Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
VII. Tamu


__ADS_3

Suara beberapa motor trail bergaung di kejauhan. Erwin yang tengah duduk santai sambil membaca buku di teras depan rumah cukup terkejut dengan bisingnya mesin motor di tengah hutan. Nampak asap knalpot berwarna putih ke abu abu an membumbung di udara.


Tiga motor trail parkir di halaman rumah utama. Dua pengendara laki laki membonceng masing masing satu perempuan. Dan ada satu pengendara perempuan dengan suara knalpot paling bising di antara yang lain. Erwin menutup bukunya, kemudian berjalan menghampiri rombongan pengendara trail tersebut.


"Maaf, ada keperluan apa ya?" Tanya Erwin, seulas senyum dia paksakan di bibirnya.


"Wiihh, siapa nih? Kok ada cowok cakep di tengah hutan begini?" Tanya perempuan yang tadi berkendara trail sendiri.


"Yang jelas, bukan suami Anggun. . .hyaaaa," sahut laki laki berkacamata. Disusul tawa riang laki laki satunya.


"Perkenalkan saya Erwin. . .saya adalah," Erwin berusaha memperkenalkan diri. Namun, belum selesai dia berbicara terdengar langkah kaki yang terburu buru dari dalam rumah. Anggun datang dengan tergopoh gopoh.


"Ah kalian sudah datang. Mari silahkan masuk," ucap Anggun tiba tiba.


Erwin kali ini ditinggalkan sendirian. Menatap punggung para tamu yang masuk ke dalam rumah.


"Nyaman bener nih rumah baru. Udara seger, sejuk, serasa liburan di villa pribadi nih," ucap laki laki berkacamata.


Di ruang tamu, kedatangan para tamu disambut oleh Bu Rofida. Mertua Anggun itu tersenyum sumringah, menunjukkan ekspresi yang begitu ramah. Namun Anggun mencibirnya dalam hati. Bagi Anggun, Bu Rofida tak lebih hanya sekedar memakai topeng kemunafikan.


"Teman teman perkenalkan Ibu mertuaku, Bu Rofida," ucap Anggun sambil tersenyum.


"Salam kenal Bu, saya Erfan," ucap laki laki berkacamata sambil menjabat erat tangan Bu Rofida.


"Saya Ali Sabet Bu. Panggil saja Ali," sambung laki laki di sebelah Erfan.


"Saya Vita Bu," perempuan yang tadi mengendarai motor trail sendirian ikut memperkenalkan diri.


"Saya Andewi," perempuan berambut pendek juga memperkenalkan diri.


"Saya Inge," terakhir perempuan yang terlihat memakai perhiasan berlebih menyalami Bu Rofida.


"Waah teman temannya Nduk Anggun ya. Mari duduk, anggap rumah sendiri pokoknya," Bu Rofida tersenyum ramah dan mempersilahkan duduk. Kemudian dia beranjak menuju ke dapur.


"Ramah bener Ibu mertuamu Nggun. Nggak kayak suamimu yang ketus sama aku," ucap Erfan, dia duduk sambil melepas sarung tangannya.

__ADS_1


"Ha ha ha, gimana nggak ketus, wong kamu mau ngambil bini nya," seloroh Ali. Yang langsung mendapat sebuah pukulan dari Andewi tepat di lengannya.


"Plis, kalian sudah pada tua, kalau ngomong jangan asal nyablak," Vita melotot.


"Yah kan kita teman, becanda doang kan," Ali berkilah.


Anggun diam saja. Dia melirik jam besar yang terpasang di dinding ruang tamu. Jam 2 lewat, dan suaminya tak menepati janji. Sampai saat ini, Ferry belum juga terlihat pulang. Sedari tadi Anggun sudah mencoba menelponnya, namun tidak juga tersambung.


"Ehem. Ngomong ngomong suamimu kemana Nggun?" Erfan bertanya.


"Masih di toko pusat," jawab Anggun pendek. Pertanyaan dari Erfan sudah Anggun duga sebelumnya.


"Orang kalau makin kaya makin sibuk ya gaes," ucap Erfan kemudian.


"Btw Nggun, kabarnya lahan rumah ini pemberian penulis terkenal ya?" Inge bertanya mengalihkan pembicaraan. Matanya nyalang memperhatikan setiap sudut ruang tamu dari rumah baru Anggun.


"Penulis Zainul Rich Man kan?" Andewi menyahut.


"Iya. Zainul dan aku sebenarnya saudaraan," jawab Anggun singkat.


"Entahlah," Anggun mengangkat kedua bahunya.


"Kenapa kamu tanya tanya Ngee?" Vita bertanya, keningnya nampak berkerut.


"Karena aku penggemar berat Zainul Rich Man," jawab Inge. Dia menurunkan tas ransel kecil di pundaknya kemudian mengambil sesuatu dalam tas tersebut.


"Nihh, yang satu ini tak pernah bosan aku membacanya," ucap Inge sambil menunjukkan sebuah buku bersampul merah maroon.


"Bukunya tentang apa sih? Kok banyak orang yang nyari itu buku," Ali terlihat penasaran.


"Bukunya sih ada banyak ya. Di bagian awal selalu dituliskan kalau tulisan Zainul ini adalah sebuah karya fiksi. Namun saat aku membacanya, entah kenapa aku seperti benar benar ada di situasi dan kondisi cerita itu. Tulisan Zainul itu candu, sebuah fiksi yang membuat semua pembacanya berhalusinasi," jawab Inge menggebu gebu.


"Begitukah? Aku belum pernah membacanya sama sekali," Anggun terlihat penasaran.


"Yang aku bawa ini buku best sellernya. Buku pertama yang diterbitkan. Kisah tentang pembullyan yang bikin aku bener bener trenyuh bacanya," lanjut Inge.

__ADS_1


"Boleh aku pinjam?" Tanya Anggun.


"Boleh, nih. Kalau buku buku yang lain dicetak terbatas katanya. Bahkan buku terakhirnya, kalau nggak salah cuma dicetak 100 eksemplar, banyak yang nyari nyari. Apalagi banyak yang penasaran, karena sang penulis yang hilang tak diketahui dimana dia berada," jelas Inge sambil menyodorkan buku di tangannya pada Anggun.


"Iya kah? Terus kamu tiba tiba saja dapat pemberian tanah di hutan ini dari Zainul penulis itu Nggun?" Vita ikut bertanya penasaran. Anggun mengangguk.


"Wiihh, penuh misteri ya. Kayak di film film gitu," Andewi manggut manggut.


"Nanti kita keliling keliling yok. Kayaknya banyak spot spot indah untuk berfoto," Erfan menyahut mengalihkan topik pembicaraan, setelah beberapa saat lamanya diam.


"Aku bawa kamera de es el er lho," lanjut Erfan menunjukkan kamera barunya.


"Boleh boleh. Asal jangan istri orang saja yang terus terusan kamu foto," seloroh Ali sambil memainkan alisnya.


"Waahh, seru banget ngobrolnya," Bu Rofida berjalan dari dapur membawa nampan berisi toples toples snack dan kukis. Di belakangnya, Mak Surti membawa beberapa cangkir besar minuman yang mengepulkan asap putih tipis.


"Waduh, jadi merepotkan bu," ucap Andewi tersenyum kikuk.


"Nggak kok. Pokoknya teman dan tamunya Nduk Anggun itu berarti tamu ibu juga. Silahkan diminum, monggo dilanjut ngobrolnya. Ibu mau ke belakang lagi, masak sama Mak Surti," Bu Rofida terlihat tersenyum begitu ramah.


"Terimakasih Bu," semua orang serempak menjawab.


"Kita kesini nggak bawa oleh oleh, malah ngerepotin," ucap Andewi setelah Bu Rofida pergi ke dapur.


"Jangan dipikirkan. Begitulah arti pertemanan. Kalau yang satu bahagia punya rumah baru, yang lain harus ikut bahagia juga doongg," Ali terkekeh.


"Ayok silahkan diminum. Kalian datang kesini itu sudah menjadi oleh oleh buatku. Karena kalian satu satunya teman yang kumiliki saat ini," ucap Anggun menatap Andewi dan Vita.


"Uuuuuuu," Andewi dan Vita memeluk Anggun. Sedangkan Inge masih sibuk mengamati rumah baru Anggun.


"Aku mau ganti baju. Nanti setelah ini kita jalan jalan berkeliling rumah ya. Ada sungai di dekat sini, airnya jernih banget," ucap Anggun melepas pelukan teman temannya. Dia kemudian beranjak menuju ke lantai dua.


Sampai di dalam kamar, Anggun meletakkan buku yang dipinjam dari Inge ke atas meja. Memandangi sekilas sampulnya yang berwarna merah. Buku yang terasa familiar, dia sering melihatnya, tapi lupa entah dimana.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2