Rumah Tepi Sungai

Rumah Tepi Sungai
XI. Buku di atas ranjang


__ADS_3

"Bolehkan aku melihat koleksi bukumu?" Tanya Inge sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Boleh sih, tapi. . .," Erwin terlihat ragu ragu.


"Kenapa Win? Kamu bohong ya? Jangan jangan kamu nggak punya buku buku karya Zainul Rich Man?" Inge tersenyum meledek.


"Ada kok," sergah Erwin cepat.


"Tapi kusimpan di rak buku dalam kamar," lanjut Erwin.


"Lha terus kenapa? Aku mau lihat," pinta Inge.


"Kamarku berantakan," jawab Erwin malu malu.


"Ha ha ha, semua kamar cowok memang berantakan dan sedikit jorok sepertinya," tawa Inge pecah.


Erwin diam saja. Dia beranjak dari duduknya kemudian membuka pintu kamar. Erwin belum pernah mengajak perempuan masuk ke dalam kamarnya. Baik itu kamarnya yang ada di rumah lama Ferry, ataupun kamar kosnya dulu.


"Silahkan masuk," ucap Erwin malu malu.


"Ini sih lumayan rapi. Aku pernah masuk kamar cowok, isinya putung rokok dan bau asap parah," Inge mengamati kamar Erwin.


Inge sebenarnya kagum. Erwin tipe pemuda yang rajin bersih bersih sepertinya. Ada sebuah rak di sudut kamar yang terlihat penuh dengan buku yang berjejal. Ada beberapa komik juga terpajang disana. Aroma kamar yang tak berbau asap rokok, menandakan Erwin bukan seorang perokok aktif.


"Bukumu banyak juga Win, hebat," Inge berdecak kagum. Dia memperhatikan buku buku yang tersusun rapi.


"Yah lumayan sih. Untuk buku karya Zainul Rikhman ada di deretan paling atas," Erwin menunjuk buku buku bersampul merah maroon di bagian atas.


Inge berjinjit, mencoba meraih salah satu buku. Namun ternyata tangannya tak sampai. Erwin mendekat dan mengambilkan buku yang diinginkan Inge. Perempuan itu hanya bisa menatap pemuda yang tinggi nan tampan itu.


Tinggi Inge yang hanya se pundak Erwin membuatnya leluasa mengamati wajah keponakan Ferry itu. Belahan dagu yang unik, juga rambutnya yang gondrong kemerahan membuat Erwin semakin mempesona. Erwin yang sadar sedang diperhatikan oleh Inge, jadi salah tingkah. Wajahnya nampak merah padam.


"Aku lahir terlalu cepat," gumam Inge setengah tertawa.


"Apa maksudnya?" Tanya Erwin tak mengerti.


"Hi hi, ya seandainya saja kita seumuran. Atau aku adik tingkatmu, mungkin . . .," Inge tidak meneruskan kalimatnya.

__ADS_1


"Mungkin apa?" Desak Erwin penasaran.


"Mungkin aku sudah mengajakmu berkencan," Inge tersenyum menggoda. Erwin terdiam beberapa saat lamanya. Hatinya sedikit berbunga bunga mendengar ucapan Inge.


"Memangnya kamu nggak suka berkencan dengan yang lebih muda?" Erwin kembali bertanya.


"Tergantung," jawab Inge cepat.


"Tergantung apa?" Erwin terus mendesak. Jantungnya tiba tiba saja berdetak lebih kencang.


"Tergantung, apakah yang muda itu mau berkencan denganku," Inge menatap bola mata Erwin yang nampak bergetar.


"Aku mau," jawab Erwin cepat.


Inge tertawa sebentar. Kemudian berjalan menuju pintu kamar. Erwin terdiam mematung. Dalam hatinya bertanya, mungkinkah dia telah salah berucap?


Ternyata Inge meraih gagang pintu kamar, dan menutupnya dari dalam. Dia berbalik badan dan menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. Inge menatap Erwin yang masih saja diam tak mengerti.


"Polos sekali," gumam Inge sambil menggigit bibir bawahnya.


Seulas senyum dari bibir merah merekah terlihat manis dan menggoda. Inge mengangkat telunjuknya, mengarahkannya pada Erwin, dan menggerakkannya, memberi kode Erwin untuk mendekat.


Erwin menelan ludah perlahan. Dia sedikit kikuk, dengan ragu ragu berjalan mendekati perempuan dengan perhiasan mencolok itu. Saat Erwin mendekat perlahan, Inge langsung menarik kerah baju pemuda itu dengan sedikit kasar.


"Akan kuajari kamu menjadi pria dewasa. Dan setelah itu, kita baca bukunya Rich Man sama sama, di ranjang sana. Oke?" Inge berbisik di dekat telinga Erwin dengan sedikit meniup tengkuknya. Erwin merinding geli, bulu halus di lehernya meremang.


Inge mengalungkan tangannya di leher Erwin. Menatap pemuda itu dengan lekat. Kulitnya yang bersih, matanya yang bulat dan jernih, rahangnya yang persegi nampak tegas dan jantan. Inge tersenyum, kemudian mendekatkan bibirnya yang ranum ke arah bibir pemuda polos itu.


_


Tanpa diketahui oleh siapapun, Andewi berjalan mengendap ngendap di sekitar air terjun. Dia seperti sedang mencari sesuatu. Matanya nyalang memperhatikan sekitar. Sesekali dia menoleh ke belakang, khawatir ada orang lain yang melihatnya.


"Aku harus mencarinya kemanaaa. Ah, sialan! Jangan jangan ini cuma tipuan," gumam Andewi sendirian. Dia duduk di atas batu besar di tepi air terjun.


Sedari tadi Andewi selalu membawa tas slempangnya kemanapun dia pergi. Kini, dia membuka tas slempangnya itu, dan mengambil sebuah benda dari dalamnya.


Sebuah buku berwarna merah maroon. Buku yang terlihat kusam dan kumal. Bahkan sampulnya sobek di beberapa bagian. Sedikit kasar Andewi membuka halaman paling belakang buku itu.

__ADS_1


"Gemericik air adalah tempat dimana aku tersimpan. Buka tirai tirta dan temukan aku. Aku akan menjadi milikmu," Andewi membaca kalimat yang tertulis di halaman paling belakang buku bersampul merah maroon. Sebuah kalimat yang ditulis tangan dengan huruf tegak bersambung, menggunakan tinta berwarna biru tua.


Andewi menghela nafas, mendengus kesal. Dia tidak terlalu pandai bermain tebak tebakan. Tapi dia tidak mungkin memberi tahu teman temannya yang lain. Karena Andewi ingin memiliki sendiri apa yang tertulis di buku itu.


Sraakk sraakk sraakkk


Saat Andewi tengah melamun, tiba tiba saja terdengar langkah kaki yang menginjak dedaunan kering. Andewi terkesiap dan segera memasukkan bukunya ke dalam tas.


Andewi menoleh, memperhatikan arah datangnya suara. Terlihat tanaman perdu bergerak gerak liar. Andewi turun dari atas batu tempatnya duduk. Ada rasa takut di hatinya. Jangan jangan babi hutan atau mungkin anjing liar?


Sraakk sraakk sraakkk


Lagi, suara dedaunan kering yang bergesek juga ranting dan dahan yang patah terdengar semakin dekat. Andewi mengambil sebongkah batu yang cukup besar. Dengan sekuat tenaga dia melamparkannya pada tanaman perdu yang berjejer rimbun.


Buugggg


"Aduuhhh!"


Terdengar suara orang mengaduh. Andewi sekali lagi mengambil batu sungai. Kali ini dia memilih batu yang lonjong dan sedikit runcing bagian ujungnya. Andewi mengambil ancang ancang, bersiap melempar batu sekuat tenaga.


"Hei hei hei! Stop!" Dari balik tanaman perdu muncul Erfan sambil berteriak.


"Erfan?" Andewi terbelalak kaget.


"Ngapain kamu disitu?" Andewi menjatuhkan batu di tangannya.


"Aku lagi ngambil foto kupu kupu. Kamu yang ngapain lempar lempar batu? Sialan! Punggungku sakit tahu!" Bentak Erfan.


"Sorry, kupikir kamu hewan buas," Andewi nyengir merasa bersalah.


"Untung nggak kena kepala, bisa gobl*k instan aku kalau sampai kena hantam batu segedhe itu," Erfan terus menggerutu.


"Ngapain sih kamu di tempat ini?" Erfan bertanya saat melihat Andewi yang ternyata sendirian.


"Nyari angin saja sih. Yok balik yok," Andewi segera mengalihkan pembicaraan. Tak mau Erfan banyak bertanya.


"Nanti ah, aku masih mau foto foto dulu," Erfan menolak.

__ADS_1


"Ya sudah. Aku mau balik duluan kalau gitu," Andewi berjalan pergi. Sementara Erfan masih memijat mijat pundaknya sendiri yang terasa linu.


Bersambung ___


__ADS_2