Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
III. Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Jam setengah tujuh malam. Meja makan sudah penuh dengan hidangan yang menggugah selera. Ada beberapa jenis sayuran, dan sedikit olahan daging. Mak Surti sudah sangat hafal jika majikannya di waktu malam hari tidak terlalu suka makan daging.


Terlihat Anggun dan suaminya sudah berada di meja makan. Mereka masih menunggu Bu Rofida dan Vivi yang belum juga turun dari kamarnya di lantai atas.


"Kemana sih Ibuk sama Vivi?" Ferry uring uringan. Perut buncitnya sudah merasakan lapar.


"Biar aku lihat ke atas Mas," sahut Anggun cepat. Dia tidak ingin suasana hati suaminya memburuk. Ferry adalah tipe laki laki yang temperamen. Jika sudah marah semua benda di hadapannya bisa hancur berkeping keping. Entah itu dibanting atau ditendang. Namun demikian, Ferry tidak pernah berlaku kasar pada istrinya.


Tanpa menunggu jawaban dari Ferry, Anggun bergegas menapaki anak tangga menuju lantai atas. Di ujung tangga terdapat sebuah tembok dengan lukisan besar bergambar dirinya dan Ferry yang memakai baju adat jawa. Anggun sejenak memperhatikan potret dirinya. Senyum yang terkembang di bibirnya kala foto itu diambil terlihat begitu mempesona.


"Huh, palsu," Anggun tersenyum sekilas.


Sebelah kiri dan kanan tembok di hadapan Anggun, terdapat sebuah lorong. Lorong sebelah kiri menuju ke kamar Anggun, sedangkan yang kanan mengarah pada kamar Bu Rofida dan Vivi. Anggun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar sang mertua.


Anggun berdiri di depan pintu kamar mertuanya. Pintu yang terbuat dari kayu jati dengan warna plitur cokelat tua yang mengkilap. Anggun hendak mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu. Namun, dia mengurungkan niatnya. Tanpa sengaja Anggun mendengar percakapan antara mertua dan adik iparnya itu.


"Duh, perempuan sok cantik itu jadi kaya mendadak buk," ucap Vivi dengan suaranya yang manja menye menye nan menyebalkan.


"Iya sih. Tapi dia tetep nggak sempurna sebagai perempuan. Kakakmu layak mendapatkan perempuan yang lebih baik dari orang penyakitan itu," balas Bu Rofida.


Anggun terdiam di depan pintu. Tangannya terkepal erat. Dadanya serasa sesak, sakit tak terperi. Padahal dua orang yang sedang membicarakannya itu juga seorang perempuan. Seharusnya mereka bisa memahami perasaan Anggun saat ini, namun yang terjadi justru sebaliknya.


Anggun mundur perlahan. Dia berpegangan pada dinding, menguatkan hati juga kakinya yang terasa lemas tak bertenaga. Dia berhenti di sudut ruangan. Terdapat sebuah jendela dengan kaca yang lebar menghadap ke halaman rumah.


Anggun menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia mengalihkan pikirannya, menatap halaman dengan cahaya yang temaram. Terlihat di halaman rumah, Pak Nyoto berjalan sambil memanggul sebuah jerigen besar. Mungkin persediaan bensin untuk bahan bakar genset.


Di bagian lain, di antara tanaman perdu dan beberapa bunga krisan terlihat Erwin tengah berdiri mematung. Pemuda yang aneh, itulah kesan yang didapat oleh Anggun setiap kali melihat Erwin.


Erwin yang semula tampak melamun, tiba tiba saja mendongak. Tanpa sengaja, Anggun bertemu pandang dengan keponakan suaminya itu. Erwin nampak tersenyum. Lagi lagi sebuah senyuman yang aneh dan tidak biasa. Anggun terkesiap, segera memutar badan hendak kembali ke meja makan.

__ADS_1


"Lho Nduk, ngapain disitu?" Tiba tiba saja Bu Rofida sudah berada di belakang Anggun.


"Ahh," Anggun kaget memegangi dadanya.


"Lhah, kok kaget? Kayak maling ketangkep kamu mbak," celetuk Vivi.


Anggun mengatur nafasnya. Dengan cepat dia merubah ekspresi wajah. Berusaha membuat mimik muka datar seperti biasanya.


"Maaf Buk, Vi. . .Aku dimintai tolong Mas Ferry untuk mengajak kalian makan malam," ucap Anggun tenang.


"Kamu sudah lama disitu?" Vivi bertanya sembari menunjuk nunjuk pada Anggun. Anggun diam saja, hanya menggeleng meyakinkan.


"Mari, kita makan malam," Anggun berjalan mendahului Bu Rofida dan Vivi ke lantai bawah.


Sampai di ruang makan ternyata Erwin sudah duduk di kursi berhadap hadapan dengan Ferry. Keduanya tampak sibuk dengan HP nya masing masing.


"Hei, mana ibuk sama Vivi?" Ferry menperhatikan tangga menuju lantai atas. Beberapa detik berikutnya terlihat Vivi, adiknya yang centil itu berlari lari kecil menuruni anak tangga.


Setelah semua berkumpul, barulah makan malam dimulai. Suasana menjadi hening, hanya beberapa kali terdengar suara sendok dan garpu beradu di atas piring.


"Untung ada wifi ya, kalau nggak bisa bingung aku mau main medsos, jaringan selular nggak nyampek," ucap Vivi sambil melihat HP nya.


"Letakkan HP mu. Ini waktunya makan," sambung Ferry ketus.


"Mas?" Anggun menghentikan makan sejenak. Dia seperti hendak menyampaikan sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Ferry kalem. Nada bicara yang jauh berbeda kalau dibandingkan saat dia berbicara pada Vivi.


"Besok siang beberapa temanku mau datang kemari," ucap Anggun ragu ragu.

__ADS_1


"Teman? Geng kuliahmu itu?" Ferry terlihat tidak suka.


"Iya," jawab Anggun singkat.


"Berapa orang yang mau datang? Siapa saja? Biar nanti disiapkan jamuan sama Mak Surti," Tanya Ferry lebih lanjut.


"Tadi sih katanya 5 orang Mas. Mereka pengen lihat rumah baru, nggak pa pa kan Mas?" Anggun bertanya pelan pelan.


"Mbak Mbak . . . seneng banget sih pamer pamer. Baru pindahan saja langsung ngundang orang," sela Vivi mencibir.


"Aku nggak ngundang kok," Anggun membalas dengan kalem. Meskipun hatinya mendidih, namun dia berusaha tetap tenang dan menjaga wibawa.


"Ya sebenarnya wajar lho teman kuliah apalagi satu geng datang berkunjung, iya kan Mbak?" Erwin tersenyum membela Anggun. Anggun hanya mengangguk merasa kurang nyaman dengan tatapan Erwin.


"Idiihhh. Mentang mentang kamu kuliah dan aku enggak, jadi sok tahu. Emang kamu punya teman Win? Aku nggak pernah lihat tuh teman kuliahmu datang berkunjung," seloroh Vivi dengan bibirnya yang menye menye menyebalkan.


"Sudah cukup. Berhenti bercanda di meja makan," hardik Ferry.


"Nanti kita bicarakan di kamar saja Yang," ucap Ferry pada Anggun, mengakhiri obrolan makan malam tersebut.


Anggun mengangguk setuju. Dia sebenarnya juga kurang sreg dengan ide salah satu temannya yang mau berkunjung ke rumah. Anggun sadar betul, suaminya over protektif, cenderung tidak suka dengan pergaulan dan circle pertemanannya.


Anggun merupakan perempuan yang sangat peduli dengan pendidikan. Setelah lulus kuliah strata 1 dia menikah dengan Ferry. Setahun setelahnya dia melanjutkan pendidikan S2 nya. Dan disanalah dia akrab dengan 5 orang yang berencana berkunjung ke rumah baru milik Anggun itu.


Awalnya di group Whatsapp salah satu dari teman Anggun mengatakan ingin mengadakan acara syukuran karena suaminya naik jabatan. Mereka berencana makan makan di salah satu resto di kota. Anggun mengatakan tidak bisa hadir karena baru pindah rumah di pedalaman desa. Dan akhirnya, mereka semua malah memutuskan untuk pergi berkunjung ke tempat Anggun.


Anggun merasa bersalah membuat suasana makan malam pertama di rumah baru menjadi canggung. Tak ada percakapan ringan ataupun senyum bahagia layaknya sebuah keluarga sungguhan. Semua yang duduk di ruang makan seolah orang asing yang tanpa sengaja berada di tempat yang sama. Mereka semua hanya menikmati hidangan dan setelah selesai, kemudian pergi dari ruangan satu persatu dengan wajah datar.


Bersambung ___

__ADS_1


__ADS_2