Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XLIV. Kegilaan Erwin


__ADS_3

Dalam suasana petang yang semakin suram, Vita terus melangkahkan kakinya. Sesekali dia menoleh ke belakang. Memastikan Erwin tak lagi mengejarnya. Sedikit lega karena tak ada tanda tanda laki laki berambut gondrong itu.


Vita merasa heran. Dugaan, dan prasangkanya terhadap Ferry meleset. Erwin telah mengakui perbuatannya menyerang Inge. Meskipun sulit dimengerti, mengapa Erwin bertindak demikian. Bukankah mereka baru menjalin hubungan dan sedang mesra mesranya? Ataukah jangan jangan buku koleksi Erwin yang hilang menjadi sumber masalahnya.


Semakin dipikirkan semakin rumit bagaikan benang kusut. Awalnya Vita menduga penjahat yang mencelakai teman temannya adalah orang yang sama. Kini bagi Vita, setelah Erwin mengaku telah mencelakai Inge, kasus pembun*h*n sahabat sahabatnya itu kembali ke titik awal lagi.


Tidak mungkin Erwin yang meracuni Erfan. Untuk apa? Kenalpun baru kemarin. Kalaupun ada motif untuk meracuni Erfan, satu satunya alasan Erwin melakukannya adalah untuk membalas sakit hati Inge. Tapi sekarang malah Inge yang ditik*m olehnya. Sebuah fakta yang saling bertolak belakang.


Kegelapan hutan semakin menjadi jadi. Padahal matahari baru saja terbenam. Seandainya saja saat ini Vita sedang duduk di rumahnya, pastilah gemerlap dunia menghempaskan kegelapan. Tak ada istilah malam hari bagi kehidupan di kota.


Dalam kegelapan, Vita mulai merasa bahwa dirinya kurang bersyukur atas kehidupan yang dijalani. Saat semua serba ada dan tersedia. Pendidikan hingga jenjang apapun, sokongan materi dari orangtuanya lebih dari cukup. Mungkin dia kalah cantik dari Anggun, tapi kehidupannya jauh lebih beruntung dari sahabatnya itu.


Saat Vita sibuk dalam lamunannya, tiba tiba terdengar suara berisik dari balik semak semak di tepian sungai. Vita terlonjak kaget, dan langsung mempercepat langkahnya. Sayangnya semua sudah terlambat. Erwin melompat dari balik tanaman perdu dan langsung menubruk Vita. Mereka berdua jatuh berguling di tanah.


"Vit, jangan lari dariku!" bentak Erwin. Samar samar terlihat dia melotot mengerikan.


"Kamu sudah nggak waras Win," sahut Vita. Dia meringis menahan sakit. Bahunya terasa nyeri, mungkin terkilir.


"Aku hanya ingin menjelaskan. Aku tak bermaksud mencelakai Inge. Saat dia mengungkit isi buku itu, pikiranku langsung kosong. Aku. . .aku merasa harus melindungi keutuhan keluargaku!" Erwin bangun, menepuk nepuk badannya yang penuh dengan tanah.


"Aku nggak ngerti maksudmu Win! Kenapa dengan bukunya? Apa hubungannya dengan keluargamu?" Vita ikut berdiri, memegangi bahu kanannya yang terasa semakin berdenyut.


"Kamu jangan banyak tanya Vit! Semakin sedikit kamu tahu, semakin aman hidupmu!" Erwin menggeram menakutkan.


"Ini soal nyawa Win! Kamu jangan gila! Kembali ke rumah sekarang dan serahkan dirimu pada polisi!" Vita mundur beberapa langkah. Meskipun dia pernah mempelajari seni bela diri, tapi secara postur dan tenaga jelas kalah dari Erwin. Apalagi dari yang terlihat saat ini Erwin sudah kehilangan akalnya.


"Apakah dengan menyerahkan diriku pada polisi, kehidupan dan ketenangan yang selama ini ada akan kembali?" Erwin menggaruk garuk lehernya dengan kasar. Kukunya nampak menghitam penuh dengan lumpur sungai.


"Tidak ada air yang mengalir tanpa riak Win. Tidak ada kehidupan tanpa aral dan kesedihan," Vita terus membalas sambil tetap menjaga jarak.


"Bagaimana jika kehidupan itu terlalu banyak kesedihan? Aku yang ditinggalkan orangtuaku, aku yang tak tahu kasih sayang seorang ayah dan Ibu. Dunia ini tak adil Vita! Air di kehidupanku bukan hanya beriak, tapi bergelombang dan mengombang ambingkan nasibku!" Erwin kini terisak.


Vita tertegun mendengar Erwin meracau. Memang benar, kita tidak akan pernah bisa memahami kehidupan orang lain. Setiap orang mencoba untuk terlihat bahagia di luarnya, namun berbeda dengan dalam hati.

__ADS_1


"Win, aku memang tidak mengerti kehidupanmu. Tapi bukankah keluarga Anggun telah merawatmu dengan kasih sayang? Materi semuanya, cukup kan?" Vita menghela nafas. Dia berhati hati dengan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.


"Ya ya ya, kamu benar. Bu Rofida memberi cinta seorang ibu. Mas Ferry dengan sikap dinginnya memberi materi bagai seorang ayah," Erwin mengangguk angguk.


"Maka dari itulah, aku harus membalas budi! Aku akan melindungi keluargaku dengan semua yang kumiliki!" Erwin mendesis, nafasnya memburu.


"Baik aku mengerti. Jadi sekarang biarkan aku membantumu. Ceritakan semua yang telah terjadi. Ceritakan semuanya padaku. Oke?" Vita mencoba bernegosiasi. Erwin yang menggila harus ditenangkan, begitu pikirnya.


"Inge Vit Ingeeee," Erwin kembali menangis. Vita diam menunggu.


"Inge tahu siapa yang telah meracuni Erfan," ucap Erwin diantara isak tangis.


"Siapa yang meracuni Erfan?" Vita tak sabar ingin mendapat jawaban dari Erwin.


"Ada di buku seri ke 3 karya Zainul Rich Man," jawab Erwin.


"Aku belum membacanya Win. Katakan saja padaku, siapa yang telah meracuni Erfan. Dan aku janji akan membantumu untuk keluar dari masalah ini. Percayalah, dua kepala akan lebih berguna untuk memecahkan masalah," bujuk Vita.


Erwin terdiam. Beberapa saat lamanya dia hanya memandangi Vita dalam kegelapan. Bola matanya yang putih nampak mengkilat tanpa pencahayaan.


Tiba tiba Erwin bergerak menyergap, merangkul dan mengunci Vita. Perempuan manis itu tak berkutik, karena gagal memprediksi gerakan Erwin.


Bruugg


Mereka berdua berguling di tanah. Erwin masih mengunci Vita sekuat tenaga. Vita hanya meringis, merasakan tubuhnya dihimpit bagaikan dililit oleh seekor ular besar.


"Apa apaan kamu Win? Heeii, lepaskan!" Vita berteriak ketakutan.


"Kenapa kamu mau tahu siapa yang telah meracuni Erfan, hah? Kamu pasti mau menipuku! Kamu pasti mau melapor pada polisi itu! Iya kan?" Erwin melotot penuh amarah. Vita menggeleng cepat.


"Takkan kubiarkan siapapun menghancurkan keluargaku!" Erwin memindahkan lengannya dari dada ke leher Vita. Sementara kedua kakinya masih menjepit pinggang Vita sekuat tenaga. Mereka berguling kembali di tanah.


"Jangan menambah dosa dan kejahatanmu! Kamu sudah membun*h Inge. Apa sekarang kamu hendak membunuhku?" Vita mulai merasa sesak nafas.

__ADS_1


"Aku tak sengaja melakukannya pada Inge! Aku menyukainya, aku tak sengaja!" Erwin meracau dan membentak.


"Bagaimana mungkin kamu bilang tidak sengaja saat dua tusuk*n dan satu sayatan di leher, membuat Inge meregang nyawa? Kamu sudah gila Win!" teriak Vita lantang.


"Hah? Apa katamu? Aku . . .aku, tak pernah menyerang leher Inge!" Erwin mengendurkan kunciannya.


"Jangan berbohong brengs*k! Inge tewas karena sayatan di leher!" teriak Vita. Merasa Erwin lengah, Vita menghantamkan sikunya di ulu hati Erwin.


"Uupphhh!" Erwin hampir muntah merasakan kerasnya sikutan Vita.


Bukannya melepas kuncian, Erwin malah gelap mata mendapatkan perlawanan dari Vita. Dia kembali mengalungkan lengannya di leher Vita, menekannya sekuat tenaga.


Vita tak tinggal diam. Secara membabi buta dia menyerang, memukul, mencakar tubuh dan wajah Erwin. Beberapa menit pergumulan terjadi. Hingga pada akhirnya, Vita lemas tak berdaya. Wajahnya membiru, nafasnya tak lagi terdengar. Gerakannya terhenti sepenuhnya. Saat malam tiba, bersama kesunyian hutan, satu lagi nyawa manusia melayang sia sia.


Bersambung____



Gaes, tulisan baru dari author siap dinikmati.


Rumah Tepi Sungai sudah menuju babak akhir.


Author menulis kisah baru berjudul Kobeng (tersesat atau disesatkan)


Masih setia dengan genre misteri yah.


'KOBENG' ditulis untuk turut serta meramaikan event cerita horor dari Noveltoon.


Yuukk, mampir. Cari judul KOBENG, atau klik profil bung Kus yaahh. Berikan Vote, klik like dan favorit.


Komentar juga ditunggu untuk saran dan perbaikan penulisan.


Rumah Tepi Sungai tetap berlanjut sampai tamat bersamaan dengan KOBENG.

__ADS_1


Tengkiyuuuhh 🤩


__ADS_2