Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
43. Ekskul Drama


__ADS_3

Seakan tidak belajar dari pengalaman, orang orang di rumah tepi sungai bergerak secara terpisah. Ellie dengan Iva, sementara Nori bersama Hendra. Mereka berpencar untuk mencari Denis. 


Ellie kali ini yang mengambil inisiatif untuk segera mencari Denis. Dia merasa harus secepatnya pergi dari rumah sang Rich Man. Tak ada yang boleh tertinggal di rumah yang membawa malapetaka itu. Semua orang yang masih hidup harus ikut pulang bersama rombongan, begitu pikir Ellie.


"Ell, aku mau ngomong sesuatu," ucap Iva tiba tiba. Dia terlihat ragu dengan perkataannya.


"Apa? Ngomong aja," sambung Ellie penasaran.


Ellie dan Iva kini berjalan menyusuri pekarangan samping rumah yang berhadapan langsung dengan sungai. Tanaman tanaman impor yang unik tertata rapi di sekitarnya. Termasuk pohon machinell yang mematikan.


Ellie menduga mungkin saja Denis sedang menikmati rokoknya di tepian sungai. Seperti yang dilakukannya waktu awal datang ke rumah ini. Meskipun Ellie sedikit ragu dengan pemikirannya itu.


"Aku sebenarnya sedikit curiga pada Hendra," Iva berkata setengah berbisik.


"Soal apa ini? Menurutmu pembunuh gila itu adalah Hendra?" Ellie mengernyitkan dahi. Ada rasa kaget di benaknya mendengar praduga yang terlontar dari mulut Iva.


"Bukan. . .bukan begitu Ell," sergah Iva sambil geleng geleng kepala.


"Lalu?"


"Aku hanya curiga, Hendra yang telah menjebak Bayu," Iva menjelaskan maksud perkataannya.


"Menjebak Bayu?" Ellie menatap Iva penasaran.


"Ya, kamu ingat saat kita semua ke kamar tamu untuk melihat mayat Yodi? Hendra berada di urutan paling belakang. Waktu itu aku menawarkan bantuan untuk membantunya berjalan, namun dia menolak. Entah kenapa aku merasa waktu itu dia sengaja berada paling belakang untuk mengambil kesempatan menjebak Bayu," terang Iva.


"Maksudmu menjebak dengan cara memasukkan kunci kamar tamu ke dalam kamar Bayu?" Ellie bertanya, Iva mengangguk cepat.


"Jika dugaanmu benar, maka otomatis Hendra adalah penjahatnya Vaa. Karena siapapun yang memiliki kunci kamar tamu, berarti dialah orang yang telah membunuh Yodi," Ellie nampak berpikir.


"Entahlah Ell. Setiap dugaan selalu terbantah oleh kenyataan lainnya. Aku yakin Hendra yang menjebak Bayu. Namun, agak mustahil rasanya jika Hendra yang melakukan pembunuhan," Iva menghela nafas.


"Apa yang membuatmu berpikir Hendra bukan yang melakukan pembunuhan?" Ellie kembali bertanya.

__ADS_1


"Teman teman kita mati dengan cara yang hampir sama dengan kejahilan mereka pada Zainul di masa lalu. Sedangkan Hendra seharusnya tidak tahu dengan kejahilan kejahilan Yodi dan yang lainnya pada Zainul," jawab Iva. Tatapannya mengawang jauh kembali ke masa lalu.


"Iya kah?" Ellie nampak mengingat ingat.


"Kamu nggak ingat Ell? Hendra itu masuk ke ekskul drama beberapa hari sebelum ekskul itu dibubarkan. Jadi, pada saat Zainul dikerjai oleh teman satu club, termasuk aku, Hendra belum ada disana," Iva menjelaskan.


"Iya juga sih. Hendra tidak tahu tentang betapa jahatnya kalian waktu itu," Ellie bergumam.


"Termasuk kejahatanmu Ellie. Kamu menolak cinta Zainul mentah mentah," sergah Iva.


"Hei, jika menolak sebuah ungkapan cinta disebut kejahatan maka tidak ada lagi jomblo di dunia ini. Kamu jangan konyol Iva," Ellie tersenyum masam.


"Tapi mungkin aku dulu memang keterlaluan Va," ucap Ellie sekali lagi.


"Yah, kita semua keterlaluan. Sebelum kita pergi dari rumah ini, sebaiknya kita minta maaf dulu sama Zainul," Iva manggut manggut.


"Ngomong ngomong, tidak ada tanda tanda Denis si anak band itu dimanapun," Ellie merasa kakinya sudah cukup lelah berkeliling di sekitar rumah.


"Ell, bagaimana jika Denis diculik atau dibunuh seperti teman teman yang lain?" ucap Iva tiba tiba.


"Bagaimana jika penjahatnya adalah Denis itu sendiri?" Ellie bergumam sendiri.


"Tapi untuk apa?"Ellie terus menerus berbicara sendiri.


"Semakin dipikirkan semakin pusing kepala ini rasanya," sambung Iva setelah beberapa saat hanya terdiam mematung.


"Sekarang apa yang mesti kita lakukan Ellie?" 


"Kita kembali ke rumah. Aku mau bicara sama Bayu meskipun dari balik pintu," jawab Ellie kemudian.


Di tempat terpisah Hendra dan Norita tengah berjalan menyusuri rerumputan di halaman depan. Norita nampak cemas, saat dirinya sadar Denis tidak ada dimanapun.


"Jangan cemas Nori, aku yakin sekarang Denis berada di tempat yang seharusnya," ucap Hendra menatap Norita.

__ADS_1


"Hah? Maksudmu?" Norita memicingkan matanya.


"Ya dia pasti baik baik saja. Denis itu kuat, jago boxing juga. Jangan terlalu khawatir," Hendra tersenyum sekilas.


"Menurutmu aku terlihat khawatir?" Norita bertanya penasaran.


"Kamu adalah tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan suasana hati. Semua tergambar jelas di wajah dan ekspresimu. Kupikir kamu adalah orang yang tidak cocok berada di ekskul drama Nori," Hendra memperhatikan setiap detil ekspresi Norita.


"Hah? Maksudmu?" Norita memutar bola matanya. Tak terima mendengar perkataan Hendra.


"Ha ha ha, aku hanya ingin bernostalgia saja. Mengakulah, waktu itu kamu membayar Bu Ami untuk bisa masuk ekskul drama kan? Bu Ami guru BK adalah penanggungjawab ekskul drama kala itu," Hendra terkekeh.


"Kalaupun iya, apa salahnya?" Norita sewot.


"Jelas salah nona penyanyi Norita. Setiap siswa yang ingin masuk ekskul drama harus melalui tes terlebih dahulu. Kamu nggak tahu kan bagaimana Zainul berjuang agar bisa masuk ekskul itu? Dan kamu dengan begitu mudahnya masuk lewat jalur belakang. Oh, itu sungguh menggelikan," Hendra menghela nafas. Ekspresinya berubah. Senyumnya kini nampak seperti sebuah seringai.


"Kenapa kamu membahas ini Hendra? Aku tidak merugikan siapapun waktu itu. Toh Zainul, juga kamu bisa masuk ekskul drama kan? Apa masalahnya? Ah tunggu sebentar . . .," Norita tiba tiba teringat sesuatu.


"Bukankah kamu masuk ekskul drama di pertengahan semester? Kamu pun sama sepertiku, siswa titipan!" Norita melotot jengkel.


"Ya kita sama Nori. Sama sama lewat jalur yang tidak semestinya. Tapi setidaknya aku tahu salahku, dan aku meminta maaf pada Zainul. Sedangkan kamu . . .," Hendra tidak melanjutkan kalimatnya.


"Apa salahku? Aku punya uang dan aku membayar Bu Ami, itu saja. Tidak ada yang aku rugikan," wajah Norita nampak memerah. Dia tidak suka diungkit ungkit kesalahan masa lalunya.


"Apa salahmu, yakin kamu bertanya? Bukankah kamu yang menyerobot peran utama dalam pementasan drama si Cantik dan Sang Kurcaci? Kamu menghancurkan drama yang sudah dipersiapkan Zainul dengan sepenuh hatinya," Hendra mendengus kesal.


"Darimana kamu tahu itu semua Hendra? Lagipula itu hanya masa lalu. Zainul juga tak pernah mempermasalahkannya. Kenapa kamu yang sewot?"


"Kamu tidak pernah tahu betapa sakit hatinya Zainul waktu itu Nori. Kamu nggak tahu apa arti pementasan drama itu bagi Zainul," Hendra berbicara lirih. Ada kesedihan dari raut wajahnya.


"Ah sudahlah! Bersamamu membuatku jengkel!" Norita marah dan segera melangkah pergi meninggalkan Hendra.


Norita berjalan tergesa gesa menyibak rerumputan, bersama amarahnya yang terpendam di dalam hati. Tanpa dia sadari, seseorang berada di belakangnya. Dengan tiba tiba sebuah tongkat kayu menghantam kepala belakang Norita dengan sangat keras. Bunyi tulang tengkorak beradu dengan benda tumpul memecah kesunyian. Tanpa sempat mengaduh, Norita terhuyung dan ambruk seketika.

__ADS_1


Bersambung ___


__ADS_2