Mak Ijah. Kali ini ekspresinya terlihat sendu.


"Zainul? Siapa yang kamu maksud Zainul? Dia hanyalah seorang peniru," Bayu terkekeh. Tawanya terdengar mengejek.


"Seberapa banyak yang anda tahu Tuan?" Mak Ijah melotot. Perempuan itu kali ini terlihat lebih ekspresif.


"Hampir semuanya aku tahu," jawab Bayu cepat.


"Berarti meskipun anda tidak masuk dalam daftar, anda termasuk orang yang berbahaya. Mulut anda seharusnya dibungkam!" Mak Ijah melotot, terlihat menakutkan.


"Mungkin. Tapi kamu terlanjur melepaskanku dari kurungan," Bayu tersenyum.


"Jika diperlukan, saya bisa saja meringkus anda kembali," Mak Ijah masih terlihat melotot.


"Aku percaya Mak. Kamu dan juga Pak Mardoyo adalah orang yang berasal dari 'lembaga' yang sama," Bayu memicingkan matanya. Dia seakan memprovokasi Mak Ijah.


"Brengsek! Bagaimana mungkin kamu tahu!" Mak Ijah tiba tiba saja berteriak. Suaranya kencang dan melengking.


"Senang rasanya bisa membuatmu berteriak dan marah Mak. Terlihat lebih manusiawi. Jujur saja aku takut dan ngeri setiap kali melihat wajah datarmu," Bayu masih terus meledek.


Mak Ijah tiba tiba saja berlari. Dia hendak menerkam petugas kepolisian yang ada di hadapannya itu. Bayu dengan sigap kembali merogoh ikat pinggangnya.


DOORRRR


Suara letupan pistol bergema, memekakkan telinga. Beberapa hewan hutan langsung bersuara saling bersahutan. Mungkin mereka takut, atau terkejut mendengar bunyi asing yang tak pernah ada sebelumnya.


Mak Ijah tersungkur di lantai. Ada cairan warna merah tua nan kental yang tercecer. Mak Ijah meringis memegangi paha kanannya. Tatapan penuh kebencian di arahkan pada Bayu.

__ADS_1


"Maaf Mak. Aku tidak bermaksud melakukannya," ucap Bayu santai.


"Jika kamu berusaha menggagalkan tujuan Tuan Zainul aku akan mengutukmu. Kalaupun aku tak bisa menyakitimu, biarkan sumpah wanita tua ini menjadikan hidupmu tidak tenteram!" Mak Ijah mengucapkan sumpah serapahnya.


"Wow wow, tenanglah Mak. Jika aku mau menggagalkan rencana Tuan Zainul mu itu, sedari kemarin sudah kulakukan. Aku sudah tahu hampir semua rencananya," Bayu berjongkok di hadapan Mak Ijah.


"Jadi, apa maumu sebenarnya?" Mak Ijah menatap Bayu. Sorot matanya penuh dengan kebencian.


"Untuk saat ini aku hanyalah penonton yang menikmati pertunjukan," Bayu menghela nafas.


"Kamu tahu Mak, tidak seperti tamu yang lain, aku bukanlah anggota dari ekskul drama. Tapi aku tahu semua hal tentang club drama mereka. Sedari dulu aku adalah seorang penikmat karya. Aku adalah penonton. Dan kupikir, pertunjukan drama kali ini benar benar membuatku berdebar debar. Aku masih penasaran bagaimana bagian akhirnya," Bayu tersenyum sekilas.


"Bukankah kamu seorang petugas kepolisian? Bagaimana mungkin kamu membiarkan semua kejadian yang telah terjadi di rumah ini?" Mak Ijah terlihat cukup terkejut dengan ucapan Bayu. 


"Begitupun dirimu Mak. Bagaimana mungkin kamu membiarkan bahkan membantu perilaku keji dari majikanmu?" Bayu balik bertanya.


"Itu karena. . .,"


"Karena dia majikanmu. Dan kamu berhutang budi padanya!" Sergah Bayu memotong jawaban Mak Ijah.


"Ya dan begitupun aku. Aku juga memiliki Tuan Zainul ku sendiri Mak Ijah," Bayu kembali berdiri.


Bayu mengulurkan tangannya pada Mak Ijah. Perempuan tua itu sedikit bingung, namun akhirnya menerima uluran tangan pria yang ada di hadapannya itu. Mak Ijah berdiri. Celananya nampak basah oleh noda darah.


Bayu bergegas masuk ke dalam kamar. Mengambil sebuah handuk, kemudian mengikatkan pada paha kanan Mak Ijah.


"Tunjukkan ruang kamarmu Mak," ucap Bayu.


"Hah? Kamu juga mengetahuinya?" Mak Ijah semakin terkejut.


"Aku hanya menduga duga. Dan melihat ekspresimu, sepertinya tebakanku benar," Bayu tersenyum puas. Mak Ijah tertunduk, merasa telah kalah dikerjai petugas kepolisian itu.


"Percayalah Mak, aku tidak akan menganggu panggung pertunjukan dari Tuanmu itu," ucap Bayu meyakinkan.


Setelah beberapa saat, akhirnya dengan dibantu oleh Bayu, Mak Ijah menuruni tangga. Rasa nyeri akibat timah panas yang bersarang di paha tuanya, dihiraukan oleh Mak Ijah. Perempuan itu kembali memperlihatkan raut wajah datarnya.

__ADS_1


Sampai di lantai satu Mak Ijah berjalan terseok seok ke arah dapur. Dari dapur dia berbelok ke kanan, ke arah lorong yang berlawanan dengan kamar mandi. Bayu berjalan mengekor di belakangnya.


Mereka melewati ruangan gudang tempat penyimpanan kunci kunci kamar. Mak Ijah dan Bayu terus berjalan menyusuri lorong. Mata Bayu menangkap bekas noda merah yang mengering di lantai. Jelas bukan dari luka Mak Ijah.


Akhirnya mereka sampai di ujung lorong. Terdapat sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup.


Kriiettttt


Bunyi derit yang cukup kencang terdengar saat Mak Ijah membuka pintu. Kini terlihat sebuah kamar yang cukup luas, dengan dua buah kasur. Satu kasur yang terlihat tertata rapi, dan satunya lagi nampak sosok yang tengah terbaring kaku dengan luka robek di perutnya.


"Apa yang terjadi pada Pak Mardoyo?" Tanya Bayu setengah berteriak.


"Dia adalah orang gila yang tak tahu berterimakasih. Si tua bangka Mardoyo itu hendak memeras Tuan Zainul. Kematian memang pantas untuk menghukumnya," jawab Mak Ijah dengan wajah datarnya.


"Kurasa pertunjukan ini telah melenceng dari skenarionya. Bukankah seharusnya Pak Mardoyo tidak ada di dalam daftar?" Bayu mengernyitkan dahi.


"Semua hal belum tentu bisa sesuai dengan rencana. Yang terpenting tujuan awalnya bisa tercapai," sergah Mak Ijah.


"Sekarang tunjukkan padaku dimana 'jalan' nya," Bayu menatap Mak Ijah.


Mak Ijah mengambil sebuah tongkat besi di sudut kamar. Kemudian memukulkan tongkat besi itu pada sebuah gambar kotak persegi yang terletak di langit langit. Dan Bayu tersenyum puas, dugaannya ternyata benar.


Sementara itu, Galang membuka matanya. Dia terbangun di sebuah ruangan ber cat putih bersih. Awalnya dia menduga sedang berada di alam kematian. Namun, saat dia merasakan sakit dan nyeri di sekujur tubuhnya Galang tersadar, dirinya masih menghirup udara dunia.


Seorang wanita tersenyum di hadapan Galang. Wanita yang cantik, dengan bibir merah dan kulit wajah bersih tanpa make up.


"Syukurlah kamu sudah siuman," ucap wanita cantik itu.


"Siapa?" Tanya Galang lirih. Suaranya tersendat seakan tidak mau keluar dari tenggorokannya.


"Saya bidan desa. Kamu saat ini berada di Polindes," ucap wanita yang ternyata bidan desa itu.


"Tolong telepon polisi, cepat! Katakan ada kasus kejahatan di rumah milik Sang Rich Man. Bayu penjahatnya! Namanya Bayu. Dia adalah pelakunya!" ucap Galang dengan sisa sisa tenaganya.


Sang bidan yang tidak mengerti maksud ucapan Galang hanya terdiam. Sedangkan Galang sekali lagi tak sadarkan diri. Kondisinya memang masih sangat lemah.

__ADS_1


Bersambung ___


__ADS_2