
Anggun membuka mata perlahan. Terasa berat, kelopak matanya yang sedikit menghitam lebih nyaman kala tertutup. Namun sepasang tangan menggoncang goncangkan tubuh rampingnya dengan lembut.
"Eegghhh," Anggun melenguh, menggeliat.
"Kita harus bangun sayang," ucap Ferry sembari membelai lembut rambut panjang Anggun.
"Ada apa Mas?" Anggun duduk bersandar pada ranjangnya.
Ada rasa penasaran di benak Anggun. Sang suami tidak biasanya mengganggu waktu tidur Anggun. Apalagi jam kecil yang tergeletak di meja samping tempat tidur baru menunjukkan pukul setengah 5 pagi.
"Tadi Erwin bangunin aku. Katanya polisi yang kamu telepon tadi malam sudah datang," jelas Ferry.
"Oh ya? Terus gimana?" Anggun terlihat sedikit kaget, rasa kantuknya telah menghilang.
"Ya kita disuruh kumpul di bawah. Biasa, mau ditanya tanya nih kayaknya," Ferry nampak enggan.
"Yasudah Mas, kita cuci muka dan ganti baju dulu yuk," ucap Anggun mengusap punggung Ferry. Ferry menoleh kemudian mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya yang putih mulus itu. Anggun sebenarnya ingin lebih dibelai dan dimanja lagi, dia menunggu. Namun, Ferry malah beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.
Tak butuh waktu lama, Anggun dan Ferry sudah berganti pakaian. Anggun memakai dress berwarna biru tua, sedangkan Ferry memakai kemeja lengan pendek yang senada dengan warna pakaian istrinya. Kemudian mereka berdua bergegas turun ke lantai bawah.
Di ruang tamu semua orang telah berkumpul. Bu Rofida dan Vivi terlihat duduk dengan wajah bantalnya. Sesekali mereka berdua menguap bersamaan. Vita dan Inge nampak kusut tanpa make up. Mak Surti duduk bersimpuh di lantai bersama Pak Nyoto. Sedangkan Erwin berdiri bersedekap di sudut ruangan. Sesekali kepalanya terantuk ke bawah karena mengantuk.
Di tengah ruangan duduk berjejer Bayu sang polisi dengan Damar petugas forensik yang lebih terasa seperti anak buah Bayu. Damar memegang sebuah buku saku di tangan kanannya. Sementara Bayu duduk dengan posisi kaki menyilang, kaki kiri ditumpuk di atas kaki kanannya.
"Hallo Ibu Anggun, selamat pagi," ucap Bayu sambil mengangguk saat melihat sang tuan rumah telah bergabung.
"Selamat pagi Pak Bayu. Terimakasih sudah berkenan datang memenuhi permintaan saya melalui sambungan telepon kemarin," ucap Anggun, suaranya lirih namun terdengar jelas dan sopan.
Bayu mengangguk sembari tersenyum. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Ferry yang berdiri sedikit di belakang Anggun. Bayu menyadari, suami Anggun itu menatapnya dengan pandangan yang terlihat aneh.
"Baik. Semuanya sudah berkumpul. Sebelumnya perkenalkan, saya adalah petugas kepolisian yang dipanggil oleh Ibu Anggun tadi malam. Nama saya Bayu," ucap Bayu memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Sebentar Pak polisi," Ferry tiba tiba saja menyela.
"Iya, ada apa?" Bayu sedikit jengkel ada yang menyela saat dia mulai berbicara.
"Ada yang belum hadir disini. Salah satu tamu istri saya, yang bernama Ali tidak terlihat batang hidungnya," ucap Ferry celingak celinguk. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Ya sebenarnya bukan hanya Ali yang tidak ada Tuan Ferry. Tapi perempuan bernama Andewi juga menghilang," jawab Bayu santai.
"Hah? Iya kah? Bagaimana mungkin?" Ferry nampak sangat terkejut. Sedangkan Anggun terdiam, dia baru menyadari jika dua temannya itu tidak ada di ruang tamu saat ini.
"Mas aku butuh kursi," ucap Anggun. Kepalanya terasa pusing. Dia syok mendengar teman temannya yang tiba tiba menghilang. Ferry segera memegangi tubuh istrinya itu.
Erwin yang juga mendengar permintaan Anggun, segera berlari ke kamar tamu, mengambil kursi besi dengan bantalan duduk empuk yang ada disana. Dia segera menyerahkan kursi itu pada Ferry.
"Terimakasih," ucap Anggun. Erwin mengangguk cepat, sedangkan Ferry menggenggam sandaran kursi dengan geram.
"Semuanya harap tenang," ucap Bayu santai.
"Baiklah. Hasil dari pemeriksaan jasad Tuan Erfan ditemukan racun dalam jumlah besar di kedua telapak tangannya. Sementara di wadah makan, tempat minum, pun juga di makanan yang tersaji, tidak ada indikasi zat berbahaya," Bayu membaca selembar kertas yang ada di tangannya.
"Pertanyaannya adalah kenapa Tuan Erfan ini makan tanpa menggunakan sendok dan garpu, padahal semua tersedia?" Bayu mengedarkan pandangan pada semua orang.
"Erfan memang biasa makan pakai tangan langsung tanpa sendok. Apalagi hidangan yang disajikan adalah kesukaannya. Ayam bumbu lodho," sahut Vita.
Bayu mengarahkan pandangannya pada Vita. Memperhatikan perempuan itu dengan seksama. Bayu tersenyum kala menemukan sosok perempuan yang bersikap tenang, meski tengah dalam penyelidikan sebuah kasus kematian.
"Nama anda? Vita atau Inge?" Bayu melihat catatan di kertas.
"Saya Vita," jawab perempuan manis itu.
"Terimakasih Nona Vita atas keterangannya. Jadi, Tuan Erfan ini memiliki kebiasaan makan langsung pakai tangan. Lalu, siapa saja yang tahu dan hafal dengan kebiasaan dari Tuan Erfan? Tentu Nona Vita salah satunya kan," Bayu mengelus elus dagunya.
__ADS_1
"Semua temannya tahu Pak polisi. Saya, Ali, Andewi, juga Anggun," Inge kali ini menyahut.
"Oh, baiklah," catat Bayu.
"Saya rasa Erwin dan Ferry juga punya kemungkinan tahu kebiasaan Erfan Pak polisi," sanggah Vita. Inge nampak mengangkat alisnya menatap Vita.
"Kenapa bisa begitu?" Bayu kembali menatap Vita yang duduk tak jauh darinya.
"Karena saya yakin, Anggun pasti sudah cerita tentang semua teman temannya pada Ferry. Terlebih teman yang sedikit brengsek seperti Erfan. Anggun orang yang baik dan setia. Dia tentunya selalu terbuka pada suaminya," jelas Vita.
"Benarkah itu, Ibu Anggun? Jadi, Tuan Ferry juga tahu kebiasaan Erfan?" Bayu beralih pada pasutri sang pemilik rumah.
"Benar," jawab Anggun singkat.
"Lalu, Erwin?" Bayu bertanya sembari mencatat. Damar pun juga beberapa kali terlihat menggoreskan tinta pada buku sakunya.
"Dia memiliki hubungan khusus dengan Inge. Meski setahu saya hubungan ini baru terjalin, namun tetap ada kemungkinan Inge sudah menceritakan semua tentang circle pertemanannya kan?" Vita tetap terlihat tenang.
"Hey hey, apa apaan kamu Vit? Aku tak cerita apapun pada Erwin," Sanggah Inge jengkel.
"Bukan tidak cerita, mungkin saja belum! Aku disini hanya berusaha membantu Nge. Setiap kemungkinan, setiap detail harus kita sampaikan. Erfan mati Nge! Andewi dan Ali hilang! Siapapun penjahat yang melakukan semua ini harus segera ditangkap!" Vita kali ini nampak emosi. Nada bicaranya meninggi.
"Sudah tenang Nona nona," sela Bayu kalem.
"Tuan Erwin, mohon katakan secara jujur. Anda tahu atau tidak kebiasaan makan dari Tuan Erfan?" Bayu menatap tajam pada Erwin. Dia memperhatikan betul detail raut wajah dan gelagat Erwin saat hendak menjawab pertanyaan darinya.
"Saya tidak tahu Pak polisi. Demi Tuhan," jawab Erwin.
Bayu mengangguk dan tersenyum. Dia kembali mencatat.
Udara pagi sangat dingin, namun suasana ruang tamu rumah baru Anggun sudah terasa begitu panas. Ada kebohongan, tipu muslihat yang telah tersusun rapi oleh orang yang memakai topeng untuk menutupi niat jahatnya.
__ADS_1
Bersambung___