Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XIX. Air terjun di tengah malam


__ADS_3

Sepasang kaki mengendap endap di tengah kegelapan. Dengan langkah perlahan, kaki mungil dengan kulit bersih itu menyibak rerumputan di halaman samping rumah baru Anggun.


Sorot lampu senter dari android menerpa jalan setapak yang sedikit basah karena gerimis yang beberapa saat lalu mengguyur wilayah hutan. Dua bola mata bulat sesekali menoleh ke belakang, seakan takut ada orang lain yang mengikutinya.


Andewi tengah berjingkat menyusuri pekarangan rumah bernuansa minimalis itu. Sebuah buku berwarna merah maroon dia dekap dengan erat. Kini Andewi berdiri di depan puing puing rumah yang hangus terbakar. Rumah Zainul Rich Man.


"Hmmm, apa mungkin ikut terbakar dengan rumah ini ya," gumam Andewi sendirian.


Andewi masih berdiam, tak beranjak dari puing puing rumah tepi sungai. Ada kesan seram dan menakutkan, yang membuat bulu kuduk Andewi meremang. Namun rasa takut itu tidak membuat Andewi gentar. Dia mengacuhkan hawa dingin yang meniup niup tengkuknya.


Buku merah usang yang sedari tadi digenggam dengan erat, kini Andewi membukanya dengan perlahan. Dia langsung membuka halaman paling belakang. Warna kertas yang sudah menguning dengan penampakan kumal dan lusuh, menandakan halaman tersebut sudah terlalu sering dibuka.


"Gemericik air adalah tempat dimana aku tersimpan. Buka tirai tirta dan temukan aku. Aku akan menjadi milikmu," Andewi membaca satu baris kalimat yang ditulis tangan dengan tinta yang sedikit memudar.


"Apa yang kucari pasti ada di aliran air sungai. Tapi apa arti tirai? Tuan Zainul, plis jangan mempermainkan aku," Andewi mendengus kesal. Dia kembali menutup buku di genggaman tangannya.


Andewi menggaruk garuk kepalanya. Sebenarnya dia lah yang mempunyai ide untuk datang mengunjungi Anggun. Ternyata temen temannya semua setuju. Andewi tidak mau menyia nyiakan kesempatan untuk memecahkan petunjuk dari buku Zainul Rich Man yang dibawanya.


Awalnya Andewi berencana saat sampai di rumah Anggun, dia akan berpetualang sendirian menyusuri sungai. Namun siapa sangka, Erfan malah tewas secara mengenaskan.


Dengan kematian Erfan, Andewi menjadi kurang leluasa untuk bergerak sendirian. Maka, saat ada celah dan kesempatan Andewi segera keluar rumah dan menyusuri setiap jengkal wilayah perumahan dan tanah peninggalan Zainul Rich Man.

__ADS_1


Sayangnya hingga tengah malam, Andewi belum juga bisa memecahkan kalimat yang tersirat dan tertulis di halaman terakhir buku bersampul merah maroon itu. Padahal dia telah berjanji di dalam hati, malam ini dia harus mencapai tujuannya. Karena Andewi yakin, saat polisi tiba dia tak bisa lagi keluyuran sembarangan.


Andewi kembali melangkahkan kakinya. Kali ini dia berdiri di tepian sungai. Riak air yang terkena sinar rembulan memantulkan cahaya yang gemerlap menyilaukan. Hawa dingin terasa berkali kali lipat menyelimuti tubuh Andewi kala dia berada dekat aliran air.


"Orang orang yang di dalam rumah pasti sudah heboh mencariku. Aku tak bisa berlama lama disini tanpa hasil. Bisa bisa aku nanti dicurigai macam macam lagi," gerutu Andewi kesal.


Dengan sedikit menghentakkan kakinya, Andewi berjalan menuju ke air terjun. Hanya lampu senter dari HP yang menjadi cahaya satu satunya. Kegelapan benar benar pekat, meskipun bulan sabit nampak indah bertengger di balik awan hitam yang tipis.


Sesekali kaki mungil Andewi terantuk batu. Selain mengaduh, umpatan lirih juga keluar dari bibir merahnya. Suara gemericik air terjun semakin terdengar jelas. Cipratan cipratan air juga menerpa wajah Andewi. Sedingin es, mengusir kantuk yang sebenarnya telah menggelayuti kelopak mata Andewi sedari tadi.


Rambut Andewi berkibar ke belakang diterpa hembusan angin yang cukup kuat. Sementara kolam di bawah air terjun nampak berwarna kebiruan yang indah sekaligus menakutkan. Seakan mampu menghipnotis dan merayu setiap orang untuk terjun ke dalamnya.


Memang jika diperhatikan dengan seksama, nampak kolam di bawah air terjun bercahaya kuning kemerahan. Bukan pantulan sinar rembulan, namun pantulan dari sumber cahaya yang lain.


Andewi kemudian menyadari cahaya itu berasal dari bagian tengah aliran air terjun. Andewi tertegun beberapa saat lamanya. Pikirannya terbagi, haruskah dia mengagumi keindahan sinar dalam air tersebut? Ataukah harus merasa takut dengan fenomena yang aneh di hadapannya?


"Buka tirai tirta dan temukan aku. Tirta adalah air," gumam Andewi dengan tatapan kosong.


"Jangan jangan di balik air terjun itu," Andewi menepuk nepuk pipinya sendiri.


Ada sedikit keraguan di hatinya. Ada tanya dan kekhawatiran besar di benak Andewi kini. Bagaimana jika dugaannya salah? Atau malah akan membuatnya terjebak di tempat yang berbahaya, salah salah dia berada di sarang hewan buas. Siapa yang tahu, karena belantara di hadapan Andewi kini terlihat sangat lebat dan mengerikan.

__ADS_1


"Tak ada waktu untuk ragu Dewi. Kamu sudah bertekad untuk menemukannya. Karena hidupmu kini adalah neraka penuh utang dan piutang," ucap Andewi pada dirinya sendiri. Dia menarik nafas panjang.


Andewi kembali berjalan, menyusuri tepian air terjun. Dia berada di samping kanan air terjun. Tubuhnya kini telah basah terkena guyuran air. Dingin menusuk tulang, jari jari tangannya mengkerut. Pun bibirnya terlihat membiru.


Tepian air terjun penuh dengan lumut yang hijau nan licin. Andewi mengarahkan sorot lampu senter pada area sekitar pijakan kakinya. Tak perlu waktu lama, dia berhasil menemukan sebuah batu pijakan yang nampak lebih kering dibanding batu yang lain. Juga lumut yang tidak begitu lebat, menandakan batu itu sering terinjak.


Andewi kembali menarik nafas panjang, dan menghembuskan secara perlahan. Dia sedang menguatkan mental. Dengan hati hati, Andewi melangkahkan kakinya. Dia berpijak pada batu yang ada di hadapannya. Kemudian melompat ke dalam aliran air terjun.


Bruusshhh


Andewi berhasil menyibak derasnya air terjun. Dan benar dugaan Andewi, di balik air terjun terdapat sebuah ceruk atau goa yang cukup luas. Ceruk dengan dinding batu yang berwarna hijau kebiruan.


Andewi mengedarkan pandangan. Ceruk sedikit gelap, hanya ada sebuah obor yang terletak di bagian tengah. Obor yang menghasilkan pantulan cahaya kemerahan di air. Ada sebuah batu dengan kain kain yang tersumpal, sepertinya berfungsi sebagai tempat tidur.


Sudut mata Andewi kemudian menangkap sebuah karung lusuh tergeletak di bawah batu. Setengah berlari Andewi menghambur ke karung lusuh itu. Jantungnya berdegup kencang, berdebar debar. Dia yakin harapannya kali ini akan terwujud.


Sedikit kasar Andewi menyeret karung kumal itu. Dia membawanya ke dekat obor agar bisa melihatnya dengan jelas. Ada bercak bercak merah yang telah mengering pada bagian luar karung. Andewi tak peduli, dia segera melepas tali yang mengikat bagian atas karung tersebut.


"Hi hi hi hi. . .akhirnya aku menemukanmu! Buku ini tak berbohong, luar biasa. Hutangku bisa lunas dengan ini semua!" Andewi melotot. Bibirnya tersenyum lebar. Di bawah cahaya obor yang temaram, keserakahan telah menguasai hati perempuan bermata cokelat itu.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2