
Sajian makan dari tuan rumah, yang semestinya menjadi sarana mempererat persahabatan nyatanya berubah menjadi mencekam dan menakutkan. Erfan ambrug di meja makan dengan mulut menganga. Tubuhnya kaku tak bernyawa.
Anggun yang pada dasarnya lemah, tak kuasa menahan diri melihat kengerian di hadapannya. Hampir saja tubuh kurus itu ikut ambrug ke lantai kalau Ferry tidak sigap memeganginya.
Bu Rofida dan Vivi saling berpelukan. Andewi dan Vita hanya diam mematung, tak tahu harus berbuat apa. Inge memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya. Dan Erwin menatap tajam ke arah Erfan, dia terlihat berpikir.
Hanya Ali Sabet yang cekatan, mendekati Erfan dan memeriksa kawan kuliahnya itu. Ali memeriksa denyut nadi, dan melihat dengan seksama bagian mulut dari Erfan yang sudah tak bernafas.
"Erfan sudah tewas. Kemungkinan besar karena racun. Dari mulutnya samar samar tercium aroma almond yang 'apek'. Sepertinya sejenis sianida," ucap Ali Sabet berjalan mundur, menjauhi mayat Erfan.
"Jangan bercanda kamu Ali!" Bentak Vita dengan wajah memerah.
"Aku serius Vit. Erfan sudah mati," Ali memijat mijat keningnya sendiri.
"Kita harus memuntahkan makanan ini. Jangan sampai kita bernasib sama seperti Erfan," teriak Inge sambil memasukkan telunjuknya ke dalam mulut.
"Stop Inge! Jangan panik! Kupikir makanan ini tidak beracun. Kita semua makan di waktu yanga sama, kalau saja makanan ini beracun maka kita sudah bernasib sama seperti Erfan," Erwin menenangkan. Inge menurut dan duduk kembali.
"Jika Erfan mati keracunan. Berarti ada tiga kemungkinan. Pertama, dia bunuh diri dengan memasukkan racun di makanannya. Kedua, makanan dari Mak Surti memang ada yang mengandung racun. Dan ketiga, Erwin memasukkan racun saat menghidangkan ayam lodho ke piring Erfan," ucap Ferry tiba tiba.
"Kenapa jadi aku Mas?" Erwin berdiri memprotes.
"Bukankah apa yang aku sampaikan masuk akal?" Ferry menaikkan nada bicaranya.
"Ya, itu mungkin saja," sahut Ali Sabet setuju.
"Tapi tidak mungkin Erwin meracuni Erfan? Untuk apa? Kenal pun juga baru hari ini," Inge kembali berdiri membela Erwin.
"Semua kemungkinan yang kamu ucapkan sangat bertentangan dengan logika Ferry!" Vita buka suara. Perempuan berambut pendek itu terlihat geram.
"Aku hanya menyampaikan apa yang ada dipikiranku saja kok," Ferry berkilah.
__ADS_1
"Lagipula bagian mana dari ucapanku yang bertentangan dengan logika?" Ferry bertanya, masih merangkul Anggun yang lemas.
"Menurutmu, kemungkinan pertama adalah Erfan bunuh diri. Itu tidak mungkin. Karena aku tahu, baru kemarin dia datang ke agen properti milikku untuk membeli salah satu rumah. Kalau Erfan mau bunuh diri untuk apa dia beli rumah? Seharusnya dia beli saja sepetak tanah untuk pemakamannya," Vita menghela nafas.
"Kemungkinan kedua, Erfan diracun oleh pembantumu. Pertanyaannya bagaimana cara memasukkan racun ke makanan Erfan, sementara pembantumu si Mak Surti itu tidak ada disini saat kita semua makan? Lalu apa motifnya? Apa untungnya?," Vita diam sejenak.
"Kemudian kemungkinan ketiga Erwin yang meracuni Erfan. Itu juga sedikit sulit kurasa, karena kita semua menyaksikan Erwin memotong daging ayam menggunakan pisau, membagikannya pun memakai centong besar, dia sama sekali tak menyentuh secara langsung daging daging ayam itu," Vita memberi penjelasan. Semua orang terdiam mendengarkan. Semua sibuk mencerna perkataan Vita yang memang ada benarnya.
"Kalau begitu, sekarang bagaimana?" Ferry bertanya pada semua orang yang ada di ruang makan.
"Kita harus lapor polisi Mas," jawab Erwin memberi ide.
"Kupikir juga begitu," sahut Vita.
"Biar aku saja Mas. Biar aku menghubungi Bayu, polisi yang waktu itu membawa surat wasiat Zainul," ucap Anggun lirih. Dia duduk memegangi kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Ferry mengangguk setuju.
Anggun segera meraih HP di saku bajunya. Kemudian menelepon sebuah nomor yang tersimpan di kontaknya. Semua orang terdiam dan menunggu.
"Polisi akan segera datang. Semua orang dihimbau untuk tidak meninggalkan rumah ini. Tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh mayat Erfan, juga dilarang mengacak acak TKP. Intinya kita semua diperintahkan untuk diam di tempat," jawab Anggun lirih.
"Erwin, telpon Mak Surti! Suruh semua berkumpul disini!" Perintah Ferry sedikit membentak.
Erwin mengangguk dan segera menelpon nomor Mak Surti. Semua orang terlihat tegang, takut dan penuh kecurigaan satu sama lain.
"Nanti biarkan Mak Surti di dapur saja. Kasihan kalau Miko harus lihat mayat Erfan. Balita belum waktunya melihat hal seperti ini," Anggun menyangga kepalanya dengan kedua tangan. Dia masih sangat syok dan terpukul dengan kematian Erfan yang aneh dan tiba tiba.
"Iya sayang," Ferry mengelus lembut pundak Anggun.
"Biar Ibuk sama Vivi saja ya Nak, yang nunggu dan menemani Mak Surti di dapur," ucap Bu Rofida setelah mengatasi rasa takut dan terkejutnya.
"Iya Buk," jawab Ferry cepat.
__ADS_1
Bu Rofida dan Vivi segera beranjak pergi ke dapur.
"Hei hei, bukankah semua orang seharusnya diam disini?" Ali Sabet memprotes.
"Biarkan saja. Toh Ibu dan adikku nggak mungkin meracuni Erfan. Mereka berdua nggak kenal Erfan dan nggak ada motif untuk mencelakai Erfan," jawab Ferry santai.
"Hah? Jadi maksudmu kita semua yang ada disini punya motif untuk membunuh Erfan? Jangan sembarangan kalau bicara!" Ali Sabet yang biasanya cengengesan kali ini kehilangan ketenangan dan persona tingkah lucunya.
"Ya. Kurasa kita semua yang ada disini memang punya motif untuk mencelakai Erfan. Kamu tidak bisa menyangkalnya Ali!" Sergah Vita kemudian.
"Apa maksudmu?" Ali Sabet melotot.
"Jujur sajalah Ali. Kamu masih mendendam bukan pada Erfan? Karena dia telah merebut gebetanmu di kampus dulu," jawab Vita dengan suara yang kalem tapi terasa menusuk. Ali membuang muka, tak menyahut barang sepatah kata pun.
"Andewi, kamu juga sering cerita kalau Erfan meminjam uang padamu dalam jumlah besar. Dan ketika kamu menagihnya, laki laki itu selalu berkelit, bukankah begitu?" Vita beralih menatap Andewi. Andewi diam tertunduk.
"Inge, kamu pernah memiliki hubungan khusus dengan Erfan. Namun ternyata, dia hanya mempermainkanmu. Memamerkan bagaimana polah tingkahmu di ranjang pada teman teman kampus brengseknya," Vita melirik Inge dengan wajah sendu.
"Anggun dan suaminya pun demikian. Kalian tentu merasa risih dengan sikap Erfan yang terus menerus berusaha menggoda dan merusak rumah tangga kalian. Bukankah begitu Nggun? Ferry?" Vita menghela nafas.
"Dan aku. Aku dan Erfan sudah sejak lama kenal. Aku dan laki laki itu bersaing memperebutkan kursi presiden BEM. Dan pada akhirnya Erfan yang menang dengan segala kecurangan dan fitnah fitnah yang dia sebar tentang aku. Dan harus kuakui, aku masih membencinya karena hal itu hingga saat ini," pungkas Vita.
"Berarti, satu satunya orang di ruangan ini yang tidak memiliki motif untuk mencelakai Erfan hanyalah aku," Erwin menyela.
"Really? Aku tahu Erwin, kamu dan Inge baru saja menjalin hubungan. Bisa saja Inge telah merencanakan meracuni Erfan, dan kamu membantunya kali ini," Vita menatap Erwin sinis.
Semua orang pada akhirnya terdiam, termenung dengan pikirannya masing masing. Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini, kecuali menunggu. Menunggu datangnya sang petugas kepolisian.
Jam enam sore, hujan tiba tiba turun dengan beberapa kilat dan petir yang menggelegar. Rumah Tepi Sungai sekali lagi menjadi panggung yang mengerikan sekaligus saksi betapa berbahayanya penyakit hati manusia.
Bersambung___
__ADS_1