Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
X. Perseteruan


__ADS_3

Ferry Lawanto, Sang Saudagar kaya itu tengah duduk di kursi ruang tamu. Kaki kanannya menyilang dan tertumpuk di atas kaki kiri. Sesekali dia melirik jam yang berdetak pelan di dinding bagian tengah ruangan. Matanya nyalang mengawasi pintu depan, seakan berharap melihat seseorang berjalan masuk ke dalam rumah.


Pucuk dicinta, akhirnya datanglah Anggun dengan sedikit berlari. Wajah istrinya itu terlihat cantik, namun dengan sorot mata yang sayu. Ferry selalu merasa istrinya itu ringkih dan mudah lelah.


"Mas, kapan datang?" Tanya Anggun sambil tersenyum.


"Sudah lumayan lama. Darimana kamu?" Ferry bertanya sedikit ketus.


"Mengantar teman teman berkeliling Mas," jawab Anggun perlahan. Dia sadar, suaminya sedang jengkel.


Tak berselang lama, Erfan terlihat memasuki rumah. Ferry segera berdiri dari duduknya. Anggun melihat dengan jelas, wajah suaminya itu memerah seketika, tangannya terkepal erat. Ada amarah, ada emosi yang ditahan. Sorot mata Ferry jelas menunjukkan kemurkaan.


"Waahh, Tuan rumah sudah datang rupanya," Erfan tersenyum basa basi.


"Sudah lama Fan?" Ferry membalas tersenyum. Namun malah terlihat seperti sebuah seringai. Anggun merasa ketakutan. Dia hanya berdiri mematung di belakang suaminya.


Erfan mengulurkan tangan pada Ferry. Dengan canggung Ferry membalas uluran tangan itu. Mereka berjabat tangan erat dan mantap. Ferry sedikit merem*s tangan Erfan, sebelum melepas jabat tangannya.


"Tempat yang indah, rumah yang bagus. Selera istrimu memang luar biasa," ucap Erfan kemudian.


"Jelas, istriku tidak pernah salah pilih dalam hidupnya," sambung Ferry cepat.


"Ya aku setuju soal itu. Meskipun entah bagaimana aku merasa saat ini dia kurang bahagia, kesehatannya juga terganggu," Erfan tersenyum.


Ferry melepas kancing bajunya yang paling atas. Dia merasa gerah. Darahnya seperti mengalir cepat ke ubun ubun. Giginya gemeretak beradu. Anggun segera meraih lengan suaminya, dan memegangnya dengan erat. Dia tak mau ada pertikaian di hadapannya.


Ferry dan Erfan saling menatap. Sorot mata mereka saling mengancam. Dan saat suasana semakin memanas datanglah Inge, Vita, Andewi serta Ali yang masih mengenakan boxer bergambar sponsbob skuer pen.


"Hallooo, selamat siang Mas Ferry," Vita menyapa lebih dulu. Dia sadar dan tahu suasana sedang tidak baik, jadi dia mencoba untuk mengalihkan perhatian.


"Halloo, kalian sudah lama datangnya?" Ferry menghembuskan nafas, kemudian tersenyum ke arah teman teman istrinya itu.


"Lumayan Mas," sambung Andewi.


"Maaf ya nggak bisa menyambut. Aku tadi harus ke toko pusat soalnya," Ferry menyalami satu persatu tamunya.


"Its Ok Mas. Kami tahu Mas Ferry pasti super sibuk," Inge ikut menyahut.

__ADS_1


"Ya begitulah. Hidup itu kan pilihan. Kalau mau sukses ya harus sibuk, kadang juga mengorbankan waktu untuk keluarga. Sekarang coba aku tanya, kalian kalian ini kalau nyari pasangan milih yang sibuk atau nggak?" Tanya Ferry sembari melirik Erfan. Dia memang sengaja mengejek laki laki berkalung kamera itu. Vita, Inge dan Andewi hanya terdiam, enggan untuk menjawab.


"Mas, sebaiknya Mas ganti baju dulu deh," ucap Anggun. Dia sedikit menarik lengan suaminya. Ferry akhirnya menurut.


"Ah, kalian santai santai saja dulu ya. Aku mau ganti baju dulu. Kalau mau camilan atau minum, tinggal request saja ke Mak Surti di belakang," tukas Ferry seraya mengedarkan pandangan pada semua tamunya.


"Eh, Nggun bentar," cegah Ali tiba tiba. Wajahnya nampak begitu serius.


"Ada apa Al?" Anggun mengernyitkan dahi.


"Emm, password wifi mu apa ya?" Ali nyengir tak berdosa.


"Tabur Tuai," jawab Anggun singkat. Dia menggamit lengan suaminya dan berjalan menuju lantai atas.


"Kita nanti balik jam berapa gaes?" Vita bertanya setelah Anggun dan Ferry pergi.


"Nanti malam deh kayaknya. Aku masih mau nyari spot foto nih. Apalagi senja nanti kayaknya bagus tuh foto langit di puncak bukit," jawab Erfan.


"Iya nanti malam saja ya. Aku pengen nyoba makan malam di tengah hutan," sambung Ali.


"Ah, yang ada di otakmu makaann terus," sergah Inge.


"Tapi yakin nih kita pulang nanti malam? Menembus tengah hutan lho," Vita terlihat ragu.


"Kamu takut Vit?" Ali mencibir.


"Ya kan aku naik motor sendirian Nyet. Kalau misal ada mogoknya gimana?" Vita menaikkan nada bicaranya. Dia terlihat kesal.


"Tenang, nanti kamu yang paling depan deh. Jadi kalau ada apa apa yang lain bakal tahu," Erfan menepuk pundak Vita meyakinkan. Kemudian dia melangkah keluar rumah.


"Mau kemana Fan?" Tanya Ali setengah berteriak.


"Foto foto lah," jawab Erfan terus melangkah pergi.


"Dasar gila foto," gerutu Ali. Dia merebahkan tubuhnya di sofa dan asyik bermain dengan HP nya.


"Aku juga mau jalan jalan," Andewi tiba tiba saja juga menyusul keluar rumah.

__ADS_1


"Lhah. Mau kemana tuh bocah," Vita geleng geleng kepala.


"Kalau gitu, aku mau ke tempat Erwin saja deh. Mau lihat koleksi buku karyanya Zainul Rich Man," ucap Inge dengan tersenyum.


"Yeee, bilang saja mau godain brondong, jablay," Vita sewot.


"Biarin," Inge melengos pergi.


Inge keluar rumah. Dia tadi sempat melihat Erwin berjalan ke rumah sebelah rumah utama. Mungkin pemuda tampan itu memang tinggal disana, begitu pikir Inge.


Di halaman depan nampak seorang laki laki yang cukup tua bersama seorang balita yang terlihat lucu dan menggemaskan. Inge menduga mungkin saja mereka adalah saudaranya Anggun.


"Hallo ante," sapa si balita, saat melihat Inge berjalan di depannya.


"Halloo adik cakep. Namanya siapa?" Inge tersenyum ramah.


"Miko Antee," jawab balita 5 tahun itu.


"Hallo Non, temannya Nyonya Anggun ya?" Laki laki di sebelah balita ikut menyapa.


"Iya Pak, nama saya Inge," jawab Inge sambil menunduk. Mendengar laki laki itu memanggil Anggun dengan sebutan Nyonya, Inge langsung faham kalau laki laki itu adalah pembantu Anggun. Mungkin suami dari Mak Surti yang tadi menyiapkan minuman untuknya.


"Saya Nyoto Non, tukang beberes disini. Non Inge mau kemana?" Tanya Pak Nyoto kemudian.


"Ah, saya mau bertemu Erwin Pak. Mau pinjam buku," jawab Inge sedikit sebal karena laki laki tua itu banyak bertanya.


"Oohh, Nak Erwin ada di rumah Non. Monggo monggo," Pak Nyoto mempersilahkan. Inge hanya mengangguk kemudian berjalan meninggalkan bapak anak yang asyik bermain pasir itu.


Tanpa permisi Inge langsung masuk ke dalam rumah. Dia menemukan Erwin yang sedang duduk bersantai sambil membaca sebuah buku. Erwin sedikit terkejut dengan kedatangan Inge yang tiba tiba.


"Ah, Mbak Inge?" Erwin memperbaiki cara duduknya yang 'jigang'.


"Aku nggak ngeganggu kan? Tadi katanya boleh kalau aku mau lihat lihat koleksi bukumu," Inge ikut duduk di sebelah Erwin.


"Ah iya Mbak," jawab Erwin singkat.


"Nggak usah panggil Mbak, aku jadi berasa tua. Panggil nama saja," Inge menepuk nepuk bahu Erwin.

__ADS_1


"Ah, baik . . .Inge," Erwin menghela nafas. Dia sedikit grogi. Perempuan di hadapannya itu seumuran dengan Anggun. Beberapa tahun lebih tua dari Erwin. Inge sosok yang cantik, sosok yang terasa lebih dewasa dari Erwin dan hal itulah yang membuat Erwin merasa grogi. Erwin memang suka pada perempuan yang lebih tua darinya.


Bersambung___


__ADS_2